Kehilangan Lidya,istri yang sedang mengandung anaknya secara tragis membuat Handoyo berjanji untuk membalaskan dendam dan akhirnya menjadi pembunuh berdarah dingin. Kemahirannya dalam menembak dan memiliki gerakan cepat karena keahlian bela dirinya digunakan Handoyo untuk membereskan lawan-lawannya hingga membuatnya disegani, dicintai banyak wanita dan makin membuatnya terkenal. Kekayaan dan popularitas dalam genggaman Handoyo tapi semua itu tetap membuatnya kesepian. Cintanya cuma satu pada Lidya seorang, hingga satu tawaran pekerjaan membuatnya melupakan Lidya, melepaskan sahabatnya dan menyeretnya ke organisasi rahasia yang mampu membuka masa lalunya yang kelam, dan mengalirkan hasrat rindunya pada wanita lain. Tidak, cintaku cuma satu pada Lidya seorang, bukan kamu!!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nieta Chandra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
32. Initial Clash
Cinta itu bukan persaingan dalam memiliki seseorang, tetapi cinta itu mampu berbahagia dengan tulus ketika melihat yang dicintainya hidup bahagia bersama orang yang bersaing dengan kita.
*****
"Aku tahu Al... Tolong ajari aku untuk merelakanmu bersamanya tanpa harus membencimu !" isak Jessy pelan.
Al mendengarnya dengan hati yang perih. Dipeluknya wanita yang terluka akibat rasa cintanya pada dirinya. Untuk apa ada cinta tapi harus melukai diri sendiri.
"Maafkan aku, Jessy... " Bisik Al sambil menepuk pundak wanita yang masih terbaring di ranjang itu. "Maafkan aku yang membuatmu seperti ini..... aku selalu sayang kamu... aku yang salah.... bukan kamu... jangan sakiti dirimu lagi ya!"
Jessy masih terisak di pelukan Al. Ia tahu Al memang sudah meninggalkannya di hari pernikahannya ketika keluarga besar istrinya mendatangi pesta pernikahan mereka. Namun ia baru mengetahui alasannya yang membuat dirinya harus melepaskan Al.
"Jess... jangan lukai dirimu lagi ya!" Aku gak bisa tenang jika melihat kamu begini... kamu gak salah , Jess... aku yang salah.... aku yakin masih ada pria lain di luar sana yang bisa membahagiakanmu... "Bujuk Al.
"Al.... Jawab jujur.. kamu bahagia bersamanya?" Jessy bertanya sambil melepaskan pelukannya dan menatap Al dengan penuh keyakinan
""Sudahlah Jess... gak usah bahas itu, sekarang kita konsentrasi pada penyembuhan lukamu... besok aku sudah kembali bertugas.... kamu hiduplah seperti biasa... lupakan aku ya!" Bisakah kamu melakukan itu untukku?"
"Jadi benar kamu hidup bahagia dengannya.... baiklah, aku memang tidak penting dan bodoh ya Al?"
"Bukan itu Jess... sudahlah jangan dibahas soal keluargaku dan yang terjadi dahulu, sekarang gimana kalo kamu konsentrasi pada masa depanmu dan perkembangan salon kamu saja... kudengar makin banyak langgananmu ya?"
" Al...... Bolehkah kamu membayangkan wanita yang menjadi istrimu itu sekarang ... aku ingin melihatnya melalui mata hatimu... please Al!"
"Jess... jangan lakukan itu padaku... aku yang salah... aku ingin kamu hidup baik-baik saja... aku tetap sayang kamu tapi aku tak bisa bersamamu, Jess!" Al berkata dengan lirih dan menatap wanita yang masih dipenuhi air mata dan wajahnya makin pucat karena baru selesai operasi.
"Aku akan melepasmu dengan rela jika aku bisa melihatmu bahagia dengannya.... please Al... lakukan itu!" Aku minta kamu bayangkan ketika kau bersama dengannya dengan bahagia, ... hanya itu permintaanku," Bujuk Jessy sambil terus memohon.
"Jess... Jika kamu melihatnya, maka kamu akan makin terluka... jangan lakukan ini padaku, Jess!" ... kuharap kamu mengerti, .... bukan dengan melakukan hal ini dalam mencari informasi tentangku dan kamu tidak perlu mencari penggantiku dengan cara seperti ini juga Jess, ... kemampuanmu bisa membuat dirimu dimanfaatkan orang , Jess.. Hiduplah dengan bahagia,... lakukan yang kau suka... jangan sakiti dirimu lagi!" Hidupmu itu begitu berharga, jess!" Jangan ada yang mengetahui keahlianmu itu, Jess!" Aku takut kau dimanfaatkan orang , Jessy!"
"Baiklah.... jika kamu memang bahagia bersamanya dan tidak ingin aku melihat kehidupan kalian... tak apa... pergilah !" Rajuk Jessy dan mendorong Al menjauh.
Al menarik nafas. Ia mengerti jika ia menceritakan kehidupannya yang sekarang malah akan membuat Jessy makin sakit hati. Apalagi jika Jessy melihat melalui mata hatinya. Ia tidak ingin Jessy mengetahui sudut terdalamnya. Wanita itu membuang mukanya dan tidak mau menatap pria yang ditangisinya sepanjang hari kemarin.
