Cerita ini mengisahkan tentang Kaelen, Raja Es Kerajaan Celestial yang hidup terisolasi selama seratus tahun dalam kesendirian dan dingin yang abadi. Hidupnya berubah drastis saat kedatangan Lira, seorang wanita dari dunia luar yang datang meminta bantuannya untuk melawan kekuatan gelap yang mengancam nyawa banyak orang. Seiring berjalannya waktu, terungkap bahwa Lira memiliki kekuatan es yang sama dengan Kaelen, yang mengindikasikan adanya hubungan rahasia antara dirinya dan Kerajaan Celestial.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raja Ilusi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17:Dasar Kontrol Energi Dan Ketenangan Hati
Hari-hari pertama latihan Kaelen difokuskan pada penguasaan dasar yang paling fundamental: mengendalikan aliran energi di dalam tubuhnya. Eldric menjelaskan bahwa kekuatan es bukan sekadar menciptakan dingin atau membekukan benda, melainkan kemampuan memanipulasi molekul air dan energi di sekitarnya dengan presisi. Setiap gerakan, setiap perubahan suhu, dan setiap bentuk es yang tercipta haruslah hasil dari pemahaman yang mendalam tentang bagaimana energi berinteraksi dengan materi—bukan sekadar paksaan dari kehendak semata.
Setiap pagi, sebelum matahari terbit, Kaelen sudah berdiri di area terbuka dekat gua. Udara pagi itu masih sangat dingin, menusuk hingga ke tulang, namun Kaelen tidak memedulikannya. Dia berdiri tegak dengan mata terpejam, kedua tangannya tergantung santai di samping tubuhnya. Latihannya dimulai dengan meditasi mendalam. Eldric memintanya untuk merasakan setiap denyut energi yang mengalir di pembuluh darahnya, merasakan hubungan antara dirinya dengan alam sekitar—angin yang berhembus lembut, uap air di udara yang hampir tak terlihat, bahkan embun beku yang terbentuk di bebatuan saat pagi hari.
"Rasakanlah, Kaelen," suara Eldric terdengar lembut namun tegas di telinganya. "Jangan hanya melihat es sebagai sesuatu yang terpisah darimu. Lihatlah ia sebagai bagian dari dirimu sendiri, sama seperti darah yang mengalir di nadimu atau napas yang keluar dari paru-parumu. Ketika kau bisa merasakan koneksi itu, barulah kau bisa mulai mengendalikannya dengan benar."
Kaelen mengikuti nasihat itu. Dia menarik napas dalam-dalam, membiarkan udara dingin memenuhi paru-parunya, dan kemudian mengembuskannya perlahan. Dia mencoba untuk tidak memikirkan apa pun, membiarkan pikirannya menjadi kosong seperti lembaran kertas putih. Perlahan-lahan, dia mulai merasakan sesuatu yang berbeda. Dia bisa merasakan getaran halus di udara, getaran yang berasal dari molekul-molekul air yang melayang-layang di sekitarnya. Dia bisa merasakan bagaimana molekul-molekul itu bergerak, berinteraksi satu sama lain, dan berubah bentuk tergantung pada suhu dan kondisi lingkungan.
"Aku ingin kamu tidak hanya menggunakan kekuatanmu, tapi menjadi satu dengannya," kata Eldric suatu pagi, saat dia melihat Kaelen yang sudah berdiri di sana selama berjam-jam tanpa bergerak. "Jika kamu memaksakan kehendakmu pada alam, alam akan melawan. Tapi jika kamu berdamai dan bekerja sama, alam akan memberimu kekuatan yang tak terduga."
Kata-kata itu terpatri kuat di dalam hati Kaelen. Dia menyadarinya, selama ini dia selalu mencoba untuk memaksakan kekuatannya keluar, mencoba untuk mengendalikan es dengan paksa, dan itulah sebabnya mengapa dia sering gagal atau menyebabkan kerusakan yang tidak diinginkan. Sekarang, dia harus mengubah cara pikirnya. Dia harus belajar untuk berkomunikasi dengan alam, untuk memahami bahasa alam, dan untuk bekerja sama dengan alam demi mencapai tujuannya.
