Semua orang tahu Lady Liora Montclair adalah aib bangsawan.
Tubuhnya gendut, reputasinya buruk, dan ia dipaksa menikahi Duke Alaric Ravens, jenderal perang paling dingin di kekaisaran, setelah adiknya menolak perjodohan itu.
Di hari pernikahan, sang Duke pergi meninggalkan resepsi. Malam pertama tak pernah terjadi.
Sejak saat itu, istana penuh bisik-bisik.
"Duke itu jijik pada istrinya karena dia gendut dan jahat."
Namun tak seorang pun tahu, wanita gendut yang mereka hina menyimpan luka, rahasia, dan martabat yang perlahan akan membuat dunia menyesal telah meremehkannya.
Dan ketika Duke Alaric akhirnya tahu kebenarannya, mereka yang dulu tertawa, hanya bisa berlutut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Archiemorarty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 12. PROTEKTIF
Angin menyapu hamparan rumput luas di taman samping kediaman Ravens dengan lembut, membawa aroma tanah basah dan dedaunan yang baru dipangkas. Cahaya matahari merambat, memantul keemasan di sela pepohonan tua yang berdiri seperti saksi bisu perjalanan waktu keluarga bangsawan itu.
Alaric Ravens berdiri beberapa langkah dari Liora.
Ia tidak mendekat.
Tidak pula menjauh.
Posisinya canggung, seperti seseorang yang tidak tahu apakah ia diizinkan berada di sana, namun enggan pergi.
Terutama setelah kepalanya di timpuk bola kain oleh keponakannya sendiri barusan.
Sementara itu, Liora berdiri dengan sikap anggun, menyembunyikan antusias akan drama kecil yang segera ia lihat.
Wajah Liora tenang, nyaris tak beremosi, lebih tepatnya menjaga agar ia tidak tertawa, namun matanya memandang lurus ke depan, tidak sepenuhnya fokus pada taman, namun pada Duke yang berdiri di hadapannya.
Di sisi Liora, seorang bocah kecil berdiri dengan kaki sedikit terbuka, kedua tangannya berkacak pinggang, dagunya terangkat tinggi seolah ia sedang menghadapi musuh bebuyutannya.
Rowan.
Tubuh kecil itu tampak begitu kontras dengan sikapnya yang luar biasa protektif.
"Paman," ucap Rowan dengan suara cadel namun penuh tekad, "Paman jangan dekat-dekat Lilola, ya!"
Alaric mengedipkan matanya, jelas tidak menyangka dirinya akan ditegur oleh bocah setinggi lututnya sendiri. menurunkan tubuhnya perlahan, lalu akhirnya duduk di atas rumput, menjaga jarak satu rentang lengan dari Liora, jelas agar bocah itu tidak semakin berisik.
"Aku tidak menyakiti Liora, Rowan," ucap Alaric dengan nada serius, seolah sedang memberi penjelasan penting dalam rapat dewan. "Dan namanya Liora. Bukan Lilola."
Rowan langsung menghentakkan kakinya.
"Lowan tahu!" protesnya keras. "Namanya Lilola! Paman balu tahu, ya!"
Alaric menghela napas pendek. "Aku Duke Ravens. Aku tahu nama istriku sendiri. Kau yang tidak bisa mengucapkannya dengan benar, Bocah."
Rowan mendengus, pipinya menggembung.
"Paman sombong," katanya ketus.
"Sudah sepantasnya aku sombong, aku Duke," ejek Alaric.
Rowan terus memasang wajah protes,lalu menunjuk ke arah Alaric. "Paman ngapain di cini? Paman halusnya kelja."
"Apa maksudmu, huh? Kau pikir orang dewasa tidak boleh bersantai. Seharusnya aku yang bertanya kau sedang apa di sini dan bukannya tidur siang saja," balas Alaric seraya menaikkan satu alis.
Rowan kembali berkacak pinggang. "Tentu caja belmain dengan Lilola. Paman yang cehalusnya tidur ciang dan ganggu Lilola?"
"Kau pikir aku bocah sepertimu yang butuh tidur siang? Kau tidak akan tinggi sepertiku kalau kau tidak tidur siang, kau tahu," ejek Alaric lagi.
"Tidak mau! Paman mau mengganggu Lilola lagi, 'kan?! Lowan tidak akan bialkan," kata Rowan yang semakin membusungkan dadanya.
Alaric menoleh sekilas ke arah Liora, wanita itu sejak tadi hanya tersenyum kecil, seolah menikmati drama kecil yang sedang terjadi di hadapannya.
"Paman tidak mengganggu Liora," jawab Alaric sabar. "Kau salah paham."
"Tapi Lowan lihat!" Rowan berseru keras. "Paman peluk-peluk Lilola, telus wajah Lilola melah! Lilola pasti cakit kalena Paman peluk kalena tubuh Paman becal!'
Alaric terbatuk.
Liora menahan tawa sebisa mungkin mendengarnya.
"Apa?" Alaric sampai kehabisan kata-kata sekarang.
"Paman nakal!" Rowan menunjuknya dengan jari kecil yang bergetar penuh emosi. "Nanti Lowan bilangin Mama cama Papa!"
Alaric langsung gelagapan.
"Jangan bilang orang tuamu!" kata Alaric cepat. "Kau ini bocah kecil tapi berani sekali dengan Pamanmu."
