NovelToon NovelToon
MENAKLUKAN HATI SI JENIUS DINGIN

MENAKLUKAN HATI SI JENIUS DINGIN

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Diam-Diam Cinta / Cinta pada Pandangan Pertama / Idola sekolah / Enemy to Lovers / Cintapertama
Popularitas:126
Nilai: 5
Nama Author: alfphyrizhmi

"Kamu emang jenius, kenapa dingin banget sih?"
"Gapapa."
"Gapapa apanya? kamu tuh dingin kayak... Es krim ini."
"Iya. Es krim itu juga kan.... manis."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon alfphyrizhmi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB — 05

BAB 05 — Bubur Ayam

Matahari sore Jakarta berwarna jingga kusam, tersaring polusi asap knalpot yang pekat di perempatan Jalan Merdeka. Di trotoar depan sebuah ruko yang tutup, tenda terpal biru tua sedang dibentangkan.

Mayang tidak lagi mengenakan kemeja kebesaran pemberian Vino. Kemeja itu sudah dilipat rapi, dimasukkan ke dalam plastik kedap udara, dan disimpan di bagian terdalam tasnya seolah benda keramat.

Sekarang, dia mengenakan kaos oblong hitam pudar bertuliskan "Pemilu 2019" dan celana training selutut. Rambutnya digelung tinggi, memperlihatkan leher jenjangnya yang berkeringat.

“Budhe, bawang gorengnya tinggal dikit,” lapor Mayang sambil menuangkan sisa bawang dari toples kaca ke mangkuk kecil.

Budhe Sumi yang sedang mengaduk dandang besar menoleh. Wajah tuanya terlihat lelah, tapi matanya hidup. “Nanti beli di warung sebelah kalau habis. Kamu layani yang bungkus dulu, itu ojek online sudah antre tiga.”

Mayang mengangguk. Dia bergerak cepat. Tangannya menyambar kertas minyak, membentuk kerucut dengan gerakan luwes yang terlatih ribuan kali.

Cekatan.

Tidak ada keraguan seperti saat dia berdiri di depan kelas elit tadi pagi. Di sini, di balik gerobak bertuliskan BUBUR AYAM BAROKAH, Mayang memegang kendali.

“Dua bungkus, Bang? Pedas?” tanya Mayang pada pengemudi ojek berjaket hijau.

“Iya, Neng. Yang satu jangan pakai kacang. Gigi pelanggan saya lagi sakit katanya,” jawab abang ojek itu sambil terkekeh, memainkan ponselnya.

“Siap. Dua belas ribu kali dua. Dua puluh empat ribu.”

Tangan Mayang menari. Sendok nasi masuk ke dandang, mengambil bubur putih kental, menuangkannya ke kertas. Plok. Sempurna. Tidak ada yang tumpah.

Kecap asin. Kuah kuning. Suwiran ayam. Kacang (hanya untuk satu bungkus). Kerupuk. Sambal.

Semua dilakukan dalam hitungan detik. Ritme kerja yang efisien.

“Ini, Bang. Uangnya pas ya. Hati-hati.”

Mayang menyerahkan kantong plastik. Dia menyeka keringat di dahi dengan lengan kaosnya.

“May!” panggil Budhe. “Meja nomor tiga kotor. Bekas anak pulang kerja.”

“Iya, Budhe!”

Mayang menyambar lap kain. Dia berjalan ke meja plastik merah yang lengket oleh tumpahan kecap. Dia membersihkannya dengan tenaga kuat. Gosok, putar, buang remah ke lantai. Bersih.

Di trotoar ini, Mayang bukan siswi miskin yang di-bully. Dia adalah tulang punggung yang kokoh.

Sebuah motor Vespa Matic kuning mengkilap berhenti tepat di depan tenda. Suara mesinnya halus, kontras dengan deru bajaj yang lewat.

Pengendaranya membuka helm retro mahal. Rambutnya sedikit berantakan tertiup angin, tapi tetap terlihat stylish.

Naufal.

Mayang yang sedang mencuci mangkok di ember belakang, membeku sejenak. Busa sabun menutupi tangannya.

Naufal turun dari motor. Dia memakai jaket denim yang harganya mungkin bisa untuk modal jualan bubur seminggu. Dia celingukan, tampak canggung melihat suasana warung tenda yang ramai dan agak semrawut.

