"Tidak peduli apa yang akan terjadi nanti, selamanya kita akan tetap bersama" kata-kata itu terus terngiang dalam pikiran seorang gadis cantik yang berasal dari pinggiran kota.
Dan tempat itu menjadi saksi sejarah dari janji yang pria tampan itu ucapkan.
Dia yang sempat tinggal disana karena sebuah kecelakaan yang merenggut ingatannya, hingga ia ditampung oleh salah satu keluarga dengan kedua putri cantik yang selama ini selalu membantu kedua orang tuanya merawat pria yang entah berasal dari mana.
"Kalau penasaran silahkan ikuti kisahnya 🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erny Su, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30
Tatapan mata Alex yang kini tertuju pada Diandra pun membuat Ari merasakan kecemasan. Dulu saat Afandi masih ada tidak ada yang bisa membuat Dian menangis kecuali kedua wanita yang kini masih menjalani hukuman nya.
Dian tidak bergeming di tempat sampai saat Alex menariknya untuk pergi menuju mobilnya. Tapi Dian menolak dengan tegas, dia langsung kembali ke arah motor nya.
"Honey please aku sudah hampir terlambat"ucap Alex.
"Pergilah tuan tidak akan ada yang melarang mu pergi."ujar Dian yang langsung menaiki motor dan langsung tancap gas.
"Diandra hati-hati!!" teriak Ari.
"Saya titip Diandra jika ada apa-apa tolong segera hubungi saya, nomor asisten pribadi saya ada di Afifah"ujar Alex yang kini bergegas pergi menyusul Diandra menuju pulang.
Sementara Diandra yang sudah sampai lebih dulu di rumah miliknya saat ini dia sudah tidak melihat ketiga orang dewasa yang tadi sarapan pagi bersamanya termasuk Aline dengan segala perlengkapan nya.
Saat Dian keluar dari dalam kamarnya, Alex masuk kedalam rumah dan langsung menghampiri Dian.
"Honey bicaralah?"ujar Alex.
"Tidak ada lagi yang perlu kita bicarakan tuan, anda bisa pergi dengan tenang dan tidak perlu kembali lagi ke rumah saya"ujar Dian.
"Apa yang kamu katakan honey?"ujar Alex yang kini menatap tajam kearah Dian.
"Sudah cukup tuan, saya lelah dengan hubungan ini. Karena sampai kapanpun kita tidak akan pernah bisa bersama,selain terlalu banyak perbedaan diantara kita keluarga anda tidak akan pernah merestui hubungan ini dan mungkin tidak akan pernah membiarkan hubungan kita berjalan mulus seperti saat ini"ujar Dian.
"Kamu mendengar semua?"ujar Alex yang kini menatap lekat wajah cantik itu.
"Ya, saya mendengar"ujar Dian yang kini hendak melangkah pergi tapi Alex langsung menarik pinggang ramping itu hingga Dian hampir terpelanting jika saja Alex tidak menahan nya.
"Bersiaplah kita akan pulang bersama"ujar Alex.
"Tidak, disini rumah saya. Pergilah jika Anda ingin pergi dan itu artinya hubungan kita sudah benar-benar berakhir"ujar Dian yang kini melepaskan cincin pertunangan nya tapi pergerakannya terhenti saat Alex berteriak padanya.
"Diandra!! Sudah berapa kali aku tegaskan bahwa kita akan tetap bersama apapun yang terjadi!"ujar Alex yang kini menarik lengan Diandra dan menariknya membawa gadis yang sangat ia cintai kedalam kamarnya.
"Ganti baju sekarang juga kita akan berangkat"ujar Alex.
"Saya tetap disini"tolak Dian yang kini sudah bercucuran air mata.
" Jangan keras kepala honey"ujar Alex.
"Tuan anda tidak bisa memaksa, saya sudah bilang bahwa hubungan kita sudah berakhir"ucap Dian dengan tegas.
"Baiklah sekarang aku tanya. Apa kamu mencintai ku?"tanya Alex.
Dian pun memalingkan pandangannya, namun tidak lama karena Alex langsung berkata."Jujurlah kalau kamu jujur aku janji tidak akan pernah memaksa mu untuk terus bersama dengan ku jika jawabannya adalah tidak, tapi jika kamu mencintai ku aku tidak akan pernah kembali kesana"ucap Alex lagi.
