NovelToon NovelToon
Return Apocalypse Zombie

Return Apocalypse Zombie

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Time Travel / Hari Kiamat
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Alu feed

Rian seorang pemuda yang bertahan hidup di kiamat zombie di khianati oleh temannya yang selalu dia percayai , ketika tiba-tiba dia kembali ke masalalu.

dengan kekuatan dan pengetahuan dari masa depan ,aku ,akan membalas perlakuan semuanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alu feed, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PERTEMUAN DENGAN KELUARGA DAN SEBUAH PERPISAHAN DENGAN TEMAN SEKOLAH

Budi kembali ke wujud manusianya.

Api yang menyelimuti tubuhnya perlahan menghilang, sementara pakaian yang tersisa tampak semakin berantakan.

"Aku lebih nyaman seperti ini."

"Kalau tetap berubah, nanti malah menakuti orang lain."

Rian mengangguk setuju.

"Kalau begitu, sebelum berangkat kita perlu membuat rencana terlebih dahulu."

"Mari berunding."

Semua orang berkumpul dan mulai membahas tujuan masing-masing.

Setelah beberapa saat berdiskusi, keputusan akhirnya dibuat.

...

"Jadi kalian akan pergi ke arah barat untuk mencari keluarga kalian?"

Rian menatap beberapa murid yang telah menentukan pilihan.

Mereka menganggukkan kepala.

Tidak ada yang bisa ia larang.

Setiap orang memiliki keluarga yang ingin mereka lindungi.

Rian kemudian menoleh ke arah Budi.

"Kalau kamu bagaimana?"

"Setahuku rumahmu berada di utara."

Budi menggeleng pelan.

"Tidak."

"Aku akan pergi ke timur."

"Sebelum jaringan internet mati, aku sempat mengirim pesan kepada keluargaku."

"Aku ingin memastikan keadaan mereka."

Rian mengangguk.

Keputusan telah dibuat.

Kini saatnya berpisah.

Perlahan aura hitam kehijauan muncul dari tubuhnya.

Mata Rian berubah menjadi hitam pekat.

Bayangan gelap mengelilingi tubuhnya seperti kabut hidup.

Andreas menatapnya dengan penasaran.

"Perubahanmu belum sempurna juga?"

Rian tersenyum tipis.

"Justru ini bentuk sempurnanya."

"Roh Iblis Bayangan Langit tidak mengubah tubuh menjadi monster besar."

"Semakin sempurna wujudnya, semakin sulit keberadaannya disadari."

Sesaat kemudian tubuh Rian menghilang.

WHOOSH!

Angin kencang berembus melewati koridor.

Suara benturan dan pertempuran terdengar dari berbagai penjuru sekolah.

BRAK!

CRASH!

GRRR!

Suara-suara itu berlangsung selama beberapa menit.

Lalu semuanya kembali hening.

Tak lama kemudian, Rian muncul kembali di depan mereka tanpa suara sedikit pun.

Beberapa murid sampai terlonjak kaget.

"Huaa!"

Rian menggaruk kepalanya.

"Apa aku seseram itu?"

Beberapa murid langsung mengangguk.

Rian hanya bisa tersenyum masam.

"Aku sudah membersihkan sebagian besar zombie di area sekolah."

"Sekarang kita bisa menuju gerbang."

...

Perjalanan menuju gerbang sekolah berlangsung tanpa hambatan berarti.

Di sepanjang jalan terlihat banyak zombie yang telah tumbang.

Sebagian memiliki bekas cakaran tajam.

Sebagian lagi bahkan kehilangan anggota tubuhnya.

Ketika mereka akhirnya tiba di gerbang sekolah, langkah semua orang melambat.

Mereka tahu apa arti tempat ini.

Perpisahan.

Rian memandang teman-temannya satu per satu.

"Sejujurnya..."

"Aku ingin kita tetap bersama."

"Tapi aku juga tidak bisa melarang kalian mencari keluarga kalian sendiri."

