Lo tahu kenapa lampu lalu lintas warna merah itu artinya berhenti?"
Ifa menatap cowok di depannya dengan benci. "Karena merah itu tanda bahaya."
Nicholas menyeringai, mendekat hingga napasnya terasa di kening Ifa. "Sayangnya, makin bahaya, orang malah makin penasaran, Fa. Termasuk lo."
Lathifa (IPA, kelas 12) dan Nicholas (Teknik, tingkat 3). Dua kutub yang tidak seharusnya bertemu, dipaksa bersinggungan karena sebuah ketidaksengajaan di depan pintu rumah. Bagi Ifa, Nick adalah red flag yang harus dihindari. Bagi Nick, Ifa adalah gangguan kecil yang sangat menarik untuk dipermainkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 5
Dua hari berlalu sejak insiden cokelat panas di bawah guyuran hujan. Amara berusaha keras menghapus memori tentang hangatnya punggung Nicholas dari kepalanya. Ia kembali menjadi Amara si siswi kelas 12 yang ambisius, yang harinya diisi dengan latihan soal SBMPTN dan obrolan ringan bersama Daffa di kantin sekolah.
Namun, takdir sepertinya sedang hobi bercanda. Hari Rabu ini, guru-guru di sekolahnya ada rapat mendadak, membuat seluruh siswa dipulangkan lebih awal. Baru saja Amara hendak merebahkan diri di sofa rumah, Bunda sudah menghadangnya dengan dua kotak bekal berukuran besar.
"Ifa, tolong hantarkan ini ke kampus Abangmu, ya? Kasihan dia, tadi pagi buru-buru sampai lupa bawa makan siang. Isinya rendang kesukaan Ryan, satunya lagi buat temannya yang kemarin bantu benerin keran air di rumah," ujar Bunda sambil memberikan tas kain berisi bekal tersebut.
"Ih, Bunda... kan bisa minta Bang Ryan pulang bentar," keluh Amara.
"Abangmu lagi ada praktikum sampai sore, sayang. Sudah, sana berangkat. Naik ojek online saja, nanti Bunda ganti ongkosnya."
Amara tidak punya pilihan. Dengan masih mengenakan seragam putih abu-abu—meski ia sudah melapisinya dengan jaket hoodie kuning cerah—ia berangkat menuju Fakultas Teknik Universitas Indonesia.
Suasana kampus Teknik sangat berbeda dengan sekolahnya. Di sini, udara terasa lebih maskulin, penuh dengan aroma oli, suara mesin dari bengkel, dan mahasiswa-mahasiswa yang tampak sibuk dengan maket atau buku kalkulus tebal.
Amara berjalan menyusuri koridor gedung utama sesuai petunjuk yang diberikan Ryan lewat WhatsApp. Dari kejauhan, ia melihat kerumunan di dekat gazebo koridor. Suara tawa yang sangat ia kenali terdengar jelas.
"Nah, itu dia sang pangeran Teknik kita!" seru salah satu teman Ryan.
Amara memperlambat langkahnya. Di sana, ia melihat Ryan sedang duduk santai di meja batu, tertawa bersama gerombolannya. Namun, pemandangan di sebelah Ryan-lah yang membuat Amara secara otomatis memutar bola matanya dengan malas.
Nicholas.
Pria itu sedang duduk di atas meja, bukan di kursi. Ia mengenakan kemeja flanel merah-hitam yang lengannya digulung sampai siku, memperlihatkan urat-urat tangan yang menonjol. Namun, yang membuat Amara merasa mual adalah kerumunan mahasiswi cantik yang mengelilinginya. Ada yang menawarkan air minum, ada yang pura-pura bertanya soal tugas, dan ada yang terang-terangan tertawa genit hanya karena Nick menghembuskan asap rokoknya.
"Dih, tebar pesona banget sih. Dasar red flag," gumam Amara pelan sambil terus melangkah.
Nick tampak sangat acuh tak acuh terhadap gadis-gadis itu. Ia menjawab seadanya, wajahnya datar, dan sesekali hanya mengangguk tanpa minat. Namun, justru sikap dingin itulah yang sepertinya membuat mahasiswi-mahasiswi itu makin penasaran.
Begitu Amara sampai di depan meja mereka, suasana mendadak berubah. Teman-teman Ryan yang tadinya sibuk bercanda langsung terdiam, lalu bersiul nakal.
"Wah, wah, ada bidadari nyasar di Teknik!" seru salah satu teman Ryan bernama Arga.
"Cantik amat, Yan! Adek lo ya? Kenalin dong," timpal yang lain.
Amara hanya memberikan senyum tipis yang kaku, merasa risih menjadi pusat perhatian sekumpulan mahasiswa tingkat atas. Ia langsung menyodorkan tas kain itu ke depan dada Ryan.
"Ini dari Bunda, Bang. Katanya jangan sampai telat makan," ucap Amara ketus.
Ryan tertawa sambil menerima tas itu. "Makasih, Dek. Oh iya, kenalin, ini temen-temen Abang. Yang ini Arga, yang itu—"
"Udah tahu, Bang. Kan pernah ke rumah," potong Amara cepat, ingin segera pergi dari sana.
