Kwee Lan, seorang Sinseh Wanita yang kehilangan chi akibat sakit keras menemukan seorang pemuda pingsan di bukit Peng San.
Karena Sumpah Sinseh, ia wajib menolong pemuda itu. Walaupun resikonya dicap bo-li-mo(amoral), ia takkan mundur. Tapi, warga sudah nyaris membakarnya atas tuduhan berzinah.
-----------
Sebagian besar nama dan istilah menggunakan Dialek Hokkien, sebagian Mandarin. Untuk membangkitkan kembali era Silat Kho Ping Hoo dalam sentuhan Abad 21.
AI digunakan untuk asistensi bahasa dan budaya akibat penulis mengalami penghapusan budaya besar-besaran dan kehilangan cukup banyak warisan budaya walaupun dalam hati dan keseharian masih menerangkan nilai-nilainya.
---The Bwee Lan (Anggrek Indah dari Marga The), penulis--
nb. Bwee bisa bermakna indah, cantik (wanita), atau tampan (pria).
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon The Bwee Lan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Konsekuensi Sebuah Lamaran
Sinseh Kwee Lan akhirnya tersenyum.
Setelah sebulan hidup kayak mayat berjalan—bangun, makan dikit, liat kebun, cuci baju, turu-sek—badannya mulai terasa enteng. Otaknya udah gak kayak kapas terbakar. Hari ini, dia bangun dengan perasaan beda.
Enak juga, pikirnya. Hidup.
Dia ke dapur, ambil caisim ada di kebun. Dikit, terus masak. Dia kangen Ibunya Jendral. Dia dapat bibit ini sebulan lalu dari wanita lembut mirip ibunya itu. Dulu mamanya mirip ibu Jendral Go. Tapi alis mamanya berantakan. Sering kali dia mimpi ayah ibunya. Kadang sudah gak bisa bangun seharian. Untung warga desa sering gantian ketok pintu, kepo. Ketokan yang bagi banyak orang menganggu privasi, tapi baginya itu pengingat jam makan di saat hidupnya udah kritis begini.
Wangi tumisan langsung nyebar ke seluruh rumah. Untuk pertama kalinya dalam sebulan, dia masak beneran. Bukan cuma angetin sup sisa beli di pasar.
Sambil nunggu masakan mateng, Kwee Lan jemur beberapa benang dari tanaman tali rami bintang—tanaman liar yang dulu dia rawat diam-diam, yang dia pake buat jahit luka Jendral Go waktu operasi darurat. Benang itu udah dicuci bersih, dijemur biar kering, siap dipake kapan aja. Daun sirih, sereh wangi sudah agak banyak, lumayan.
Sebagai pemilik ilmu Bu Ki Sut level 3, ia bersyukur bisa pengobatan sampai penyakit menengah. Gak perlu chi, yang penting alat siap. Ia belajar cukup sebulan ini.
Kadang kangen Jendral Go yang baunya mirip ayahnya dulu. Bau jeruk musim semi dicampur kayu manis yang menyegarkan. Ia membaca buku dari Jendral Go. Kadang membayangkannya. Tapi gak merasa apa-apa. Hatinya masih belum berfungsi setelah insiden dikeroyok pasien wanita.
Kerja gak mampu. Dia kadang pingin buka sih, karena dia suka ketemu orang. Dia ingin jadi Sinseh. Soalnya dulu ibunya demam pas hamil. Ayahnya gak di rumah, tugas daerah. Ibunya hamil 4 bulan, diapa-apain sinseh bejat sampai sakit kotor dan adiknya cacat. Mentalnya adiknya, Kwee Peng Kiok mentok. Tangannya buntung.
---
Dari luar, suara sapaan nyaring memecah kesunyian.
"Sinseh Kwee! Udah buka belum?"
Kwee Lan menoleh. Di depan pagar, berdiri seorang wanita dengan pakaian sederhana tapi rapi. Wajahnya familiar.
"Cici dari Chhun Meng," sapa wanita itu sambil senyum. "Gue denger lo udah mulai waras. Besok kan buka? Gue mau daftar duluan."