Suasana mendadak sunyi.

Long Zheng tersenyum sambil mengacungkan jempol.

"Jangan membuat wajah seperti itu."

"Kita pasti bertemu lagi."

"Kalau takdir mengizinkan."

Rian tersenyum tipis.

Namun di dalam hatinya terasa berat.

Di kehidupan sebelumnya, setelah perpisahan ini...

Ia tidak pernah mendengar kabar Long Zheng, Xuan Long, maupun Andreas lagi.

Hingga akhir hidupnya.

Mereka menghilang begitu saja di dunia yang kacau.

Rian memejamkan mata sesaat.

Kali ini...

Ia berharap nasib mereka berubah.

Rian lalu berbalik menghadap Pak Kim.

Guru itu berdiri tegak meski wajahnya terlihat lelah.

Rian membungkukkan badannya.

"Pak Kim."

"Terima kasih atas semua yang telah Bapak ajarkan."

"Kalau bukan karena Bapak, mungkin aku tidak akan menjadi diriku yang sekarang."

Pak Kim tersenyum lalu menepuk pundaknya.

"Sudahlah."

"Aku tidak sehebat itu."

"Kamu memang anak yang pintar sejak awal."

"Meski terkadang membuat guru pusing."

Beberapa murid tertawa kecil.

Pak Kim menarik napas panjang.

Matanya mulai memerah.

Namun suaranya tetap tegas.

"Hari ini bukan hanya untuk Rian."

"Tapi untuk kalian semua."

Semua murid langsung berdiri lebih tegak.

Pak Kim menatap mereka satu per satu.

Lalu tersenyum bangga.

"Aku, Kim Rui..."

"Dengan ini menyatakan bahwa kalian semua lulus."

"Lulus dari mata pelajaranku."

"Dan lulus dari SMA Tamansiswa."

Air mata perlahan mengalir di pipinya.

Untuk pertama kalinya sejak kiamat dimulai, para murid melihat guru mereka menangis.

Sontak semua murid membungkuk bersamaan.

"Terima kasih atas tiga tahun pengajaran dan pengabdian Bapak."

Suara mereka bergema di halaman sekolah.

Beberapa orang mulai menangis.

Bahkan Andreas yang biasanya santai pun memalingkan wajahnya.

Hari itu.

2 Juni 2023.

Hari kelulusan mereka.

Sekaligus hari mereka memulai perjalanan masing-masing di dunia yang telah berubah.

...

Satu per satu kelompok mulai berpisah.

Xuan Long melambaikan tangannya.

"Sampai jumpa lagi!"

Long Zheng ikut tertawa.

"Jangan mati dulu sebelum kita bertemu lagi!"

Andreas mengangkat tangannya tanpa menoleh.

"Sampai nanti."

Mereka berjalan ke arah barat.

Perlahan menghilang di antara bangunan kota.

Rian menatap punggung mereka hingga tidak terlihat lagi.

Barulah ia berbalik.

"Kalau begitu, kita juga berangkat."

"Budi."

"Indah."

Mereka bertiga berjalan menuju timur.

Di sepanjang jalan terlihat gedung-gedung rusak dan kendaraan terbengkalai.

Dunia yang mereka kenal sudah tidak ada lagi.

Setelah beberapa waktu berjalan, Rian menoleh ke arah Budi.

"Ngomong-ngomong..."

"Bagaimana kalau kamu ikut ke rumahku dulu?"

Budi berkedip.

"Kenapa?"

Rian menunjuk penampilannya.

Pakaian sobek.

Kaki tanpa alas.

Tubuh penuh debu.

"Kamu terlihat seperti pengungsi yang baru keluar dari medan perang."

Indah tidak bisa menahan tawanya.

Budi menatap dirinya sendiri.

"...Kalau dipikir-pikir benar juga."

"Baiklah. Aku ikut."

Rian tersenyum.

Aura hitam kehijauan kembali muncul.

"Kalian berdua pegang pundakku."

"Kita akan mempercepat perjalanan."

