"Wajah bak dewa, namun nasib bak debu."
Di dunia di mana kekuatan adalah segalanya, Han Feng hanyalah seorang pelayan rendahan tanpa bakat kultivasi. Ia dihina, disiksa, dan dibuang ke hutan kematian hanya karena ketampanannya dianggap sebagai penghinaan bagi para tuan muda sekte yang sombong.
Namun, maut justru menjadi gerbang kebangkitannya.
Di ambang kematian, sebuah pusaka terlarang yang telah lama hilang—Sutra Dewa yang Terbuang—memilihnya sebagai wadah. Kitab itu hancur, menyatu ke dalam nadinya, merekonstruksi tubuhnya menjadi sempurna, dan menanamkan ribuan tahun pengetahuan dewa langsung ke dalam benaknya.
Kini, Han Feng kembali bukan untuk melayani, melainkan untuk menagih hutang darah. Dengan otak yang mampu membedah kelemahan lawan dan tubuh yang menyimpan kekuatan surgawi, ia akan membuktikan bahwa mereka yang dulu mengabaikannya akan berlutut di bawah kakinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danzo28, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TRANSFORMASI NAGA EMAS
Udara di dalam kamar penginapan nomor tujuh tak lagi bisa disebut udara. Tekanannya begitu padat hingga berubah menjadi substansi yang berat, seolah-olah ruangan itu telah tenggelam ke dasar samudera terdalam. Teko keramik di atas meja kayu mulai bergetar hebat, lalu prang!—pecah berkeping-keping bukan karena jatuh, melainkan karena molekul air di dalamnya mendidih seketika akibat radiasi energi yang meluap dari tubuh Han Feng.
Han Feng duduk bersila di tengah badai tak kasat mata itu. Wajahnya yang biasanya tenang kini terkunci dalam konsentrasi yang menyakitkan. Di hadapannya, Inti Binatang Buas Guntur telah hancur menjadi debu, namun esensi petir birunya yang liar sedang mengamuk di dalam nadinya. Di sisi lain, sari pati Rumput Roh Sembilan Nyawa mengalir seperti cairan zamrud, mencoba memperbaiki jaringan tubuh Han Feng yang terus-menerus robek oleh gesekan energi petir.
“Hancurkan untuk membangun. Tekan untuk meledak,” batin Han Feng.
Suara gemuruh terdengar dari dalam dadanya, seperti suara guntur yang terperangkap di dalam botol kaca. Energi petir biru itu liar dan angkuh, mencoba menghanguskan apa pun yang dilewatinya. Namun, Qi Emas milik Han Feng jauh lebih dominan. Qi Emas itu bangkit seperti naga purba yang terganggu tidurnya, menerjang energi petir tersebut, menggigitnya, lalu menelannya mentah-mentah.
Rasa sakitnya luar biasa. Setiap pori kulit Han Feng mengeluarkan uap panas bercampur jelaga hitam—kotoran sisa dari tulang dan ototnya yang sedang ditempa ulang. Ia tidak berteriak. Ia hanya mengeratkan rahangnya hingga gusi-gusinya berdarah, membiarkan setiap inci tubuhnya dibaptis oleh rasa sakit yang akan membawanya ke puncak kekuasaan.
Di tengah penderitaan yang memuncak, indra tajam Han Feng merasakan sesuatu yang mengusik. Burung hantu kecil di dahan pohon luar jendela masih di sana, matanya yang merah berpendar, mengirimkan setiap detail visual proses terobosannya kepada seseorang di kejauhan.
"Beraninya kau mengintip saat naga sedang berganti kulit," bisik Han Feng. Suaranya rendah, namun mengandung getaran frekuensi yang mematikan.
Tanpa membuka mata, Han Feng melepaskan satu denyut Divine Sense (Indra Ilahi)—kemampuan yang seharusnya hanya dimiliki oleh ahli Pondasi Dasar tingkat menengah, namun telah ia kuasai lebih awal berkat jiwa emasnya. Denyut itu melesat seperti anak panah cahaya yang tak terlihat.
BUM!
Burung hantu itu tidak sempat mengepakkan sayap. Tubuh hewan malang yang dikendalikan sihir itu meledak menjadi abu perak dalam sekejap.
Sepuluh mil dari sana, di sebuah tenda mewah milik Keluarga Li, seorang pria paruh baya yang sedang duduk bersila di depan bola kristal tiba-tiba terjerembap. Ia memuntahkan darah segar yang menghitam, matanya melotot ketakutan saat jiwanya merasakan serangan balik yang menghancurkan.
Di dalam kesadaran pria itu, sebuah suara bergema dengan angkuh: “Jika kalian ingin melihatku, datanglah sendiri dengan membawa nyawa kalian. Jangan kirim unggas rendahan untuk mengotori pemandanganku.”
