Reza telah memiliki Zahra, model ternama dengan karier cemerlang dan ambisi besar. Namun, demi keluarga, ia dipaksa menikahi Ayza, perempuan sederhana yang hidupnya penuh keterbatasan dan luka masa lalu.
Reza menolak pernikahan itu sejak awal. Baginya Ayza hanyalah beban yang tak pernah ia pilih. Pernikahan mereka disembunyikan, Ayza dikurung dalam peran istri tanpa cinta, tanpa ruang, dan tanpa kesempatan mengembangkan diri.
Meski memiliki bakat menjahit dan ketekunan luar biasa, Ayza dipatahkan perlahan oleh sikap dingin Reza. Hingga suatu hari, talak tiga dijatuhkan, mengakhiri segalanya tanpa penyesalan.
Reza akhirnya menikahi Zahra, perempuan yg selalu ia inginkan. Namun pernikahan itu justru terasa kosong. Saat Reza menyadari nilai Ayza yg sesungguhnya, semuanya telah terlambat. Ayza bukan hanya telah pergi, tetapi juga telah memilih hidup yg tak lagi menunggunya.
Waalaikumsalam, Mantan Imam adalah kisah tentang cinta yg terlambat disadari dan kehilangan yg tak bisa ditebus.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana 17 Oktober, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
34. Batas yang Tak Terucap
Ayza menatapnya sebentar. Hanya sebentar. “Apa itu penting, Tuan Reza?” balasnya tenang.
Reza terdiam.
“Kalau penting,” lanjut Ayza sambil melangkah kembali ke sofa, “kita bisa bicarakan nanti.”
Reza masih duduk terpaku. Mulutnya hampir terbuka, lalu tertutup kembali.
"Aku bahkan tak tahu apa-apa tentang dia. Ah, sudahlah. Nanti aja aku bahas. Pekerjaan lebih penting," batinnya.
Ia kembali menatap dokumen di hadapannya, lalu menghela napas pelan.
“Aku… butuh bantuanmu untuk dokumen yang lain," katanya akhirnya.
Ayza mengangguk. "Akan kubantu."
Mereka akhirnya sama-sama bekerja dalam diam. Reza sesekali melirik Ayza, ada rasa kagum yang enggan ia akui.
Saat Reza kembali dari meeting, Ayza sudah menyelesaikan semua dokumen yang ia berikan.
"Kamu ingin makan apa?" tanya Reza.
"Apa saja," sahut Ayza. "Yang penting halal."
Reza mengangguk. "Kalau begitu pesan saja yang kamu mau. Kita makan di sini saja."
"Apa saja?" Ayza sedikit mengangkat alisnya.
"Iya," sahut Reza mantap.
Ayza tersenyum tipis di balik cadarnya. "Kau begitu royal. Jangan-jangan ini ucapan terima kasih karena aku sudah bantu kamu."
Reza menghela napas pelan. "Anggap saja begitu," sahutnya malas.
Ayza mengangguk, mengulum senyum di balik cadarnya. "Dan kamu sengaja makan di kantor karena gak nyaman dengan gips di tanganmu."
Reza berdecak. "Kalau kau sudah tahu tak perlu mengatakannya. Ibumu makan apa sih waktu mengandungmu? Lidahmu tajam banget."
Bukannya tersinggung, Ayza malah tertawa kecil. "Lidahku bisa tajam, bisa lembut, bisa manis. Tergantung sama siapa aku bicara."
"Dan kau gunakan lidah tajammu itu untuk bicara dengan suamimu?" sambar Reza ketus.
Entah di mana kesan CEO dingin dan berwibawa itu.
“Setiap bicara dengannya, entah kenapa aku selalu merasa seperti terdakwa," batinnya pahit.
Ayza membuka ponselnya, mulai memilih menu. "Aku hanya menyampaikan fakta," ujarnya ringan. "Kalau kau terluka, mungkin perlu introspeksi diri."
Rahang Reza mengeras. Kata-kata itu begitu menohok. Tapi ia memilih diam daripada semakin terpojok.
Pintu diketuk pelan.
“Masuk," ucap Reza tanpa mengalihkan fokusnya dari dokumen di depannya.
Nina masuk membawa map tipis. “Pak, ini notulen meeting tadi dan poin revisi dari klien Singapura.”
Reza mengangguk. “Taruh saja.”