Latihan pertama yang diberikan oleh Eldric adalah mengangkat butiran pasir dan membekukannya menjadi bola kristal kecil tanpa merusak strukturnya. "Pasir ini terdiri dari butiran-butiran kecil yang masing-masing memiliki strukturnya sendiri," jelaskan Eldric sambil menunjuk ke tumpukan pasir di depan Kaelen. "Tugasmu adalah mengumpulkan butiran-butiran itu menjadi satu, dan kemudian membekukannya menjadi bola yang padat dan indah, namun tanpa merusak struktur asli dari setiap butiran pasir itu. Jika kau berhasil, itu akan menjadi bukti bahwa kau sudah mulai mengerti tentang kontrol dan ketenangan."
Awalnya, Kaelen sering gagal. Pasir itu要么 tidak bergerak sama sekali, seolah-olah menolak untuk diatur olehnya,要么 meledak menjadi debu saat terkena esnya. Kadang-kadang, bola yang terbentuk tidak rata dan kasar, dengan banyak retakan di permukaannya. Kadang-kadang, butiran-butiran pasir itu bahkan hancur menjadi bubuk saat dibekukan. Setiap kali dia gagal, Kaelen merasa frustrasi dan kecewa. Dia merasa seolah-olah dia tidak akan pernah bisa menguasai kekuatan ini dengan benar.
Namun, dia tidak menyerah. Berjam-jam dia habiskan untuk mencoba, mengingat setiap nasihat Eldric, dan memusatkan pikirannya pada ketenangan. Setiap kali dia merasa frustrasi, dia akan berhenti sejenak, menarik napas dalam-dalam, dan mencoba untuk menenangkan pikirannya kembali. Dia akan kembali merasakan koneksinya dengan alam, kembali merasakan getaran molekul-molekul di udara, dan kemudian mencoba lagi dengan lebih lembut dan lebih sabar.
Sementara itu, di dalam gua, Lira juga tidak berdiam diri. Meskipun lukanya masih memulihkan, dia menggunakan waktunya untuk mempelajari buku-buku kuno yang dibawa oleh Eldric—buku-buku yang menceritakan tentang sejarah Kerajaan Celestial, tentang kekuatan cahaya emas yang ada di dalam dirinya, dan tentang cara untuk mengendalikannya dengan lebih baik. Dia sering duduk di dekat jendela gua yang kecil, membiarkan cahaya matahari menyentuh tangannya, dan mencoba untuk memanggil cahaya emas itu dengan lembut, tanpa harus berada dalam bahaya terlebih dahulu.
Dia membaca tentang bagaimana kekuatan cahaya itu bukan hanya digunakan untuk menyerang atau menyembuhkan, tapi juga digunakan untuk menenangkan, untuk menerangi, dan untuk melindungi. Dia membaca tentang bagaimana para penyihir cahaya di masa lalu bisa mengendalikan cahaya mereka dengan begitu presisi sehingga mereka bisa membuat bentuk-bentuk yang indah, seperti bunga-bunga yang bersinar atau burung-burung yang terbang dengan cahaya. Lira terinspirasi oleh cerita-cerita itu, dan dia bertekad untuk bisa menguasai kekuatannya dengan sama baiknya seperti para penyihir di masa lalu.
Dia sering mencoba untuk memancarkan cahaya emas dari tangannya, mencoba untuk membentuknya menjadi berbagai bentuk yang sederhana, seperti bola cahaya atau lingkaran cahaya. Awalnya, cahaya itu sering kali tidak stabil, berkedip-kedip seperti lampu yang hampir padam, atau terlalu terang sehingga menyakitkan matanya sendiri. Namun, seperti Kaelen, dia tidak menyerah. Dia terus berlatih, terus mencoba, dan terus belajar dari kesalahannya.
