Di dunia kultivasi yang kejam dan tak berbelas kasih, takdir mengikat dua jiwa dari dunia yang sepenuhnya berbeda: Zeng Niu, seorang pemuda berdarah dingin dari kelas bawah yang mewarisi Dao Bencana dan Petir Hukuman Langit, serta Zhao Ying, putri dari Tiran Ketiadaan Surga Atas yang jatuh ke dunia fana dengan kultivasi yang tersegel.
Terdampar di Benua Selatan yang dipenuhi kabut dan kutukan, keduanya harus bertahan hidup dari buruan ahli Nascent Soul dari Suku Li Kuno. Perjalanan berdarah melintasi Hutan Seratus Ribu Gunung Siluman hingga ke gelapnya Kota Reruntuhan Tanpa Tuan memaksa Zeng Niu untuk terus mendobrak batas fisiknya demi menjadi perisai bagi sang dewi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 11: Jubah Baru
Sinar mentari pagi menyusup melalui celah jendela penginapan, menerangi tumpukan Batu Spiritual yang berkilauan di atas meja kayu.
"Tiga ratus dua puluh Batu Spiritual Tingkat Rendah!" Qian Fugui tertawa kegirangan, menumpuk batu-batu biru itu layaknya anak kecil yang bermain balok kayu. Ia lalu mengelus botol-botol pil dengan pipinya yang gembul. "Ah, Pendeta Mayat itu benar-benar menabung dengan rajin. Semoga dia tenang di alam baka."
Zeng Niu duduk di tepi ranjang, sedang bermeditasi ringan untuk menstabilkan Dantian jahitannya. Mendengar celotehan Fugui, ia perlahan membuka mata. Tubuhnya terasa jauh lebih ringan. Meskipun ia harus memulai dari Pengumpulan Qi Tahap 4, meridiannya yang telah diperlebar di masa lalu membuatnya menyerap Qi alam semudah bernapas.
"Tiga ratus Batu Spiritual sudah cukup untuk masuk ke pelelangan Paviliun Seratus Pusaka?" tanya Zeng Niu, turun dari ranjang.
"Tentu saja! Syarat masuknya hanya lima puluh batu," jawab Fugui bangga, menepuk perutnya. Namun, senyum pria gemuk itu perlahan memudar saat matanya memindai penampilan Zeng Niu dan Zhao Ying dari atas ke bawah. Fugui mendecakkan lidahnya berkali-kali. "Tsk, tsk, tsk. Tapi ada satu masalah besar, Niu-bro."
"Apa?" Zeng Niu mengerutkan kening.
"Jika kita datang ke pelelangan bergengsi dengan penampilan seperti ini, penjaga pintu akan mengira kita adalah pengemis yang mau merampok," Fugui menunjuk jubah hitam Zeng Niu. Jubah itu robek di sana-sini akibat cakar siluman, hangus oleh ledakan belerang, dan berbau seperti campuran darah kering serta obat Tabib Gu.
Fugui lalu menunjuk Zhao Ying yang sedang merapikan rambut peraknya di sudut ruangan. "Dan Nona Bintang Putih ini, gaun raminya sudah tidak berbentuk. Di dunia kultivasi ortodoks, penampilan adalah lapisan pertama dari auramu. Kita harus berbelanja!"
Zeng Niu terdiam. Ia menatap lengan bajunya sendiri yang robek. Sepanjang hidupnya, ia hanya mengenal latihan keras, bertahan hidup, dan membunuh. Urusan penampilan tak pernah melintasi pikirannya. Baginya, jubah hanyalah kain agar ia tidak kedinginan.
Namun, saat matanya beralih ke arah Zhao Ying, sesuatu bergetar pelan di sudut hatinya. Gadis itu adalah putri dari sosok tertinggi. Ia dulunya mengenakan sutra surgawi yang ditenun dari cahaya bintang. Melihatnya memakai kain rami kasar yang kotor karena melindunginya... Zeng Niu mendadak merasa sedikit kesal pada dirinya sendiri.
"Baik," ucap Zeng Niu singkat, mengambil sekantong kecil Batu Spiritual dari meja. "Kita ke pusat kota."
