NovelToon NovelToon
Fate Of The Twins

Fate Of The Twins

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Balas Dendam / Mengubah Takdir
Popularitas:334
Nilai: 5
Nama Author: Putri Shalima

Dua putri kembar lahir, namun nasib memisahkan mereka.
Xiao Ning kecil diculik oleh beberapa orang Penjahat, berganti nama menjadi Luna, dan tumbuh keras di dunia kejahatan. Sementara kakaknya, Xiao Ling, dibesarkan dengan penuh cinta, sehingga menjadi gadis yang lembut, baik hati dan penyayang.
Wajah mereka sama, namun takdir diantara keduanya berbeda. Pada akhirnya takdir itu kembali mempertemukan si kembar, dan identitas pun mulai terungkap.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri Shalima, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB XXIII

  Di dalam kamar, Pangeran Haoran mendengar setiap kata yang diucapkan ayahnya dengan sangat jelas. Rasa marah, cemas, dan takut bercampur menjadi satu. Ia memukul, menendang, dan menggedor pintu itu sekuat tenaga hingga kulit tangannya lecet dan berdarah, namun pintu itu tak terbuka sedikit pun. Suaranya bergetar menahan amarah.

"Jika kalian berani menyakitinya sehelai rambut pun... aku bersumpah!! Aku akan menghancurkan seluruh istana ini! Kau dengar itu, Ayah?! Aku akan menghancurkan semuanya!"

Kaisar yang mendengar teriakan itu hanya tersenyum sinis, seolah-olah ancaman putranya itu tidak penting baginya. Ia membalikkan badan dan berjalan pergi meninggalkan Pangeran Haoran yang terus berusaha membuka pintu itu.

Di Kediaman Pangeran

Tiba-tiba, kediaman Pangeran dikepung oleh puluhan prajurit bersenjata lengkap. Suara langkah kaki dan denting besi terdengar memenuhi halaman.

"Di mana wanita bernama Luna itu?! Keluarlah!" teriak salah satu pemimpin pasukan dengan suara lantang yang menggema ke seluruh penjuru kediaman.

Mendengar panggilan kasar itu, Luna melangkah keluar dengan tenang, wajahnya sama sekali tidak menunjukkan rasa takut sedikit pun. Ia menatap tajam ke arah kerumunan prajurit itu.

"Siapa yang berani memanggilku dengan nada seperti itu?" tanya Luna dingin.

Tanpa basa-basi, salah satu pengawal langsung melangkah maju dan menodongkan ujung pisau tepat ke arah leher Luna. Luna sebenarnya baru saja melepaskan senjata yang biasa ia bawa, kini berdiri tanpa senjata apapun. Namun, ia tetap diam dan bersiap, menunggu momen yang tepat untuk melawan.

"Menyerahlah, Nona! Kami mendapat perintah langsung dari Kaisar untuk menghabisi mu. Bersiaplah untuk mati," ancam pengawal itu.

Saat pengawal itu hendak menusukkan senjatanya, Luna dengan sigap menangkis serangan itu menggunakan tangannya, lalu memukul lawan dengan keras hingga ia terhempas dan terjatuh ke tanah. Dengan cepat Luna mengambil pedang yang terlepas dari tangan prajurit itu.

"Jika kalian ingin membunuhku, maka kalian harus mati terlebih dahulu!" ucap Luna sambil mengayunkan pedangnya dengan gerakan tajam dan lincah.

Pertarungan pun terjadi. Luna bertarung sendirian melawan puluhan prajurit istana itu. Awalnya ia mampu mengalahkan mereka, keahlian bertarungnya membuat prajurit itu kewalahan. Namun, jumlah lawan terlalu banyak dan serangan datang dari segala arah. Secara tiba-tiba, salah satu prajurit berhasil memukul perut Luna dengan sangat keras.

Darah seketika membasahi pakaian Luna. Luka lama yang belum sembuh itu kembali terbuka dan mengalami pendarahan hebat. Meski merasakan rasa sakit yang luar biasa, Luna sama sekali tidak berhenti. Ia terus melawan, mengayunkan pedangnya dengan sisa tenaga yang ada, demi bertahan sampai titik darah penghabisan.

Akhirnya, karena kehilangan banyak darah dan tenaga yang sudah hampir habis, Luna terduduk lemas di tanah. Ia menancapkan ujung pedangnya ke tanah sebagai penopang tubuhnya yang mulai goyah. Salah satu prajurit melihat kesempatan itu kemudian mengangkat pedangnya bersiap membunuh Luna yang sudah tak berdaya.

Namun di detik yang sama...

  Sebuah anak panah melesat begitu cepat dan menancap tepat di punggung prajurit itu. Prajurit itu pun terjatuh dan tewas. Dari kejauhan, tampak Pangeran Haoran yang baru saja tiba, masih menunggangi kudanya.