Dia melihat Mayang. Wajahnya cerah seketika.

“May!” sapa Naufal, melambaikan tangan.

Mayang menghela napas. Dia membilas tangannya cepat, mengeringkannya di celemek. Dia berjalan mendekat.

“Naufal. Ngapain ke sini?” tanya Mayang datar. Dia tidak ingin dunia sekolahnya bocor ke dunia kerjanya. Itu berbahaya.

“Makan dong. Masa mau nyuci motor?” canda Naufal, mencoba mencairkan suasana. Dia duduk di bangku plastik yang kakinya sedikit goyang. “Gue laper abis basket. Katanya bubur lo enak.”

“Siapa yang bilang?”

“Gue... nebak aja. Intuisi,” Naufal nyengir. “Satu porsi ya, May. Yang spesial. Paling mahal pokoknya.”

“Spesial pakai telor ayam kampung dan ati ampela. Dua puluh ribu,” kata Mayang profesional.

“Sip. Dua puluh ribu mah kecil. Sikat.”

Mayang berbalik, menyiapkan pesanan. Budhe Sumi menyenggol lengan Mayang pelan.

“Siapa, Nduk? Ganteng amat. Pacarmu?” bisik Budhe, matanya berbinar menggoda.

“Teman sekolah, Budhe. Orang kaya. Jangan digoda, nanti dia risih,” jawab Mayang ketus sambil mengupas telur rebus.

“Lah, orang kaya kok mau makan di pinggir jalan? Biasanya kan alergi debu.”

“Lagi pengen tahu rasanya hidup susah kali,” gumam Mayang.

Mayang mengantarkan mangkuk bubur itu ke meja Naufal. Naufal sedang sibuk mengelap sendok dengan tisu basah yang dia bawa sendiri dari tasnya.

“Ini. Dimakan selagi panas,” kata Mayang meletakkan mangkuk.

“Makasih, May. Eh, lo nggak duduk? Temenin gue makan dong.”

“Aku kerja, Fal. Masih banyak pelanggan.”

“Yah... bentar aja. Lima menit. Gue mau nanya soal tadi siang. Lo beneran nggak apa-apa? Gue kepikiran terus sumpah. Si Vivie emang setan.”

Mayang menatap Naufal. Cowok ini baik. Terlalu baik. Tapi kebaikannya terasa seperti selimut tebal di hari panas—nyaman, tapi membuat sesak.

“Aku nggak apa-apa. Udah lupa,” bohong Mayang. “Makan aja. Nanti dingin nggak enak.”

Naufal menyuap buburnya. Matanya membelalak.

“Gila. Enak banget, May! Serius. Ini kuahnya gurih parah. Beda sama bubur kantin sekolah yang rasanya kayak lem kertas.”

Mayang menahan senyum tipis. Pujian soal masakan selalu menyenangkan, siapapun yang mengucapkannya. “Itu resep almarhum Bapak.”

“Bapak lo jago masak ya?”

“Bapak koki kapal pesiar dulunya. Sebelum sakit.”

“Oh...” Naufal terdiam, sadar dia masuk ke topik sensitif. Dia mengalihkan pembicaraan. “Eh, besok gue jemput ya? Biar lo nggak usah naik angkot. Kasihan desak-desakan.”

Mayang menggeleng tegas. “Nggak usah.”

“Kenapa? Gratis kok. Gue bawa helm dua.”

“Bukan soal gratis. Aku bawa barang banyak. Nggak muat di vespamu.”

“Gue bisa bawain! Tas lo, buku lo...”

“Naufal,” potong Mayang. Dia menatap mata cowok itu. “Dunia kita beda. Di sekolah, mungkin kita sekelas. Di sini, aku penjual, kamu pembeli. Jangan campur aduk. Nanti kamu malu kalau ketahuan teman-temanmu.”

“Gue nggak malu!” bantah Naufal cepat.

“Sekarang nggak. Besok? Lusa? Pas teman-teman basketmu lewat sini dan lihat kamu makan di tenda kumuh?”

Naufal terdiam. Dia tidak punya jawaban untuk itu.

