NovelToon NovelToon
FALLING IN LOVE WITH THE PLAYER OF HEARTS

FALLING IN LOVE WITH THE PLAYER OF HEARTS

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Mengubah Takdir
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: elfin hati

Malam di kota metropolitan itu tidak pernah benar-benar tidur. Lampu-lampu neon berkilauan memantul di aspal basah sisa hujan sore tadi, menciptakan kilauan warna-warni yang mempesona namun juga menyembunyikan banyak rahasia di baliknya. Di tengah hiruk-pikuk itu, di salah satu klub malam paling eksklusif dan terkenal berbahaya di pusat kota, Grey Cha Lavian sedang menikmati malamnya seperti biasa.

Bagi banyak orang, Grey adalah definisi sempurna dari seorang play girl. Cantik, cerdas, berani, dan memiliki pesona yang mampu membuat hampir semua pria berlutut di hadapannya. Rambut panjang berwarna cokelat gelap dengan sedikit sentuhan pirang, mata abu-abu yang tajam dan penuh misteri, serta senyum menggoda yang selalu terukir di bibir merahnya. Dia tidak pernah terikat pada satu orang pun. Baginya, hubungan hanyalah permainan, dan dia adalah pemenang yang selalu berkuasa. Dia mendekat saat dia mau, pergi saat dia bosan, dan tidak pernah meninggalkan jejak perasaan di belakangnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elfin hati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20: Malam Penuh Cinta — Mengobrol dengan Tiga Malaikat Kecil

Malam itu, suasana di kamar tidur utama terasa begitu tenang, hangat, dan damai. Di luar jendela, bulan bersinar terang menaburkan cahayanya ke dalam ruangan, sementara di dalam, hanya terdengar suara napas lembut dan detak jantung yang berpacu karena kebahagiaan. Pakaian pink dan bando kelinci yang menjadi legenda seharian itu sudah rapi disimpan di lemari—meski Davian sempat berbisik ingin menyimpannya sebagai kenang-kenangan—kini dia sudah kembali dengan pakaian tidur berwarna putih polos yang santai namun tetap terlihat gagah.

Davian berbaring miring di samping Grey, kepalanya sejajar dengan perut besar istrinya yang menjulang indah, menampung tiga nyawa kecil di dalam sana. Tangan besarnya yang hangat dan lembut bergerak perlahan, mengusap-usap permukaan perut itu dengan penuh kekaguman dan kehati-hatian, seolah menyentuh benda paling rapuh dan paling suci di dunia. Matanya menatap lekat-lekat, penuh rasa ingin tahu, cinta, dan kebanggaan yang meluap-luap.

Grey berbaring telentang dengan bantal-bantal yang ditata nyaman di punggungnya, menatap suaminya yang sedang sibuk dengan "dunia kecil" di dalam perutnya. Dia tersenyum lembut, melihat betapa gembiranya pria yang dulu dikenal dingin dan tak tersentuh itu saat berhadapan dengan anak-anaknya sendiri.

Tiba-tiba, di bawah telapak tangan Davian, terasa ada gerakan halus. Satu tonjolan kecil bergerak meluncur pelan dari sisi kiri ke kanan, disusul dengan gerakan lain yang sedikit lebih kuat, seolah ada tiga makhluk kecil yang sedang berebut tempat atau sedang bermain kejar-kejaran di dalam sana.

Davian menahan napas sejenak. Matanya membelalak lebar, berbinar-binar takjub. Jantungnya berdebar kencang, rasanya setiap kali merasakan sentuhan kecil itu, dia merasa dunianya berhenti berputar sejenak.

"Mereka bergerak, Grey… mereka bergerak lagi!" bisik Davian dengan suara bergetar, penuh rasa haru. Dia mengusap tempat yang baru saja bergerak itu dengan jari telunjuknya pelan sekali. "Hai… Nak… ini Ayah… Ayah di sini…"

Gerakan itu makin menjadi. Seolah ketiga bayi itu tahu bahwa tangan besar yang membelai mereka itu adalah tangan pelindung mereka, tangan yang akan menjaga mereka seumur hidup. Mereka menendang, berputar, dan bergeser, membuat perut Grey naik turun dengan lucu. Kadang ada bagian yang menonjol tajam seolah siku atau lutut kecil menyodok keluar, lalu hilang berganti dengan gerakan halus lainnya.

Davian tersenyum lebar, senyum paling tulus dan paling bahagia yang pernah ada di wajahnya. Dia mendekapkan pipinya ke atas perut itu, mendengarkan suara gemuruh kecil dan detak jantung yang bertalu-talu cepat dan kuat dari dalam sana. Dia memejamkan matanya, berbicara pelan, manja, dan penuh kasih sayang, seolah sedang mengobrol akrab dengan teman-teman kecilnya.

