NovelToon NovelToon
SIAPA TAKUT Jadi BEDA?

SIAPA TAKUT Jadi BEDA?

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:548
Nilai: 5
Nama Author: Danisa Danish

Di saat fisiknya yang sawo matang selalu dihina oleh geng Ivanka, Alisha membuktikan bahwa kecerdasan dan rasa percaya diri jauh lebih memikat daripada standar kecantikan dunia. Namun, ketangguhannya diuji oleh Reyshaka, rival abadi berotak encer yang hobinya berdebat, tapi diam-diam selalu pasang badan paling depan saat Alisha direndahkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danisa Danish, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Curhatan si Bungsu dan Sudut Pandang yang Berbeda

Kriiiing!

Bel penanda istirahat pertama berbunyi nyaring, memecah ketegangan materi pelajaran sejarah yang membosankan di lantai dua. Begitu guru melangkah keluar, seisi kelas XII-A langsung mengembuskan napas lega berjamaah.

Amelia langsung berbalik badan, matanya berbinar-binar menatap Alisha. "Sha! Ayo buruan, daster gue... maksudnya jantung gue udah gak siap ditagih janji sama Raihan ke kantin! Tapi gue juga seneng banget, aduh gimana dong?!" cerocos Amelia heboh sendiri sambil merapikan rambutnya yang sebenarnya sudah rapi.

Alisha baru saja mau membalas ucapan sahabatnya itu ketika matanya menangkap siluet Shaka yang berdiri dari bangku belakang, berjalan santai melewatinya. Cowok jangkung itu menyempatkan diri melirik jepit beruang di rambut panjang Alisha, lalu mengetuk kepalanya sendiri dengan pulpen sambil berbisik pas lewat, "Inget, jepitnya jangan dilepas sampai sesi mentoring nanti siang."

Alisha mendengus kesal, bersiap mengepalkan tangannya. Namun, sebelum ia sempat membalas ataupun berdiri dari kursinya, sesosok gadis remaja berambut sebahu dengan napas terengah-engah sudah muncul di ambang pintu kelas XII-A.

Itu Aleta. Wajahnya ditekuk sedalam palung Mariana, bibirnya mengerucut sebal, dan langkah kakinya dihentak-hentak kasar ke lantai semen koridor. Tanpa memedulikan tatapan anak-anak kelas XII yang berlalu lalang, Aleta langsung menerobos masuk dan menarik pergelangan tangan Alisha.

"Kak Alisha! Ikut aku sekarang! Aku mau meledak, pokoknya kakak harus dengerin!" seru Aleta tanpa babibu, suaranya melengking frustrasi.

Alisha tersentak. Melihat adiknya yang sudah seperti bom waktu siap meletus, ia menoleh ke arah Amelia dengan tatapan meminta maaf. "Mel, lo ke kantin duluan aja sama Raihan ya. Gue musti ngurusin bocah ini dulu."

"Eh? Oh, iya-iya, santai aja, Sha!" jawab Amelia yang sebenarnya diam-diam bersyukur punya waktu untuk menata debar jantungnya sebelum benar-benar jalan berdua dengan Raihan.

Alisha membiarkan dirinya ditarik oleh Aleta menuruni tangga menuju ke area taman sekolah yang agak sepi di dekat laboratorium Biologi. Di sana terdapat beberapa bangku semen di bawah pohon rindang yang biasanya menjadi tempat tenang bagi murid-murid yang malas ke kantin yang bising.

Begitu pantat mereka menyentuh bangku semen, Aleta langsung meluapkan segalanya tanpa jeda napas.

"Kakak tahu gak?! Cowok-cowok zaman sekarang tuh otaknya dipasang di mana sih? Heran aku! Kemarin di komplek digodain bocil baju merah asbun yang dakian, eh sekarang di sekolah baru malah dihadang sama kakak kelas tingkat akhir yang kelakuannya gak jauh beda!" amuk Aleta sambil menggerakkan kedua tangannya dengan heboh di udara.

Alisha mengernyitkan dahi. "Dihadang kakak kelas? Kelas dua belas maksud lo? Siapa?"

"Gak tahu namanya! Pokoknya seragamnya dikeluarkan, rambutnya ikal sok keren, namanya Kevin kalau gak salah dengar dari temennya tadi!" Aleta menghentak-hentakkan kakinya ke rumput. "Masa dia hadang jalan aku pas mau ke ruang guru, terus manggil-manggil 'dedek gemes', minta nomor WhatsApp lah, sok-sokan mau nemenin lah. Ih! Geli banget aku mendengarnya, Kak! Pening kepalaku rasanya pengen aku piting lehernya sampe remuk Arghhhh!"