"Saya tidak mencintai anda, jadi anda bisa kembali sekarang juga"ujar Dian yang kini berbalik badan.
"Apa kamu pikir aku percaya honey, bersumpah lah jika memang kamu tidak pernah mencintai ku"ujar Alex yang kini meraih tangan Dian dan meletakkan nya di atas kepalanya meskipun Dian terus berusaha untuk melepas tangan yang kini digenggam erat oleh Alex.
"Kenapa diam honey, aku tau kamu sedang berbohong. Jadi bersiaplah atau aku yang akan membantu mu untuk bersiap sekarang juga"ujar Alex.
" Saya tidak akan pernah pergi kemanapun"ujar Dian tetap kekeuh.
Alex pun langsung meraih tengkuk Dian dan mencium bibir Dian dengan kasar, Dian sendiri sudah berusaha untuk menolak tapi Alex tidak memberikan kesempatan untuk melepaskan diri.
Sampai keduanya hampir kehabisan oksigen barulah mereka melepaskan ciuman itu.
"Bersiaplah honey aku akan menunggu mu di luar, please jangan pernah berfikir untuk mengakhiri hubungan kita, karena untuk tiba di tahap ini aku sudah mempertaruhkan segalanya termasuk seluruh amanah yang harus aku jaga dari grandpa"ujar Alex.
"Maaf saya tidak bisa, meskipun saya harus bekerja lebih keras untuk bisa mengganti semua kerugian anda"ujar Dian yang kini membuat Alex murka dan meninju dinding .
"Baiklah jika itu yang kamu mau honey, sekarang juga lebih baik aku mati daripada harus kehilangan mu"ucap Alex yang kini menodongkan pistol di pelipisnya sendiri.
Entah darimana pistol itu berasal yang jelas saat ini Dian begitu terlihat sangat ketakutan. Takut Alex benar-benar mengakhiri hidupnya.
"Baiklah tuan baiklah saya akan tetap bertahan tapi saya tidak bisa ikut dengan anda"ujar Dian yang kini membuat Alex sedikit lebih lega dan melepaskan pistol tersebut.
"Baiklah tapi berjanjilah untuk menghubungi ku setiap waktu dan apapun yang terjadi kita akan terus tetap bersama"ujar Alex yang kini hanya mampu dibalas anggukan kepala oleh Dian.
Sampai akhirnya Alex pun pulang ke kota asalnya Dian pun tetap berdiam diri di rumah dalam tangisnya yang tidak kunjung berhenti sampai saat seseorang datang menghampiri nya.
"Kak,"lirih gadis cantik yang baru saja kembali dari sekolah.
"Rena, pergilah bersih-bersih, kakak akan siapkan makan malam untuk kita"ucap Dian yang kini mengusap wajah nya dengan kasar.
"Tuan Alex tidak akan pernah menikahi kakak jadi lebih baik menyerah lah kak, dan kembali pada kak Reno"ucap Renata yang kini membuat Dian menghentikan langkahnya lalu berbalik kearah Renata.
"Rena semua itu bukan urusan mu. Jadi jangan ikut campur, kakak tau kamu yang telah mengirimkan foto kebersamaan kakak dengan kakak mu. Tapi jangan pernah coba-coba mengulanginya lagi Ren, karena kamu tidak tau sedang berhadapan dengan siapa?"ujar Dian yang kini melanjutkan langkahnya.
" Maafkan aku kak, tapi aku hanya ingin yang terbaik untuk kakak, kakak tidak tahu kan kalau kak Miranda adalah adik ipar tuan Alex, bukan sepupunya, tapi dia adik dari istri pertama tuan Gideon Alexander Tama.
"Dia sengaja datang untuk mencegah pertunangan kakak, tapi tidak berhasil, dia hanya ingin kakak selamat dan tidak berakhir seperti nyonya Anggun yang akhirnya mati sia-sia karena tetap memutuskan untuk berada di sisi tuan Gideon"ujar Renata yang kini membuat Dian kembali menghentikan langkahnya dan tetap tak bergeming sampai saat Renata memberikan sepucuk surat yang dititipkan oleh Miranda padanya tadi pagi secara diam-diam.
