NovelToon NovelToon
Falling In Love Again: First Love, First Hurt

Falling In Love Again: First Love, First Hurt

Status: sedang berlangsung
Genre:Selingkuh / Cerai / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Mafia
Popularitas:155.9k
Nilai: 5
Nama Author: Demar

Sejak kecil Celine Attea selalu berdiri di sisi Ethan Solomon Montgomery, Presiden Direktur Montgomery Group sekaligus pemimpin organisasi dunia gelap Amox. Celine adalah satu-satunya perempuan yang mampu masuk ke semua pintu keluarga Montgomery. Ia mencintai Ethan dengan keyakinan yang tidak pernah goyah, bahkan ketika Ethan sendiri tidak pernah memberikan kepastian. Persahabatan, warisan masa kecil, ketergantungan, dan cinta yang Celine perjuangkan sendirian. Ketika Cantika, staf keuangan sederhana memasuki orbit Ethan, Celine merasakan luka bertubi-tubi. Max, pria yang tiba-tiba hadir dalam hidup Celine membawa warna baru. Ethan dan Celine bergerak dalam tarian berbahaya: antara memilih kenyamanan masa lalu atau menantang dirinya sendiri untuk merasakan sesuatu yang baru. Disclaimer: Novel ini adalah season 2 dari karya Author, “Falling in Love Again After Divorce"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Demar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Peringatan Terselubung

Mobil melaju meninggalkan kompleks rumah sakit, membelah malam yang mulai lengang. Jerry mengemudi dengan sikap paling tenang yang bisa ia pertahankan, meski matanya berulang kali melirik pantulan di spion. Di kursi belakang, posisi Ethan duduk terlalu dekat dengan Cantika yang bersandar lemah. Jarak mereka melampaui batas kewajaran, terlalu dekat untuk sekadar atasan dan staf.

Kegelisahan merayap di dada Jerry. Ini berbahaya, batinnya. Bukan hanya bagi Cantika, tetapi bagi Ethan dan juga Celine. Pikirannya buyar sesaat, hampir menabrak mobil di depan mereka.

“Paman.”

Satu kata dingin yang menekan.

Jerry tersentak, refleks menginjak rem. Mobil berhenti hanya beberapa senti dari bumper depan. Keringat dingin membasahi pelipisnya.

“Maaf, Tuan,” ucapnya cepat, suara tertahan.

“Jika kau tidak siap mengemudi, beristirahatlah,” kata Ethan tanpa menoleh. “Aku tidak bekerja dengan orang yang tidak fokus.”

Nada itu tidak meninggi, namun justru di sanalah letak tekanannya.

“Baik, Tuan. Kejadian ini tidak akan terulang,” jawab Jerry patuh.

Mobil kembali melaju, kali ini lebih pelan dan berhati-hati. Alamat yang dituju sudah ia hafal di luar kepala, gang sempit yang sudah ia ketahui selama tiga bulan terakhir. Jalan kecil itu hanya cukup untuk satu mobil, diapit tembok rumah yang nyaris bersentuhan dengan spion. Tidak semua sopir sanggup melewatinya tanpa goresan. Jerry bisa, karena ia dituntut untuk selalu bisa.

Mobil berhenti di depan sebuah rumah sederhana. Bedo sudah berdiri di teras, wajahnya cemas berubah lega begitu melihat Cantika turun.

“Mbak,” panggilnya cepat.

Cantika tersenyum dan mengelus rambut adiknya. “Maaf, Mbak terlambat pulang.”

Pandangan Bedo bergeser ke Ethan, penuh rasa ingin tahu. “Siapa dia, Mbak?”

Cantika menoleh sebentar pada Ethan, lalu menjawab lembut, “Dia orang yang menolong kita di rumah sakit.” Ia menunduk pada adiknya. “Bilang apa?”

“Terima kasih banyak, Om.” ucap Bedo tulus.

Ethan mengangguk singkat. “Aku pulang,” katanya datar, lalu masuk kembali ke mobil.

Cantika dan Bedo berdiri di teras, menatap mobil itu hingga lampunya lenyap di ujung gang.

“Dia pacarnya Mbak?” tanya Bedo polos.

Cantika tersenyum kecil, pipinya merona. “Bukan,” jawabnya jujur, lalu terdiam sejenak. “Tapi… siapa tahu nanti.” Ia menoleh pada Bedo, “Kamu doakan ya?”

Bedo mengangguk, “Mobilnya bagus ya, Mbak…” katanya kagum.

Cantika mengangguk pelan. Pandangannya masih tertuju pada arah mobil itu pergi.

“Iya,” bisiknya. “Dia bukan hanya punya mobil yang bagus, Bedo.”

Ia menelan ludah, kata-katanya sarat akan kekaguman.

“Dia punya segalanya.”

Ethan membuka ponselnya di dalam mobil. Aneh, tidak ada satu pun pesan dari Celine hari ini. Biasanya bahkan di tengah kesibukan paling padat, perempuan itu tetap menyisakan satu dua kalimat pendek untuknya. Ethan bersandar, menyilangkan kaki dengan sikap tenang meski ada sesuatu yang samar mengganjal di dadanya.

