Reza telah memiliki Zahra, model ternama dengan karier cemerlang dan ambisi besar. Namun, demi keluarga, ia dipaksa menikahi Ayza, perempuan sederhana yang hidupnya penuh keterbatasan dan luka masa lalu.
Reza menolak pernikahan itu sejak awal. Baginya Ayza hanyalah beban yang tak pernah ia pilih. Pernikahan mereka disembunyikan, Ayza dikurung dalam peran istri tanpa cinta, tanpa ruang, dan tanpa kesempatan mengembangkan diri.
Meski memiliki bakat menjahit dan ketekunan luar biasa, Ayza dipatahkan perlahan oleh sikap dingin Reza. Hingga suatu hari, talak tiga dijatuhkan, mengakhiri segalanya tanpa penyesalan.
Reza akhirnya menikahi Zahra, perempuan yg selalu ia inginkan. Namun pernikahan itu justru terasa kosong. Saat Reza menyadari nilai Ayza yg sesungguhnya, semuanya telah terlambat. Ayza bukan hanya telah pergi, tetapi juga telah memilih hidup yg tak lagi menunggunya.
Waalaikumsalam, Mantan Imam adalah kisah tentang cinta yg terlambat disadari dan kehilangan yg tak bisa ditebus.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana 17 Oktober, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
28. Tanggung Jawab yang Terlalu Setia
...Ia mengejar yang membuatnya lupa pulang, dan mengabaikan yang selalu tahu jalan kembali....
Pintu kamar rawat itu tertutup pelan. Suara langkah Ayza menghilang di lorong.
Reza menatap pintu itu cukup lama. Terlalu lama untuk seseorang yang biasanya tak pernah menunggu siapa pun.
"Setelah dia pergi," gumamnya lirih. "Kenapa rasanya sunyi sekali?"
Lengan kirinya berdenyut nyeri, tapi dadanya terasa lebih sesak. Ia mengalihkan pandangan ke nakas. Ponselnya bergetar. Satu nama muncul di layar.
Zahra.
Reza refleks mengangkatnya. “Halo?” suaranya masih serak.
“Reza?” suara Zahra terdengar cemas, sedikit tergesa. “Maaf banget, aku baru lihat missed call kamu. Semalam aku capek banget. Semalam… kamu— ah, aku sampai tidur nyenyak banget, gak denger kamu telepon.”
"Jadi benar. Bukan karena gak peduli, hanya karena tertidur," pikirnya.
Reza memejamkan mata. Bayangan semalam berkelebat, membuat tubuhnya meremang sekaligus menegang. Terselip rasa bersalah yang selama ini ia tekan.
“Aku kecelakaan,” ucapnya singkat.
“Astaga—kamu kenapa?” suara Zahra meninggi. “Sekarang di mana?”
“Rumah sakit.”
“Aku ke sana sekarang,” jawab Zahra cepat. “Aku lagi di jalan. Paling sepuluh menit lagi.”
Ada jeda.
Reza membuka mata, menatap langit-langit putih di atasnya.
“Oh,” hanya itu yang keluar.
“Reza?” Zahra memanggil lagi. “Kamu kenapa? Suaramu aneh.”
“Enggak,” jawabnya. “Aku… nunggu.”
Menunggu. Entah kenapa kata itu terasa asing.
Telepon ditutup.
Reza menurunkan ponselnya perlahan. Tangannya gemetar tipis, bukan karena nyeri."Jadi benar. Bukan karena gak peduli, hanya karena tertidur," pikirnya.
Zahra datang. Perempuan yang selama ini ia pilih. Yang ia kejar. Yang membuatnya lupa pulang.
Dadanya menghangat, refleks yang familiar hanya karena mengingat namanya. Tapi bersamaan dengan itu, ada sesuatu yang lain menyusup. Gambaran punggung Ayza saat pergi.
Kalimatnya yang datar. Tangannya yang tenang saat membersihkan hal paling memalukan dalam hidupnya.
Reza menghela napas panjang. “Kenapa rasanya… beda?” gumamnya lirih.
Ia menunggu Zahra dengan perasaan campur aduk. Bukan rindu sepenuhnya. Bukan pula lega.
Lebih seperti… ingin berpegangan pada sesuatu yang lama, karena yang baru terlalu menakutkan.
Beberapa menit kemudian, pintu kamar terbuka.
Zahra masuk tergesa. Rambutnya masih rapi, parfum mahal langsung memenuhi ruangan.
“Ya Allah, Reza…” ia mendekat cepat. “Kamu kenapa sampai begini?”
Tatapan Reza naik perlahan. Wajah itu cantik seperti biasa. Wajah yang selalu ia kagumi.
Zahra menggenggam tangan kanannya, erat. Terlalu erat. “Aku khawatir banget,” ucapnya. “Kenapa semalam kamu gak maksa aku bangun?”
Reza menatap genggaman itu. Rasanya hangat, tapi kenapa jadi… asing.
“Aku sudah telepon beberapa kali. Gak diangkat,” jawabnya pelan. “Jadi aku pikir kamu tidur.”
Zahra terdiam sejenak, lalu tersenyum kecil. “Sorry ya.” iia mengusap dada Reza. "Kamu tahu sendiri, setiap kita..."
Ia memalingkan wajahnya malu-malu.
Reza mengangguk. Benar. Tapi entah kenapa, kalimat dan sentuhan itu membuatnya bersemangat, apalagi menenangkan, malah menyentil relung hatinya yang tahu mana yang benar.
Ia menarik tangannya perlahan, bersandar kembali ke bantal. “Ayza semalam ke sini,” ucapnya tiba-tiba.
