NovelToon NovelToon
Roses For The Cold Boss (Mawar Untuk Bos Dingin)

Roses For The Cold Boss (Mawar Untuk Bos Dingin)

Status: sedang berlangsung
Genre:Roman-Angst Mafia / CEO
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: DearlyBoa

Di dunia bawah tanah yang kejam, seorang bos mafia yang tampan namun terkenal bengis tidak pernah ragu untuk melenyapkan siapa saja yang menghalangi jalannya. Ketika salah satu anak buah level bawahnya terjerat utang besar yang tak mampu dibayar, nyawa pria tua itu berada di ujung tanduk. Demi menyelamatkan diri dari eksekusi mati, sang bapak nekat menawarkan putri cantiknya sebagai penebus utang. Meski awalnya enggan, sang bos mafia akhirnya menerima kesepakatan tersebut dan menikahi si gadis. Dimulailah kehidupan pernikahan yang dingin, penuh tekanan, dan agak kasar di dalam rumah megah sang mafia. Namun, di balik dinding es yang dibangun sang bos, sebuah dinamika baru perlahan mulai menguji batasan kekejamannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DearlyBoa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tinta Hitam

​Malam telah larut, namun kegelapan di dalam ruang bawah tanah kompleks Sterling Group terasa jauh lebih pekat daripada malam di luar sana. Bau anyir darah yang menyengat bercampur dengan aroma mesiu dan besi berkarat memenuhi udara yang pengap. Di tengah ruangan, sebuah kursi besi tampak berlumuran cairan merah pekat yang masih segar, menjadi saksi bisu dari akhir tragis seorang mata-mata dari klan lawan yang mencoba mengusik wilayah kekuasaan Asher.

​Asher melangkah keluar dari ruangan jagal tersebut dengan santai, melewati lorong remang-remang berbalut dinding beton. Dia telah melepaskan jas hitamnya yang terkena beberapa percikan darah. Kini, dia hanya mengenakan kemeja putih mahal yang lengannya digulung hingga ke siku, memperlihatkan guratan otot dan urat-urat kokoh di lengan bawahnya. Di belakangnya, Kenzo berjalan tegap sembari memegang selembar sapu tangan basah untuk membersihkan noda darah yang tertinggal di sarung pisau taktisnya.

​Mereka naik menggunakan lift pribadi menuju ruang kerja utama Asher di lantai atas mansion. Begitu pintu lift terbuka, suasana berubah drastis menjadi kemewahan yang sunyi dan dingin.

​Asher berjalan menuju sofa kulit besar yang terletak di dekat jendela kaca raksasa yang menampilkan pemandangan kota malam hari. Tubuh tingginya diempaskan ke sofa dengan posisi rileks namun tetap memancarkan aura dominasi yang kuat.

​Kenzo dengan cekatan melangkah menuju lemari kristal di sudut ruangan. Dia mengambil sebotol wine merah berumur puluhan tahun, membuka sumbatnya, lalu menuangkan cairan berwarna merah marun pekat itu ke dalam dua buah gelas kristal berkaki tinggi. Dengan langkah teratur, Kenzo mendekati Asher dan meletakkan satu gelas di atas meja kaca di depan bosnya, sementara satu gelas lagi tetap dipegangnya sembari berdiri tegap di sisi sofa.

​Asher meraih gelas kristal tersebut, memutar-mutarnya perlahan hingga cairan di dalamnya bergolak menciptakan lapisan merah tipis di dinding gelas. Dia menyesap wine itu sedikit, menikmati sensasi rasa pahit dan hangat yang membakar tenggorokannya. Matanya yang berwarna kelabu sedingin es menatap kosong ke luar jendela, memikirkan ekspansi bisnis barunya di pelabuhan selatan yang baru saja bersih dari gangguan musuh.

​"Eksekusi malam ini berjalan bersih, Bos. Seluruh informasi tentang gudang senjata klan lawan sudah berhasil kita peras dari mulutnya sebelum dia mati," Kenzo membuka suara, memecah keheningan dengan nada baritonnya yang formal setelah menyesap wine miliknya sendiri.