“Habiskan makanannya. Aku harus cuci piring,” Mayang berbalik meninggalkan Naufal yang terpaku dengan sendok di mulut.

Mayang tahu dia kasar. Tapi dia harus membangun tembok. Harapan adalah hal yang berbahaya bagi orang seperti dia.

Di seberang jalan, terparkir sebuah mobil SUV hitam Land Rover Defender. Kaca filmnya gelap total, 80 persen, membuat siapa pun di luar tidak bisa melihat ke dalam.

Mesin mobil itu menyala halus, menjaga suhu kabin tetap di angka 18 derajat Celcius.

Di kursi belakang, Vino duduk dengan kaki disilangkan. Dia tidak memegang buku atau laptop kali ini. Dia memegang segelas Tumbler kopi yang sudah dingin.

Matanya menatap lurus ke arah tenda biru di seberang jalan.

Dia melihat semuanya. Gerakan Mayang yang cekatan. Kedatangan Naufal. Interaksi canggung mereka. Cara Mayang meninggalkan Naufal sendirian di meja.

“Pak Ujang,” panggil Vino pelan.

“Ya, Den?” sahut sopir pribadi keluarga Vino, seorang pria tua berkumis tebal yang setia.

“Menurut Bapak, bubur ayam itu makanan sehat nggak?”

Pak Ujang melihat ke kaca spion tengah, bingung dengan pertanyaan majikan mudanya yang biasanya hanya bicara soal saham dan nilai tukar rupiah.

“Ya... sehat atuh, Den. Karbohidrat ada, protein ayam ada. Asal jangan kebanyakan mecin sama jeroan.”

Vino mengangguk-angguk pelan. Jarinya mengetuk-ngetuk tutup Tumbler.

“Bapak lapar?”

“Lumayan, Den. Tadi siang cuma makan roti.”

Vino mengeluarkan dompet kulit dari saku blazernya. Dia menarik selembar uang merah. Seratus ribu rupiah.

“Beli dua bungkus. Satu buat Bapak, satu buat saya.”

Pak Ujang kaget. “Den Vino mau makan bubur pinggir jalan? Yakin? Nanti perutnya kaget. Ibu bisa marah kalau tahu Aden makan sembarangan.”

“Ibu lagi di Paris. Dia nggak bakal tahu. Lagian ini riset pasar. Saya mau tahu kenapa UMKM di sektor kuliner kaki lima bisa bertahan di tengah inflasi bahan baku.”

Alasan. Selalu ada alasan logis untuk menutupi rasa penasaran.

“Siap, Den. Pake apa aja?”

“Punya saya: Polos. Tanpa kacang, tanpa daun bawang, tanpa bawang goreng. Ayamnya dipisah. Kerupuknya dipisah. Sambalnya dipisah. Kuahnya sedikit saja. Jangan pakai kecap manis.”

Pak Ujang melongo. “Itu bubur apa bubur bayi, Den? Hambar atuh.”

“Lakukan saja sesuai instruksi. Variabel rasa harus diisolasi biar saya bisa nilai kualitas dasar buburnya.”

Pak Ujang geleng-geleng kepala, mengambil uang itu, lalu keluar dari mobil.

Vino melihat Pak Ujang menyeberang jalan.

Dia melihat Mayang menyambut Pak Ujang. Dia melihat Mayang tersenyum—senyum yang beda dengan saat dia bicara pada Naufal. Senyum sopan pada orang tua. Dia melihat Mayang membungkus pesanan dengan kecepatan kilat.

Vino mendekatkan wajahnya sedikit ke kaca jendela. Dia memperhatikan tangan Mayang.

Kasar. Ada bekas luka bakar kecil di lengan kanannya—mungkin kena cipratan minyak atau panci panas. Kuku-kukunya pendek, bersih, tanpa cat kuku.

Berbeda sekali dengan tangan halus Vivie yang tiap minggu manicure.

Tangan itu adalah tangan pekerja. Tangan yang membangun hidup dari nol.

Pak Ujang kembali ke mobil membawa dua kantong plastik putih yang masih panas. Aroma kaldu ayam langsung menyerbu masuk, mengalahkan wangi air freshener aroma lavender di dalam mobil.

“Ini, Den. Kembaliannya lima puluh dua ribu.”

