NovelToon NovelToon
Genius Modern Dinegeri Kuno

Genius Modern Dinegeri Kuno

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Ruang Ajaib / Fantasi Wanita
Popularitas:188.4k
Nilai: 5
Nama Author: Delia Ata

Qing Lizi, seorang yatim piatu berprofesi sebagai dokter militer genius yang menguasai banyak hal. Selain cantik, ia juga memiliki dedikasi tinggi pada tugasnya.

Gadis berusia 30 tahun yang gemar akan tantangan, memilih bergabung dengan pasukan militer negara setelah mendapat lisensi kedokterannya.

Saking geniusnya, Qing Lizi sudah meraih gelar dokter specialis diusia dua puluh empat tahun.

Kariernya berjalan mulus, bermacam misi telah ia jalani, hidup mapan, banyak teman, digandrungi puluhan pria.

Sayangnya Qing Lizi tak berumur panjang. Ia harus kehilangan nyawa saat bertugas dinegara berkonflik bersama tentara perdamaian.

Namun bukannya pergi kesurga atau neraka, jiwa Qing Lizi malah pindah keabad kuno, menempati tubuh seorang gadis berusia sepuluh tahun.

Suatu hari, Qing Lizi mendapat anugerah sebuah cicin ajaib yang memberinya banyak keutungan.

Bagaimanakah kisah perjalanan Qing Lizi dikehidupan keduanya ini..?

Apa fungsi cincin ajaib yang melingkar dijari manis Qing Lizi

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Delia Ata, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Gang Shoheng

Sesampainya diIbukota, Qing Lizi terlebih dulu mengajak Huang Feng dan Jang Jiayi kekawasan kumuh padat penduduk digang Shoheng.

Selain membagikan sumbangan makanan serta uang, Qing Lizi juga berniat mencari rumah kosong untuk tempatnya berpindah jika ingin melakukan penyamaran.

Qing Lizi sudah memikirkan resiko kalau ia selalu memisahkan diri dengan Huang Feng dan Jiayi jika akan kepaviliun Nuwa dengan menyamar.

Kedua sahabatnya pasti akan curiga.

Qing Lizi juga yakin jika pihak paviliun Nuwa pasti sedang menyelidikinya.

Oleh sebab itu Qing Lizi memilih mencari rumah untuk berpindah tempat menggunakan jimat teleportasi.

Gang Shoheng berada dipinggiran bagian selatan Ibukota Nanmu, dihuni lebih dari seratus kepala keluarga yang kesehariannya berprofesi sebagai pengemis, pekerja serabutan dan pemburu amatiran.

Hanya segelitir muda-mudi yang bekerja direstoran, penginapan atau kedai makanan sebagai pelayan.

Lokasinya dekat dengan pintu gerbang selatan, berjarak sekitar tiga kilo meter dari pusat Ibukota.

Untuk lokasi sebenarnya cukup bersih dan rapi. Terlihat kumuh karena rumah-rumah yang ada disana semuanya reot, berdinding ranting, bambu atau kain kasa yang dilapisi tanah merah.

Atapnya ada yang dari jerami, daun palem yang dilapisi kain lusuh robek tambalan.

Tiga sekawan meringis pedih melihat keadaan miris itu. Batin mereka nelangsa, menjerit pilu sesak.

Mereka dulu miskin, menderita tapi tidak separah yang sekarang ada dihadapan ketiganya.

Anak-anak berbadan kurus tanpa alas kaki, bajunya compang-camping, rambut kusut, wajah tirus cemong, bermain dengan riang seperti tanpa beban.

Ada yang perutnya buncit karena gizi buruk. Badan tinggal kulit tulang dengan mata cekung bulat nyaris menggelinding dari cangkangnya.

Para ibu dan lansia duduk diberanda rumah sembari menopang dagu, bersandar lemas didinding rapuh. Wajah kuyu muram, dengan nafas kembang-kempis menahan lapar.

Seorang pria berusia empat puluhan yang melihat kedatangan tiga sekawan, gegas menghampiri dengan langkah goyah bergetar.

"Salam tuan muda, nona...!" sapa pria itu.

"Salam paman...!"

Kita panggil saja pria lusuh itu paman Chun.

"Maaf sebelumnya, jika boleh tahu ada kepentingan apa tuan dan nona muda kemari..?"

Paman Chun adalah kepala wilayah, atau sebut saja dia itu RW gang Shoheng.

"Paman, kami ada sedikit membawa bantuan untuk penduduk disini. Bisakah paman mengumpulkan semua orang..?" kata ramah Huang Feng.

Mata paman Chun berbinar, bibirnya yang kering pecah-pecah tersenyum haru.

"Tentu tuan muda, tentu...!" balas paman Chun tergesa bersama mata memanas berkaca-kaca.

Tiga sekawan digiring kelapangan terbuka, disuruh duduk dibangku kayu dibawah pohon polar rindang.

Paman Chun gegas mengumpulkan semua warga yang kebetulan hari ini semuanya tinggal diam dirumah.