Rowan mendongak, dadanya dibusungkan.
"Tentu caja," kata bocah itu mantap. "Lowan belani."
Alaric menatapnya beberapa detik, lalu tanpa sadar mencubit pipi bocah itu dengan gemas.
"Benar-benar mirip ibunya. Cerewet sekali," ucap Alaric.
"Paman cakit!" Rowan menepis tangan Alaric. "Ishhh! Paman ini benal-benal nakal, ya!"
Tawa kecil akhirnya lolos dari bibir Liora. Tidak tahan lagi dengan pertengkaran menggemaskan paman dan keponakan ini. Sejak tadi ia hanya menyimak, dan melihat pemandangan itu entah kenapa terasa ... hangat.
"Duke," kata Liora lembut, "sudah. Kenapa kau jadi mengganggu Rowan seperti itu?"
"Karena bocah ini cukup cerewet," jawab Alaric tanpa ragu.
"Lowan tidak celewet!" protes Rowan cepat.
"Yang sejak tadi mengomel siapa coba?" tantang Alaric pada sang bocah.
Rowan menggembungkan pipinya semakin besar, wajahnya memerah karena sebal. Ia lalu berlari kecil ke arah Liora dan memeluk kaki wanita itu erat-erat.
"Lilola," kata Rowan mengadu, "Paman nakal."
Liora tersenyum lebar. "Benarkah? Nakal karena apa?"
"Paman menyebalkan," jawab Rowan.
Liora menahan tawa, bahunya bergetar pelan.
Alaric hanya bisa menghela napas panjang. Tidak menyangka kalau keponakannya bisa secerewet ini padahal biasanya Rowan lebih banyak diam. Walau ia suka Rowan yang bertingkah layaknya anak-anak seperti ini.
Mungkin kehadiran Liora yang membuat bocah ini menjadi lebih hidup.
Namun ketenangan itu terputus ketika langkah tergesa terdengar dari arah pintu taman.
"Yang Mulia," suara Gideon terdengar tegang. "Maaf mengganggu, tapi ada tamu yang mencari Nyonya Duchess."
Alaric dan Liora sama-sama menoleh.
Liora mengernyit. "Mencariku? Siapa?"
Liora merasa tidak memiliki janji untuk bertemu dengan seseorang di sini.
"Ya," Gideon mengangguk. "Dia mengatakan dirinya seorang pedagang. Namanya Cassian Verdan."
Senyum Liora menghilang seketika.
Wajahnya tetap tenang, namun matanya berubah, ada kilatan kewaspadaan yang hanya bisa ditangkap oleh mereka yang mengenalnya dengan baik.
"Aku akan menemuinya," kata Liora akhirnya.
Alaric berdiri hampir bersamaan. "Aku ikut."
"Lowan juga ikut!" kata sang bocah penuh semangat.
Rowan langsung diangkat ke dalam gendongan Alaric tanpa protes, bahkan bocah itu melingkarkan tangannya ke leher Duke dengan nyaman, seolah keputusan itu sudah final.
"Kita akan kemana, Paman?" tanya Rowan.
"Ada tamu yang ingin bertemu dengan Liora. Kita juga harus menyapanya," jawab Alaric.
"Baik!" sahut Rowan penuh semangat, seolah tidak pernah ada adu mulut diantara ia dan pamannya itu tadi.
Dalam langkah menuju ruang tamu, pikiran Liora berputar cepat.
Kenapa kau datang ke sini, Cassian? Kau sudah gila datang langsung ke kediaman Duke! batin Liora.
Rasanya ia ingin menendang tamunya ini nanti karena tidak mengabari Liora dulu untuk datang.
Ruang tamu utama sunyi saat mereka masuk.
Dan di sanalah pria itu berdiri.
Cassian Verdan, pria tinggi, bertubuh tegap, wajahnya tampan dengan garis rahang tegas dan mata kelabu yang tajam namun tenang. Senyumnya halus, terlalu terkontrol untuk seorang pedagang biasa.
"Lady Liora," sapa Cassian sambil menunduk hormat laku tersenyum melihat ke arah Liora. "Ah, atau sekarang aku harus menyebut Anda Duchess."
Sebelum Alaric sempat bergerak, Cassian sudah meraih tangan Liora dan mengecup punggung tangan sang gadis dengan sopan, namun cukup lama untuk memancing sesuatu yang tajam di dada Duke Ravens.
Alaric langsung melangkah ke depan, berdiri tepat di antara mereka.
"Jangan sentuh istriku sembarangan," ucap Alaric.
Suara itu dingin. Tegas. Berbahaya.
Semua orang di ruangan terdiam.
Liora menatap Alaric, terkejut.
Rowan ikut menunjuk Cassian dari gendongan Alaric.
"Jangan sentuh Lilola!"
Yah, sepertinya sekarang semua orang tahu kalau Liora memiliki dua kesatria yang sangat protektif.
btw aku ngebayangin, kalo seandainya di masa Alaric udah ada HP, lagi perang sambi live streaming : hay guys kita lagi siapp² mau perang nih, kita mau musnahin moster, nanti aku kasih tau yaa monster nya itu seperti apa
🤣🤣🤣
hbs nangis ketawa ngakak saat baca
Pipi gembul kesayangan Alaric... menghilang. 🤣🤣🤣