Elisa (18 tahun) hanyalah gadis yatim piatu yang berjuang sendirian demi menyekolahkan adiknya. Namun, hidupnya berubah menjadi mimpi buruk saat sebuah pesanan makanan membawanya ke kamar yang salah. Di sana, ia kehilangan segalanya dalam satu malam yang tragis. Di sisi lain, ada Kalandra (30 tahun), pewaris tinggal kaya raya yang dikenal dingin dan anti-perempuan. Malam itu, ia dijebak hingga kehilangan kendali dan merenggut kesucian seorang gadis asing. Elisa hancur dan merasa mengkhianati amanah orang tuanya. Sedangkan Kalandra sendiri murka karena dijebak, namun bayang-bayang gadis semalam terus menghantuinya. Apa yang akan terjadi jika benih satu malam itu benar-benar tumbuh di rahim Elisa? Akankah Kalandra mau bertanggung jawab, atau justru takdir membawa mereka ke arah yang lebih rumit? Yukkk…ikuti ceritanya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senimetha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Elisa-24
Hari-hari di lalui Kalandra dan Elisa dengan moment ngidam berbagai macam dan masa-masa itu mereka lalui dengan santai dan penuh bahagia tanpa di jadikan beban, walau badai dari Danu beluk berakhir sepenuhnya. Dan sekarang usia kehamilan Elisa memasuki bulan keempat, suasana di mansion Mahendra tidak lagi setegang dulu. Drama kejar-kejaran sate padang tengah malam sudah mulai berkurang, berganti dengan fase baru yang membuat Kalandra lebih banyak menghabiskan waktu dengan melamun di depan perut Elisa yang sudah mulai membuncit karena kehamilan tripletsnya.
Pagi ini, sinar matahari masuk dengan lancang ke dalam kamar, menyinari Elisa yang baru saja bangun dan mencoba untuk duduk di pinggir kasur. Ia menarik napas panjang, merasakan tubuhnya yang kini terasa jauh lebih berat.
"Mas... Mas Landra, ayo bangun! Udah pagi ini," bisik Elisa sambil mencolek lengan suaminya.
Kalandra mengerang pelan karena merasa tidurnya terganggu, tapi yang ia rasakan bukan terganggu karena suara panggilan Elisa yang memintanya untuk bangun, tapi karena ia merasakan perutnya sendiri mendadak terasa kembung yang luar biasa seperti sebuah sinyal rutin bahwa istrinya sedang merasakan atau menginginkan sesuatu. Ia membuka matanya perlahan, rambutnya yang berantakan, membuatnya jauh dari citra CEO dingin yang biasanya muncul di majalah bisnis.
"Kenapa? Kamu mual lagi? Atau mau bubur ayam yang gerobaknya warna biru?" tanya Kalandra dengan suara serak, sudah siap siaga untuk instruksi ngidam apa pun.
Elisa terkekeh, ia berdiri di depan cermin panjang dan menyampingkan tubuhnya. Ia mengenakan daster katun tipis yang nyaman. "Bukan, Mas. Coba liat deh. Kayaknya mereka beneran mulai pamer rumah baru."
Kalandra mengucek matanya, lalu bangkit dan mendekat ke arah Elisa, ia berdiri tepat di belakang Elisa, dan melingkarkan tangannya di pinggang istrinya. Di sana, di bawah telapak tangannya, perut Elisa yang dulunya rata kini mulai membentuk lengkungan yang nyata. Sebuah tonjolan kecil yang padat dan tegas.
"Ini...ini baby bum*?" gumam Kalandra, suaranya mendadak berubah menjadi lembut.
"Iya, Mas. Semalam kayaknya belum sekelihatan ini, tapi pagi ini tiba-tiba daster saya kerasa sempit di bagian tengah," Elisa mengusap perutnya dengan binar mata yang bahagia.
Kalandra berlutut di depan sang istri, menyamakan tingginya dengan perut Elisa sembari Ia menempelkan dahinya di sana. "Halo, kalian bertiga yang ada didalam. Udah mulai sempit ya di dalam? Maaf ya, Papa telat sadar kalau kalian ternyata tumbuh secepat ini."
Elisa tersenyum haru melihat kalandra yang mencoba berbicara dengan bayi yang asa di dalam kandungannya, apalagi mendengar sang suami menyebut dirinya Papa, Elisa merasa seperti seolah dunia sedang berpihak atas kebahagiaannya. Ia menyisir rambut Kalandra dengan jemarinya. "Kata Dokter Stella, karena mereka bertiga, makanya perut saya bakal tumbuh lebih cepat daripada orang hamil biasanya. Mungkin bulan depan saya sudah jalan mirip penguin."
Kalandra mendongak, menatap Elisa dengan tulus. " Penguin yang paling cantik yang pernah saya lihat." Puji kalandra
...----------------...