Sesampainya penduduk dilapangan, gunungan keranjang berisi gandum, beras, daging dan ikan kering, gula, teh tubruk, garam, bermacam umbi-umbian, buah-buahan, roti, susu bubuk, telur, sudah ada dihadapan tiga sekawan.

Semua bahan pangan itu Qing Lizi ambil dari alam dimensi jiwanya.

Tak lupa juga Qing Lizi menyertakan dua lusin mie istan yang plastik bungkusannya sudah diganti dengan karung kain linen, sedangkan untuk bumbunya dipindahkan ketoples bambu.

Ada pula minyak goreng yang dikemas dalam botol porselen ukuran satu liter.

"Paman, bibi, kakek dan nenek semua, silahkan ambil. Satu keluarga satu keranjang...!" ucap Huang Feng.

Semua tertib membentuk antrian, mengambil jatah mereka dan uang dari tangan Qing Lizi sebanyak satu tahil.

Kalau Jang Jiayi, ia jatah membagikan alas kaki sesuai dengan ukuran semua orang.

Qing Lizi juga menjelaskan bagaimana cara mengolah mie instan yang dikemas terpisah.

Semua orang pun paham.

"Tuan muda, nona, terimakasih banyak, terimakasih...!" ucap seorang kakek renta membungkuk rendah, menangis tergugu bahagia.

Warga yang lain ikut serta, bahkan ada yang bersimpuh dengan dahi menyentuh tanah.

Mereka tak akan kelaparan lagi, setidaknya dalam waktu dua minggu kedepan.

"Kakek, nenek, jangan seperti itu. Ayo, bangun semuanya...!" seru panik tak nyaman Qing Lizi.

"Paman dan bibi juga jangan begitu. Cepat bangun, kami tidak layak mendapatkan itu..!" ucap Huang Feng.

Qing Lizi mengeluarkan biskuit gandum, permen, cokelat, wafer, minuman sari buah khusus untuk anak-anak. Semuanya juga sudah dibungkus dengan toples kayu.

"Terimaksih nona muda...!" ucap serempak hampir empat puluh orang anak-anak berbagai usia sembari membungkuk rendah.

Setelah pembagian bantuan, tiga sekawan berbincang sesaat dengan semua warga.

Selain menanyakan rumah kosong, tiga sekawan juga membuat rencana akan datang lagi dilain waktu guna melakukan sesi pengobatan gratis.

Hal itu tentu disambut suka-cita oleh semua orang.

Paman Chun menunjukkan satu rumah kosong yang lokasinya paling belakang.

Qing Lizi puas, itu lokasi yang ia mau. Terpencil dan jauh dari gubuk warga lain.

Qing Lizi menyerahkan uang satu tahil untuk pembelian gubuk itu dan mengatakan jika yang akan menempatinya adalah seorang kakek tua pengembara.

Paman Chun percaya saja dan berjanji akan membersihkannya nanti bersama warga lain.

Qing Lizi menyimpan bentuk ruangan rumah itu dalam memorinya, sebelum akhirnya pamit ke semua orang guna menuju keJiao Tong.

"Lizi, kau tidak pernah mengatakan soal kakek pengembara itu..?" protes Jang Jiayi cemberut.

Qing Lizi terkekeh "kakek pengembara yang memberiku barang-barang aneh tempo lalu. Dia tidak mau tinggal ditempat mewah yang ramai, makanya aku carikan rumah digang Shoheng saja."

"Kenapa terkesan aneh ya kakek itu..?" balas Jiayi.

Qing Lizi mengangguk "aku juga merasa seperti itu. Tapi karena ini kemauannya, aku bisa apa..?"

Ketiganya terus berbincang, menggosipkan si kakek misterius yang padahal Qing Lizi sendiri.

1
Rhyzca Ayu
ikuuuut Ling --sekalian pengen beli bebek bakar nih😄😍☕☕semangaat thor☕☕
Sunarti
mantap
Sunarti
lanjut kak secangkir kopi untukmu
@Mita🥰
tabib illahi jangan cari gara" kamu
Yunita Widiastuti
lanjutkennnnn💪💪💪💪💪💪🌹
Datu Zahra
tambar thor, aku udah nyawer kopi sama vote mingguan loh 😝😍
Nana Maulana
lanjutkan
Ona Sukatendel
lanjut thor ceritanya bagus
Nana Maulana
mantap thor👍👍👍👍👍👍👍👍
Nana Maulana
saya suka
Fahreziy
nexk
Osie
coba di konoha ada sosok yg midelan lizi.
Erna Fkpg
wah mantap 💪💪💪
Lala Kusumah
kereeeeeennn strategi Lizi'er n the Genk, mantaaaaappp 👍👍😍😍
Lala Kusumah
kereeeeeennn Lizi'er n the Genk 👍👍👍
Datu Zahra
tambah dong thor😝
Wahyuningsih
💪💪💪💪 thor
Erna Fkpg
lanjut
Datu Zahra
lanjut thor ❤️
Datu Zahra
❤️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!