Aleta terus mengomeli senior-senior berambut ikal itu selama hampir lima menit penuh, menjabarkan betapa menyebalkannya digoda dengan kalimat-kalimat catcalling murahan di koridor sekolah.

Sementara Aleta sibuk mengabsen seluruh kekesalannya, Alisha justru terdiam. Ia menatap adiknya lekat-lekat, dari ujung kepala hingga ujung sepatu seragamnya.

Di dalam benak Alisha, sebuah pemikiran aneh mendadak muncul. Biasanya, berdasarkan apa yang sering ia lihat di media sosial atau cerita-cerita fiksi remaja, kalau ada anak baru kelas sepuluh yang digoda oleh kakak kelas dua belas yang populer atau ditakuti, anak baru itu akan mengalami gejala... apa ya namanya?

Salting. Salah tingkah.

Atau minimal merasa tersanjung, mendadak jadi centil, tersenyum malu-malu kucing, dan sengaja cari perhatian (caper) agar bisa masuk ke lingkaran pergaulan senior. Banyak siswi baru yang menganggap digoda kakak kelas adalah sebuah pencapaian sosial atau validasi kalau diri mereka itu menarik.

Tapi, Aleta?

Adiknya ini benar-benar terbuat dari bahan yang berbeda. Alisha menatap lekat-lekat wajah adiknya yang masih memerah padam karena murni menahan emosi, bukan karena malu-malu baper. Tidak ada satu persen pun gurat kesenangan atau rasa bangga di wajah Aleta karena ditaksir kakak kelas. Yang ada hanyalah rasa jijik, risih, dan kepeningan instan karena menganggap tindakan senior itu sebagai polusi suara yang mengganggu produktivitas belajarnya.

Alisha tersenyum tipis, rasa bangga diam-diam membuncah di dadanya. Pemikiran Aleta yang dewasa dan kokoh ini membuktikan kalau adiknya tidak gampang silau oleh pesona semu senioritas.

Alisha mengulurkan tangannya, menepuk-nepuk bahu Aleta yang masih naik-turun karena sisa emosi. "Udah? Udah puas ngomelnya?" tanya Alisha lembut.

Aleta menoleh, mendengus pelan. "Kak Alisha kok malah senyum-senyum sih? Aku lagi emosi tahu!"

"Gue senyum karena gue bangga sama lo, Teta," ucap Alisha jujur. Ia merapikan sedikit kerah rambut adiknya yang agak berantakan. "Lo hebat. Biasanya anak kelas sepuluh kalau digoda kelas dua belas itu bakal salting atau kegirangan. Tapi lo malah pening dan nganggep mereka pengganggu. Otak lo ternyata lurus juga, gak gampang kemakan gaya-gayaan.bagus bagus ini baru adik guee"

Aleta mencebikkan bibirnya, meski binar matanya perlahan melunak mendengar pujian kakaknya. "Ya lagian ngapain salting, Kak? Modusnya basi banget, mending aku hafalan sosiologi daripada ngelayanin senior kurang kerjaan begitu. Merusak mood plus Mengganggu pemandangan tau gak!."

Alisha terkekeh renyah, merangkul pundak adiknya dengan erat. "Ya udah, sekarang mending kita ke kantin. Gue beliin es jeruk biar kepala lo yang pening itu adem lagi. Gimana?"

"Mau! Sama bakso ya, Kak!Tapiiii harus Kak Alisha yang bayar!" tuntut Aleta, sifat manjanya langsung keluar dalam sekejap.

"Iya, iya, gue yang bayar," balas Alisha pasrah.

Saat mereka berdua berdiri dan berjalan beriringan menuju kantin, Alisha diam-diam menyadari sesuatu. Di dunia yang penuh dengan standar ganda dan kepalsuan ini, memiliki adik sekokoh Aleta dan dikelilingi orang-orang yang tulus—seperti Bapak, Ibu, Amelia, bahkan cowok menyebalkan seperti Shaka—adalah sebuah anugerah. Perlahan tapi pasti, Alisha merasa pandangannya terhadap diri sendiri kini jauh lebih bermakna daripada sekadar memikirkan omongan orang-orang yang tidak penting di luar sana.

1
S3C
semangat author 👍👍👍👍
Anisa Nurlatifah: siap,Makasihhhh😍😍😍😍👍💪
total 1 replies
Anisa Nurlatifah
😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!