Para prajurit serentak menoleh dan memberi jalan, tak ada satu pun yang berani menghalangi. Di tengah pandangan yang mulai kabur, Luna tersenyum tipis. Ia tahu, laki-laki itu datang untuk menyelamatkannya.

Pangeran Haoran melompat turun dari kuda dan berlari secepat mungkin menghampiri Luna. Hatinya seakan hancur melihat wanita yang dicintainya itu sudah terduduk lemah, berlumuran darah dengan wajah pucat. Ia segera menopang tubuh Luna agar tidak jatuh ke tanah.

"Maafkan aku... Maafkan aku... Aku terlambat," ucap Pangeran Haoran dengan suara bergetar, matanya berkaca-kaca sambil menggenggam tangan Luna erat-erat.

Luna membalas genggaman itu dengan senyum tipis, napasnya mulai berat. "Haoran... aku rasa... aku akan segera mati..." ucapnya pelan sambil menekan perutnya yang terus mengeluarkan darah.

"Tidak! Tidak! Kau tidak boleh mati! Kau orang yang sangat kuat, tidak akan terjadi apapun padamu! Tabib! Cepat panggilkan tabib sekarang juga!" teriak Pangeran Haoran histeris ke arah para pelayan yang berdiri terpaku.

"Haoran... dengarkan aku..." panggil Luna dengan suara lemah, berusaha menatap matanya "Sepanjang hidupku ini... aku hanya menyesal karena tidak pernah melakukan hal yang benar... Tangan ini hanya bisa membunuh dan menyakiti orang lain..."

Setelah mengucapkan kata-kata itu, mata Luna terpejam dan tubuhnya lemas tak berdaya. Tanpa membuang waktu, Pangeran Haoran segera menggendong tubuh Luna dan membawanya masuk ke dalam kamar. Ia membaringkan Luna di tempat tidur, tak lama kemudian tabib yang dipanggil pun datang bergegas untuk memeriksa dan mengobati luka-luka yang parah itu.

Flashback..

  Pangeran Haoran tidak berhenti memukul dan menggedor pintu itu. Amarah dan rasa cemas kini memenuhi hatinya, Dengan sekuat tenaga ia memukul pintu itu berulang kali ke satu titik hingga akhirnya... Pintu itu jebol dan terbuka.

Tanpa menoleh lagi, Pangeran Haoran berlari secepat mungkin menuju kudanya. Ia segera menunggangi kudanya dan bergegas pergi dari sana. Beberapa prajurit masih berusaha menghalangi jalan, masih memegang teguh perintah Kaisar itu.

"Pangeran, jangan pergi! Kembalilah!" ucap salah satu prajurit berusaha menahannya.

Pangeran Haoran menatap mereka dengan tatapan yang dingin, tajam dan mengerikan, seolah-olah siap membunuh siapa saja yang berani menghalangi jalannya. Suaranya terdengar dingin dan penuh ancaman.

"Menyingkirlah kalian semua! Jika ada yang berani menghalangi jalanku lagi, aku pastikan kalian semua akan mati di tanganku hari ini juga!"

Melihat aura dingin sang Pangeran, para prajurit itu pun mundur dan memberi jalan. Pangeran Haoran memacu kudanya secepat mungkin, menuju kediamannya. Sepanjang perjalanan, hatinya penuh dengan kegelisahan dan kecemasan tentang bagaimana nasib Luna saat ini.

Di dalam Kamar Luna

  Di dalam kamar itu, suasana terasa begitu menegangkan. Pangeran Haoran berdiri di samping tempat tidur, matanya tak sedetik pun beralih dari wajah Luna, sementara ia juga terus mendesak sang tabib untuk segera mengobati Luna.

"Obati dia! Cepat obati dia! Lakukan apa saja agar dia selamat!" ucap Pangeran Haoran berulang kali dengan suara gemetar.

Namun, seiring berjalannya waktu, gerakan tangan tabib semakin melambat dan akhirnya berhenti. Pria tua itu hanya diam mematung, wajahnya penuh dengan kesedihan dan kepasrahan.

"Kenapa?! Kenapa berhenti? Selamatkan dia!" bentak Pangeran Haoran tidak sabar.

Tabib itu menghela napas panjang, lalu menundukkan kepalanya. "Maafkan hamba, Pangeran... Hamba sudah berusaha sekuat tenaga untuk menahan pendarahannya, namun luka di tubuhnya terlalu parah dan darah yang keluar terlalu banyak... Nyawanya sudah tidak dapat hamba selamatkan lagi."

Mendengar kalimat itu, amarah dan keputusasaan nya pun meledak seketika. Ia segera mencengkram baju tabib itu dengan kuat, mengangkat tubuh tabib itu. Matanya memerah penuh ancaman.

