Wang Chan hanyalah pemuda biasa dari Desa Hitam. Berkali-kali ditolak oleh sekte karena bakat rendah dan kekuatan lemah.
Namun saat desa mereka dihancurkan oleh monster iblis, ia tak punya pilihan selain melarikan diri sambil membawa seorang teman wanitanya.
Di tengah dunia kultivasi yang kejam, Wang Chan harus bertahan hidup dengan kekuatan yang nyaris tak berarti. Dari pelarian putus asa itulah, takdirnya mulai berubah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chizella, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23: Wang Chan vs Everybody
Wang Chan berdiri dengan santai di tengah arena, membiarkan angin Kota Jiang mempermainkan ujung jubahnya.
Rambutnya yang hitam bergerak lembut, dan matanya yang gelap tampak tenang, sama sekali tidak terpengaruh oleh ratusan pasang mata yang menatapnya dari segala arah.
Penantang pertamanya, seorang pria berbadan kekar dengan kapak besar di pundaknya, melompat naik hingga panggung kayu bergetar.
Tubuhnya yang berotot itu mendarat dengan bunyi yang berat, membuat beberapa papan kayu di arena meretak pelan.
"Bocah ingusan sepertimu mau ikut berebut Nona Wen?"
Pria itu menyeringai, memperlihatkan deretan gigi yang tidak rata. Kapaknya diayun-ayunkan dengan santai di samping tubuhnya.
"Turunlah sebelum kapakku mematahkan kakimu!"
Wang Chan tidak membalas dengan kata-kata. Ia hanya mengaitkan jarinya, memberi isyarat agar pria itu maju duluan.
Gerakannya kecil, hampir tidak terlihat, tapi cukup untuk membuat wajah pria kekar itu memerah karena malu.
Merasa dihina, si pria kekar meraung. Energi spiritual berwarna cokelat tanah meledak dari tubuhnya seperti gelombang lumpur yang bergolak.
Kapak besarnya berdenyut dengan cahaya kecokelatan, melapisi bilahnya dengan manifestasi batu keras yang tampak sangat berat dan tajam.
Ia menerjang maju dengan langkah-langkah berat yang membuat arena bergetar.
Dalam tiga langkah, ia sudah di hadapan Wang Chan, mengangkat kapaknya tinggi-tinggi di atas kepala, lalu mengayunkannya ke bawah dengan seluruh kekuatannya, berniat membelah Wang Chan menjadi dua bagian.
Wusss!
Kapak itu menghantam tempat Wang Chan berdiri dengan kekuatan yang dahsyat.
Serpihan kayu beterbangan ke segala arah, dan sebuah lubang menganga terbentuk di lantai arena.
Namun kapak itu hanya merobek bayangan kosong.
Wang Chan sudah bergeser setengah langkah ke samping dengan gerakan selembut kapas yang tertiup angin.
Matanya tidak berkedip, napasnya tidak berubah.
Sebelum pria kekar itu sempat menarik kembali senjatanya yang tersangkut di lantai kayu, Wang Chan sudah bergerak.
Ia menyentuhkan dua jarinya yang dialiri energi spiritual murni ke ulu hati lawan.
Sentuhan itu tampak ringan. Hampir seperti belaian.
Tapi efeknya tidak ringan.
BUM!
Ledakan energi spiritual internal yang padat menghantam telak dari dalam tubuh pria kekar itu. Matanya membelalak, dadanya terasa seperti dihantam martil raksasa dari dalam.
Darah segar menyembur dari mulutnya, dan tubuh besarnya yang berat terlempar ke belakang, melayang di udara beberapa saat, lalu jatuh di luar arena dengan bunyi yang menggetarkan tanah.
Pria itu tidak bergerak. Pingsan.
Penonton sempat terdiam sesaat.
Mungkin mereka tidak percaya bahwa seorang pemuda kurus bisa menjatuhkan pria sebesar itu dengan satu sentuhan jari.
Kemudian mereka bersorak. Bukan karena mereka mendukung Wang Chan, tapi karena mereka menyukai pertunjukan yang bagus.
Wang Chan tidak terpengaruh. Ia hanya berdiri di tengah arena yang mulai rusak itu, tangannya kembali turun di samping tubuhnya.
"Selanjutnya," ucapnya datar.
Melihat satu orang tumbang dengan mudah, penantang kedua langsung naik.
Kali ini seorang kultivator yang mengandalkan kecepatan, tubuhnya ramping dan lincah, bersenjatakan sepasang belati beracun yang bilahnya berwarna kehijauan.
Tanpa basa-basi, ia langsung bergerak. Langkahnya zig-zag, tidak menentu, menciptakan ilusi visual yang membingungkan mata awam.
Beberapa penonton mengerjap bingung, kehilangan jejak kemana arah gerakan pria itu.
Dalam sekejap, ia sudah berada di titik buta di belakang Wang Chan.
Belatinya mengincar leher, satu tebasan cepat yang sudah ia lakukan ribuan kali dalam latihan.
Wang Chan bahkan tidak menoleh.
Mengandalkan persepsi spiritualnya yang telah diasah oleh Mata Immortal dan latihan bersama Nuan Shuang, ia merasakan getaran udara di belakang lehernya.
Ia memutar tubuhnya perlahan, gerakan yang ekonomis, tidak membuang tenaga.
Belati itu lewat hanya seujung rambut dari pakaiannya. Wang Chan bisa merasakan dinginnya bilah itu, bisa mencium bau racun yang menyengat.
Tangan kanan Wang Chan bergerak secepat kilat.
Ia mencengkeram pergelangan tangan lawan, jari-jarinya mengunci sendi dengan tepat, lalu memutarnya ke belakang dengan satu gerakan yang tegas dan tanpa ampun.
KREK!
Suara tulang bergeser terdengar jelas di telinga penonton yang terdiam. Disusul teriakan kesakitan dari pemilik belati itu, jeritan yang membuat bulu kuduk meremang.
Wang Chan tidak berhenti di situ. Satu tendangan sapuan kaki yang dilapisi Qi menghantam betis lawan.
Pria ramping itu kehilangan keseimbangan, tubuhnya terangkat ke udara, berputar dua kali, lalu jatuh dengan keras di luar pembatas arena.
Belatinya terlepas dan jatuh ke tanah dengan bunyi yang nyaring.