Kota Daun Gugur sangat berbeda dengan Kota Reruntuhan Tanpa Tuan. Jalanannya terbuat dari batu bata abu-abu yang tersusun rapi. Pohon-pohon maple berwarna kuning keemasan menghiasi sepanjang pinggir jalan, daun-daunnya yang gugur tersapu angin musim gugur, memberikan nuansa damai.
Di sepanjang jalan, para pedagang fana dan kultivator tingkat rendah berjualan berdampingan. Ada kios yang menjual bakpao panas, ada pula yang menggelar lapak senjata bekas. Fugui berjalan paling depan, mulutnya sibuk mengunyah manisan tanghulu, sesekali memberikan informasi tentang kota ini.
"Paviliun Seratus Pusaka yang mengadakan lelang besok didukung oleh Sekte Pedang Musim Gugur, faksi terkuat di wilayah ini," jelas Fugui dengan mulut penuh.
Zeng Niu mendengarkan sambil terus waspada. Matanya yang tajam sesekali melirik setiap kultivator yang lewat. Kebiasaan nya sulit hilang.
Tak lama, Fugui membawa mereka ke depan sebuah bangunan dua lantai yang mewah: Toko Sutra Awan Emas.
Saat mereka melangkah masuk, seorang pelayan bermata sipit langsung menyambut mereka. Namun, melihat pakaian gembel ketiganya, senyum pelayan itu langsung meremehkan. "Maaf, Tuan-tuan, toko kami hanya menjual jubah spiritual yang ditenun dari ulat sutra roh. Harganya mulai dari—"
TAK.
Zeng Niu meletakkan lima Batu Spiritual Tingkat Rendah ke atas meja kasir kayu jati itu. Wajahnya sedingin es.
"Bawakan pakaian terbaik untuknya," ucap Zeng Niu datar, menunjuk ke arah Zhao Ying.
Mata pelayan itu langsung membelalak melihat kilau Batu Spiritual. Sikapnya berputar seratus delapan puluh derajat menjadi sangat menjilat. "B-Baik, Tuan Muda! Nona, silakan ikut saya ke lantai atas!"
Sambil menunggu, Fugui menyenggol lengan Zeng Niu dengan sikunya, tersenyum menggoda. "Hei, hei, gaya yang lumayan, Niu-bro. Melempar batu spiritual demi wanita. Kau ternyata punya sisi romantis juga."
Zeng Niu menatap Fugui dengan tajam. "Jika kau tidak mau lidahmu kupotong dan kujadikan umpan ikan, diamlah."
Fugui buru-buru menutup mulutnya dengan kedua tangan, tapi matanya masih memancarkan geli.
Beberapa saat kemudian, terdengar suara langkah kaki ringan menuruni tangga kayu.
Zeng Niu menoleh. Detik itu juga, napas Zeng Niu seolah terhenti di kerongkongannya.
Zhao Ying melangkah turun. Ia kini mengenakan gaun sutra berwarna biru es yang sangat pas di tubuh rampingnya. Kain itu memancarkan pendaran cahaya spiritual tipis yang membuat kulit pualamnya terlihat semakin bersinar. Rambut peraknya dibiarkan tergerai menutupi punggungnya, hanya dihiasi sebuah jepit giok sederhana bermotif teratai. Ia bukan lagi gadis desa yang kumuh; Sang Bintang Putih telah kembali pada keanggunannya.
Zhao Ying berhenti di depan Zeng Niu, sedikit canggung melihat pemuda itu menatapnya tanpa berkedip. Rona merah tipis yang sangat samar muncul di pipinya.
"Apakah... ini terlalu berlebihan?" tanya Zhao Ying pelan, membuang muka sedikit.
Zeng Niu seketika tersadar. Ia berdehem pelan, memalingkan wajahnya ke arah deretan gulungan kain di dinding, mencoba menyembunyikan telinganya yang entah kenapa terasa sedikit panas.
"T-Tidak. Itu... pantas untukmu," jawab Zeng Niu dengan nada yang dipaksa datar, meski sedikit terbata-bata—sebuah fenomena yang bahkan tidak pernah terjadi saat ia menghadapi ahli Nascent Soul sekalipun.