"Apa maksudmu tidak bisa?! Aku ingin kau menyelamatkannya, apa pun caranya! Kau dengar?! Kalau sampai terjadi sesuatu padanya, aku akan membunuhmu saat ini juga!" ancam Pangeran Haoran dengan suara penuh kemarahan.

Namun, tabib itu hanya menatap Pangeran Haoran dengan pandangan sedih dan pasrah, tidak berusaha melawan sedikit pun. "Pangeran... Ia sudah tiada..."

Cengkraman tangan Haoran perlahan terlepas. Kata-kata itu seketika menghancurkan hatinya. Tubuh Haoran seketika kehilangan keseimbangan, ia melepaskan baju tabib itu dan perlahan jatuh terduduk di lantai, tepat di samping tempat tidur Luna.

"Keluarlah... semuanya keluarlah..." ucap Pangeran Haoran dengan suara serak.

Para pelayan dan pengawal yang ada di ruangan itu perlahan pergi dan memberi hormat, mereka semua mundur dan meninggalkan ruangan itu, menutup pintu dengan rapat hingga tak ada siapa pun lagi selain mereka berdua.

Keheningan pun menyelimuti ruangan itu. Pangeran Haoran menatap wajah Luna yang begitu pucat, kulitnya dingin dan masih ada sisa darah di sudut bibir dan wajahnya. Ia mengusap lembut pipi wanita itu dengan tangannya yang gemetar.

"Kau tidak boleh pergi... Kau tidak boleh meninggalkanku..." bisik Pangeran Haoran, matanya mulai berkaca-kaca dan air mata jatuh membasahi pipinya. "Aku tahu kau hanya lelah... Kau hanya sedang istirahat, kan? Buka matamu... Bangunlah... Kau tidak boleh meninggalkan ku... Tidak boleh..."

Pangeran Haoran terus menggoyangkan tubuh Luna, berharap ada reaksi, namun tubuh itu tetap diam kaku tanpa adanya gerakan sedikit pun. Laki-laki itu akhirnya tak mampu lagi menahan air mata nya, Ia menangis sejadi-jadinya. Ia memeluk tubuh Luna, mendekatkan wajahnya ke dekat wanita itu, dan mulai bercerita, seolah-olah Luna masih bisa mendengarkannya.

"Kau tahu... Sejak aku kecil, aku selalu merasa sendiri. Aku sering diganggu oleh anak-anak lain di istana itu... Aku benci istana itu, sampai pada akhirnya aku memutuskan untuk tinggal di kediaman lain, yang jauh dari istana..."

Pangeran Haoran tersenyum tipis di sela tangisnya, mengenang kembali pertemuan mereka berdua.

"Sampai akhirnya aku bertemu denganmu... Kehadiranmu mengubah segalanya untuk ku. Luna, Aku sangat mencintaimu. Aku tidak akan sanggup hidup sedetik pun di dunia ini tanpamu... Aku tidak sanggup..."

Setelah lama berbicara sendiri dan meluapkan segala isi hatinya, Pangeran Haoran perlahan bangkit berdiri. Ia menghela napas panjang, menghapus air matanya, dan tatapannya berubah menjadi tatapan yang telah bulat. Ia mengeluarkan sebuah belati yang selalu ia bawa di pinggangnya. Ia menatap tajam belati itu, lalu kembali menatap wajah Luna untuk terakhir kalinya.

"Baiklah,... Jika kau pergi meninggalkanku, maka aku pun tidak ingin hidup lebih lama lagi di dunia ini. Di mana pun kau berada, di situlah tempatku juga."

Pangeran Haoran mengangkat belati itu, mengarahkannya tepat ke lehernya. Kemudian bersiap untuk menusukkannya, menyusul wanita yang dicintainya itu.

Namun, tepat saat tangannya bergerak, suara lirih memanggil namanya terdengar samar namun jelas di telinganya.

"Haoran..."

Gerakan tangan Haoran seketika berhenti. Ia tertegun, mengira ia sedang berkhayal, namun ia yakin bahwa ia tidak mungkin salah dengar. Ia segera menjatuhkan belati itu dan kembali berlutut mendekat ke arah wajah Luna.

"Luna?!" ucapnya dengan napas tertahan.

Perlahan, kelopak mata Luna bergerak dan terbuka sedikit. Tatapannya masih sangat kabur dan lemah, namun ia masih bernyawa.

"Kau masih hidup... Luna! Kau masih hidup!" ucap Pangeran Haoran dengan rasa kaget dan bahagia. Ia langsung berteriak sekuat tenaga ke arah pintu, memanggil semua orang yang tadinya ia usir. "Tabib..! Ke sini sekarang juga! Cepat..! Dia masih hidup!"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!