Mirea dikenal sebagai pembunuh bayaran yang paling ditakuti. Setelah bertahun-tahun menelusuri jejak masa lalunya, ia akhirnya pulang dan menemukan kenyataan bahwa orang tuanya masih hidup, dan ia memiliki tiga kakak laki-laki.
Takut jati dirinya akan membuat mereka takut dan menjauh, Mirea menyembunyikan masa lalunya dan berpura-pura menjadi gadis manis, lembut, dan penurut di hadapan keluarganya. Namun rahasia itu mulai retak ketika Kaelion, pria yang kelak akan menjadi tunangannya, tanpa sengaja mengetahui siapa dirinya yang sebenarnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lirien, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Berita Palsu
“Gak bisa,” ujar Mirea tegas.
Kael langsung menatapnya dengan dingin sambil menyandarkan tubuh ke kursi di belakang, sorot matanya menyelidik gadis itu tanpa berkedip, seolah ingin menembus apa yang sebenarnya ada di balik sikapnya.
Karena terus diperhatikan seperti itu, Mirea cepat memutar otak. Ia lalu menurunkan nada suaranya, memasang ekspresi lebih lembut.
“Aku cuma orang kaya baru,” katanya pelan. “Aku nggak cantik dan nggak punya latar belakang. Mana pantas bersanding dengan putra konglomerat di Zhenkai?” ujar Mirea lirih, seolah merendahkan diri sambil mencari celah pembelaan.
Farel menoleh ke arah Kael, lalu berkata dengan suara rendah, “Dia cukup sadar diri juga, ya.”
Kael hanya menampilkan senyum tipis yang tajam, tanpa memberi tanggapan.
“Dibandingkan dengan Tuan Kael…” lanjut Mirea sambil melirik Boris di sebelahnya. Tak lama kemudian ia menggeser posisi duduknya, sedikit demi sedikit mendekat ke arah Boris.
“Aku lebih suka dengan Tuan Boris,” ujarnya, nada suaranya dibuat seolah malu-malu.
Sontak Boris Johnson langsung tersentak.
“Hah? A-Aku?” Boris tergagap, refleks tubuhnya menegang. Wajahnya terlihat panik, tapi di balik itu ada ekspresi kaget yang bercampur tidak percaya. Ia melirik Kael sekilas, jelas takut dianggap menyaingi.
“Yang lembut, perhatian, seperti kakak-kakakku,” tambah Mirea sambil melirik Boris lagi.
Farel dan Noel sama-sama terpelongok. Mereka tidak menyangka Mirea bisa berbicara sefrontal itu.
Sedangkan Kael sudah menatap Boris dengan sorot mata sinis, dingin, tanpa ekspresi.
“A-Ah… aku?” Boris kembali tergagap, telinganya terasa panas.
“Eumm…” Mirea berdehem lembut sambil mengangguk kecil.
“Dia terang-terangan bilang aku lebih baik daripada Tuan Kael.”
Boris menahan senyum yang hampir terangkat. Dadanya terasa hangat, campuran antara senang, kaget, dan gugup. Ia mencoba tetap terlihat tenang, tapi sudut bibirnya tetap betrayer.
“Dia menjengkelkan banget!” batin Boris sambil memalingkan wajah ke arah lain, berusaha menyembunyikan senyum kecil yang nyaris lolos di sudut bibirnya.
“Tapi walaupun Mira ini cuma orang kaya baru yang agak bodoh… wajahnya cukup manis. Dan kelihatan penurut,” lanjutnya dalam hati. Tatapannya kembali melirik ke arah Mirea tanpa sadar, mengamati setiap gerak kecil gadis itu—cara ia duduk, cara bahunya sedikit condong ke depan, cara jemarinya menyelipkan rambut ke belakang telinga dengan gerakan lembut yang seolah tak disengaja.
“Kalau tipe begini… gampang dibentuk,” pikir Boris.
“Boleh juga buat main-main.”
Pandangan matanya turun perlahan, berhenti di paha Mirea yang terekspos karena rok pendek di atas lutut. Bukan tatapan sekilas melainkan tatapan yang terlalu lama, terlalu terang-terangan, penuh niat yang tak ia sembunyikan lagi.
Dan Mirea sadar.
Ia tidak langsung menoleh. Tidak langsung bereaksi. Justru dengan gerakan sangat lambat seolah tidak menyadari apa pun Mirea menggeser tangannya ke paha. Jemarinya mengelus kulitnya sendiri pelan, lalu… sedikit menaikkan rok.