Fugui menahan tawanya hingga perutnya berguncang. "Aduh, aduh... Mataku sakit sekali! Nona Ying, Anda terlihat seperti bidadari turun dari khayangan! Nah, sekarang giliran Si Wajah Batu ini yang didandani!"
Pelayan toko dengan sigap membawa satu set jubah tempur berwarna hitam pekat dengan sulaman awan perak di bagian tepinya, lengkap dengan sabuk kulit hitam yang elegan.
Zeng Niu mengambilnya dan masuk ke ruang ganti. Namun, lima menit berlalu, dan ia belum juga keluar.
Di dalam ruang ganti, Zeng Niu sedang berjuang keras. Ia memegang ujung-ujung sabuk dan tali pengikat jubah dalam itu dengan wajah frustrasi. Ia biasanya, jubahnya hanya diikat asal-asalan dengan sabuk kain murah. Pakaian mewah ini memiliki tiga lapis tali yang rumit.
Zeng Niu yang bisa membelah gunung dengan satu tebasan, kini dikalahkan oleh seutas tali sutra.
Akhirnya, dengan perasaan kesal, ia melangkah keluar dengan jubah yang sedikit miring, kerahnya setengah terbuka menampakkan perban di dadanya, dan sabuknya hanya diikat menyerupai simpul mati yang berantakan.
Fugui langsung meledak dalam tawa. "BWAHAHAHA! Niu-bro! Kau mau pergi ke pelelangan atau mau mencangkul sawah?! Simpul apa itu?!"
Wajah perunggu Zeng Niu sedikit memerah karena malu. Ia mendengus kesal. "Pakaian ini terlalu merepotkan. Kain murah lebih efisien." Ia mencoba menarik simpul itu, tapi malah membuatnya semakin kencang. "Sialan..." umpatnya pelan.
"Biar kubantu," sebuah suara lembut terdengar dari dekatnya.
Zeng Niu membeku. Zhao Ying melangkah maju, jarak mereka kini hanya tersisa setengah jengkal. Aroma wangi alami yang menyerupai teratai es tercium samar dari rambut gadis itu, menyusup ke indra penciuman Zeng Niu.
Tangan putih Zhao Ying yang sangat lembut menyentuh sabuk kulit di pinggang Zeng Niu, dengan cekatan mengurai simpul mati yang dibuat pemuda itu. Mata gadis itu menunduk serius, bulu matanya yang panjang bergetar pelan.
Zeng Niu menunduk, menatap pucuk kepala Zhao Ying. Jantungnya tiba-tiba berdetak dua kali lebih cepat.
Deg... Deg... Deg...
Zeng Niu mengerutkan kening. Ia mencoba memutar Qi di dalam Dantian jahitannya. Ada yang salah. Apakah racun Tabib Gu masih tertinggal di jantungku? Kenapa detak jantungku kacau begini? batin sang pemuda yang luar biasa buta soal urusan romansa itu. Ia benar-benar mengira dirinya sedang terkena luka dalam.
"Selesai," Zhao Ying menarik pelan sabuk itu hingga rapi, lalu tangannya naik untuk merapikan kerah jubah Zeng Niu yang terbuka. Jari-jarinya tanpa sengaja menyentuh kulit dada Zeng Niu yang hangat di balik perban.
Keduanya mendadak terdiam. Mata gelap Zeng Niu bertemu dengan mata jernih Zhao Ying. Ada keheningan kecil yang memekakkan telinga di antara mereka, di tengah toko yang sibuk. Dunia terasa berhenti sejenak.
"Ehem!"
Dehaman keras dari Fugui menghancurkan momen itu seketika. Zhao Ying buru-buru menarik tangannya dan mundur selangkah, pipinya memerah sempurna. Zeng Niu langsung membuang muka, batuk-batuk kecil sambil berpura-pura memeriksa lengan bajunya yang sebenarnya sudah pas.
"Kau terlihat lebih baik, Tuan Muda Zeng," ucap Zhao Ying pelan.