Nina melangkah mendekat ke meja, lalu berbalik hendak pergi. Namun langkahnya kembali melambat. Tanpa sadar, matanya melirik ke arah sofa.
Ayza duduk di sana, fokus menatap layar ponselnya, memilih menu makan siang. Tatapannya tenang, gerakannya santai.
Tapi bukan itu yang membuat Nina terdiam. Di meja kecil di depan Ayza, tersusun beberapa dokumen. Rapi. Terbuka. Penuh catatan di pinggir halaman.
Nina menahan napas sepersekian detik. "Itu… dokumen kantor."
Bukan hanya satu, tapi beberapa.
Dadanya sesak oleh rasa tak nyaman yang tak bisa ia jelaskan.
"Sebenarnya wanita ini siapa? Dan kenapa dia ada di ruangan Pak Reza… seolah-olah itu tempatnya?"
Nina menunduk cepat, lalu melangkah keluar, berusaha kembali pada perannya.
Namun satu hal tetap tertinggal di benaknya, yaitu rasa penasaran yang semakin sulit ia abaikan.
Usai memesan makanan, suara adzan dari ponsel Ayza berkumandang pelan. Ia menoleh ke Reza. “Musholanya di mana?”
“Lantai tiga, ujung koridor,” jawab Reza. “Jangan lama-lama. Jam istirahat sebentar.”
Ayza mengangguk. Tanpa komentar, ia berdiri dan melangkah pergi.
Jam istirahat baru saja dimulai ketika Ayza membentangkan sajadah di mushola.
Beberapa karyawan yang baru saja masuk sempat melirik. Tak ada yang bertanya. Tak ada yang menyapa. Wanita bercadar dengan gamis longgar itu memancarkan sesuatu yang membuat orang-orang otomatis menjaga jarak. Bukan karena takut, tapi segan.
Selesai salat, Ayza melipat sajadahnya rapi. Saat melangkah keluar, seorang petugas kebersihan di depan pintu nyaris terpeleset karena lantai masih lembap.
Ayza refleks meraih lengannya. “Hati-hati,” ucapnya pelan.
Petugas itu terkejut, lalu mengangguk cepat. “I-iya, terima kasih, Bu.”
Namun saat jarak mereka begitu dekat, ia sempat menangkap sesuatu dari balik cadar itu. Tatapan yang teduh. Tenang. Tidak tergesa. Tidak menghakimi.
Ayza sudah berlalu ketika bisik-bisik kembali terdengar.
“Itu bukannya wanita yang tadi pagi masuk bareng Pak Reza ya?”
“Iya. Aku lihat dia tadi keluar dari ruangannya.”
Petugas kebersihan yang tadi ditolong ikut menimpali, ragu-ragu.
“Entah siapa dia… tapi aneh. Aku ngerasa tenang waktu dia megang tangan aku.”
Yang lain menyahut lebih pelan, hampir berbisik.
“Kalian nggak ngeh? Jalannya agak… beda.”
“Yang kiri,” sahut yang lain singkat.
Bisik-bisik itu menggantung. Tak ada yang melanjutkan. Tak ada yang berani menyimpulkan.
***
Beberapa menit setelah Ayza keluar, Zahra masuk tanpa mengetuk pintu. Seperti biasanya.
Reza sempat terkejut. Ia ingat, ia bersama Ayza di kantor ini.
“Kamu buru-buru banget balik ke kantor,” ujar Zahra sambil melangkah ke meja Reza. “Padahal belum pulih.”
“Kerjaan menumpuk,” jawab Reza singkat, matanya melirik jam di pergelangan tangan. “Banyak revisi.” Ia berhenti sejenak. “Untung ada Ayza.”
Zahra tak langsung bicara. Alisnya mengerut tipis. “Ayza?” tanyanya pelan. “Bersamamu? Di kantor ini?”
Reza mengangguk kecil. “Iya. Awalnya kubawa buat bantu aku ke toilet.” Ia menghela napas kecil. “Nggak nyangka dia juga bisa bantu koreksi dokumen.”
Reza kembali melirik jamnya, lalu pintu ruangan. “Sayang,” ucapnya lembut, “selama dia ke kantor sama aku, kamu jangan ke sini dulu, ya.”
Zahra terdiam. "Dia ke kantor bareng Reza. Bantu ke toilet. Bantu kerjaan," batinnya.