​"Bagus," jawab Asher pendek, suaranya rendah dan berat. "Biarkan anak buah kita bergerak besok subuh. Ambil alih semua senjata mereka sebelum polisi mulai mengendus bau mayatnya."

​"Akan saya atur, Bos," balas Kenzo. Dia terdiam sejenak, menatap Asher yang tampak sedang menikmati ketenangannya. Ada satu urusan yang belum terselesaikan sejak beberapa hari lalu, dan sebagai tangan kanan yang perfeksionis, Kenzo merasa malam ini adalah waktu yang tepat untuk mengingatkan bosnya.

​Kenzo berdeham pelan. "Bos, ada satu hal lagi. Ini tentang Haris, bapak tua pengumpul setoran wilayah barat yang kita tahan di sel bawah tanah mansion."

​Mendengar nama itu disebut, gerakan tangan Asher yang sedang memutar gelas wine langsung terhenti. Matanya menyipit sedikit, seolah mencoba menggali kembali memori tentang pria tua menyedihkan yang bersujud di lantai marmernya beberapa hari lalu.

​"Ah, tikus tua itu," gumam Asher dengan nada suara yang penuh dengan penghinaan. "Kenapa dengannya? Apa dia sudah mati ketakutan di dalam sel?"

​"Belum, Bos. Dia masih hidup. Tapi setiap kali pengawal mengantarkan makanan, dia terus-menerus merengek menanyakan apakah Anda sudah menerima barang tebusan yang dijanjikannya. Dia menagih janji pembebasan dirinya," lapor Kenzo dengan rahang yang mengeras, masih menyisakan rasa muak yang mendalam terhadap sifat pengecut Haris. "Dan... ini sudah hari keempat sejak putrinya, Chloe, dibawa ke mansion ini. Selama itu pula Anda belum pernah mendatangi atau melihat gadis itu di kamar tamu."

​Asher bersandar pada sofa mewah itu, kepalanya mendongak menatap langit-langit ruangan sembari mengembuskan napas panjang. Bayangan tentang gadis murni berambut cokelat gelap dan bermata jernih seperti rusa yang diceritakan Haris kembali melintas di benaknya. Selama beberapa hari ini, Asher sengaja mengabaikan keberadaan Chloe. Dia terlalu sibuk menguliti musuh-musuhnya di lapangan, dan baginya, seorang gadis tawanan bukanlah prioritas yang harus segera diurus. Dia membiarkan gadis itu membusuk di dalam kamar bersama Bi Mirna untuk melihat sejauh mana mentalnya akan bertahan.

​"Haris sudah memberikan apa yang dia janjikan, meskipun barang tebusan itu sebenarnya tidak berguna untuk bisnisku," ucap Asher dingin. Dia kembali menyesap wine di tangannya sampai tandas, lalu meletakkan gelas kristal kosong itu ke atas meja dengan bunyi ketukan yang tegas.

​Asher berdiri dari sofanya, merapikan kemeja putihnya yang sedikit berantakan. "Keluarkan Haris dari sel bawah tanah malam ini juga, Kenzo."

​Kenzo sedikit terkejut, namun dia mendengarkan dengan saksama. "Anda membebaskannya begitu saja, Bos?"

​"Membebaskannya?" Sebuah seringai tipis dan kejam terukir di sudut bibir Asher. "Tidak ada kata bebas murni di dunia bawah tanah, Kenzo. Keluarkan dia dari kompleks mansion ini, lepaskan dia di jalanan terkotor di ujung kota. Katakan padanya bahwa utang judinya dianggap lunas sebagai bayaran atas putrinya. Tapi, jika dia berani menampakkan wajahnya lagi di wilayah kekuasaanku, atau mencoba mendekati mansion ini untuk mencari anaknya... potong kedua kakinya dan buang tubuhnya ke laut."

​Kenzo mengangguk paham, merasa puas dengan keputusan tegas bosnya. Pria pengecut yang menjual darah dagingnya sendiri memang tidak layak mendapatkan kehidupan yang tenang di bawah perlindungan organisasi. "Dimengerti, Bos. Saya sendiri yang akan memastikan pria tua itu diseret keluar malam ini juga dan menjauh dari sini."