Kwee Lan manggut. Chhun Meng (春夢)—Mimpi Musim Semi. Tempat para "pencari kebahagiaan semalam" itu. Tempat yang namanya puitis, tapi Kwee Lan tahu kerjaan mereka siat sin.
Tapi urusan duit, mereka orang baik. Dulu, pas dia masih jadi bidan dan gak dipercaya siapa-siapa, merekalah yang datang diam-diam. Bayar tepat waktu. Sopan. Suka cerita banyak hal. Dari yang biasa sampai yang paling panas dan bikin deg deg serr.
"Aku coba dulu, ya Cici," kata Kwee Lan pelan. "Sini duduk."
Cici dari Chhun Meng duduk. Kwee Lan periksa denyutnya. Aman. Lalu dia suruh cerita.
"Ini, Sinseh," Cici itu buka suara. "Badanku gatel-gatel. Udah seminggu. Takutnya kena dari Tauke Cong."
Kwee Lan periksa kulitnya. Sekilas, lalu dia tersenyum.
"Ini jamur aja, Ci. Cepet sembuh kok. Gak usah takut."
Cici itu lega. "Tapi Lo kalo ga punya obatnya, gak apa. Pokok resep"
"Ci, doain aku ya. Pengen cepet waras. Kalo diitung ya 3 bulan lagi aku baru bisa waras nyimpen obat, Ci. Jadi, Cici nggak keliling kaya orang mumet nyari obat."
"Ah... Sio Moi... Yang penting kamu sembuh dulu. Aku juga ga mau ke sini. Cuma kok gatel. Mau ke Sinseh laki kok najis, males." Kata Cici itu.
Kwee Lan tulis resep di kertas buluk. Cici itu terima, baca, lalu senyum.
"Makasih, Sinseh. Lo emang paling baik."
Dia keluar. Kwee Lan ngeliatin dia pergi, lalu menengok ke langit-langit rumah.
"Kam-sia, Thien," bisiknya. "Uang menipis, ada uang lagi."
Cuma resep. Tapi Cici dari Chhun Meng pasti bayar. Karena mereka tipe orang yang gak pernah hutang budi.
---
Dang! Dang! Dang!
Kentongan di depan rumah berbunyi. Kenceng. Ritmenya beda dari biasanya.
Bukan tanda bahaya. Bukan tanda maling.
Tapi tanda... rombongan resmi.
Kwee Lan menoleh ke luar. Matanya yang terlatih Bu Ki Sut bisa lihat dari jauh: barisan orang berpakaian bagus, warna-warna cerah, obor (padahal siang), dan... tandu.
Tandu lagi?
Dari tandu itu, turun seorang wanita paruh baya dengan senyum manis tapi mata tajam. Di belakangnya, seorang pria tua dengan wajah sangar—mirip singa laut—berdiri tegap. Dan di samping mereka... Jendral Go Beng Liong, pakaian resmi, muka campuran antara malu dan bingung.
Ibu Go—Nyoo Hui Lan—melangkah maju.
"Kwee Lan A," sapanya lembut. "Ibu minta maaf dateng tanpa kabar. Tapi ini udah waktunya."
Kwee Lan melongo. "Waktunya... apa?"
Perasaanya gak enak. Uangnya menipis cuma cukup makan seminggu.
Nyoo Hui Lan tersenyum. "Keluarga Go mau ngelamar lo secara resmi."
BRAK...
----------
Bukan meja. Tapi Kwee Lan.
Dia jatuh. Bukan pingsan biasa. Tapi muntah darah. Dari hidung. Dari mata. Dari mulut. Darah keluar di mana-mana. Persis cerita setan di kedai-kedai.
Nyoo Hui Lan kaget setengah mati. "KWEE LAN!"
Ayah Go—sang Wakil Panglima—langsung bergerak cepet. Dia bopong Kwee Lan masuk ke rumah, letakin di dipan. Wajahnya tegang.
"Gila," gumamnya. "Niat baik malah bikin dia luka. Banyak banget darahnya."
