NovelToon NovelToon
Sumpah Pengawal Kuno

Sumpah Pengawal Kuno

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Romansa Fantasi / Mengubah Takdir
Popularitas:6.3k
Nilai: 5
Nama Author: Mamah Nissa

Gugur dalam tragedi berdarah di abad ke-14, jiwa Nyai Kencana—kesatria wanita Kerajaan Sunda—terlempar ke masa modern. Ia merasuki raga Citra, mahasiswi beasiswa yang nekat melompat dari jembatan demi menjaga kehormatannya dari jebakan pemerkosaan.
​Kini, Citra bangkit dengan kepribadian baru: dingin, tegap, dan menguasai ilmu kanuragan kuno. Tidak ada lagi Citra lemah yang bisa ditindas!
​Perubahan drastis Citra membuat Elang Dirgantara, pewaris tunggal konglomerat yang angkuh dan sombong, penasaran sekaligus jengkel. Hubungan mereka layaknya anjing dan kucing yang selalu bergesek konflik.
​Namun, roda takdir berputar. Keluarga Elang bangkrut total dalam semalam. Diusir, dikhianati teman-temannya, dan nyaris bunuh diri.
Bagaimana kisahnya baca terus novelnya ya...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mamah Nissa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 33: Benang Merah di Balik Badai

Suara deburan ombak yang menghantam tebing karang terdengar konstan, menjadi satu-satunya melodi yang menemani hari-hari di pulau tak bernama itu. Pulau kecil yang terletak di gugusan Kepulauan Seribu, jauh di sebelah utara Jakarta, seolah menjadi titik terluar dari peradaban yang bising.

Di tempat inilah, Wirawan Dirgantara menghabiskan hari-harinya dalam sunyi yang mencekam. Seorang pria tua yang dahulu sekali batuknya saja mampu membuat bursa saham bergetar, kini duduk termangu di sebuah kursi rotan tua yang diletakkan di beranda sebuah vila bergaya kolonial yang ringkih.

Wirawan menatap hamparan laut lepas dengan pandangan kosong.

Rambutnya yang memutih tampak agak acak-acakan ditiup angin laut yang membawa uap garam. Di usianya yang sudah senja, ia harus menerima kenyataan pahit bahwa dirinya telah diculik dan diasingkan. di sebuah vila tua dengan bangunan mirip Eropa yang entah dimana.

Kesalahan terbesarnya adalah rutinitas yang mudah ditebak.

Pagi itu, seperti biasa, ia keluar dari gerbang rumahnya hanya dengan mengenakan pakaian olahraga ringan untuk lari pagi di sekitar kawasan perumahan elitnya. Ia tidak membawa pengawalan ketat karena merasa lingkungan tersebut sangat aman.

Namun, segalanya terjadi begitu cepat dan rapi saat dia mendengar teriakan suara perempuan yang minta tolong dari sebuah rumah. Tanpa pikir panjang dia meloncat pagar dan masuk ke dalam rumah tersebut. Setelah itu dia merasakan tengkuknya seperti dihantam benda tumpul, dan tak ingat apa pun setelahnya.

Ketika terbangun, ia sudah berada di pulau terpencil ini. Tanpa daya. Tanpa koneksi.

Lebih sialnya lagi, karena diculik saat sedang lari pagi, ponsel yang biasa ia bawa malah tertinggal di kamarnya. Tapi walaupun dibawa, ponsel tersebut tidak akan berguna, alat komunikasi benar-benar telah dilumpuhkan. Tidak ada jaringan internet, tidak ada televisi, bahkan tidak ada telepon satelit. Ia benar-benar terputus dari dunia luar, dibiarkan hidup dalam ketidaktahuan yang menyiksa batin.

"Tuan Besar, ini teh hangat dan singkong rebusnya. Angin laut sedang tidak bagus untuk kesehatan Anda."

Sebuah suara lembut namun serak memecah keheningan.

Seorang wanita paruh baya dengan kebaya lusuh dan kain jarik berjalan pelan mendekati Wirawan.

Namanya Mbok Sumi.

