NovelToon NovelToon
Benih Kesalahan Satu Malam

Benih Kesalahan Satu Malam

Status: sedang berlangsung
Genre:One Night Stand / Hamil di luar nikah / Anak Kembar / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:24.4k
Nilai: 5
Nama Author: Senimetha

Elisa (18 tahun) hanyalah gadis yatim piatu yang berjuang sendirian demi menyekolahkan adiknya. Namun, hidupnya berubah menjadi mimpi buruk saat sebuah pesanan makanan membawanya ke kamar yang salah. Di sana, ia kehilangan segalanya dalam satu malam yang tragis. Di sisi lain, ada Kalandra (30 tahun), pewaris tinggal kaya raya yang dikenal dingin dan anti-perempuan. Malam itu, ia dijebak hingga kehilangan kendali dan merenggut kesucian seorang gadis asing. Elisa hancur dan merasa mengkhianati amanah orang tuanya. Sedangkan Kalandra sendiri murka karena dijebak, namun bayang-bayang gadis semalam terus menghantuinya. Apa yang akan terjadi jika benih satu malam itu benar-benar tumbuh di rahim Elisa? Akankah Kalandra mau bertanggung jawab, atau justru takdir membawa mereka ke arah yang lebih rumit? Yukkk…ikuti ceritanya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senimetha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Elisa-32

Sejak Kalandra memutuskan untuk mengambil cuti panjang dan menjadi Ayah Siaga Penuh Waktu, suasana rumah itu berubah menjadi simfoni yang sedikit kacau namun penuh tawa. Mansion Mahendra yang biasanya beroperasi seperti mesin jam Swiss yang presisi lenyap diganti keriuhan semenjak ada bayi-bayi kecil itu.

Seperti Pagi ini, Kalandra berdiri di dapur dengan penampilan yang tidak akan dipercayai oleh siapa pun yang pernah melihatnya di ruang rapat direksi. Ia mengenakan apron berwarna abu-abu, sebuah spatula di tangan kanan, dan ponsel di tangan kiri yang menampilkan video tutorial berjudul Cara Membuat Sup Kaldu Ayam Paling Bergizi untuk Ibu Menyusui.

(Widihhh…kalandra udah cair setelah punya anak ni🤭😂)

"Garam dua sendok teh... oke," gumam Kalandra serius. Ia menakar garam seolah-olah sedang menakar risiko investasi triliunan rupiah.

Gery, yang sedang melintas menuju ruang belakang untuk mengambil perlengkapan olahraga, berhenti mendadak. Ia mengerjapkan mata, menatap punggung bosnya.

"Bos? Itu... bau hangus apa ya?" tanya Gery sambil mengendus udara.

Kalandra tersentak. Ia melihat ke arah teflon di sebelahnya tempat ia mencoba menggoreng tahu sebagai pendamping. Tahu itu sudah berubah warna menjadi hitam legam sekeras arang.

"Gery! Jangan cuma berdiri di situ! Matikan dong kompornya!" seru Kalandra panik sambil mencoba menyelamatkan supnya agar tidak tumpah.

Gery dengan sigap memutar kenop kompor. "Bos, mending gue pesenin dari koki hotel kita aja deh. Kasihan Bu Elisa kalau makan tahu yang bisa dipake buat nulis di papan tulis begini."

"Nggak boleh," tolak Kalandra tegas sambil mengelap keringat di dahi dengan lengan atasnya. "Dokter bilang usaha dan kasih sayang suami itu bisa jadi mood booster buat produksi ASI. Gue mau Elisa tahu kalau gue berusaha untuk dia."

Gery hanya bisa menghela napas, bersandar di konter dapur. "Iya sih, Bos. Tapi kalau dapur sampai kebakaran, mood Bu Elisa malah jadi terjun bebas. Sini, biar gue bantuin potong sayurnya. Gini-gini Gue dulu pernah kerja di warteg pas masih jadi informan."

Di lantai atas, Elisa sedang duduk di kursi goyang yang besar, menyusui si Adik Dua sementara si Abang tertidur di pangkuannya. Wajahnya tampak lelah, namun ada gurat kebahagiaan yang tak bisa disembunyikan.

Pintu kamar terbuka pelan. Aris masuk dengan langkah berjinjit, wajahnya tampak agak ditekuk. Ia membawa buku gambarnya, tapi tidak langsung menghampiri Elisa. Ia hanya duduk di pojok karpet, diam.

"Aris? Sini, Sayang. Kok cuman di situ saja?" panggil Elisa lembut.

"Kak Elisa sibuk terus sama dedek bayi," gumam Aris tanpa menoleh. "Tadi Aris mau tunjukin gambar robot baru, tapi Kak Landra bilang “Sstt, jangan berisik”. Mama Siska juga lagi beliin baju buat dedek. Nggak ada yang liat gambar robot Aris."