Dua prajurit Go bersiap mengangkat. Go Bun Kiat, ayah Jendral Go. Dan Jendral Naga-- nama baru yang dianugerahkan Kaisar karena memang dan menyelamatkan satu pasukan di bawahnya. Walaupun dia sendiri sempat hilang dalam pemberontakan Pangeran Lie Peng Kiat.
Kwee Lan ditidurkan. Pelita dinyalakan seterang-terangnya.
Nyoo Hui Lan gak tinggal diam, ia sudah mengantisipasi. Dia booking Tabib Li, tabib negara itu. "Tabib Li ....!CEPET!"
Dari rombongan, seorang wanita setengah baya maju. Tabib Wanita Lie—Satu dari 6 tabib negara di kota raja. Dia periksa Kwee Lan cepet. Nadi, mata, pernapasan.
"Stres ekstrem," katanya. "Ditambah kurang makan, kurang tidur, ditimpa kabar kaget. Darah naik ke kepala."
Dia kasih minyak angin, pijit beberapa titik. Beberapa menit kemudian...
Mata Kwee Lan kedip.
Dia buka mata. Pandangan masih kabur. Tapi tangannya udah bergerak. Di depannya Jendral Naga mau nanya nanya. Udah makan apa belum. Apalagi Sinseh Kwee kurus. Badannya memang udah agak berisi dari pada sebulan lalu. Tapi...
Sinseh Kwee bangun
Matanya liar...
Meraba. Mencari. Menangkap. Mengendus.
Ia menemukan sesuatu, sesuatu bau yang ia inginkan. Bau jeruk musim semi dengan kayu manis itu.... Bau papa.
Tangan menyasar dada Jendral Go, memeluknya secara brutal.
"Kiam Pau, sakit!" desah Jendral Go.
"Pa... Papa..."teriaknya kencang dengan nada serigala meraung.
Semua orang di ruangan itu diem. Cui-cui (curiga) tingkat dewa. Mereka ngira perawan ini diapa-apain. Meskipun mereka tau, Jendral Go kalo bawa perempuan pasti aman. Cuma dia cari yang cocok. Makanya ganti-ganti. Kalo ini sampe menjerit.... Glekk!!
Kwee Lan gak peduli. Dia tarik Go, peluk kenceng, dan nangis sesenggukan.
"Uangku tinggal cukup makan seminggu!" isaknya. "Aku habis ditindas orang! Mau aku bayar pake apa mahar aku nanti?! PAPA!"
"Ditindas apanyaa?", bisik beberapa pembantu ke Sinseh Li.
Sinseh Li menggeleng ke arah mereka.
"Oh ...",
Jendral Go Beng Liong—jenderal naga, mantan tabib militer, pria yang biasa tebas leher musuh tanpa kedip—DIEM.
Hatinya ikutan menderita. Dia berharap dulu mending mati saja. Sekarang hidup tapi menyusahkan orang susah.
Kali ini Dia gak lepas. Gak kabur. Gak protes.
Dia biarin dadanya dipeluk. Dia biarin bajunya basah sama air mata (dan sedikit darah). Dia biarin semua orang liat. Dia duduk di sebelahnya soalnya lukanya yang dijahit sinseh ini sudah sembuh tapi masih lebam.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, pikirnya, ada wanita yang begini selain ibu dan adikku.
Bukan cewek hiburan.
Bukan cewek genit.
Tapi wanita yang... ngandelin dia.
Dia merasa... diandalkan. Merasa jantan.
---
Sementara itu, di belakang, Nyoo Hui Lan sama Ayah Go saling pandang. Matanya berkata-kata:
Ibu Go: "Ini... lancar gak sih?"
Ayah Go: "Gue juga gak tahu. Tapi dia peluk anak gue."
Ibu Go: "Itu tandanya?"
Ayah Go: "Mungkin."
Ibu Go: "Tapi dia panggil 'papa'."
Ayah Go: "Iya. Anak lo."
Ibu Go: "Anak lo juga."
Ayah Go: "..."
Di pojok, Sinseh Wanita Lie cuma bisa geleng-geleng sambil nyatet dalam hati "Pasien 1, keluarga 20, drama 100."
---
[BERSAMBUNG]
---
Ada apa ini peluk-peluk! Vote biar gak penasaran!🐉🔥