Setelah selesai berbicara dengan sang buah hati yang ada di dalam perut istrinya. Suasana hatinya yang begitu bahagia ia memutuskan Pagi ini Dia akan bekerja dari rumah saja. Padahal Sebenarnya itu hanya sebagai alasannya saja. Alasan aslinya adalah ia tidak bisa berhenti memikirkan fakta bahwa tiga nyawa di dalam perut Elisa sudah mulai menunjukkan eksistensinya secara visual.
Di ruang tengah, Aris sedang sibuk menggambar di lantai bersama Gery yang entah kenapa sekarang lebih sering berada di mansion daripada di kantor keamanan.
"Kak Gery, ini gambarnya kurang satu," keluh Aris sambil menunjukkan kertasnya.
"Kurang apa apalagi Ris? Itukan udah ada Kak Elisa, Kak Landra, sama kamu," sahut Gery sambil ngemil kacang.
"Kurang Dedek bayinya kak Gery! Tapi Aris bingung, kalau tiga, gambarnya gimana, ya? Kan mereka masih di dalem perut Kak Elisa," Aris mengetuk-ngetuk dagunya dengan krayon.
Kalandra yang baru turun dari lantai dua menghampiri mereka. "Gambar aja tiga lingkaran kecil di dalem perut Kak Elisa, Ris. Kasih warna beda-beda biar mereka nggak berantem."
"Ide bagus, Kak Landra!" Aris langsung semangat mencoret-coret lagi.
Kalandra duduk di sofa, menghela napas panjang. Gery melirik bosnya itu dengan tatapan meledek.
"Gimana, Lan? Perut lo makin terasa kenceng nggak?" tanya Gery.
"Jangan nanya. Rasanya kayak gue yang lagi bawa beban lima kilo di perut," keluh Kalandra. “Tapi anehnya, gue malah seneng. Pas gue pegang tadi pagi, rasanya, uhhhh…nyata banget, Ger. Jadi nggak sabar gue lihat mereka lahir.”
"Ciee, yang udah mulai dapet feel jadi bapak," goda Gery. "Tapi lo harus hati-hati, Lan. Bimo tadi kasih laporan, Pak Danu sudah makin terdesak. Kabarnya dia mulai jual koleksi jam tangan mewahnya buat bayar pengacara. Orang kalau udah kehilangan segalanya, biasanya bakal nekat."
Raut wajah Kalandra langsung berubah serius. "Gue tahu, Ger. Itulah kenapa gue mau renovasi kamar bayi di lantai bawah aja, deket kamar kita. Gue nggak mau mereka di lantai atas yang aksesnya terlalu banyak."
Siang harinya, Nyonya Siska datang membawa beberapa katalog furnitur. Ia tampak sangat bersemangat.
“Elisa, Kalandra, kemari Nak! Mama sudah pilihkan beberapa desain untuk kamar bayi untuk cucu kembar tiga Mama” seru Siska.
Mereka berkumpul di meja makan. Siska membuka katalog yang berisi gambar-gambar kamar bayi yang sangat mewah dan mungkin terlalu mewah untuk ukuran bayi yang baru saja lahir. Ada ranjang bayi berlapis emas, hiasan dinding dari kristal, dan karpet dari bulu domba impor.
"Ma, ini terlalu berlebihan," komentar Kalandra sambil memijat keningnya. "Mereka masih bayi, bukan tamu kenegaraan Ma. Mereka bakal gumoh kalau di atas karpet itu, dan mereka bakal gigit-gigit emas itu pas tumbuh gigi nanti."
"Lho, ini kan cucu pertama keluarga Mahendra, Kalandra! Harus dikasih yang terbaik dong!" protes Siska.
Elisa menarik katalog itu dengan lembut. "Ma, boleh Elisa kasih saran?"
"Tentu saja, sayang. Apa yang kamu mau?"
"Elisa mau yang temanya alam saja. Warna hijau pucat atau krem. Kayu-kayu yang tumpul di bagian sudutnya agar aman kalau Aris nanti main di sana. Dan Elisa ingin ada satu kursi goyang yang besar, supaya kita bisa duduk bareng-bareng di sana," ujar Elisa sambil menunjuk sebuah desain yang sangat minimalis dan hangat.
Kalandra menatap istrinya, lalu beralih ke ibunya. "Tuh, Ma. Dengerin apa kata Elisa. Dia yang bakal paling sering di sana. Desain yang tenang itu lebih bagus buat mental bayi daripada emas yang silau."
Siska menghela napas, namun ia tersenyum. "Baiklah, kalau itu kemauan calon Ibu. Tapi untuk mainannya, Mama nggak mau kompromi lagi ya! Harus yang paling edukatif!"
