Apa yang sebenarnya terjadi di masa lalu, hingga Calix sangat menyayangi Cloudet dengan obsesi menyimpang. Hingga dia rela bersekutu dengan kegelapan agar tidak satupun yang dapat merebut Cloudet darinya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HOPEN, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Season 2 : Paranoid
Di jantung Hutan Scotra, sebuah drama komedi surealis terus berlanjut di bawah kanopi yang lembap.
Kael, sang penguasa ular yang biasanya memancarkan aura predator nan elegan, kini tampak seperti sisa-sisa kehancuran badai.
Ia duduk bersandar pada akar pohon, napasnya masih tersengal, sementara para peri kecil masih sibuk mengipasi wajahnya dengan dedaunan yang lebar.
Keadaan di sekitarnya sungguh absurd.
Cloudet, yang tadi sempat "diikat" oleh ribuan tanaman merambat para peri, kini sudah bebas sepenuhnya. Sisa-sisa tanaman itu berserakan di sekelilingnya seperti benang jahit yang putus.
Ia duduk bersila, menopang dagu dengan kedua tangan kecilnya, menatap Kael dengan binar mata kuning keemasan yang jernih namun kosong, sebuah tatapan yang entah kenapa membuat bulu kuduk Kael meremang.
"Mau apa kau, Bocah?" tanya Kael.
Suaranya bergetar, berusaha menyeimbangkan antara wibawa yang tersisa dan rasa takut yang nyata.
Alisnya berkedut hebat saat melihat Cloudet terus mengamatinya tanpa berkedip.
Cloudet tidak menjawab dengan kata-kata. Ia perlahan merangkak maju, mendekati Kael dengan gerakan yang tenang namun bagi Kael tampak seperti predator yang sedang mengunci mangsa.
"J-Jangan mendekat! Kubilang jangan sentuh aku!"
pekik Kael, suaranya naik drastis. Ia menarik kakinya menjauh hingga punggungnya menekan batang pohon dengan keras. Matanya berkaca-kaca, nyaris menangis karena trauma psikologis akibat "colekan maut" tadi masih membekas kuat di syarafnya.
Melihat tuan mereka yang begitu ketakutan, para peri penjaga terbang mengelilingi kepala Kael, berteriak-teriak kecil untuk menenangkannya.
"Tenanglah, Yang Mulia! Tenangkan dirimu!"
seru pemimpin peri sembari menarik-narik telinga Kael agar ia sadar.
“Ingatlah siapa dirimu! Kau adalah Raja Scotra yang telah hidup selama ribuan tahun! Makhluk ini hanyalah seekor anak anjing kecil yang belum bisa menggonggong dengan benar! Di mana harga dirimu sebagai penguasa?"
Mendengar kata-kata pengikutnya, Kael terdiam sejenak. Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba memanggil kembali sisa-sisa keberaniannya yang sempat tercecer di tanah.
Ia menatap tangannya, lalu menatap Cloudet. Benar. Dia adalah entitas kuno, sedangkan makhluk di depannya ini hanyalah bocah berumur beberapa tahun.
"Benar juga..."
gumam Kael, suaranya kembali berat.
Seketika, aura dingin kembali menyelimuti tubuhnya. Senyum miring yang penuh tipu daya perlahan terbit di bibirnya yang pucat. Kael memperbaiki posisi duduknya, kini ia berjongkok di hadapan Cloudet agar tinggi mereka sejajar. Ia menyipitkan mata, mencoba kembali ke mode intimidasi yang biasa ia gunakan pada musuh-musuhnya.
"Hei, Anak Nakal,"
ucap Kael dengan nada meremehkan yang dibuat-buat.
“Kenapa kau kembali lagi ke wilayahku? Bukankah kau hampir membuat hutan ini rata terakhir kali?"
Ia melirik ke arah jalan keluar hutan, lalu kembali menatap Cloudet dengan tatapan menyelidik.
"Dan di mana Calix yang menyebalkan itu?. Kenapa dia membiarkan adik kecilnya berkeliaran sendirian tanpa pengawasan?"
Cloudet hanya memiringkan kepalanya sedikit, membiarkan rambut hitamnya jatuh menutupi sebagian wajahnya.
Ia menatap Kael dengan senyum manis, terlalu manis, yang jika dilihat oleh Calix, pasti akan langsung membuat kakaknya itu berteriak agar Kael pergi sejauh mungkin.
"Kakak sedang pergi ke selatan,"
jawab Cloudet tenang, suaranya terdengar polos namun mengandung nada dingin yang aneh.
"Dia bilang aku tidak boleh bermain dengan ular. Tapi karena Kakak tidak ada, aku ingin tahu apakah Paman Ular masih takut seperti kemarin."
Kael tersedak air liurnya sendiri mendengar kata 'takut'.
“Siapa yang kau sebut takut?!, Itu tadi hanya... serangan jantung mendadak!"
...----------------...
Di pesisir selatan yang seharusnya menjadi oasis ketenangan dengan deburan ombak yang ritmis dan semilir angin laut yang membawa aroma garam yang menyejukkan, suasana di dalam vila besar keluarga Grozen justru terasa seperti ruang interogasi yang menyesakkan.
Ketegangan itu tidak berasal dari musuh luar, melainkan dari satu orang yang jiwanya sedang terjebak dalam pusaran kecemasan: Calix.
Calix duduk di meja makan yang terbuat dari kayu mahoni gelap yang mengkilap, namun ia sama sekali tidak menikmati kemewahan tersebut.
Punggungnya tegak kaku seolah-olah ada pedang yang menempel di tulang belakangnya, sementara jemarinya yang panjang terus mengetuk permukaan meja dengan irama yang semakin cepat, sebuah manifestasi fisik dari paranoia yang kini menguasai pikirannya.