Saat Amara hendak berbalik, matanya tak sengaja bertemu dengan mata Nicholas. Nick sejak tadi diam, namun tatapannya sangat tajam, seolah sedang memindai penampilan Amara dari atas ke bawah. Salah satu mahasiswi yang sedari tadi bergelayut di dekat Nick tampak tidak suka dengan kehadiran Amara.
"Siapa sih, Nick? Anak SMA?" tanya mahasiswi itu dengan nada meremehkan.
Nick tidak menjawab pertanyaan gadis itu. Ia malah melompat turun dari meja dan berjalan mendekati Amara. Jarak mereka kini hanya terpaut dua langkah.
"Tumben lo nggak pakai daster bunga-bunga?" tanya Nick dengan suara berat yang hanya bisa didengar oleh Amara dan Ryan.
Wajah Amara memerah seketika. Ia teringat kejadian hari Minggu lalu. "Bukan urusan Kakak ya! Bang, aku pulang dulu!"
"Eh, nanti dulu, Ra!" seru Ryan. "Temenin Abang makan dulu bentar kenapa sih? Ini makanannya banyak banget, nggak bakal habis kalau gue makan sendiri."
"Nggak mau, Bang! Malu dilihatin orang," bisik Amara sambil melirik ke arah mahasiswi-mahasiswi yang kini menatapnya dengan pandangan membunuh.
"Nggak ada yang berani liatin lo kalau lo duduk di sebelah gue," sahut Nick tiba-tiba. Ia menarik kursi kosong di dekatnya dengan kaki, lalu menunjuknya dengan dagu. "Duduk."
Amara mendengus. "Maksa banget sih jadi orang!"
Melihat Amara yang masih berdiri kaku, Nick tiba-tiba menoleh ke arah sekumpulan mahasiswi yang mengerumuninya tadi. Dengan tatapan yang sangat dingin dan datar, ia berkata, "Bisa minta tolong kasih ruang? Gue mau makan sama tamu gue."
Kalimat itu singkat, tapi sangat mengintimidasi. Gadis-gadis itu langsung terdiam, wajah mereka tampak kecewa sekaligus malu, lalu satu per satu membubarkan diri dengan langkah cepat.
Amara tertegun. Ia baru sadar betapa berbedanya perlakuan Nick kepada orang lain. Kepada gadis-gadis cantik itu, Nick sangat acuh tak acuh dan dingin. Tapi kenapa kepada dirinya, pria itu selalu punya energi untuk mengganggu, menyeringai, dan bersikap dominan?
Akhirnya Amara terpaksa duduk di antara para mahasiswa Teknik itu. Ia hanya diam sambil memainkan ponselnya sementara Ryan dan teman-temannya mulai melahap rendang buatan Bunda.
"Ra, tadi di sekolah gimana? Daffa nggak macem-macem kan?" tanya Ryan sambil mengunyah.
"Nggak, Bang. Daffa kan baik," jawab Amara santai.
Begitu nama Daffa disebut, Amara bisa merasakan hawa di sebelahnya mendingin. Nicholas yang tadinya diam, kini menatap Amara dengan sudut mata yang tajam.
"Masih bahas cowok itu?" tanya Nick pelan, suaranya mengandung nada tidak suka yang sangat jelas.
"Lho, emang kenapa kalau dibahas? Dia emang temen deket aku," tantang Amara.
Nick tidak membalas. Ia malah meraih kotak bekal milik Ryan dan mengambil sepotong rendang, memakannya dengan tenang seolah ucapan Amara tidak berpengaruh padanya. Namun, tangannya yang satu lagi tiba-tiba diletakkan di sandaran kursi Amara, membuat posisi mereka seolah-olah Nick sedang merangkulnya dari belakang.
"Yan, adek lo kayaknya butuh les tambahan soal cara milih cowok," ucap Nick sambil menatap Ryan, tapi matanya melirik ke arah Amara. "Masa yang modelan kayak Daffa dibilang baik."
"Iri bilang, Bos!" celetuk Arga sambil tertawa, yang langsung dibalas tatapan mematikan oleh Nick.
Amara merasa jantungnya berdegup tidak karuan. Posisi tangan Nick di belakangnya membuatnya tidak bisa bersandar dengan bebas. Ia merasa terkurung oleh kehadiran Nicholas yang begitu dominan di tengah hiruk-pikuk kantin kampus.
"Kak Nick mending diem aja deh," bisik Amara kesal.
"Kalau gue nggak mau?" Nick mendekatkan wajahnya ke telinga Amara, aroma rokok dan parfum maskulinnya kembali menyerang. "Lo mau apa, Bocah?"
Amara hanya bisa mengepalkan tangannya di bawah meja. Ia sadar, masuk ke wilayah Nicholas adalah sebuah kesalahan besar. Di sekolah ia mungkin dipuja oleh Daffa, tapi di sini, di bawah kekuasaan Nicholas, ia merasa seperti seekor kelinci yang sedang diawasi oleh serigala yang lapar.