Kembali di dalam kamar, badai energi mencapai puncaknya. Energi petir biru yang tadinya liar kini telah dijinakkan sepenuhnya, menyatu ke dalam aliran Qi Emas. Di dalam Dantian (pusat energi) Han Feng, terjadi ledakan cahaya yang luar biasa.
Kristalisasi energi mulai terbentuk. Sebuah struktur geometris berwarna emas murni, berkilau dengan sembilan tanda guntur yang berputar di permukaannya, kini berdiri kokoh di pusat keberadaannya. Ini bukan sekadar Pondasi Dasar biasa; ini adalah Pondasi Surgawi Sembilan Guntur.
Han Feng membuka matanya.
BOOM!
Gelombang kejut yang nyata meledak keluar dari tubuhnya, menghancurkan jendela kamar hingga menjadi serpihan debu dan membuat atap penginapan terangkat beberapa inci sebelum jatuh kembali ke posisinya. Aura emas yang tipis namun sangat tajam menyelimuti tubuhnya, seperti jubah dewa perang yang tak kasat mata.
Ia berdiri. Tubuhnya terasa seringan bulu namun sekuat baja hitam. Kulitnya kini bersih dari segala noda, dan rambut hitam panjangnya tampak berkilau dengan sisa-sisa listrik yang halus. Ia kini resmi berada di Ranah Pondasi Dasar Level 1. Namun, jika ada yang mencoba mengukurnya, mereka akan mendapati bahwa densitas energinya setara dengan Level 5 kultivator biasa.
Di luar kamar, lorong penginapan dipenuhi oleh orang-orang yang gemetar. Lei Zhan, sang jenius Sekte Guntur Barat, berdiri tepat di depan pintu kamar nomor tujuh dengan wajah sepucat kertas. Pedang di pinggangnya bergetar hebat, bukan karena ia takut, tapi karena pedang itu merasakan kehadiran predator yang jauh lebih unggul.
"Aura ini... ini bukan sekadar terobosan Pondasi Dasar biasa," bisik Lei Zhan dengan suara serak. "Ini seperti... kelahiran seekor monster."
Pintu kayu yang tadinya kokoh kini hancur menjadi serbuk saat Han Feng melangkah keluar. Ia masih mengenakan topi bambunya, namun cara ia berjalan telah berubah. Setiap langkahnya menimbulkan tekanan yang membuat murid-murid Sekte Guntur secara otomatis melangkah mundur dan menundukkan kepala, sebuah reaksi biologis saat mangsa berhadapan dengan pemangsa puncak.
Han Feng melewati mereka tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Ia menuruni tangga, mengabaikan pemilik penginapan yang melongo melihat kehancuran di lantai atas, dan melangkah keluar menuju fajar yang menyingsing.
Udara pagi yang dingin menyambutnya di jalanan Kota Wadas Putih. Namun, langit di atas kota tidak lagi berwarna biru muda. Sebuah cahaya perak raksasa memancar dari kejauhan, membelah awan fajar.
Sebuah objek berbentuk cermin raksasa setinggi rumah tampak melayang di cakrawala, dibawa oleh sebuah kereta terbang yang ditarik oleh delapan binatang buas bersayap. Itu adalah Cermin Pencari Jiwa milik Keluarga Li. Cahaya dari cermin itu menyapu seluruh kota, mencari frekuensi energi yang cocok dengan target mereka.
"Han Feng! Kami tahu kau ada di sini!" sebuah suara yang diperkuat dengan tenaga dalam menggelegar dari langit, mengguncang jendela-jendela kota. "Serahkan dirimu sekarang, atau kota ini akan menjadi kuburanmu!"
Han Feng berhenti di tengah jalan yang sepi. Ia mendongak, menatap cermin raksasa yang kini mulai mengunci posisinya. Cahaya perak dari cermin itu menghantam tubuhnya, mencoba "membaca" jiwanya.
Namun, alih-alih bersembunyi atau lari, Han Feng justru melepaskan penyamaran energinya sepenuhnya. Pilar cahaya emas melesat dari tubuhnya, menembus langit dan menantang cahaya perak cermin tersebut.
Ia menarik sudut bibirnya, membentuk sebuah senyuman dingin yang sangat menawan sekaligus mengerikan.
"Cermin yang bagus," gumam Han Feng, suaranya terdengar jelas oleh semua orang di kota itu meskipun ia bicara dengan pelan. "Akan sangat cocok jika kujadikan hiasan di bawah sepatuku setelah aku menghancurkan wajah kalian semua."
Di atas sana, para petinggi Keluarga Li tersentak. Mereka melihat melalui pantulan cermin itu seorang pemuda yang tidak lagi terlihat seperti pelayan sampah, melainkan seorang dewa muda yang siap memanen nyawa mereka. Han Feng tidak lagi melarikan diri; ia baru saja mengumumkan kepada dunia bahwa mangsa telah berubah menjadi pemburu.
Petualangan berdarah yang sebenarnya, baru saja dimulai.
terlalu banyak kata2 mutiara thor hingga membuat cerita ini seakan jalan ditempat.🙏