“Ada yang ingin kau katakan, Paman?” tanyanya tanpa menoleh, suaranya datar.

Jerry berdehem pelan, tetap memusatkan pandangan ke jalan. “Saya tidak ingin menyampaikan banyak hal, Tuan Muda. Hanya satu, itu jika Anda berkenan.”

Ethan tidak menanggapi, memberi isyarat tak bersuara agar Jerry melanjutkan.

“Nona Celine,” ujar Jerry hati-hati, “Anda sangat mengenalnya. Ia tampak anggun, tapi kekuatannya dahsyat. Ia lembut, namun pikirannya tajam. Ia manja, tapi tidak pernah bodoh.”

Ethan menoleh tajam. “Apa maksudmu, Paman? Jangan bermain kata denganku.”

Jerry tetap tenang, tangannya mantap di kemudi. “Saya yakin Tuan mengerti maksud saya. Perasaan manusia tidak diciptakan konstan. Ia bisa berubah kapan saja. Cinta pun demikian, tidak akan tetap besar jika tidak dipupuk.”

Ia berhenti sejenak, memilih kata berikutnya dengan sangat hati-hati.

“Dan mengenai gadis itu,” lanjutnya, “kita sudah bertanggung jawab. Menurut saya, itu seharusnya cukup.”

Nada suara Ethan mengeras. “Kau terlalu banyak bicara, Paman.”

Jerry mengangguk kecil. “Baik, Tuan. Saya berhenti sampai di sini.”

Ia terdiam setelah itu. Sampai di batas ini, ia tahu dirinya telah melakukan kewajiban, bukan sebagai pengawal melainkan sebagai orang yang telah lama berdiri di sisi keluarga Montgomery. Selebihnya, keputusan ada di tangan tuannya.

Celine duduk di ruang kerjanya, Bloom Collection. Meja kerjanya dipenuhi lembar-lembar desain. Kertas berserakan hingga ke lantai, garis-garis pensil bertumpuk, dicoret ulang, ditekan lebih keras, lalu ditinggalkan begitu saja. Namun Celine tidak berhenti. Tangannya terus bergerak, mencipta dan membongkar kembali, seolah hanya itu satu-satunya cara untuk menahan pikirannya agar tidak melayang ke tempat lain.

Pintu terbuka, Letta asistennya masuk, menatap sekeliling ruangan sejenak sebelum berjongkok, memungut lembar-lembar kertas yang tercecer. Ia merapikannya lalu meletakkannya kembali di atas meja Celine dengan susunan rapi.

“Desain ini sudah lebih dari cukup untuk pameran musim depan,” katanya sambil bersandar di tepi meja. “Kau sedang banyak pikiran?”

Celine tidak menoleh. Ia hanya meraih lampu meja yang tersenggol pinggang Letta, memperbaiki sudut cahayanya, lalu kembali menunduk pada kertas di depannya.

“Pulanglah,” katanya singkat. “Aku akan tinggal.”

Letta mengernyit. “Besok kau akan menikah. Apa tidak lebih baik menghabiskan waktu di rumah dan beristirahat?”

Celine berhenti mencoret sejenak. Ujung pensilnya terangkat, lalu ia meletakkannya perlahan.

“Terima kasih, Letta,” ucapnya tenang. “Tapi aku sedang ingin sendiri.”

Letta menghela napas, tahu kapan harus berhenti bertanya.

“Jaga dirimu. Telepon aku jika butuh apa pun,” katanya sebelum berbalik dan meninggalkan ruangan.

Pintu tertutup dan keheningan kembali turun dengan berat. Celine meletakkan pensilnya di atas meja dengan gerakan anggun, lalu memutar kursinya perlahan menghadap dinding kaca. Pantulan dirinya tampak tenang, terkendali, sempurna seperti yang selalu ia tampilkan.

Ia menarik napas dalam-dalam, lalu sekali lagi, namun napas itu terasa berat. Oksigen tidak pernah benar-benar sampai ke dadanya.

Celine berdiri. Pandangan matanya jatuh pada ponsel yang tergeletak di atas meja. Ia tidak segera meraihnya. Ada jeda singkat, sebuah pertimbangan sunyi yang nyaris tak terlihat. Lalu dengan keputusan yang tenang, ia mengambil ponsel itu.

Satu nomor ia tekan. Suaranya terdengar datar, terkontrol, tanpa emosi berlebih. Percakapan berlangsung cukup lama. Tidak ada kata sia-sia, tidak ada nada ragu. Hanya kalimat-kalimat pendek yang lugas, seperti dirinya.

“Oke,” ucapnya akhirnya. “Deal.”

Panggilan ditutup dengan gerakan anggun.