Wajahnya yang tampan, yang biasanya memancarkan aura maskulin yang tenang, kini tampak pucat pasi dengan lingkaran hitam tipis di bawah matanya.
Di balik mata kuning keemasannya, sebuah teater horor sedang berputar tanpa henti, ia membayangkan Cloudet yang kehilangan kendali dan merobohkan pilar penyangga atap mansion saat mencoba kekuatanmya, atau mungkin Cloudet yang secara tidak sengaja membakar dapur hingga menjadi abu, atau skenario yang paling mengerikan, Cloudet mengundang seluruh penghuni Hutan untuk mengadakan pesta di ruang tamu.
"Dia pasti sedang melakukan sesuatu yang buruk,"
gumam Calix pelan, suaranya parau dan bergetar seolah ia baru saja menyaksikan kiamat.
“Aku bisa merasakannya. Ada getaran aneh, semacam resonansi yang tidak stabil. Dia pasti sedang menghancurkan sesuatu sekarang, aku yakin itu.”
Irina, yang duduk di dekat jendela besar yang menghadap langsung ke arah laut lepas, sedang menyesap teh melati dari cangkir porselen tipis.
Mendengar racauan Calix, ia meledak dalam tawa kecil yang elegan namun penuh dengan nada geli.
“Calix, tenangkan dirimu. Cloudet itu anak yang pintar dan sangat menyayangimu. Dia tidak akan seceroboh itu hingga meratakan rumah tempatnya berteduh."
"Nyonya, dengan segala hormat, Anda tidak pernah benar-benar tahu apa yang bisa dilakukan oleh Cloudet!"
balas Calix dengan nada paranoid yang kental, matanya berkilat-kilat liar.
Roland, yang duduk tepat di seberang Calix, tampak sebagai kontras yang sempurna. Ia sedang mengunyah sepotong daging panggang dengan ketenangan seorang raja, gerakannya lambat, terkendali, dan penuh wibawa.
Namun, melihat kepanikan Calix yang sudah mencapai level yang tidak masuk akal, sisi jahil Roland yang biasanya tersembunyi di balik fasad tenangnya mendadak bangkit dengan nakal.
Roland meletakkan pisau dan garpunya dengan suara denting logam yang pelan namun provokatif.
Ia menyandarkan punggungnya pada kursi berlapis beludru, lalu menatap Calix dengan senyum miring, senyum predator yang menandakan ia sedang ingin menyiksa mental bawahannya tersebut.
"Sebenarnya, aku setuju denganmu, Calix,"
ucap Roland dengan suara bariton yang berat dan sangat meyakinkan.
“Aku bisa membayangkan apa yang terjadi sekarang di mansion. Mungkin saat ini, dia merasa sangat bosan dan memutuskan untuk menguji seberapa tajam cakarnya dengan mencoba menebang pohon di belakang taman."
Calix menelan ludah dengan susah payah, matanya melebar hingga hampir keluar dari kelopaknya.
“Pohon... besar itu?"
"Ya,"
lanjut Roland dengan nada sarkasme yang menusuk, menikmati setiap detik kepucatan wajah Calix.
“Dan dengan kemampuan Cloudet yang luar biasa, pohon itu pasti akan tumbang ke arah rumah kaca tempat Irina melepaskan ribuan kupu-kupu nya. Bayangkan saja, Calix... kaca-kaca itu pecah berkeping-keping, kupu-kupu itu terbang menjauh”
"Roland! Jangan katakan itu! Itu terlalu spesifik!"
seru Calix dengan suara yang nyaris seperti jeritan. Ia hampir saja melompat dari kursinya, tangannya sudah bertumpu pada meja.
"Nyonya akan sangat sedih jika taman indahnya euntuh!"
Irina kembali tertawa, kali ini lebih keras hingga bahunya yang mungil bergetar hebat.
“Roland, kau benar-benar jahat sekali menakut-nakutinya seperti itu."
Roland hanya mengangkat bahu dengan santai, kembali mengambil pisau dagingnya seolah pembicaraan tadi hanyalah obrolan biasa.
“Aku hanya membantu memvisualisasikan ketakutannya agar lebih... artistik. Lagipula, jika dia benar-benar meruntuhkan mansion, setidaknya kita punya alasan untuk merenovasi ruang bawah tanah."
Calix kembali terduduk dengan lemas, seluruh tenaganya seolah tersedot habis. Wajahnya kini terkubur di telapak tangannya, menyembunyikan depresi yang mendalam.
“Aku harus pulang. Aku tidak bisa di sini lebih lama lagi. Kepalaku benar-benar berdenyut membayangkan kenakalan Cloudet,"
Jover, yang sedari tadi berdiri diam seperti bayangan di sudut ruangan, bergerak maju.
Dengan satu tangan yang kuat, ia menekan bahu Calix agar tetap duduk di kursinya.
Calix mencoba memberontak, gerakannya lucu. Ia menggeliat seperti anak kecil yang dipaksa diam, yang hanya membuat Irina tertawa semakin keras dan Jover sendiri akhirnya mengeluarkan suara terkekeh rendah yang jarang sekali terdengar.
Calix tidak pernah tahu, bahwa di saat yang sama di kedalaman Hutan Scotra yang lembap, Cloudet sama sekali tidak sedang memegang gergaji atau meruntuhkan bangunan.
Ia justru sedang berdiri dengan ekspresi paling bingung di wajah polosnya, menatap ke arah Kael, sang penguasa ular yang agung, yang baru saja jatuh pingsan di atas akar pohon hanya karena sebuah colekkan nakal pada tato di dadanya.
Bersambung