Budi dan Indah langsung menurut.

Beberapa detik kemudian...

WHOOSH!

Mereka melesat melewati jalanan kota.

Bangunan-bangunan berubah menjadi bayangan samar.

Angin menerpa wajah mereka dengan keras.

"Woi, pelan sedikit!"

teriak Budi.

"Rian!"

"Aku bahkan tidak bisa membuka mata!"

teriak Indah.

Namun suara mereka langsung terbawa angin.

...

Beberapa saat kemudian.

Mereka tiba di sebuah kompleks perumahan.

Begitu kaki menyentuh tanah, Budi dan Indah langsung melepaskan pegangan.

"Uwek..."

"Ugh..."

Keduanya hampir bersamaan muntah di pinggir jalan.

Rian menggaruk pipinya.

"Maaf."

"Aku lupa kalian belum terbiasa."

Mereka menatap Rian dengan kesal.

Rian hanya tertawa canggung.

Tak lama kemudian mereka tiba di depan rumah bernomor 16124.

Untuk pertama kalinya sejak terlahir kembali...

Rian merasakan tangannya gemetar.

Ia berdiri lama di depan pintu.

Lalu mengetuk perlahan.

Tok... tok... tok...

"Kak..."

"Aku pulang."

Langkah kaki terdengar dari lantai atas.

Pintu perlahan terbuka.

Rahma dan Ridho berdiri di balik pintu.

Beberapa detik berlalu.

Tidak ada yang berbicara.

Air mata langsung memenuhi mata Rian.

Tanpa sadar ia memeluk kedua kakaknya.

"Kak..."

"Aku pulang."

Rahma langsung membalas pelukan itu.

Tangisnya pecah.

"Syukurlah..."

"Syukurlah kamu masih hidup."

Ridho juga memeluk adiknya erat.

"Kami terus mencoba menghubungimu."

"Tapi tidak pernah tersambung."

Rian memejamkan mata.

Sudah tiga puluh tahun...

Di kehidupan sebelumnya, ia tidak pernah memiliki kesempatan untuk melihat mereka lagi.

Namun kali ini berbeda.

Mereka masih hidup.

Mereka masih ada di hadapannya.

Saat suasana mulai tenang, Rahma melirik ke arah Indah.

Senyum jahil langsung muncul di wajahnya.

"Dan siapa gadis cantik ini?"

Indah langsung gugup.

"A-ah... saya teman sekolah Rian."

"Benarkah?"

Rahma mengangkat alisnya.

Lalu tanpa ragu memeluk Indah.

"Tenang saja."

"Kalau Rian macam-macam, laporkan padaku."

Wajah Indah langsung memerah.

Sementara Rian hanya bisa menghela napas pasrah.

Di sisi lain, Budi tiba-tiba membeku.

Matanya tertuju pada seseorang yang berdiri di belakang Ridho.

"Kak Nadia...?"

Seorang wanita muda langsung berlari ke arahnya.

"Budi!"

Nadia memeluk adiknya erat.

Air mata jatuh tanpa bisa ditahan.

"Kamu selamat..."

"Aku benar-benar khawatir."

Budi tersenyum sambil mengangguk.

"Aku baik-baik saja."

"Semua ini berkat bantuan Rian."

Nadia menoleh ke arah Rian.

Kemudian menundukkan kepalanya dengan tulus.

"Terima kasih."

"Karena kamu, aku masih bisa bertemu adikku lagi."

Rian tersenyum.

"Dia juga temanku."

"Itu sudah cukup menjadi alasan untuk membantunya."

Malam mulai turun perlahan.

Namun untuk pertama kalinya sejak kiamat dimulai...

Mereka dapat berkumpul kembali bersama keluarga.

Dan bagi Rian, itu adalah kebahagiaan yang tidak bisa ditukar dengan apa pun.

1
Yofu
pendek banget babnya
Alu feed: tapi bagusan di panjangin apa nggak kak , kasih aku saran 😁
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!