"Kalian nakal sekali ya, Nak… main sampai larut malam begini. Apa kalian tidak bisa tidur? Atau… apa kalian masih ingat kalau siang tadi Ayah pakai baju warna pink dan telinga kelinci? Hehehe… Ayah tahu pasti kalian tertawa melihat Ayah ya? Makanya kalian tendang-tendang perut Ibu terus katanya lucu," gumam Davian sambil tertawa pelan sendiri, bibirnya menempel lembut di kulit perut yang hangat itu.

Dia mengusap bagian yang terasa paling keras menonjol, suaranya berubah menjadi lembut sekali, penuh bujukan dan rasa sayang yang tak terhingga.

"Kalian tahu tidak… Ayah rasanya setiap kali kalian bergerak begini, rasanya dada Ayah penuh sekali sampai mau meledak karena bahagia. Dulu… dulu sekali, Ayah berpikir Ayah tidak akan pernah punya apa-apa. Ayah hidup sendirian, gelap, dingin, dan penuh rasa sakit. Ayah pikir Ayah tidak pantas dicinta, apalagi punya anak-anak secantik dan sebaik kalian bertiga. Tapi lihatlah sekarang… kalian ada di sini, tumbuh kuat, sehat, dan bergerak riang…"

Davian berhenti sejenak, merasakan satu tendangan lembut tepat di tempat dia menempelkan telinganya, seolah ada jawaban dari dalam sana. Dia tersenyum kembali, matanya berkaca-kaca.

"Terima kasih ya sudah datang ke hidup Ayah dan Ibu. Terima kasih sudah memilih kami sebagai orang tuamu. Kalian tidak tahu betapa berartinya kalian bagi kami bertiga… eh, bagi kami berlima maksudnya. Kalian adalah hadiah terindah yang Tuhan berikan setelah kami melewati banyak sekali badai dan air mata. Segala kepahitan, segala rasa sakit, semuanya hilang begitu saja setiap kali Ayah merasakan tendangan kecil kalian ini."

Dia mengelilingi perut itu dengan kedua tangannya, memeluknya seolah memeluk ketiga anaknya sekaligus. Suaranya semakin halus, seperti sedang berbisik rahasia malam.

"Tapi Nak… tolong sayang ya sama Ibu. Ibu kalian hebat sekali lho. Dia berjuang sendirian menampung kalian bertiga. Dia sering pegal, sering mual, sering susah tidur, sering lapar atau ingin aneh-aneh… itu semua karena dia berjuang keras melahirkan kalian ke dunia. Jangan terlalu kuat menendangnya ya? Nanti Ibu sakit. Kalau mau menendang, tendang saja Ayah… nanti kalau sudah lahir, Ayah siapkan dada dan punggung Ayah saja buat sasaran main kalian sepuasnya. Tapi sekarang, sayangi Ibu ya…"

Grey yang mendengar semua itu dari atas hanya bisa meneteskan air mata bahagia. Dia mengusap rambut hitam suaminya yang berantakan karena berbaring di sana, hatinya terasa begitu hangat dan damai.

"Davian… kamu bicara sama mereka seperti mereka sudah besar saja," ucap Grey lembut sambil tertawa pelan.

Davian mengangkat wajahnya sedikit, menatap istrinya dengan tatapan yang begitu dalam dan lembut. "Mereka dengar, Grey. Mereka mengerti. Aku yakin itu. Lihat saja…"

Davian kembali menempelkan bibirnya ke perut itu, kali ini suaranya lebih manja dan lucu, nada bicaranya berubah ceria seolah sedang bercanda dengan anak kecil.

"Hai anak-anak Ayah… besok kalau bangun pagi, tolong buat Ibu jadi senang ya? Jangan bikin dia mual, jangan bikin dia sakit pinggang. Kalau Ibu senang, Ayah juga senang. Nanti kalau kalian lahir, Ayah janji akan kasih yang terbaik. Kalian mau apa saja Ayah belikan. Mau mainan sebanyak gunung? Boleh. Mau jajan apa saja? Boleh. Mau naik bahu Ayah seharian? Ayah siap. Asal kalian tumbuh sehat, kuat, dan jadi anak-anak yang baik seperti Ibu kalian…"

Gerakan di dalam sana makin riang. Ada satu titik yang bergerak cepat lalu disusul dua titik lainnya, seolah mereka sedang berebutan dekat dengan suara Ayah mereka. Davian tertawa bahagia, mencium perut itu berkali-kali, kiri, kanan, tengah, atas bawah, tak bosan-bosan.

"Lucu sekali… gemas sekali Ayah rasanya ingin cepat-cepat menggendong kalian. Ingin lihat wajah kalian satu per satu. Apakah hidung kalian mancung seperti Ayah? Atau mata kalian indah dan berbinar seperti Ibu? Apakah kalian punya rambut ikal? Apakah kalian suka tertawa? Ayah ingin tahu semuanya… ingin tahu segalanya tentang kalian."

Dia terdiam sejenak, tangannya diam di atas satu titik yang baru saja berhenti bergerak, seolah salah satu bayinya sedang diam mendengarkan. Davian berbicara lagi, kali ini dengan nada yang lebih serius namun penuh kasih sayang, menyampaikan janji terbesarnya.