Tangannya perlahan mengepal. “Kalau begitu,” katanya akhirnya sambil duduk di tepi meja menghadap Reza, “dua puluh empat jam kamu sama dia dong.” Nadanya manja, tapi ada getir di baliknya. “Kapan kamu ketemu aku?”
“Ini sementara,” jawab Reza cepat. “Begitu aku pulih, kita bisa sering ketemu lagi.”
Zahra memerhatikan arah pandang Reza, jam, lalu pintu.
“Kamu segitu takutnya dia lihat aku di sini?” tanyanya lirih, kecewa.
“Ra,” Reza menahan napas, “aku masih butuh dia. Selama aku belum pulih… dan selama Bunda juga belum sembuh.”
Ia menatap Zahra lebih dalam. “Sabar ya." Ia kembali melirik pintu. "Sebentar lagi dia pasti balik dari mushola. Kamu pergi dulu, ya.”
Zahra menghembuskan napas kasar. “Baiklah.”
Ia bangkit, lalu mendekat, berbisik di telinga Reza, suaranya lembut namun menekan.
“Tapi ingat… hatimu cuma buat aku.”
Ia mengecup leher Reza, sedikit lebih lama dari yang seharusnya.
“Ra…” gumam Reza. Dadanya berdesir.
Zahra tersenyum kecil, lalu mengecup bibir Reza singkat.
“Aku pergi.”
Ia melangkah keluar tepat sebelum pintu itu kembali menjadi saksi.
Pintu tertutup di belakang Zahra.
Langkahnya terhenti di lorong. Wajahnya masih menyimpan senyum tipis, tapi matanya berubah dingin.
"Wanita itu…"
Zahra mengepalkan tangannya perlahan.
"Bantu ke toilet. Bantu kerjaan. Duduk di ruangan Reza seharian."
Ia terkekeh pelan, tanpa suara.
"Lucu. Sangat lucu."
Selama ini, tak ada satu pun wanita yang bisa berada sedekat itu dengan Reza tanpa izin darinya. Bahkan sekretarisnya pun tahu batas.
"Tapi kau? Datang tiba-tiba. Diam. Tenang. Dan Reza membelamu tanpa sadar."
Zahra menyandarkan punggung ke dinding. Dadanya naik turun, bukan karena marah, melainkan karena kewaspadaan.
"Aku mengenal Reza. Dan aku tahu… ketertarikan Reza bukan dimulai dari wajah."
Ia tersenyum tipis.
"Ia dimulai dari rasa butuh."
Zahra meraih ponselnya, jemarinya bergerak cepat, lalu berhenti.
"Belum sekarang." Matanya menajam. "Kalau kau hanya bayangan, aku bisa mengabaikanmu. Tapi kalau kau mulai mengambil tempat…"
Ia meluruskan bahunya, kembali memakai wajah lembut yang biasa ia tunjukkan pada dunia.
"Maka aku yang akan memastikan kau tahu… siapa yang lebih dulu berdiri di sisi Reza."
...🔸🔸🔸...
...“Ketertarikan tidak selalu dimulai dari cinta. Kadang, ia lahir dari rasa butuh.”...
...“Ada wanita yang hadir dengan suara. Ada pula yang cukup dengan diam, dan itu lebih berbahaya.”...
...“Di dunia orang-orang yang tahu posisi, berjalan sejajar adalah pernyataan.”...
...“Ia tidak meminta tempat. Tapi perlahan, ia berada di sana.”...
...“Bukan wajahnya yang mengusik. Tapi ketenangannya.”...
..."Nana 17 Oktober "...
...🌸❤️🌸...
.
To be continued
Pulang lah Fahri, cari bukti² itu di rumah Reza meski mustahil tapi tetep kemungkinan bukti tertinggal tetep ada karena kebenaran gak akan bisa ditutupi meski oleh uang & kekuasaan & karma itu nyata 💪 semangat Fahri
Zahra meyakinkan diri - tidak akan pernah duduk di kursi terdakwa.
Wait and see.
Ayza sudah duduk di ruang tunggu pengadilan.
Ayza mengenali langkah kaki yang mendekat - Reza.
Ketika Reza sudah duduk - dia bicara tentang kesalahannya saat ketika melihat kejadian.
Sudah tidak ngaruh bagi kelangsungan rumah tangga mereka. Tetap selesai.