Vino menerima kantong plastiknya. “Kembaliannya buat Bapak aja.”

“Alhamdulillah. Makasih, Den.”

“Jalan, Pak. Pulang.”

Mobil mewah itu perlahan bergerak meninggalkan pinggir jalan.

Vino membuka ikatan karet bungkus buburnya. Dia tidak memakannya langsung. Dia melihat tekstur buburnya. Putih, halus, kental.

Dia mencelupkan ujung sendok plastik. Mencicipi sedikit.

Gurih. Ada rasa jahe dan bawang putih yang kuat.

Vino terdiam. Lidahnya yang terbiasa makan Steak Wagyu dan Salmon En Croute merasakan sesuatu yang... jujur. Makanan ini tidak pretisius. Makanan ini hangat.

“Not bad,” gumam Vino.

Dia melihat ke luar jendela, melihat tenda biru itu semakin mengecil di kaca spion.

Dia teringat kejadian di kantin tadi siang. Cara Mayang membersihkan lantai. Cara dia menolak bantuan Naufal barusan.

Gadis itu punya pride. Kebanggaan diri yang tidak bisa dibeli dengan uang, dan tidak bisa dihancurkan dengan kemiskinan.

Vino mengambil ponselnya. Membuka aplikasi Notes.

Dia mengetik satu baris baru di bawah folder bernama: PROJECT: M.S.

Observasi Hari 1: Subjek memiliki resistensi tinggi terhadap belas kasihan. Memiliki skill manual yang baik. Kelemahan potensial: Terlalu defensif.

Strategi: Jangan tawarkan bantuan. Tawarkan tantangan.

Vino menutup ponselnya. Dia memakan suapan kedua bubur polos itu.

Jam sembilan malam.

Jalanan mulai sepi. Tenda sudah dilipat. Gerobak sudah didorong masuk ke halaman kontrakan.

Mayang duduk di lantai dapur, menghitung uang hasil penjualan hari ini. Uang lecek dua ribuan, lima ribuan, dan beberapa lembar puluhan ribu.

“Dapat berapa, Nduk?” tanya Budhe sambil memijat betisnya dengan minyak tawon.

“Bersih dua ratus lima puluh ribu, Budhe. Alhamdulillah. Pasarnya lagi rame.”

“Alhamdulillah. Bisa buat bayar listrik besok.”

Mayang memisahkan uang itu. Seratus ribu untuk belanja besok. Seratus ribu untuk Budhe. Lima puluh ribu dia simpan di kaleng biskuit bekas—tabungan darurat.

Dia teringat Naufal. Dia teringat tatapan mata Vino di ruang OSIS. Dia teringat seragam putih bersih yang sekarang tergantung di kamarnya.

Dua dunia yang bertabrakan.

Mayang mengambil buku pelajaran Fisika yang sampulnya sudah sobek. Dia belum mengantuk. Dia harus belajar. Dia harus mengejar ketertinggalan materi.

Di halaman pertama buku itu, Mayang menemukan secarik kertas terselip.

Itu struk belanja minimarket yang dijadikan pembatas buku. Di balik struk itu, ada tulisan tangan Bapaknya yang sudah pudar.

“Mimpi itu gratis, May. Tapi mewujudkannya mahal. Bayarlah dengan keringat, bukan dengan harga diri.”

Mayang mengusap tulisan itu dengan ibu jarinya.

“Iya, Pak. Mayang ingat,” bisiknya.

Dia mulai membaca bab tentang Hukum Newton. Aksi dan Reaksi.

Jika Vivie memberikan aksi berupa tekanan, Mayang akan memberikan reaksi berupa gaya dorong yang sama besarnya ke arah berlawanan.

Dan Vino? Vino adalah gaya gesek. Bisa menghambat, tapi juga bisa membuat benda tetap berpijak di tanah agar tidak tergelincir.

Malam itu, di bawah lampu bohlam 5 watt yang redup, Mayang belajar sampai matanya berair. Dia tidak tahu bahwa di sebuah kamar mewah di kawasan Pondok Indah, seorang jenius juga sedang memikirkan dirinya, bukan sebagai objek cinta, tapi sebagai anomali matematika yang harus dipecahkan.

Bersambung.....

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!