Ia adalah salah satu dari dua pelayan yang ditugaskan untuk mengurus keperluan hidup Wirawan di pulau itu. Di belakang Mbok Sumi, berdiri suaminya, Pak Jono, seorang pria berbadan tegap dengan kulit legam terbakar matahari, khas seorang nelayan yang menghabiskan hidupnya di laut.

Pak Jono dan Mbok Sumi adalah wajah baru dalam hidup Wirawan. Wirawan pun belum mengetahui apakah suami-istri itu bagian dari komplotan penculik atau hanya warga biasa yang dipekerjakan.

Wirawan menghela napas berat, menerima cangkir teh yang disodorkan Mbok Sumi. "Terima kasih, Sumi. Jono, apakah hari ini tidak ada kapal nelayan yang lewat agak dekat dengan dermaga?"

Pak Jono menggelengkan kepala dengan raut wajah penuh rasa bersalah. Ia sangat menghormati pria tua di hadapannya ini, yang meskipun menjadi tawanan, tetap menunjukkan wibawa seorang priayi besar.

"Tidak ada, Tuan. Pulau ini sudah lama dikosongkan sejak proyek resornya mangkrak. Kapal-kapal besar selalu mengambil jalur luar, jauh dari karang dangkal di sekitar sini. Dan... Anda tahu sendiri, perahu motor saya dirantai di dermaga timur oleh orang-orang itu. Kuncinya dibawa mereka."

"Begitu ya..." Wirawan tersenyum getir, menyeruput tehnya yang terasa sepat.

Kepasrahan mulai merayap di sela-sela hati Wirawan, namun otaknya yang telah terlatih puluhan tahun dalam dunia bisnis yang kejam menolak untuk benar-benar mati.

Dalam kesendiriannya, ia terus merajut potongan-potongan teka-teki. Siapa yang tega melakukan ini padanya? Siapa yang memiliki sumber daya sebesar ini untuk menyewa pulau, memantau rute lari paginya, dan mengisolasi dirinya tanpa jejak?

Jawabannya hanya satu: dalang di balik semua ini pasti memiliki keterkaitan erat dengan Dirgantara Perkasa, imperium bisnis yang ia bangun dari nol dengan cucuran keringat dan air mata.

Wirawan tahu betul, sebelum dirinya diculik, Dirgantara Perkasa, dikenal public sebagai perusahaan yang pailit. Tapi itu semua bohong belaka, hanya bagian dari skenario agar menempa jiwa Elang dan anaknya Bramantyo lebih peka.

Sayangnya mungkin ada orang-orang yang tahu, jika kebangkrutan Dirgantara Perkasa hanya akal-akalan belaka. Sebanya, dalam sebulan terakhir ini justru banyak proyek yang dikerjakan Dirgantara.

Mereka menyingkirkanku karena aku adalah batu sandungan terbesar mereka, batin Wirawan sembari meremas pegangan kursi rotannya. Selama aku masih berada di kursi dewan komisaris, mereka tidak akan pernah bisa mencaplok Dirgantara Perkasa sepenuhnya. Penculikan saat aku lengah di jalanan pagi itu bukan untuk tebusan uang. Ini adalah kudeta terencana.

Pikiran Wirawan mendadak beralih kepada Elang, cucu laki-laki satu-satunya yang menjadi tumpuan harapan terakhirnya. Elang masih terlalu muda, masih terlalu hijau untuk menghadapi serigala-serigala berbulu domba yang kini menguasai gedung pencakar langit Dirgantara Perkasa.

Tapi dia yakin dengan bimbingan dari Citra Kencana, Elang akan segera berubah. Dan perubahan terakhir yang dilaporkan assistennya Banyu Permana membuat dirinya lebih percaya diri. Namun, sebelum dia melihat langsung perkembangan cucunya itu, malah dia keburu diculik.

"Elang... kamu harus kuat, Nak. Jangan biarkan mereka merebut apa yang menjadi hak milik keluarga kita," bisik Wirawan lirih, suaranya tercekat oleh rasa haru dan amarah yang berbaur menjadi satu, lenyap disapu angin utara Jakarta yang kian kencang.