"Ini kak, aku tidak mengada-ada, dan kakak tidak perlu memasak makan malam untuk kita karena sebentar lagi bang Reno akan menjemput ku"ujar Renata lagi.
...******...
Tangan Dian masih bergetar hebat saat melihat semua isi surat yang ditulis langsung oleh wanita bernama Miranda itu. Tidak hanya surat, tapi juga bukti rekaman video kematian Anggun yang selama ini dimiliki oleh Alex secara diam-diam.
"Saya tau kalian saling mencintai, tapi sebaiknya urungkan niat mu untuk bisa hidup bersama dengan kakak ipar, dia memang pria yang sangat baik dan penuh perhatian, tapi orang yang ada di belakang dia bahkan lebih kejam dari malaikat maut" Miranda.
Tulisan terakhir Miranda itu menjadi pembungkus flashdisk yang kini tersambung ke handphone nya.
Renata yang sudah bersiap untuk pamit pun dibuat terdiam saat melihat rekaman cctv yang kini terlihat dari layar handphone milik Diandra, dimana wanita cantik yang sedang hamil itu disiksa sebelum akhirnya dilarikan ke rumah sakit karena mengalami pendarahan.
" Kak, bang Reno sudah tiba, Rena pulang dulu, tolong pertimbangkan permintaan Rena"ujar Renata yang kini hanya mendapatkan uluran tangan dari Dian sebagai salam perpisahan.
Sementara Dian yang kini masih shock hanya terus menatap lekat layar handphone nya itu.
Renata pun berlalu pergi meninggalkan rumah Dian dalam keadaan khawatir saat melihat Diandra yang tidak baik-baik saja.
Hari demi hari pun Diandra lewati dengan kesendirian, bahkan Diandra yang selama ini selalu menolak untuk menerima panggilan telefon dari Darel pun. Menjadi gunjingan semua orang di kampung halamannya kecuali orang terdekat nya seperti sahabatnya yang kini juga menjauh darinya karena tekanan dari pihak keluarga Alex yang saat ini sudah menguasai mulut para disana.
Bahkan ibunya Afandi pun berubah drastis dan sikap nya benar-benar tidak bersahabat. Wanita itu bahkan menjadi orang pertama yang telah menggunjingkan nya.
Wanita paruh baya itu bilang bahwa Dian kualat karena telah mengkhianati putranya yang telah tiada di waktu yang bahkan belum seharusnya.
Tapi Dian tidak pernah membalas perkataan wanita itu, Dian hanya berusaha untuk menghindari masalah dengan menyibukkan diri dengan pekerjaan nya yang kini kembali berdagang keliling kampung dengan mobil peninggalan ayahnya itu.
Bahkan hingga saat ini sudah hampir enam bulan lamanya Alex tidak pernah datang untuk menemui dirinya. Dian pun mengirimkan barang seserahan yang pernah Alex bawa saat sebelum lamaran, semua tidak pernah Dian gunakan, dia hanya menyimpan semua itu di dalam kamar tamu.
Setelah dia tau bahwa saat ini Alex sudah menikah dengan wanita lain, dan lagi-lagi Rena yang datang memberi kabar padanya.
Dan selama ini disaat semua orang sibuk membencinya, Renata lah yang selalu ada untuk memberikan support padanya meskipun hanya datang sesekali dan secara diam-diam.
Sementara teman-temannya masih tetap menjaga jarak, mungkin karena mereka tidak ingin kehilangan mata pencaharian mereka saat ini yang mereka dapatkan dari Alex.
Dian juga bisa mengerti akan hal itu, dia juga tidak pernah bertanya kenapa mereka menjauhi dirinya.
Selama Dian masih bisa berdiri tegak di kakinya sendiri dan tidak merugikan orang lain, Dian akan terus menyendiri.
Dan kini sudah tujuh bulan Dian menyandang status mantan tunangan Alex, dari seluruh warga yang sudah mengetahui bahwa Alex sudah kembali menikah, bahkan dia sudah kembali pada keyakinan nya. Dian pun memutuskan untuk menutup semua kenangan tentang pria yang kini hanya menorehkan luka di hatinya itu.
