"Satu bisa melihat yang tak kasat mata, satu lagi memburu yang nyata. Namun, sang maut mengincar keduanya."
Kiara tahu ada yang salah saat bayangan merah mulai melilit leher orang-orang di sekitarnya. Sebagai anak indigo, ia adalah saksi bisu dari takdir berdarah yang akan segera terjadi. Di sisi lain, Reyhan berjuang melawan waktu di kepolisian untuk menghentikan monster dalam wujud manusia yang terus menambah daftar korban.
Persahabatan mereka diuji ketika benang merah itu mulai mengarah pada masa lalu yang selama ini mereka simpan rapat-rapat. Bisakah logika pistol Reyhan melindungi Kiara dari teror yang bahkan tidak bisa disentuh oleh peluru? Ataukah mereka hanyalah bidak dalam permainan takdir yang sudah dirancang untuk berakhir dengan kematian?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diah Nation29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Antara Napas Buatan Dan Panggilan Atasan
Malam itu, gudang tua di pinggiran kota terasa lebih dingin dari biasanya. Suara jangkrik mendadak bungkam saat Reyhan melangkah masuk. Ia mencoba bergaya layaknya detektif film aksi, memegang senter yang cahayanya menembus debu-debu yang beterbangan di udara lembap.
"Sesuai prosedur, kalian tetap di belakang gue. Jangan bergerak tanpa aba-aba!" ujar Reyhan mantap, meski lututnya sedikit gemetar saat melihat bayangan kain putih di pojok ruangan.
"Duh, Polisi satu ini... Gayanya selangit, tapi keringat dinginnya segede biji jagung," gumam Rendy sambil tetap asyik mengarahkan kamera ponselnya, bersiap melakukan siaran langsung.
Tiba-tiba, seekor kucing hitam melompat dari tumpukan kayu tepat di depan kaki Reyhan.
"HUWAA! AMPUN!"
Bruk!
Hanya dalam satu detik, detektif kebanggaan tim itu sudah terkapar di lantai semen yang kotor. Pingsan dengan sukses akibat syok jantung mendadak.
"Rey! Reyhan! Bangun!" Kiara panik, langsung mengguncang tubuh pria itu. "Duh, kenapa malah simulasi mati di saat genting gini sih?!"
Rendy mendekat. Alih-alih membantu, dia malah menaruh ponselnya tepat di depan wajah Reyhan yang pucat. "Waduh, ini momen langka. Detektif kita butuh bantuan medis darurat." Rendy kemudian menarik napas dalam-dalam, memonyongkan bibirnya, dan mendekatkan wajahnya ke arah Reyhan.
"Ren! Kamu mau ngapain?!" Kiara melotot.
"Kasih napas buatan, Ra! Daripada dia lewat!"
Tepat saat bibir Rendy tinggal beberapa senti lagi, mata Reyhan terbuka lebar. Ia langsung melonjak bangun seolah baru saja disengat listrik ribuan volt.
"GAK USAH! Mending gue pingsan selamanya daripada dapet napas buatan dari lo!" teriak Reyhan sambil membekap mulutnya rapat-rapat.
"Yah, padahal udah tulus ini, Rey," protes Rendy sambil tertawa kencang.
Setelah suasana sedikit mereda, mereka duduk di depan gudang. Rendy mengeluarkan satu strip vitamin dan sebotol minuman energi dari tasnya.
"Nih, minum. Jangan sampai di kasus selanjutnya gue harus nyediain tandu jenazah," ucap Rendy. Meskipun suaranya mengejek, dia membukakan tutup botol itu dan menyodorkannya ke arah Reyhan.
"Tumben lo baik," gumam Reyhan sambil menenggak vitamin itu.
"Ya kalau lo sakit, siapa yang mau urusin izin kita masuk TKP? Lagian... cuma gue yang boleh bully lo. Kalau orang lain, nggak gue kasih izin," sahut Rendy sambil menepuk bahu sahabatnya itu.
Kiara tersenyum melihat keakraban itu. Namun, senyumnya mendadak pudar. Bulu kuduknya berdiri. Bukan karena hantu, tapi karena aura dingin yang tiba-tiba menusuk dari arah jalan raya.