​"Lalu, bagaimana dengan putrinya, Bos?" tanya Kenzo lagi sembari berjalan di belakang Asher yang mulai melangkah menuju pintu keluar ruangan.

​Asher menghentikan langkahnya tepat di ambang pintu ganda. Dia melirik arloji mewah di pergelangan tangan kirinya. Waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam lewat tiga puluh menit. Suasana mansion sudah sangat sunyi, hanya menyisakan beberapa pelayan senior yang masih terjaga dan para pengawal yang berjaga di luar dinding luar.

​"Aku akan mendatangi kamarnya sekarang," jawab Asher, nada suaranya berubah menjadi sangat datar namun sarat akan maksud yang misterius. "Aku ingin tahu, sudah menjadi seperti apa gadis suci itu setelah berhari-hari aku tinggalkan bersama Bi Mirna di dalam kamar. Apakah dia menangis sampai matanya bengkak, atau dia sedang merencanakan cara bodoh untuk kabur dari rumah ini."

​Bagi Asher, manusia adalah makhluk yang rapuh. Terlebih lagi seorang gadis rumahan yang manja seperti Chloe yang tiba-tiba dicabut dari kehidupan normalnya dan dilemparkan ke dalam sarang serigala mafia. Asher ingin melihat dengan mata kepalanya sendiri, seberapa banyak coretan tinta hitam yang telah mengotori lembaran kertas putih bersih bernama Chloe setelah melewatkan beberapa hari dalam kurungan dan ketidakpastian.

​"Baik, Bos. Saya akan menyelesaikan urusan Haris dan membiarkan Anda memiliki waktu pribadi di lantai dua," ucap Kenzo sembari membungkuk hormat memberi jalan bagi sang bos besar.

​Asher melangkah keluar dari ruang kerjanya, menyusuri koridor panjang berlantai marmer hitam yang diterangi oleh lampu dinding temaram bercahaya kekuningan. Suara ketukan sepatu kulit mewahnya bergema di sepanjang lorong yang sepi, menciptakan irama konstan yang menakutkan—seperti suara detak jam kematian yang sedang bergerak mendekati mangsanya.

​Dia menaiki tangga melingkar menuju sayap kanan lantai dua mansion, tempat di mana kamar tamu eksklusif berada. Selama beberapa hari ini, laporan yang diterimanya dari Bi Mirna hanyalah laporan formal bahwa gadis itu makan dengan teratur dan sempat mengeluh bosan hingga harus didatangkan layanan perawatan tubuh. Asher ingin membuktikan sendiri, apakah kemewahan dan fasilitas bak ratu yang diberikannya telah berhasil menjinakkan ketakutan si gadis, ataukah semua itu justru membuat si gadis menjadi semakin tinggi hati.

​Begitu sampai di depan pintu ganda kayu ek kamar tamu Chloe, Asher berdiri tegak selama beberapa detik. Dia mengatur napasnya, membiarkan aura sedingin es dan kejamnya kembali menyelimuti tubuhnya secara utuh. Dia tidak datang sebagai seorang penyelamat, dia datang sebagai pemilik sah atas hidup dan mati gadis di dalam ruangan ini.

​Asher mengulurkan tangan kanannya, memutar gagang pintu yang mengunci otomatis dari luar setelah memasukkan kode akses pribadinya.

​Klik.

​Suara mekanisme kunci besi yang terbuka terdengar sangat nyaring di tengah keheningan malam. Asher mendorong pintu kayu tebal itu perlahan, membiarkan tubuh tingginya melangkah masuk ke dalam ruangan luas yang dipenuhi oleh aroma harum esensial mawar dan lavender yang menenangkan—sebuah aroma murni yang sangat kontras dengan bau anyir darah musuh yang baru saja dibantainya di ruang bawah tanah beberapa menit yang lalu.

1
Idah Faridah
dtunggu thor lanjutanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!