Dian hanya akan fokus pada hidupnya meskipun dalam kesendirian nya. Dian sudah putuskan untuk tidak lagi mengenal cinta, dia kembali menjadi perempuan pendiam, tidak banyak bicara tapi tetap menjadi pekerja keras, meskipun saat berada di hadapan makam sang ayah air matanya terus mengalir deras.
Ya hari ini adalah hari peringatan kepergian sang ayah, namun Dian tidak mengadakan acara tahlilan, dia hanya datang untuk berziarah sambil berdoa di hadapan makam sang ayah secara langsung.
Bukan dia tidak punya biaya untuk menggelar acara tahlilan, bahkan uang penghasilan nya dari berdagang pun lebih dari cukup untuk mengadakan tahlilan, tapi siapa yang akan datang untuk mendoakan ayahnya disaat sikap orang di sekitarnya tidak lagi bersahabat dan menyebutnya wanita pembawa sial.
Saat Dian kembali dari pemakaman, saat itu langkahnya terhenti tepat di depan halaman rumah nya yang kini terdapat mobil yang cukup Dian kenali.
Itu adalah mobil Alex yang kini terparkir di belakang mobilnya. Dian pun menghela nafas panjang kemudian melanjutkan langkahnya menuju rumah.
"Diandra,"ujar seseorang yang kini membuat langkah Dian terhenti.
"Lama tidak bertemu?"ujar seorang yang kini tidak ingin Dian lihat atau dengar suaranya lagi, sampai tangan kekar itu meraih tangan Diandra yang kini masih memegang keranjang bunga.
Sedetik kemudian Dian menarik tangan nya, meskipun sempat kesulitan, dia tidak melirik kearah pria itu, tapi langsung bergegas masuk kedalam rumah dan menutup pintu meskipun tidak dia kunci.
Seberapa keras pun Dian mencoba untuk tidak menangis, tapi rasa sakit di ulu hatinya itu lebih kuat dari tekadnya.
Sementara Alex langsung masuk begitu saja kedalam rumah tersebut, dan mengetuk pintu kamar dimana kini Dian berada.
"Saya minta maaf Diandra, saya tidak bermaksud untuk mempermainkan mu. Tapi saya tidak punya pilihan lain, saya datang hanya untuk memastikan bahwa kamu baik-baik saja setelah sekian lama tidak bisa saya hubungi"ujar Alex yang kini berulang kali mencoba mengetuk pintu kamar Diandra.
"Pergilah tolong jangan pernah kembali, seperti yang anda lihat saya baik-baik saja meskipun dunia ini telah menghujat saya sebagai perempuan pembawa sial. Anda tidak perlu khawatir saya pun tidak akan pernah mengganggu hidup anda lagi. Saya sudah kirimkan semuanya, termasuk uang ganti rugi untuk acara untuk hari yang begitu bersejarah dalam hidup saya. Terimakasih untuk semua, terimakasih untuk rasa sakit yang telah anda berikan,"ucap Dian yang hanya berbicara di balik pintu.
Tangan Alex terkepal erat, dia yang sebenarnya datang untuk mengecek setiap gudang padi yang ada di kota kelahiran Dian itu tidak bisa mengabaikan isi hatinya yang selama ini telah membuat dirinya menjadi pria paling kejam.
Dia telah membuat wanita yang sangat ia cintai tersakiti dengan keputusannya itu. Dia juga telah membuat Dian benar-benar sebatang kara dan dijauhi oleh semua orang karena keputusan yang telah dia ambil tujuh bulan yang lalu.
"Diandra, aku datang bersama Rena, kamu dimana aku bawakan makanan favorit mu?!"ujar seseorang yang kini membuat Alex langsung berbalik arah dan menghampiri mereka yang datang untuk bertamu.
Dian yang mendengar suara itu pun langsung bergegas membuka pintu kamar. Bukan karena dia peduli pada laki-laki yang selama tujuh bulan ini terus berusaha untuk kembali padanya. Tapi dia hanya ingin memastikan bahwa Reno dan adiknya baik-baik saja saat Alex berada di sana.