Sebuah mobil hitam mewah berhenti tepat di depan mereka. Pintu terbuka, menampilkan sosok pria dengan langkah kaki yang teratur. Suara sepatu pantofelnya terdengar seperti detak jam kematian di atas aspal.
Arthur.
Pria itu berdiri di depan mereka, menatap Reyhan dengan tatapan menghina yang tak ditutup-tutupi.
"Detektif Reyhan. Jadi ini cara Anda menghabiskan waktu dinas? Bermain 'keluarga' dengan anak indigo dan tukang konten?" suara Arthur tenang, namun setiap katanya terasa seperti silet yang mengiris harga diri.
Reyhan langsung berdiri tegak, tangannya refleks memberi hormat meski jemarinya gemetar. "Pak Arthur... ini tim saya, mereka membantu—"
"Membantu?" Arthur memotong, bibirnya membentuk senyum sinis. "Saya tidak melihat bantuan. Saya melihat beban. Mulai detik ini, Reyhan, kamu masuk ke divisi saya. Dan untuk kalian berdua..." Arthur menatap Kiara dan Rendy dengan pandangan rendah. "Keluar dari garis polisi ini sekarang. Jangan pernah lagi mengotori penyelidikan saya dengan dongeng hantu murahan kalian."
Dunia seolah berhenti berputar. Tawa yang tadi membahana, kini terkubur oleh ketidakadilan yang baru saja dimulai.
Reyhan mematung. Tangannya yang tadi memegang botol vitamin pemberian Rendy perlahan turun, terkepal kuat di samping pahanya. Tatapan Arthur tidak lepas dari Reyhan, seolah sedang menguliti harga diri detektif muda itu.
"Kenapa masih di sini?" suara Arthur kembali terdengar, lebih dingin dari sebelumnya. "Atau kamu lebih memilih kehilangan lencana itu demi membela orang-orang sipil tidak berguna ini?"
Kiara merasakan sesak di dadanya. Bukan karena energi hantu, tapi karena aura kegelapan Arthur yang sangat pekat. Ia menatap punggung Reyhan yang biasanya menjadi tempat berlindung, kini punggung itu tampak gemetar menahan amarah dan kehancuran.
"Rey... mending kita pergi aja," bisik Kiara pelan sambil menarik ujung jaket Rendy.
Rendy benar-benar bungkam. Rahangnya mengeras. Ia ingin sekali memaki pria sombong itu, namun ia tahu, satu kata salah bisa menghancurkan karier Reyhan selamanya.
"Ayo, Ra. Kita pergi," ucap Rendy berat. Ia menatap Reyhan sekilas, berharap sahabatnya itu menoleh, namun Reyhan tetap menunduk, menatap lantai semen yang berdebu.
"Reyhan, ikut saya ke mobil. Sekarang," perintah Arthur tanpa perasaan.
Arthur berbalik, berjalan angkuh seolah baru saja memenangkan pertempuran. Reyhan perlahan melangkah mengikuti, namun kakinya terasa seberat timah.
Saat melewati Kiara dan Rendy, Reyhan sempat berhenti sejenak. Tanpa berani menatap mata mereka, ia berbisik sangat pelan, nyaris hilang ditelan angin.
"Maaf... tolong, jaga diri kalian dulu."
Pintu mobil tertutup dengan dentuman yang terdengar seperti palu hakim yang menutup kasus secara paksa. Mobil itu melaju pergi, meninggalkan Kiara dan Rendy di depan gudang tua yang sepi.
"Ren..." suara Kiara bergetar. "Kenapa hukum rasanya jahat banget? Kenapa orang jujur kayak Reyhan harus tunduk sama orang kayak dia?"
Rendy mengepal tinju, lalu menendang kaleng kosong hingga terpental jauh. "Karena di dunia ini, Ra... hukum itu memang ada, tapi ketidakadilan jauh lebih nyata buat orang-orang seperti kita."
Ia merogoh sakunya, menatap sisa vitamin di tangannya dengan getir. "Padahal vitaminnya belum habis, tapi dia sudah diambil orang."
Malam itu, tim mereka hancur. Di dalam mobil Arthur, Reyhan duduk kaku, menyadari bahwa mulai besok, hidupnya tidak akan pernah sama lagi.
"Penebusan" yang harus ia lakukan baru saja dimulai dengan mengorbankan hatinya sendiri.