Celine kembali menghadap dinding kaca Bloom Collection yang membentang dari lantai lima. Pemandangan kota terhampar di bawah sana, tidak setinggi Montgomery Corp yang menjulang arogan ke langit. Namun di sinilah segalanya bermula. Tempat ini lahir dari kerja kerasnya sendiri. Dari nol tanpa bantuan siapa pun termasuk Ethan.

Celine menatap hasil coretan tangannya di atas meja, lalu bayangan gaun pengantin itu kembali datang. Gaun yang ia serahkan rancangannya pada orang lain bukan karena ragu atas dirinya sendiri. Semua itu hanya agar Ethan benar-benar terlibat.

Ia mengangkat dagunya, ada keyakinan yang besar di bola matanya.

1
dika edsel
mau apa lo...mau menggatal lagi...??? heh wanita setres...pergi jauh2 sono,sadar posisi kau siapa?? hadeeeh selama msh ada Cantika.. entah knp darah tinggi ku akan sering kumat..., bawaannya pngen memgumpat aja, pelakor kelas teri.. hempaskan saja..!!
Icka R
kasi space yang banyak celline..semoga nti bertemu dengan versi terbaik masing-masing sehingga apapun cobaan ya nti tetap kuat berpegang berdua💪
Vtree Bona
rasakan ethan
Moh Zaini Arief
mau otor saja kenapa upnyaberantakan baaangeeet siihq
Vtree Bona
dih pelakor menye menye bikin sebel pengen muntah
Vtree Bona
kemana aja kak thor
dika edsel
iyo..salah satunya itu, jd klo kau peka.. jauhi dia..jauhi wanita stres kayak dia, apa kau mengerti ethan...!!!! jd mulai sekarang ayo bersikap tegas.. sama cantika ataupun wanita lain yg mgkin akan mendekati mu. ,kalau kau cinta Celine buktikan dgn tindakan jgn omng doang..
𝑩𝒆 𝑴𝒊𝒏𝒆
Keputusan yang berat, tapi keputusan yang Celine ambil memang yang terbaik untuk kalian. Dan ini kesempatan untuk Ethan untuk memperbaiki diri. 💪
𝑩𝒆 𝑴𝒊𝒏𝒆
/Facepalm//Facepalm/ bisa aja alasannya.
Diva Yuwena
Si cantikan lama" obsesi sama ethan😬
Fazira Aisyah
Rega memang yg ter Best 👍👍👍
Fazira Aisyah
Keputusan yg bijak Celine walau bikin aku mewek 😭😭😭, Kalian memang harus saling berjauhan dulu, saling menjauh dan jgn bertemu, dgn saling berjauhan kalian akan mengerti perasaan dan hati masing-masing, terutama Untuk Ethan. dan bertemu lah kembali dalam keadaan yg lebih baik dan siap, tanpa ada paksaan dr siapanya piur dari ❤ sendiri, Semoga dengan langkah yg di ambil Celine ini, Ethan akan Menyadari perasaan Cinta yg tanpa paksaan, atau cinta yg sdh terlanjur terbiasa dr kecil, atau apapun itu.,..
Fbian Danish
huaaaaaa😭😭😭😭😭😭 km bikin aku nangis tengah malam tor...... setelah bolak balik nungguin km up, akhirnyaaa😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭
RAIN GUNAWAN: ikut sedih😭😭😭
total 1 replies
Irma Luthfah
si tika ini dia ko muka tembok bangettt yah.. gak tau diri
Rahayu Ayu
Rega.... Rega.... aksi mu sungguh luar biasa,
Berharap Cantika kapok oleh ancaman Rega, kalaupun si Cantika mau mencoba lagi jadi racun untuk si SEthan, berharap Rega juga tidak melupakan dan merealisasikan ancamannya.
sagi🏹
selama Cantika masih berkeliaran di sekitar Ethan maka hubungan Ethan dan Celine tidak akan pernah ada titik temu dan tidak akan pernah membaik selagi Cantika masih menghantui kehidupan mereka.
itin
haisshhhhh.... rega terlalu bermain main dgn cantika ntar jatuh cinta baru nyaho loh.... males lihat ethan berharap di rega ehhhh podo ae 🤭😁
𝑩𝒆 𝑴𝒊𝒏𝒆: aduh jgn 😭
total 1 replies
Felycia R. Fernandez
Semoga Cantika kapok ,gak coba ganggu Ethan lagi...
Kalau aku sih dukung Cantika,bisa liat juga gimana kata hati Ethan...mau tetap ngurus Cantika atau fokus ke Celine... Rega,kamu ganggu Cantika aja,udah berbinar tuh matanya liat Ethan.akhirnya mewek liat pisau mu 😆😆😆😆
𝑩𝒆 𝑴𝒊𝒏𝒆: aku jadi penasaran.. gimana cara Ethan buat jauhin Cantika 🤭
total 5 replies
𝑩𝒆 𝑴𝒊𝒏𝒆
Astaga apa maksudnya manggil² Ethan 🤣 bener-bener ga punya muka
astr.id_est
haish si ular ni belum di pecat k...
mampus kau 🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!