Di luar gua, Kaelen terus berlatih dengan tekun. Hari demi hari, minggu demi minggu, dia terus mencoba untuk mengangkat dan membekukan butiran pasir itu. Setiap kali dia mencoba, dia merasa sedikit lebih baik daripada sebelumnya. Dia mulai bisa merasakan bagaimana cara mengendalikan energinya dengan lebih lembut, bagaimana cara berkomunikasi dengan molekul-molekul pasir itu, dan bagaimana cara membekukannya tanpa merusak strukturnya.
Setelah berminggu-minggu berlatih, Kaelen akhirnya berhasil. Suatu pagi yang cerah, saat dia sedang berdiri di area terbuka itu, dia memusatkan pikirannya, merasakan koneksinya dengan alam, dan kemudian mengangkat tangannya perlahan-lahan. Butiran-butiran pasir di depannya mulai bergerak, perlahan-lahan naik ke udara, membentuk sebuah gumpalan yang bulat dan rapi. Kemudian, dengan gerakan tangan yang halus dan terkontrol, Kaelen memancarkan energi esnya ke gumpalan pasir itu.
Dan kali ini, tidak ada ledakan, tidak ada kerusakan. Butiran-butiran pasir itu membeku dengan sempurna, membentuk sebuah bola kristal yang indah dan bening, seolah-olah itu adalah berlian yang paling murni. Di dalam bola itu, butiran-butiran pasir itu masih terlihat jelas, mempertahankan struktur aslinya, namun kini terikat bersama-sama dengan kuat oleh es yang bening dan kuat.
Kaelen menatap bola kristal itu dengan mata yang terbelalak karena kaget dan haru. Dia tidak bisa percaya bahwa dia akhirnya berhasil. Dia memegang bola itu di tangannya, merasakan dinginnya es yang lembut, dan merasakan kebanggaan yang luar biasa di dalam hatinya.
Eldric, yang berdiri di sampingnya, tersenyum bangga melihatnya. Mata tuanya berbinar-binar dengan air mata keharuan. "Kamu mulai mengerti, Kaelen," kata Eldric dengan suara yang penuh dengan emosi. "Kamu mulai mengerti arti dari kontrol dan ketenangan. Ini adalah langkah pertama yang sangat penting. Kamu telah membuktikan bahwa kamu memiliki kemampuan dan ketekunan untuk menguasai kekuatan ini dengan benar."
Kaelen menoleh ke arah Eldric dan tersenyum bahagia. "Terima kasih, Tuan Eldric. Terima kasih telah membimbingku dan mengajariku. Tanpa kamu, aku tidak akan pernah bisa mencapai tahap ini."
Eldric menggelengkan kepalanya perlahan-lahan dan menepuk bahu Kaelen dengan lembut. "Bukan aku yang membuatmu berhasil, Kaelen. Itu adalah usahamu sendiri, ketekunanmu sendiri, dan keinginanmu yang kuat untuk belajar dan berkembang. Aku hanya membantumu melihat jalan yang benar. Tapi perjalananmu masih panjang, anakku. Masih banyak hal yang harus kau pelajari dan kuasai. Tapi aku yakin, dengan kemampuan dan ketekunan yang kau miliki, kau akan menjadi penyihir es yang hebat, bahkan mungkin yang terhebat yang pernah ada di dunia ini."
Kaelen menganggukkan kepalanya dengan tegas. Dia tahu bahwa perjalanannya masih panjang, dan masih banyak tantangan yang menantinya di depan. Tapi dia tidak takut. Dia merasa penuh dengan semangat dan keyakinan. Dia tahu bahwa dia memiliki kemampuan untuk menguasai kekuatannya, dan dia tahu bahwa dia memiliki orang-orang yang menyayanginya dan mendukungnya di sisinya—Eldric, Lira, dan juga orang tuanya di kerajaan.
Sore itu, saat matahari mulai terbenam dan langit berubah menjadi warna-warni yang indah, Kaelen dan Lira bertemu kembali di dalam gua.