Ditinggal pergi oleh suami tercinta tanpa kabar berita, Rania terpaksa memikul seluruh beban rumah tangga sendirian. Di tengah keterbatasan dan rasa sepi yang menghimpit, ia menemukan kekuatan yang tak pernah ia tahu dimilikinya. Demi masa depan Dika dan Naya, Rania belajar menjadi wanita yang jauh lebih kuat dari sebelumnya. Ini adalah kisah tentang pengorbanan, ketabahan, dan kebangkitan seorang ibu yang menolak menyerah pada nasib.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 🍁ɳɪȩƖɑᷭ🐣N⃟ʲᵃᵃ࿐, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Awal yang sederhana dan Kenangan yang terkunci
Pagi itu, langit di atas pasar desa masih berwarna biru muda, diselingi awan tipis yang berarak pelan. Angin bertiup sejuk, membawa bau tanah basah sisa hujan semalam dan aroma beragam dagangan yang memenuhi sepanjang jalan setapak itu. Rania sudah berada di lapaknya dalam pasar sejak matahari baru saja mengintip dari balik bukit. Ia duduk di kursi kayu , di depannya tertata rapi bungkusan nasi bungkus, gorengan hangat, dan beberapa toples berisi lauk kering serta kerupuk buatan tangannya sendiri.
Ini adalah kali pertama Rania benar-benar membuka lapak dagangan secara menetap di pasar, bukan lagi berjalan kaki berkeliling kampung menawarkan barang. Rasanya ada rasa gugup yang menyelinap di dada, bercampur harapan yang ia jaga rapat-rapat. Ia sudah menyiapkan segalanya dengan sebaik mungkin semalam. Memastikan bumbu pas, rasa pas, dan kemasan rapi. Ia berharap, dengan cara ini, penghasilannya bisa lebih teratur dan cukup untuk memenuhi kebutuhan dirinya serta kedua anaknya, Dika dan Naya.
Namun, namanya juga hari pertama. Rania sadar betul, tidak mungkin ia berharap dagangannya akan ludes seketika seperti saat ia berkeliling. Kalau berjalan kaki dari rumah ke rumah, ia bisa bertemu orang-orang secara langsung, menyapa, dan menawarkan barang dengan lebih leluasa. Di sini, di pasar yang ramai namun penuh persaingan ini, orang-orang hanya akan berhenti jika memang mereka berniat membeli, atau jika rasa penasaran mereka tergugah.
Jam berlalu perlahan. Pembeli datang dan pergi. Ada yang hanya sekadar melirik, ada yang bertanya harga lalu berlalu pergi, ada juga yang membeli satu atau dua bungkus nasi, atau mengambil beberapa keping gorengan. Uang recehan perlahan menumpuk di dalam tas kecil yang disimpan Rania di samping pinggangnya. Namun, sampai matahari berada tepat di atas kepala, masih tersisa cukup banyak barang dagangan yang belum terjual.
Rania menghela napas panjang, lalu tersenyum kecil pada dirinya sendiri. Memang begini rasanya, batinnya. Ia tidak kecewa, hanya sedikit lelah dan sadar bahwa jalan yang ia pilih ini tidak semudah yang dibayangkan. Hari pertama memang belum ada apa-apanya. Ia masih butuh waktu agar orang-orang di sekitar pasar ini mengenal siapa dirinya, mengenal rasa masakannya, dan mulai terbiasa datang ke lapak kecilnya. Setidaknya, ada hasil yang didapat hari ini, walau belum seberapa. Itu sudah cukup membuatnya bersyukur.
Saat suasana pasar mulai agak sepi dan banyak pedagang lain mulai membereskan barang, Rania pun ikut mengemasi sisa dagangannya. Sisa makanan yang masih layak, akan ia bawa pulang untuk dimakan bersama anak-anak atau dibagikan pada tetangga. Yang penting, ia sudah berusaha. Langkah ini baru permulaan, dan Rania berjanji dalam hati, ia akan terus berusaha lebih giat lagi esok hari dan hari-hari berikutnya.