**

Pasca kabar kebangkurtan perusahaan, Menara Dirgantara Perkasa tetap berdiri angkuh di pusat megapolitan Jakarta.  Tidak ada riak kepanikan di dalam gedung pencakar langit itu.

Semua roda bisnis berjalan normal seolah-olah mereka tak mengetahui jika sang pemilik takhta tidak sedang ada di sana.

Di mata publik, jajaran direksi, hingga para pemegang saham, kendali penuh operasional perusahaan saat ini masih dipegang teguh oleh sang Presiden Direktur tepercaya, Banyu Permana.

Sore itu, gumpalan awan mendung mulai menggelayuti langit Jakarta, membawa hawa sejuk yang kontras dengan padatnya arus lalu lintas.

Elang berjalan beriringan dengan Citra menyusuri trotoar menuju lobi luar Dirgantara Perkasa.

Pemuda itu baru saja menyelesaikan kelasnya di kampus.

Penampilannya sangat sederhana, hanya mengenakan kemeja kasual tipis dengan tas ransel yang tersampir di satu bahu. Namun, tatapan matanya jauh lebih tajam dan dingin dibandingkan penampilannya.

Langkah kaki mereka terhenti tepat di depan pintu putar kaca lobi utama.

Belum sempat Elang melangkah lebih jauh, sesosok pria berbadan tegap dengan seragam safari biru tua melangkah maju. Dada sang satpam membusung, tangannya terangkat membentuk isyarat berhenti yang tegas.

“Maaf. Anda tidak boleh ke dalam!” bentak satpam itu dengan wajah sinis dan tatapan merendahkan.

Satpam tersebut bukan orang baru.

Dia adalah salah satu penjaga yang sudah bekerja cukup lama di sana dan tahu betul siapa Elang. Di matanya, pemuda di hadapannya ini hanyalah sisa-sisa dari kejayaan masa lalu yang sudah bangkrut. Seorang pewaris yang telah kehilangan taringnya sejak kepailitan Dirgantara Perkasa merebak luas ke permukaan.

Elang tidak mundur setapak pun. Ia menatap lurus ke dalam manik mata sang satpam dengan ekspresi yang tak terbaca. “Kenapa? Anda karyawan baru? Bukan kan saya tahu Anda karyawan lama di sini. Masa tidak tahu siapa saya. Saya pemilik perusahaan ini,” jawab Elang dengan nada suara yang begitu dingin, senyap namun berwibawa.

Mendengar ucapan itu, sang satpam justru terkekeh sumbang, guratan meremehkan tercetak jelas di sudut bibirnya.

“Ya! Itu dulu. Sebelum perusahaan ini diambil alih oleh Tuan Banyu. Jika tidak ada kepentingan, lebih baik Anda segera pergi dari sini sekarang juga,” tegasnya dengan volume suara yang sengaja ditinggikan, memancing perhatian beberapa karyawan yang kebetulan sedang berlalu-lalang di lobi.

Citra yang berdiri di samping Elang secara refleks menggeser tumpuan berat badannya. Matanya menyipit, jemarinya sedikit bergerak, sebuah tanda bahwa insting bertarungnya siap meledak jika satpam itu berani menyentuh fisik Elang. Namun, sebelum situasi memanas, Elang dengan cepat mengulas senyum tipis yang sarat akan ketenangan. Ia hanya mengangguk pelan kepada satpam tersebut, lalu dengan lembut memegang lengan Citra, menarik sahabat sekaligus pengawalnya itu mundur menjauh dari area depan lobi perusahaan.

Setelah benar-benar berada di luar gerbang utama korporasi, Elang merogoh saku celananya, mengambil ponselnya, dan langsung mendial sebuah nomor cepat. Panggilan itu hanya berdering sekali sebelum suara bariton di ujung sana menjawab dengan nada penuh hormat.

“Om, saya tidak diperbolehkan masuk oleh Satpam,” ucap Elang langsung pada inti masalah.

Di ujung telepon, terdengar desahan napas kaget yang tertahan. “Lah, kenapa Tuan Muda? Saya tadi sudah pesan secara khusus sama Kepala Satpam, agar jika Anda sudah sampai, Anda langsung diarahkan ke ruangan saya.”

