Sequel CBOP.
Menceritakan tentang kehidupan Anabella setelah menjanda. Dia disukai oleh 2 orang pria. Jadi di sini Anabella harus memilih antara Johan, Faris atau tetap menjanda?
Ya, semenjak Arkan meninggal. Lauren bagai teman bagi Anabella. Tapi untuk Isabella, sekeras apapun Lauren dan Anabella membujuk Isabella untuk ikut dengan mereka. Dia tak pernah mau tinggal bersama Anabella. Isabella justru menuduh Anabella adalah wanita pembawa sial. Bagi Isabella, semua orang yang dekat dengan Anabella akan mati tak bersisa.
Faktanya bukan seperti itu. Sebenarnya banyak masalah lain. Tentang kejanggalan kematian Arkan dan tersangka yang sesungguhnya.
***
"Aku menginginkanmu. Menginginkan semua yang ada pada dirimu Ana. Tak perduli kau janda, aku akan tetap menyukaimu." Faris.
"Anabella, hanya kau seorang wanita yang ku kagumi. Andai waktu dapat terulang kembali. Mungkin kita sudah menikah. Maaf atas kekhilafanku." Johan.
Harap bijak dalam membaca.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Unchi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Berpapasan
"Hasilnya bagus ya Bel?" kata Lauren saat dia melihat hasil bidikan dari Anabella.
"Iya Bi, jualan online kan yang penting fotonya menarik. Kalau gak menarik, orang gak akan pernah meliriknya." balasnya sambil mulai mengunggah foto itu ke media sosial. Dengan akun barunya yang pasti, toko bunga mommy Dev. Dengan begitu Anabella yakin, gak ada orang yang tahu kalau toko ini miliknya.
"Oh iya sih. Nanti bibi bantuin nyari bibit bunganya." kata Lauren penuh semangat.
"Baik Bibi, maaf ya kalau Anabel selalu ngerepotin."
"Gak sayang, gak ngerepotin. Justru bibi seneng kalau bisa bantu kamu."
Lauren menepuk pundak Anabella. "Semoga sukses ya." kata Lauren mendoakan.
"Aamiin." sahut Anabella mengamininya.
Tiba-tiba Devan datang mendekat. Anak itu sudah pandai berbicara. Berceloteh ini itu, kalau ada yang bicara pasti ditirukannya.
Sebentar lagi Devan sudah tak minum Asi. Jadi pola makannya benar-benar dijaga oleh Anabella. Dan harus rutin memberikannya makan atau cemilan. Sementara ini, Devan makan bubur dan buah-buahan segar.
"Anak mama," kata Anabella seraya membawa Devan kepangkuannya.
"Mam-ma. Mam-ma." ucap Devan dengan nada khas balitanya.
Anabella menciuminya dan meninggalkan sebentar pekerjaannya itu. Dia membawa Devan keluar rumah. Melihat ramainya kendaraan di pagi ini.
"Disini ramai ya Bel? Gak kayak di Jakarta," ucap Lauren tiba-tiba.
Sedang Bi Fatma, dia sibuk menata beberapa bunga hidup, memberinya pupuk dan menyiraminya. Kini tugas Bi Fatma pun tengah berganti, dari biasanya hanya beres-beres rumah, mencuci dan memasak. Kini pekerjaannya lebih ringan, mencuci dan memasak tetap. Hanya saja, cuma sebentar. Karena rumah ini tak sebesar yang dulu, ditambah juga tidak bertingkat. Jadi Bi Fatma tak terlalu kecapekan.
"Iya Bi, kalau disana kan perumahan Bi. Suasananya jelas beda." sahut Anabella.
Devan hanya diam, matanya melihat kendaraan yang berlalu lalang di depannya. Untung Devan anaknya pintar, gak terlalu rewel saat menempati rumah baru mereka.
Anabella memberikan Devan pada Lauren. Dia harus kembali bekerja. Ini adalah hari pertamanya toko ini buka, jadi dia harus giat promosi supaya barang dagangannya segera laku.
"Jaga Devan ya Bi." ucapnya dan Lauren mengangguk.
Anabella terus promosi disana-sini. Toko jual beli online area Jogja dia ikuti semua. Tak berapa lama ada yang menanyakan harga. Ada juga yang tanya dimana letak tokonya itu berdiri.
Dengan pelan namun pasti. Toko bunganya mulai dilirik oleh beberapa orang di kota ini.
***
Johan tengah menangani orang yang sakit. Sudah beberapa hari ini, dia dan Rena kembali lengket lagi. Cuma sikap Rena sangat berubah. Sepertinya Rena tengah menutupi sesuatu darinya.
Karena Devan sudah tak bisa ia dapatkan lagi. Johan berniat mengadopsi anak dari panti asuhan. Namun sayang, Rena tak menyetujuinya. Katanya dia lagi sibuk, terus siapa yang bakal merawat anak itu kalau mereka nekad mengadopsinya?
Di tengah-tengah mengobati orang sakit, dia jadi membayangkan wajah Anabella dan Devan yang tengah tersenyum kepadanya. "Anabella, Devan." gumamnya tiba-tiba. Membuat suster bawahannya menegur Johan.
"Dokter kenapa? Apa ada masalah?" tegurnya.
Johan menggeleng. Dia segera menyelesaikan tugasnya. Setelah tugasnya selesai. Johan memarahi dirinya sendiri, jiwa psyco-nya mulai kambuh. Tak ada orang yang bisa dia jadikan pelampiasan saat ini. "Sialan Anabel. Aku akan mencarimu." katanya dengan emosi. Entah apa yang dipikirkan oleh Johan, dia seperti orang yang tertekan dengan obsesinya sendiri.