Perdebatan manis itu berlanjut hingga sore. Bagi Elisa, momen memilih warna cat dan jenis kayu untuk ranjang bayi adalah momen yang membuatnya merasa benar-benar memiliki keluarga. Ia bukan lagi orang asing yang hanya menumpang tidur tapi suaranya juga didengar, dan seleranya dihargai.
Sore menjelang malam, saat suasana rumah mulai tenang, Bimo datang dengan membawa sebuah berita yang membuat Kalandra harus meninggalkan meja makannya sebentar.
"Lan, ada pesan masuk ke akun media sosial yayasan Elisa," lapor Bimo di ruang kerja.
"Dari siapa? Danu?"
"Bukan. Sepertinya akun palsu. Dia kirim foto mansion kita dari jarak jauh, diambil dari bukit di belakang. Tulisannya cuma satu kalimat Tiga nyawa baru, tiga target baru. Dia tahu soal kehamilan Elisa kembar tiga, Lan."
Kalandra mengepalkan tangannya di atas meja. Rahangnya mengeras. "Ternyata dia punya mata-mata di dalam rumah sakit atau di antara orang-orang kita. Bimo, bersihkan semua staf rumah sakit yang menangani Elisa kemarin. Dan perketat lagi pengawasan di bukit belakang."
"Sudah dilakukan. Gue juga udah minta ke tim IT buat trace akun itu. Tapi yang gue takutin bukan ancaman digitalnya, Lan. Gue takut Danu sudah nggak punya beban moral lagi buat nyerang fisik," ujar Bimo serius.
Kalandra berdiri, ia berjalan menuju jendela yang menghadap ke arah taman. Di sana, ia melihat Elisa sedang berjalan pelan ditemani Bi Inah. Elisa tampak tertawa kecil sambil memegang pinggangnya. Cahaya lampu taman membuat sosoknya terlihat sangat damai.
"Gue nggak akan biarkan satu helai rambut pun dari mereka jatuh karena orang itu," desis Kalandra. "Bim, mulai besok, gue mau Elisa nggak keluar dari area dalam pagar tanpa pengawalan gue pribadi. Dan soal jamuan makan malam itu... kita tetap jalanin strategi kedua. Tarik semua dukungan dana ke yayasan-yayasan yang didukung Danu. Biar dia bener-benar kering."
Malam harinya, Kalandra kembali ke kamar dengan pikiran yang berat. Namun, saat ia melihat Elisa sedang asyik merajut sebuah topi bayi kecil hasil dari ia belajar bersama Bi Inah membuat rasa lelahnya seolah luruh.
"Mas... sini deh," panggil Elisa.
Kalandra duduk di sampingnya. Elisa mengambil tangan Kalandra dan menempelkannya di perutnya.
"Mas merasakannya nggak?" bisik Elisa.
Kalandra diam, menahan napas. Tiba-tiba, ia merasakan sebuah gerakan dari dalam. Bukan kedutan otot, tapi sebuah gerakan yang lebih mantap. Seperti ada yang sedang melakukan salto kecil di dalam sana.
Dug…
Mata Kalandra membelalak. "Itu... itu barusan tendangan?"
"Iya, Mas. Kayaknya mereka lagi rebutan posisi untuk tidur," Elisa tertawa, meskipun ia juga sedikit meringis karena tendangan itu cukup kuat.
Kalandra langsung luluh. Segala rencana perang di kepalanya mendadak terpinggirkan oleh satu gerakan kecil dari anaknya. Ia merebahkan kepalanya di pangkuan Elisa, tangannya masih setia mendekap perut yang mulai membuncit itu.
"Apapun yang terjadi di luar sana," gumam Kalandra pelan, "di sini kalian akan aman. Papa janji."
Elisa mengusap rambut Kalandra, ia merasakan ketulusan dalam suara suaminya. Trimester kedua ini memang membawa perubahan fisik yang mengejutkan, namun yang lebih mengejutkan bagi Elisa adalah bagaimana seorang pria yang dulunya hanya peduli pada angka dan kekuasaan, kini bisa berlutut dan bicara pada perutnya setiap malam.
Garis hidup mereka mungkin sudah melengkung, tidak lagi lurus dan kaku. Tapi dalam lengkungan itu, Elisa menemukan tempat berlindung yang paling kokoh. Bahaya mungkin masih mengintai di balik kegelapan Jakarta, tapi di dalam kamar itu, detak jantung yang beradu menjadi nyanyian paling merdu yang menjanjikan bahwa mereka akan baik-baik saja.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...Selamat membaca☺️🥰...
...Terimah kasih, jangan lupa like, comment, vote dan ratenya ya manteman🙌🏾🙏🏻❤️...
...Dukungan kalian adalah semangat untuk Author🌹🌹🌹...