“Oh. Tadi hanya anak buahnya yang mencegat saya di depan pintu lobi,” jawab Elang tenang, tidak ingin memperpanjang urusan dengan mempermasalahkan satpam kecil yang hanya menjadi pion ketidaktahuan.

“Sekarang posisi Tuan Muda ada di mana?” tanya Banyu Permana dengan nada khawatir yang terdengar jelas dari suaranya.

“Saya berada di luar. Di samping pintu gerbang sebelah kiri...”

“Baik, Tuan Muda. Tolong tunggu di sana, saya akan turun menemui Anda sekarang juga.”

Sambungan telepon terputus.

Elang memasukkan kembali ponselnya, lalu menoleh ke arah Citra yang masih melipat tangan di dada dengan sisa-sisa kesal. Di sudut trotoar tak jauh dari gerbang, seorang pedagang kaki lima sedang sibuk melayani pembeli. Aroma manis gula merah dan gurihnya santan menguar ke udara.

"Kita tunggu di sana aja, Cit," ajak Elang seraya menunjuk gerobak tersebut.

Beberapa menit kemudian, Elang dan Citra sudah duduk santai di atas bangku plastik panjang, masing-masing memegang segelas es cendol segar. Elang menyeruput minumannya dengan nikmat, sesekali mengunyah butiran cendol yang kenyal. Ada perubahan besar dalam diri pemuda ini. Jika beberapa bulan lalu dia adalah sosok pemuda borjuis yang hanya akrab dengan kafe-kafe mewah di kawasan SCBD, kini dia tampak sangat terbiasa dan menikmati jajanan pinggir jalan seperti ini. Pengaruh kesederhanaan Citra dan gemblengan keras dari Surya belakangan ini telah benar-benar meruntuhkan ego dinasti lamanya, mengubah wataknya menjadi jauh lebih membumi namun tetap waspada.

"Segar juga ya," gumam Elang seraya tersenyum tipis.

Saat itulah, dari arah gerbang, sosok Banyu Permana muncul dengan langkah tergesa-gesa. Setelan jas mahalnya tampak sedikit kontras dengan lingkungan sekitar, namun dia tidak memedulikan hal itu. Matanya langsung menyapu area trotoar hingga menemukan keberadaan Elang dan Citra yang sedang asyik dengan gelas plastik mereka.

“Om, mau es cendolnya? Ini enak loh,” tawar Elang dengan santai begitu melihat Banyu berjalan mendekat mendekatinya.

Banyu sempat tertegun sesaat melihat pemandangan di depannya. Ia menatap Elang dengan pandangan takjub sekaligus haru. Laporan dari asisten-asistennya mengenai perubahan karakter Tuan Mudanya ternyata bukan isapan jempol belaka. Elang yang ada di depannya hari ini bukan lagi bocah manja yang dulu. Banyu mengangguk dengan senyum tulus. “Terima kasih, Tuan Muda. Saya juga sangat suka dengan es cendol ini.”

Tanpa ragu, pria yang menjabat sebagai Presiden Direktur Dirgantara Perkasa itu ikut memesan segelas es cendol kepada sang pedagang. Di bawah pohon peneduh jalanan Jakarta, percakapan ringan pun mulai mengalir di antara mereka bertiga, memecah ketegangan yang sempat terjadi di lobi tadi.

Setelah gelas-gelas es cendol itu kosong, Banyu melirik jam tangan. "Tuan Muda, Nona Citra, mari kita cari tempat yang lebih privat untuk makan siang. Ada beberapa laporan penting perkembangan perusahaan yang harus saya sampaikan langsung kepada Anda."

Mereka kemudian berpindah ke sebuah restoran kecil yang terletak agak tersembunyi namun memiliki tingkat privasi yang tinggi di dekat kawasan tersebut. Di dalam ruangan VIP yang kedap suara, Banyu mulai menjabarkan kondisi keuangan terkini dan bagaimana dia berhasil meredam isu miring di bursa saham setelah hilangnya Wirawan. Elang mendengarkan dengan saksama, sesekali memberikan tanggapan yang taktis, membuat Banyu semakin kagum dengan ketajaman berpikir sang pewaris.