***
Hari ini Anabella mendapat orderan rancangan bunga plastik. Customernya minta diantarkan besok. Anabella bersyukur, akhirnya ada yang mesan juga. Karena dia adalah pelanggan pertamanya, Anabella ingin memberinya diskon.
Kalau banyak yang minta delivery, sepertinya Anabella membutuhkan alat transportasi. Anabella perlu sepeda motor. Tapi untuk beberapa waktu ini, dia hanya bisa ngandelin tukang ojek dulu.
Anabella mengambil handphone-nya, dia mengecek tabungannya. Cukup untuk membeli sepeda motor second. Lalu Anabella menelepon pamannya, Rehan. Ada sesuatu yang perlu Anabella bicarakan pada pamannya itu. Anabella ingin minta tolong pada pamannya.
"Halo Paman." sapa Anabella saat panggilannya sudah terhubung.
"Iya Anabel, gimana kabar kalian disana? Gimana keadaan cucuku?"
"Semua disini baik-baik aja Paman. Paman gak perlu khawatir. Oya Paman, Anabella mau minta tolong. Tolong Paman jualkan mobil Anabella."
Berat sebenarnya bagi Anabella menjual mobil itu, tapi ini untuk modal usahanya. Ingin mengambil uang pemberian Faris, Anabella sungkan. Sebab uang itu dikhususkan untuk keperluan Devan. Jadi Anabella tak berani mengusiknya barang sedikitpun.
Diseberang sana, Rehan merasa kasihan pada keponakannya ini. Tapi juga sayang pada mobilnya, kalau gak dijual juga bakalan rusak. Jadi mau tak mau, Rehan menuruti permintaan keponakannya itu. Mungkin baru besok dia akan membawa mobil itu ke dealer mobil second.
***
Ke-esokan harinya.
Orderan pelanggan pertamanya sudah jadi. Customernya minta diantarkan jam 7 pagi. Anabella sudah siap, tinggal menunggu ojek online yang baru saja dia hubungi.
Setelah berpamitan sama semua orang, Anabella langsung meluncur dengan di antarkan oleh tukang ojek online alias ojol.
Dia melihat gedung bertingkat 3 di sana. Anabella meminta ojol itu untuk menunggunya. Dan bapak ojol itu jelas oke-oke saja. Sebabnya dia dibayarkan. Dan ini pekerjaan dia sebagai tukang ojek. Harus siap menunggu pelanggannya sampai selesai.
Anabella mendekati salah seorang scurity. "Permisi Pak. Saya mau tanya, ruangan Bu Dewi ada di sebelah mana ya? Bagian keuangan." ucap Anabella seraya menunjukkan handphone-nya.
"Oh Bu Dewi, ada lantai satu mbak. Nanti ada meja kedua mbaknya belok aja ke kiri. Nah di sana cari aja meja yang bertuliskan nama Bu Dewi." terang scurity itu. Dia terpana juga melihat kecantikan Anabella.
Setelah berterima kasih, Anabella langsung berjalan ke ruangan itu. Banyak mata pria yang memandangnya. Mereka menatap takjub akan kecantikan Anabella. Wanita berdarah Korea ini, dengan rambut model kuda poninya, terlihat begitu mempesona. Tampilannya yang sederhana membuat orang-orang berpikir kalau Anabella masih gadis. Wajahnya yang baby face dan kulit putihnya, tak akan ada yang percaya kalau Anabella adalah seorang janda muda yang ditinggal suaminya mati akibat kecelakaan.
"Eh," Tiba-tiba saat hendak berbelok. Handphonenya terjatuh. Anabella langsung berjongkok dan memasukkan handphonenya ke dalam tas. Sekalian dia membenarkan tali sepatunya yang hampir lepas.
Di seberang Anabella, ada pria yang tengah memakai jas keluar dari ruangan. Pria itu baru lembur semalaman, dan sekarang dia mau pulang.
Dia berjalan lesu dan tak menghiraukan keberadaan Anabella yang tengah berjongkok di sampingnya. Dia berjalan melewati Anabella begitu saja.
Tapi saat dia sudah berada jauh di belakang Anabella, pria itu langsung menoleh ke belakang. Sepertinya dia mencium bau parfum orang yang ia kenal. Saat pria itu menoleh___
Kebetulan sekali Anabella baru berdiri dan berbelok ke meja barisan kedua. Pria itu yang tak lain adalah Faris langsung tersenyum tipis. 'Aku terbayang-bayang wajah Anabella dari kemarin. Sebenarnya dia dimana sih?' batinnya heran. Bisa-bisanya dia berhalusinasi keberadaan Anabella disini. Sedangkan keberadaannya saja tak diketahui saat ini.
Lalu Faris mengayunkan kembali kakinya untuk menuju tempat parkir. Setelah mobil Faris keluar dari halaman kantor, Anabella keluar dari ruangan tersebut dan menghampiri sang ojek online.
Anabella tersenyum bahagia, pelanggan pertamanya puas dengan hasil karya yang Anabella buat. Anabella jadi semangat dan ingin terus merancang model-model terbaru lainnya.
"Jalan Pak." ucap Anabella setelah nangkring di motor bapak ojol.
"Siap neng." jawabnya dan langsung memutar gasnya.
Bersambung....
Ah, sayang sekali mereka tak bertemu. Gimana menurut kalian? Haruskah Anabella dinikahkan dengan Faris? Atau biarkan Anabella tetap setia pada mendiang om papanya? Kasih saran kalian ya, dengan memberikan komentar dibawah sini. Terimakasih 🤗
mjl