Jessy ingin berteriak dan mengusir pria yang masih duduk di ranjang rumah sakit itu, hingga suara yang familiar di pintu rumah sakit itu menghentikan lamunannya.
"Jessy... Jess... akhirnya aku menemukanmu," Panggil Jenny. " Tadi kami berkeliling rumah sakit setelah dari kantor polisi,... rupanya kamu disini,"... Kamu kenapa Jess?... Hei... ini ada si bajingan itu!" Teriak Jenny ketika melihat Al duduk di depan Jessy.
"Jenn... Kamu ko bisa tahu aku disini?" Jessy bertanya heran pada kedua pria yang baru datang. Ia menatap Jenny yang berdiri di sampingnya dan Handoyo yang cuma berdiri menatapnya di dekat pintu.
"Tadi aku kan datang ke salon jam delapan, dan aku sangat terkejut ketika di salon ada pak RT dan beberapa orang warga yang berkerumun... karena melihat pintu kaca salon pecah dan tidak ada kamu disana... aku melihat banyak darah yagn sangat banyak di lantai dan suasana salon berantakan ... awalnya aku menduga kita dirampok Jessy, tapi kata mas Han.. bukan melihat dari sisa- sisa kerusakan kaca dan darah hanya di situ saja dan tidak ada yang hilang.... entahlah itu apa, Pak RT melaporkan ke polisi dan mas Han, mengajakku mencari rumah sakit atau dokter terdekat. tapi emh ..... itu pasti perbuatan kamu yang melukai sahabatku," Teriak Jenny sambil menunjuk Al.
Al Terdiam dan memandang tidak suka pada Jenny yang baru datang dan menunjuk-nunjuknya. Al kemudian makin terkejut ketika melihat pria lainnya yang berdiri bersandar di pintu masuk . Al memperhatikan pria yang menggunakan topi hitam dan menatapnya tajam. Mereka saling memandang dalam diam beberapa saat.
"Jenn.. bukan Al yang melakukannya... tapi.. "Jessy berusaha menjelaskan tapi terpotong oleh ucapan Jessy yang terus marah menatap Al hingga pria itu berdiri di samping ranjang dan bergantian menatap kedua pria yang baru datang.
"Jess... kamu ini selalu membela Al... sudah kubilang pria ini bukan pria baik... mana ada pria yang meninggalkan pengantinnya di pesta pernikahannya dan baru datang sekarang dan membuatmu terluka... Jessy, dia cuma memanfaatkanmu, Jess!" ... heran deh, gak bosan-bosan kamu masih mau percaya omongan pria ini!" ...kamu mau bilang apa lagi Jess.... tahu gak, tadi mas Han lah yang mengantarku berkeliling ke rumah sakit dan kami akhirnya bisa menemukanmu disini... sudahlah Jess... mending kau jadi istri ke dua mas Han aja, daripada jadi istri si brengsek yang gak jelas ini... " Cerocos Jenny yang membuat Al makin tidak suka dan menatap kedua pria itu dengan makin tajam.
Jessy terdiam dan memperhatikan Al yang menatap pria yang berdiri dengan angkuh di pintu. Pria itu tidak berkata apapun ataupun menghampirinya dan menanyakann keadaannya, Pria itu hanya berdiri di ujung pintu dan terkesan memang hanya mengantar Jenny mencarinya. Istri kedua Mas Han... akh ini kesempatan selagi ada Al disini, pikir Jessy.
"Mas Han.... kemarilah!" Pasti tadi kamu ke salon karena mau keramas ya?" Maaf... aku mungkin tidak bisa melakukannya seminggu ini, Luka di perutku belum sembuh. " Panggil Jessy pada Handoyo dan membuat pria itu akhirnya melangkah menuju ranjang .
"gak papa... aku bisa melakukannya sendiri... kamu baik-baik saja, Jess ?" Handoyo akhirnya bertanya pada Jessy dan sedikit melirik pria berbadan tegap di samping Jessy yang terus memperhatikannya.
Al masih terus memperhatikan Handoyo dengan intens dari ujung kepala dari ujung kaki. Pandangannya semakin intens ketika melihat pria itu menghampiri Jessy dan berdiri di samping Jenny. Mereka bertiga berdiri mengerumuni Jessy yang terbaring di ranjang karena memang belum boleh banyak bergerak akibat luka di perutnya.
"Kamu kenapa sih, Jess?' Handoyo menatap perban yang ada di tangan kiri Jessy dan menatap pada bagian perut jessy kerena terlihat bagian perut itu terlihat membesar akibat banyak perban disana yang ditutup pakaian rumah sakit.
"Aku cuma mencoba menggunting dengan sudut yang berbeda.... emh lupakan saja, aku yang salah ko, mas Han....bisa Jessy minta tolong padamu, mas Han?"
"katakanlah... jika memang bisa akan kulakukan itu, " sahut Handoyo cepat.
"Bisakah aku menjadi istri ke duamu?" Jessy bertanya pelan dan pasti.
Handoyo dan Al terkejut mendengar pertanyaan Jessy. Jenny yang mendengarnya tersenyum dan menunggu jawaban Handoyo.
*****
Happy Reading guys.... bolehkah tinggalkan jejak di sini? Thanks atas segala komentar dan masukannya, maaf baru unggah lagi. Terimakasih ya semuanya!" Love you!
kukirim vote & setangkai mawar buatmu thor
biar tambah semangat 😊
selamat idul fitri kak.....
semangat...