Setelah sesi pembahasan bisnis selesai dan hidangan makan siang mereka mulai tandas, atmosfer di dalam ruangan itu mendadak berubah menjadi lebih berat.

Elang meletakkan garpunya, memajukan tubuhnya ke arah meja.

“Jadi... Bagaimana perkembangan pencarian Kakek, Om?” tanya Elang dengan nada suara yang bergeser menjadi sangat serius.

Banyu menghela napas panjang, gurat kelelahan dan kecemasan yang mendalam kini terlihat jelas di wajahnya. “Justru itu yang akan saya lapor, Tuan Muda. Sangat sulit untuk melacak keberadaan Bos Besar. Seluruh anak buah terbaik yang saya miliki sudah saya kerahkan ke berbagai penjuru, dari melacak sinyal terakhir hingga memeriksa rekaman CCTV di sekitar rute lari pagi beliau. Tapi hasilnya nihil. Struktur operasinya terlalu rapi, seolah-olah semua jejak sengaja dihapus oleh kekuatan yang sangat besar. Sepertinya... ada keterlibatan atau konspirasi dari pengusaha besar di negeri ini,” prediksi Banyu dengan dahi berkerut.

Elang terdiam, menyandarkan punggungnya ke kursi. Otaknya berputar cepat, menyaring nama-nama konglomerat hitam yang memiliki kekuatan finansial dan jaringan bawah tanah sebesar itu.

“Hmmm, di Negeri ini perusahaan atau jaringan raksasa yang setara dengan kita hanya milik Kakek Baskoro, dan kedua adalah keluarga Dirgantara sendiri. Masa Kakek Baskoro yang menculik Kakek? Rasanya aneh dan tidak masuk akal. Hubungan mereka selama ini cukup baik,” gumam Elang dengan nada tidak percaya. Ia kemudian menoleh ke samping, menatap tajam rekan kuliah sekaligus pengawalnya itu. “Menurut lu gimana, Cit?”

Citra Kencana yang sejak tadi lebih banyak diam dan mengamati keadaan sekitar, kini menegakkan posisi duduknya. Matanya memancarkan kilat analisis yang dingin saat menatap balik Elang.

“Lang, tapi ada baiknya kita selidiki juga kakek lu itu,” pendapat Citra dengan suara tenang namun tegas. “Di dunia bisnis kayak gini, nggak menutup kemungkinan kan justru orang-orang terdekat atau rekan lama yang berkhianat terus menculik Kakek Wirawan? Walau saat ini kita belum tahu pasti apa motif asli mereka. Kadang, topeng persahabatan itu tempat sembunyi terbaik buat musuh.”

Mendengar urai pendapat Citra, Elang tertegun. Ruangan VIP itu seketika diselimuti keheningan yang mencekam. Sebuah arah penyelidikan baru kini mulai terbuka di depan mata mereka.

1
Darma
semangat
Alia Chans
Hadir thor, ceritanya keren
like+ bunga🌹🤭





kalo berkenan mampir ya thor😉
Mamah Nissa: siap kk
total 1 replies
Agus Hidayat
waoh filosofinya the best banget kak👍😍
Mamah Nissa: makasih kk. mohon bimbingannya ya masih tahap belajar
total 1 replies
Darma
hik kasihan citra
Apis
thor sebenernya ceritanya bagus tp gmn ya bnyk kata" yg g sat set ke inti jln ceritanya
Mamah Nissa: siap kk di bab awal lebih banyak bercerita, sedikit dialog ya. makasih sarannya kak, ini tanggung di draft udah sampe bab 32. bab 33 ke sana coba dibikin yang lebih simple.
total 1 replies
Sarah
Woahh, bab 1 yang keren. Meskipun kadang paragraf kerasa tetlalu panjang. Tapi masih enak diliat sih. 👍
Mamah Nissa: Makasih kakak sudah mampir mohon bimbingannya...
total 1 replies
Mamah Nissa
siap kk. makasih dah mampir mohon bimbingannya
putratunggal
mantaps ceritanya meski baru awal
Mamah Nissa: makasih kak mohon bimbinganya
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!