Hati Elisa mencelos. Ia menyadari bahwa dalam hiruk pikuk menyambut si kembar tiga, Aris si jagoan kecilnya yang selama ini menjadi pusat perhatiannya merasa terpinggirkan.

"Aris, kemari sebentar, Dek" Elisa menepuk ruang kosong di samping kursinya.

Aris mendekat dengan ragu. Elisa mengambil satu tangan Aris dan menaruhnya di dahi si Abang yang sedang tidur. "Aris Tahu nggak, Dek? Si Abang ini tidurnya pulas banget karena dia tahu ada Kakaknya Aris yang hebat jagain dia di kamar ini. Dia bangga banget punya kakak yang pinter gambar robot."

Mata Aris mulai sedikit berbinar. "Beneran, Kak?"

"Iya. Dan Kak Elisa tetep sayang banget sama Aris. Gambar Robotnya mana? Kakak mau liat dong sekarang," ujar Elisa.

Tepat saat Aris hendak menunjukkan gambarnya, Kalandra masuk membawa nampan kayu. Penampilannya berantakan ada noda kunyit di apronnya dan wajahnya sedikit cemong.

"Menu spesial untuk Ratu Mahendra sudah siap!" seru Kalandra dengan nada riang, meski suaranya agak serak.

Ia menaruh nampan di meja kecil. Sup ayam hasil bimbingan darurat Gery, nasi merah, dan potongan buah. Kalandra lalu melihat Aris. Ia menyadari suasana canggung itu. Kalandra teringat pesan Bimo kemarin soal psikologi anak yang lebih tua.

Kalandra berlutut di depan Aris. "Ris, maaf ya tadi Kak Landra sedikit galak. Kak Landra cuma nggak mau dedek bayi kaget. Tapi, Kak Landra juga butuh bantuan Aris sekarang."

"Bantuan apa, Kak?" tanya Aris penasaran.

"Kak Landra mau suapin Kak Elisa, tapi tangan Kak Landra pegel habis masak. Aris mau bantu pegangin gelas minumnya Kak Elisa nggak? Ini tugas penting, cuma buat asisten utama," ujar Kalandra sambil mengedipkan mata.

Aris langsung berdiri tegak. "Siap, Kak Landra! Aris asisten utama!"

Elisa menatap Kalandra dengan penuh rasa terima kasih. Pria itu kini jauh lebih peka daripada dulu.

Sesi makan siang itu berubah menjadi momen keluarga yang hangat. Kalandra menyuapi Elisa dengan penuh ketelatenan, sementara Aris dengan sangat serius memegangi gelas setiap kali Elisa ingin minum.

"Gimana rasanya?" tanya Kalandra was-was saat Elisa mencicipi supnya.

Elisa mengunyah pelan, merasakan bumbu yang sedikit terlalu kuat namun ada rasa cinta yang tulus di dalamnya. "Enak banget, Mas. Kayaknya koki hotel Mas Landra bakal terancam posisinya."

Kalandra tertawa, rasa bangga terpancar di wajahnya. "Haha…Syukurlah. Gery hampir mau lapor polisi tadi gara-gara bau hangus di dapur."

"Mas..." Elisa memegang tangan Kalandra saat suaminya hendak menyuapi lagi. "Makasih ya. Makasih sudah mau repot-repot ke dapur, sudah mau peka sama Aris. Aku nggak pernah bayangin hidupku bakal seindah ini setelah... malam itu."

Kalandra meletakkan sendoknya, ia menggenggam tangan Elisa dan Aris secara bersamaan. "Kita nggak usah bicara lagi soal malam itu sebagai kesalahan ya, El. Itu adalah awal dari keberuntungan aku. Aku yang harusnya makasih, karena kamu sudah kasih aku kesempatan buat ngerasain jadi manusia seutuhnya."

Sore harinya, kedamaian itu sedikit terusik. Bimo datang membawa kabar dari kantor polisi.

"Lan, Danu minta ketemu," ujar Bimo singkat di ruang kerja Kalandra.

Kalandra yang sedang melipat baju bayi tugas lain yang sedang ia pelajari itu berhenti sejenak. "Ketemu? Untuk apa? Semuanya sudah jelas di pengadilan."

"Dia bilang dia punya informasi soal asetnya yang sengaja dia simpan untuk dana darurat dan dia mau kasih itu semua ke yayasan Elisa, sebagai syarat... dia mau minta maaf secara langsung," jelas Bimo. "Dia kelihatan hancur banget di sel, Lan. Katanya dia dapet mimpi buruk terus setelah dapat kabar kalau kamu punya tiga bayi."