Zahra membeku sepersekian detik. “Oh,” katanya kemudian, terlalu cepat. “Ya… wajar. Dia 'kan istrimu.”
Nada itu tipis, terjaga.
Reza menutup mata. Untuk pertama kalinya, kehadiran Zahra tidak menghapus rasa kosong itu.
Dan untuk pertama kalinya pula, ia sadar, ia datang ke Zahra bukan karena cinta yang utuh, karena ia sadar telah melanggar pegangan lamanya.
Dan itu… jauh lebih menyedihkan.
Zahra menatapnya. Ia merasakannya. Reza berbeda. "Rez, kamu kecewa karena semalam aku gak datang?"
Reza membuka matanya, menatap wajah yang selalu terlihat sempurna dan mempesona itu. Entah kenapa hanya memuaskan visualnya tanpa bisa menenangkan hatinya.
"Rez.." panggil Zahra.
Reza sedikit tersentak. "Nggak kok," jawabnya akhirnya. "Aku cuma nggak nyaman dengan kondisiku sekarang."
Pintu diketuk, lalu seorang perawat masuk membawa baskom.
"Pasien diseka dulu, ya," ucap perawat ramah. "Tangan masih digips, dan ada beberapa luka yang tidak boleh kena air."
Zahra melirik jam di pergelangan tangannya. "Sorry, aku harus pergi. Jadwal pemotretan sebentar lagi."
Ia mengecup pipi Reza di depan perawat tanpa merasa canggung. "Nanti aku ke sini lagi," ucapnya tanpa menunggu respon Reza.
Perawat tersenyum malu-malu. "Kalian pasangan yang manis," ucapnya refleks.
Reza tersenyum tipis yang tak sampai ke mata. "Dia memang ada pemotretan atau sengaja menghindar? Gak mau merawat aku?" batinnya.
"Pak," panggil perawat membuyarkan lamunan Reza. "Saya sekarang dulu, ya."
Reza menatap baskom, uap tipis terlihat. "Saya tak terbiasa-- ah, bolehkah nanti saja menunggu keluarga saya?"
Keluarga? Bahkan ia tak mau menyebut Ayza istri.
Perawat mengangguk, tersenyum tipis. "Iya. Tak apa."
Setelah perawat itu pergi, Reza menghela napas panjang.
***
Di rumah, Ayza membereskan rumah dengan cepat dan menyiapkan keperluan untuk ke rumah sakit. Menyiapkan masakan yang tak terlalu memakan' banyak waktu.
Fahri keluar dari kamarnya dengan celana pendek, kaus oblong dan rambut yang masih berantakan.
Ia menyipitkan matanya menatap sarapan roti bakar dan segelas susu. Tatapannya berpindah ke Ayza yang sudah duduk di meja makan sambil mengoles roti dengan selai, lalu tas cukup besar di kursi sebelahnya.
"Lo mau ke mana?" tanyanya akhirnya.
"Kakakmu semalam kecelakaan," jawabnya. "tangannya patah, digips. Masih diinfus juga. Jadi gak bisa beraktivitas sendiri."
Bukannya terkejut atau prihatin, Fahri malah tertawa. "Karma datang terlalu cepat," katanya sambil meraih roti dan pisau untuk mengoles.
Ayza mengangkat wajah menatapnya. "Boleh Kakak nanya?"
Fahri menatapnya sekilas. "Tanya aja," jawaban santai.
"Kemarin..." ucap Ayza hati-hati. "kamu bilang kakakmu melanggar batas, dan sekarang bilang kena karma. Boleh Kakak tahu maksudnya?"
Fahri berhenti mengoleskan selai di roti sepersekian detik, lalu melanjutkan lagi. "Soal itu, gue gak mau jawab," ucapnya datar. “Lo tanya aja langsung sama suami lo.”
Ayza mengangguk pelan. Ia menghargai batas Fahri. "Oke," katanya akhirnya.
Mereka sarapan dalam diam. Tak lama Ayza beranjak dari duduknya, meletakkan piringnya di wastafel. Tak lama ia kembali dan mengambil tasnya.
"Kakak pergi dulu," pamitnya tanpa menunggu respon Fahri.
Namun baru beberapa langkah, suara Fahri menghentikannya.
"Gue tahu lo tipe orang yang bertanggung jawab. Tapi jangan sampai rasa tanggung jawab lo buat lo jadi budak kakak gue."
Ayza menoleh.
Fahri menarik napas kasar. "Apalagi jatuh cinta sama dia. Lo pantes dapet yang lebih baik. Bukan cowok bastard kayak dia."
Ayza terdiam sejenak. "Assalamu'alaikum," ucapnya akhirnya kembali melanjutkan langkahnya.
"Wa'alaikumsalam," jawab Fahri pelan, menatap punggung Ayza hingga menghilang di balik pintu.
“Gimana rasanya kalau lo tahu…
orang yang bikin lo bertahan sejauh ini, yang bikin lo mikul banyak tanggung jawab...
sebenarnya orang yang paling dulu nusuk lo dari belakang?”
...🔸🔸🔸...
..."Ada perempuan yang datang karena cinta, ada pula yang datang karena tanggung jawab....
...Dan lelaki bodoh sering kali baru mengerti bedanya saat ia tak lagi berdaya."...
..."Nana 17 Oktober "...
...🌸❤️🌸...
.
To be continued
Fahri selalu ngingetin Ayza jangan sampai jatuh Cinta sama Pria Bestard kaya si Reza🤣,tenang saja Fahri...Ayza tidak akan pernah jatuh cinta sama kakakmu,Ayza mh sudah ada yang nungguin Cinta sejatinya Ayza...Kaisyaf😍