"Dan satu hal lagi, Nak… ingat ini baik-baik ya. Dunia ini kadang keras, kadang jahat, kadang tidak adil. Ayah tahu itu karena Ayah sudah merasakannya sendiri. Tapi jangan takut. Selama Ayah masih bernapas, tidak ada satu pun hal buruk yang boleh menyentuh kalian. Tidak ada bahaya yang boleh mendekat. Tidak ada rasa sakit yang boleh melukai kalian. Ayah akan jadi benteng paling kuat, dinding paling tebal, dan perisai paling keras buat kalian bertiga dan buat Ibu. Ayah rela apa saja, Nak… rela nyawa pun Ayah berikan, asal kalian semua aman dan bahagia."

Grey menundukkan kepalanya, mencium puncak kepala suaminya yang masih bersandar di perutnya. "Davian… kamu bicara seperti itu terus, aku jadi ingin menangis bahagia terus…"

Davian mendongak, mengusap air mata yang jatuh di pipi istrinya dengan lembut, lalu tersenyum manis. "Menangis saja, Sayang. Air matamu sekarang adalah air mata kebahagiaan, itu hal yang paling indah di dunia. Dulu aku benci melihatmu menangis karena sedih atau sakit, tapi sekarang… kalau kamu menangis karena bahagia, biarkan saja mengalir. Itu tanda hati kita penuh sekali."

Dia kembali menunduk ke arah perut itu, berbisik lagi dengan nada jenaka.

"Eh, tapi kalau kalian bertiga nakal ya… kalau sampai kalian bikin Ibu rewel parah, atau bikin Ibu nangis-nangis lagi… hati-hati ya sama Ayah. Ayah akan gigit pipi kalian satu-satu nanti pas lahir. Hahaha… bercanda kok. Ayah tidak akan pernah bisa marah sama kalian. Ayah sudah jatuh cinta mati sama kalian bahkan sebelum kalian melihat dunia."

Malam makin larut, namun Davian belum mau beranjak dari posisinya. Dia masih betah mengobrol panjang lebar dengan ketiga anaknya, bercerita hal-hal sederhana, mencerahkan masa depan, berjanji ini itu, sesekali bernyanyi kecil dengan suara berat dan serak-serak basah namun sangat menenangkan. Dia menceritakan bagaimana dia akan mengajak mereka bermain di taman, bagaimana dia akan mengajari mereka berjalan, bagaimana dia akan melindungi mereka dari apa pun.

Setiap kali ada gerakan halus, Davian akan meresponsnya dengan senyum lebar, dengan usapan lembut, dengan kata-kata manis yang tak ada habisnya. Di ruangan itu, tidak ada lagi bayang-bayang masa lalu, tidak ada lagi rasa sakit, tidak ada lagi kesepian. Yang ada hanyalah cinta yang begitu besar, begitu hangat, dan begitu utuh yang menyatukan empat jiwa menjadi satu keluarga yang indah.

Grey menatap suaminya dengan hati yang damai. Dia sadar sepenuhnya, bahwa dia tidak salah memilih pria ini. Davian Argantha, dengan segala luka dan masa lalu kelamnya, telah berubah menjadi pria paling penyayang, paling setia, dan paling berharga di muka bumi ini. Dia mencintai istrinya tanpa syarat, dan dia mencintai anak-anaknya bahkan sebelum mereka lahir ke dunia.

Akhirnya, Davian mengangkat kepalanya perlahan, lalu naik sedikit ke atas untuk berbaring di samping istrinya, menarik tubuh Grey agar bersandar nyaman di dadanya. Tangannya tidak lepas dari perut besar itu, tetap melingkar di sana seolah menjaga harta paling berharga.

"Sudah malam sekali. Ayo tidur, Sayang. Ayo tidur juga anak-anak Ayah. Besok pagi-pagi sekali Ayah bangun, dan hal pertama yang akan Ayah lakukan adalah mencium perut ini lagi dan menyapa kalian semua," bisik Davian pelan sambil mengecup kening istrinya, lalu mengecup perut itu sekali lagi sebagai salam perpisahan malam.

"Terima kasih ya, Davian… untuk semuanya," gumam Grey pelan sambil memejamkan matanya, nyaman dalam pelukan hangat suaminya.

"Terima kasih kembali, Bidadariku… terima kasih sudah memberiku segalanya," jawab Davian lembut, matanya masih menatap perut itu dengan penuh cinta sebelum akhirnya ikut memejamkan mata, membawa mimpi indah tentang masa depan yang cerah bersama istri dan tiga malaikat kecil mereka.

Malam itu sunyi dan indah. Hanya ada cinta yang berbisik di antara mereka, dan janji setia yang terpatri kuat: cinta mereka abadi, dan keluarga mereka adalah keajaiban yang tak tergoyahkan oleh apa pun.

 

(Lanjut ke Bab 21)

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!