Sementara itu, di tempat yang jauh, di sebuah perkampungan di pinggiran kota yang suasananya sangat berbeda, Bara berdiri di beranda rumah sederhana berdinding papan. Angin sore meniup rambutnya yang mulai agak memanjang di pelipis. Pandangannya menerawang jauh ke arah jalan setapak yang berkelok menjauh, seolah ada sesuatu yang sedang ia cari di kejauhan sana.
Di dalam rumah, terdengar suara langkah kaki mendekat. Seorang wanita muda, berwajah lembut namun terlihat agak berat berjalan, keluar mendekatinya. Perutnya yang sudah besar dan membulat jelas terlihat, tanda ia sedang mengandung buah hati mereka yang ketiga. Wanita itu tersenyum lembut sambil menyandarkan tubuhnya di sisi lengan Bara.
"Kenapa melamun terus, Mas? Ada yang kau pikirkan?" tanya wanita itu pelan, suaranya penuh perhatian.
Bara tersentak sedikit dari lamunannya, lalu segera menarik senyum tipis di bibirnya. Ia membalas gandengan tangan wanita itu, lalu mengelus perut besar istrinya dengan lembut dan penuh kasih sayang.
"Tidak apa-apa, Cuma sedang memikirkan pekerjaan besok saja," jawab Bara pelan, berusaha menyembunyikan gejolak di hatinya.
Ia menatap wajah istrinya itu lekat-lekat. Wanita ini adalah orang yang menolongnya saat ia sedang terpuruk, saat ia kehilangan arah, saat kabur dari kenyataan pahit di masa lalu. Wanita ini memberinya tempat berteduh, kasih sayang, dan kehidupan baru yang damai. Dan kini, wanita itu sedang mengandung anak mereka. Di sini, di tempat ini, Bara sudah memiliki tanggung jawab baru yang besar. Ia punya istri yang bergantung padanya, dan dua anak kecil yang sudah menyebutnya ayah, serta satu lagi yang akan segera lahir ke dunia.
Setiap kali bayangan wajah Rania atau wajah kedua anaknya yang dulu terlintas di benak, rasa bersalah itu selalu datang menghantui. Ia ingin sekali kembali. Ia ingin sekali meminta maaf, ingin sekali melihat keadaan mereka. Namun, ia sadar, pintu itu sudah tertutup rapat. Ia sudah tidak punya hak lagi untuk kembali ke sana. Kehadirannya di masa lalu mungkin hanya akan merusak apa yang sudah ia bangun di sini, dan mungkin juga akan mengganggu kehidupan Rania dan anak-anaknya yang mungkin sudah berjalan baik tanpanya.
Ia terikat di sini. Terikat oleh janji, terikat oleh tanggung jawab, dan terikat oleh rasa berterima kasih yang berubah menjadi kasih sayang. Ia tidak bisa pergi. Ia tidak boleh pergi.
"Sudah ayo masuk, angin sore makin dingin. Nanti kamu dan adik bayinya kedinginan," ucap Bara lembut, sambil menuntun istrinya masuk kembali ke dalam rumah.
Sebelum menutup pintu, Bara sempat melirik sekilas ke arah jalan itu sekali lagi. Di dalam hatinya, ada rindu yang terpendam rapat, ada doa yang ia bisikkan diam-diam agar Rania dan anak-anaknya baik-baik saja. Namun, ia tahu betul, sampai kapan pun, rindu itu hanya akan menjadi rindu yang tak akan pernah bisa ia penuhi. Ia harus tetap di sini, bersama wanita yang kini sedang berjuang mengandung anaknya, dan menjadi ayah bagi anak-anak yang ada di hadapannya sekarang. Itulah takdir yang ia pilih, dan itulah alasan mengapa ia tidak pernah, dan tidak akan pernah bisa pulang.