Kalandra terdiam. Ia menatap ke arah jendela, di mana ia bisa melihat Elisa dan Nyonya Siska sedang menjemur bayi-bayi di bawah sinar matahari sore yang lembut.

"Katakan padanya, permohonan maafnya diterima, tapi aku tidak perlu bertemu dengannya," ucap Kalandra dingin namun tenang. "Soal aset itu, biarkan tim hukum yang urus untuk dialokasikan ke panti asuhan. Aku nggak mau Elisa kembali mengingat trauma itu lagi dengan melihat wajah Danu."

Bimo mengangguk paham. "Pilihan yang bijak, Lan. Lo bener-bener sudah berubah."

"Aku punya terlalu banyak kebahagiaan di rumah ini untuk dirusak oleh sisa-sisa kebencian di masa lalu, Bim," sahut Kalandra.

Malam kembali datang menyapa. Kali ini, Kalandra sudah lebih siap. Ia sudah menyiapkan semua peralatan perangnya, mulai sari popok yang sudah dibuka plastiknya, tisu basah yang diletakkan di tempat strategis, dan lampu tidur yang tidak terlalu terang.

Saat ketiga bayi itu akhirnya tertidur setelah sesi orkestra tangis yang cukup singkat, Kalandra dan Elisa berbaring di tempat tidur, saling berhadapan.

"Mas..." bisik Elisa.

"Ya?"

"Tadi Papa Baskoro bilang, dia mau beliin kapal pesiar kecil buat hadiah ulang tahun mereka yang pertama nanti," Elisa tertawa kecil. "Mas harus cegah Papa, itu bener-bener berlebihan."

Kalandra menarik Elisa ke dalam pelukannya. "Biarkan saja. Selama Papa seneng. Tapi nanti kapalnya kita kasih nama Elisa, biar dia tahu siapa ratu yang sebenernya di keluarga ini."

Elisa menyandarkan kepalanya di dada Kalandra. Suara detak jantung suaminya adalah melodi yang paling menenangkan.

"Mas, besok mau masak apa lagi?" tanya Elisa menggoda.

Kalandra terdiam sejenak, lalu berbisik pelan, "Besok aku mau coba bikin martabak manis sendiri. Tadi Gery bilang dia punya resep rahasia."

"Aduh, Mas... mending kita pesen aja deh. Aku nggak mau dapur kita bener-bener meledak besok," canda Elisa.

Tawa mereka pecah secara tertahan di dalam kamar yang hangat itu. Di antara boks bayi yang berjajar dan tumpukan popok, Kalandra dan Elisa menyadari bahwa kebahagiaan bukan terletak pada kemewahan mansion atau saldo rekening mereka. Kebahagiaan adalah saat mereka bisa menertawakan kegagalan masak di dapur, berbagi lelah mengurus bayi, dan saling menggenggam tangan di tengah gelapnya malam.

Peejalanan hidup mereka kini memang penuh dengan tugas-tugas domestik yang melelahkan, tapi bagi Kalandra, setiap tetes keringat di dapur dan setiap kantung mata karena kurang tidur adalah medali kehormatan yang paling berharga. Mereka bukan lagi dua orang yang dipertemukan oleh kesalahan, melainkan dua jiwa yang disatukan oleh komitmen dan cinta yang tumbuh di antara botol susu dan popok bayi.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

...Selamat membaca guysss☺️🥰🌹...

1
Hari Saktiawan
lope lope lope author /Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Wilt//Wilt//Wilt//Wilt//Wilt//Wilt//Wilt/
memei
harusnya berusaha menemui apapun yg trjadi ,jangan ikutin kata teman2mu yg mlh kesannya kalandra biar gak bisa tanggungjwab dan mana mgkn masalah bisa selesai kalo gak dihadapi
memei
2 teman kalandra ini mkstnya gimana sih , kalandra mau tanggung jawab mlh kayak gak dukung gitu ... mereka ini temsn ato musuh sih kan elisa sudah terlanjur hamil mau gak mau harus tetap tanggungjwab .ini 2 temen kalandra emang profokator
memei
gak akan rumit ,tanggung jawab nikahi elisa
memei
ceritanya bagus tp kok sepi koment
falea sezi
sweet bgt sih ndra
falea sezi
sayang bgt ya paak ma anak duhh gemess.. q ksih hadiah lagi buat triple
falea sezi
suka deh lahir si triple jd keinget anak ku Thor kembar 3 jg tp cowok semua yg satu keguguran
Xyaz Dewi
seru banget
falea sezi
q ksih hadiah biar ending nya bagus
falea sezi
moga sehat ampe lahiran
fatih faa
Thor manggil nya jangan saya
westi
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Edi
semoga si danu cepat ketangkap dan bebi tripel lahir dengan selamat
tamara is here
Cerita yang kerennn
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!