Cukup sedikit.
Tapi cukup jelas.
Di sana, tepat di sisi pahanya, muncul sebuah tato hitam kecil dengan huruf tegas:
YOU SEE, YOU DIE.
Boris membaca satu per satu.
You. See. You. Die.
Yang artinya "kamu Lihat, Kamu mati"
Senyumnya langsung membeku.
Darah di wajahnya terasa seperti mundur. Matanya melebar, napasnya tercekat sepersekian detik. Ada sensasi dingin yang merambat dari tengkuk ke tulang belakang.
Perlahan, pandangannya naik ke wajah Mirea.
Dan di sanalah ia melihatnya.
Bukan senyum polos.
Bukan tatapan malu.
Melainkan sorot mata yang tenang, dingin, tajam dan bahkan tidak berkata apa-apa. Ia hanya sedikit menggerakkan jarinya di udara, sangat kecil, nyaris tak terlihat… seperti gerakan memotong leher.
Itu cukup.
Boris refleks mengucek kedua matanya dengan kasar, jantungnya berdetak lebih cepat dari sebelumnya.
“Tidak mungkin…” gumamnya pelan.
“Cuma salah lihat.”
Ia menoleh lagi.
Tapi kali ini, Mirea sudah kembali seperti semula duduk manis, bahu tegak, senyum lembut terpasang di wajahnya seolah tidak pernah terjadi apa-apa.
“Aneh…” Boris bergumam sambil menepuk pipinya sendiri pelan, seperti orang yang baru terbangun dari lamunan.
“Apa aku halu barusan?”
Noel yang sejak tadi memperhatikan akhirnya menyipitkan mata.
“Boris, kamu kenapa dari tadi aneh?” tanyanya heran.
Boris tersentak.
“Hah? A-Ah… enggak, enggak apa-apa,” jawabnya cepat, tangannya bergerak canggung, jelas berusaha menutupi kegugupannya sendiri.
“Beneran, nggak ada apa-apa.”
Ia menelan ludah, lalu buru-buru mengalihkan topik, suaranya dibuat setenang mungkin meski nadanya sedikit fals.
“Cuma… tadi kalian masuk Stone at Black lancar-lancar saja, kan?” tanyanya, berusaha mengembalikan kendali percakapan dan pikirannya sendiri.
“Dua tiket masuk itu… apa nggak bermasalah?” tanya Boris, nadanya terdengar sedikit ragu.
“No,” jawab Noel santai sambil meletakkan gelas wine-nya di atas meja. Bunyi klink kecil terdengar. “Bukannya kamu sendiri yang kasih tiket itu ke aku?” lanjutnya, alisnya terangkat. “Memangnya bisa ada masalah?”
Boris langsung tertawa kecil, tawa yang terdengar dipaksakan.
“Haha… ya, iya juga sih.”
“Tapi tadi memang ada beberapa orang yang nggak tahu diri,” lanjut Noel, suaranya berubah sedikit lebih dingin.
“Siapa?” Boris refleks bertanya, kepo.
“Ada anggota geng, rambutnya pirang. Dia sempat ganggu adikku,” ujar Noel sambil melirik singkat ke arah Mirea.
Sontak Boris ikut menoleh ke arah Mirea.
“Astaga…” gumamnya, nada suaranya terdengar kesal. “Berani banget.”
Mirea hanya mengangguk kecil, memasang ekspresi lemah dan polos, seolah benar-benar korban.
“Berani-beraninya dia ganggu bos,” kata Boris, kali ini nadanya lebih berat. “Aku rasa bocah itu memang sudah bosan hidup.”
Mendengar kata bos, Farel sempat terdiam sejenak. Alisnya mengernyit, jelas menangkap kejanggalan dari ucapan Boris.
“Pengawal!” teriak Boris tiba-tiba, suaranya meninggi. “Bawa bocah berambut pirang itu ke sini!”
Farel langsung menoleh tajam.
“Bos?” tanyanya, akhirnya tak bisa menahan rasa herannya.
Boris tampak sedikit tergagap. Ia menarik napas, lalu tersenyum kaku, seolah baru sadar dirinya keceplosan.
“A-Ah… Tuan Farel,” katanya cepat, mencoba menutupi. “Aku nggak mau menutupi ini dari kamu. Sebenarnya… aku ini anggota geng.”
Mendengar itu, sorot mata Mirea langsung berubah. Senyum polosnya lenyap, berganti tatapan sinis yang menusuk langsung ke arah Boris.