Dengan jubah hitam bersulam perak dan rambut yang kini diikat rapi, Zeng Niu tidak lagi terlihat seperti algojo buangan. Ia memancarkan aura seorang kultivator muda yang dingin, misterius, dan sangat mematikan.
Tepat pada saat itu, tiga orang kultivator muda melangkah masuk ke dalam toko. Mereka mengenakan jubah putih dengan emblem pedang musim gugur di dada mereka murid dari sekte penguasa kota.
Pemimpin mereka, seorang pemuda berwajah arogan dengan kipas lipat di tangannya, seketika menghentikan langkahnya saat matanya menangkap sosok Zhao Ying. Mata pemuda itu langsung berbinar penuh nafsu. Ia sama sekali tidak mempedulikan Zeng Niu atau Fugui, dan langsung berjalan menghampiri Zhao Ying dengan senyum sok menawan.
"Oh, surga... Bunga indah dari mana ini?" sapa pemuda arogan itu, sengaja menutup kipasnya dengan suara keras untuk menarik perhatian. "Nona, aku adalah Tuan Muda Ketiga dari Keluarga Lin, murid inti Sekte Pedang Musim Gugur. Maukah Nona menemaniku minum teh di kedai depan? Pakaian yang Nona beli ini, biarkan aku yang membayarnya."
Zhao Ying mengerutkan alisnya, merasa jijik. Ia baru saja akan membalas dengan kata-kata tajam, namun sebuah sosok tegap berjubah hitam tiba-tiba bergeser, berdiri tepat di hadapannya, menghalangi pandangan Tuan Muda Lin sepenuhnya.
Zeng Niu menatap Tuan Muda Lin dengan mata yang luar biasa dingin.
Sebuah perasaan kesal yang sangat asing dan tidak logis meledak di dada Zeng Niu. Ia bisa menoleransi musuh yang ingin membunuhnya, ia bisa menahan rasa sakit dikuliti hidup-hidup, tapi melihat mata kotor pemuda ini menatap Zhao Ying... ia merasa ingin mencungkil mata itu detik ini juga.
Zeng Niu tidak menyadari bahwa perasaan asing itu bernama cemburu.
"Dia bersamaku," ucap Zeng Niu datar. Suaranya tidak keras, namun mengandung setetes Niat Membunuh yang telah membantai ratusan orang. Udara di dalam toko itu mendadak anjlok suhunya hingga membuat napas berkabut.
Tuan Muda Lin yang berada di tahap Pengumpulan Qi Tahap 6 tiba-tiba merasa seperti ada pedang es yang ditempelkan di urat nadinya. Kakinya bergetar. Wajahnya yang tadi tersenyum arogan kini pucat pasi.
"K-Kau... Jangan sombong di kotaku! K-Kita lihat saja nanti!" Tuan Muda Lin mundur teratur, memutar tubuhnya dengan panik dan kabur keluar toko diikuti kedua bawahannya.
Fugui bersiul pelan. "Wow. Tuan Muda Lin itu terkenal sebagai hidung belang lokal. Kau baru saja mencari masalah di hari pertama kita di sini, Niu-bro."
Zeng Niu menarik auranya kembali, wajahnya kembali datar. "Hanya lalat."
Di belakangnya, Zhao Ying tersenyum simpul. Ia melihat punggung tegap Zeng Niu, merasakan sebuah kehangatan manis yang mengalir di hatinya. Zeng Niu mungkin tidak pandai berkata-kata manis, dan bahkan mungkin tidak mengerti perasaannya sendiri, namun tindakannya tidak pernah berbohong.
"Ayo pergi," ucap Zeng Niu kaku, melangkah keluar toko lebih dulu untuk menyembunyikan wajahnya yang entah kenapa masih terasa sedikit panas. "Kita harus mencari penginapan yang lebih dekat dengan lokasi lelang."
Fugui menggelengkan kepalanya sambil tersenyum geli mengikuti dari belakang, sementara Zhao Ying melangkah dengan anggun, diam-diam menikmati momen kecil nan manusiawi yang baru saja menghiasi perjalanan keras mereka di dunia fana ini.