Mahasiswa magang dari universitas A, dan mereka semua kembar berjumlah 6 orang. Tentunya hal itu sering membuat siswa dan guru salah mengenali mereka. saksikan kisah mereka
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadiya Nafras, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Apa...?
" Saya mendapatkan laporan dari teman saya mengenai kamu di dalam sekolah magang, tapi saya rasa ini tidak bisa saya bicarakan melalui telepon." kecerdasan itu dan tentu saja Grace sangat terkejut.
" Kalau begitu kita ingin berbicara di mana ya Bu?" tanyanya yang sebenarnya sudah tegang dan takut dengan apa yang akan disampaikan oleh dosen pembimbingnya itu.
" Saya rasa saat ini kamu sedang berada di kelas ya, kalau begitu nggak usah pulang kampus nanti jam 07.00 malam bisa ketemu saya di cafetaria?"
" Baik bu saya akan menemui ibu di cafetaria."
" Kalau begitu silakan lanjutkan proses belajarmu kembali, nanti selepas selesai kelas saya akan menunggumu di cafetaria." ucapnya yang kemudian sambungan telepon itu pun segera terputus.
Tentunya ia sangat terkejut dengan apa yang dikatakan oleh dosen pembimbingnya itu, Dan kini ia sangat takut kalau apa yang akan disampaikan oleh dosen pembimbingnya itu akan membuatnya semakin jatuh. Iya takut yang diberitahukan adalah sebuah masalah besar, dan masalah itu pasti akan mempengaruhi proses magangnya. Tentunya ia dipenuhi dengan rasa takut itu, tetapi ia tetap berusaha tenang karena saat ini ia masih berada di lingkungan kampus.
Setelah tenang Ia pun segera masuk ke dalam ruangan kelas, Ia pun mengetuk pintu terlebih dahulu dan dosen itu pun mempersilakannya untuk masuk. Iya akhirnya kembali duduk di tempatnya sebelumnya, Intan sangat terkejut pada awalnya karena tiba-tiba saja dosen pembimbingnya menelepon Grace. Karena seingatnya nomor yang disimpan oleh dosen pembimbingnya adalah nomor Indah, dan menjadi pertanyaan mengapa bisa dosen pembimbingnya menelepon Grace.
' Sepertinya sehabis kelas nanti aku harus menanyakan hal ini kepada Grace, jujur saja aku sangat penasaran dengan apa yang telah disampaikan oleh dosen itu. Wajah Grace setelah berbicara dengan dosen pembimbing tampak pucat, apakah iya telah dilaporkan melakukan sesuatu ya.' batinnya yang tentunya khawatir dengan keadaan sahabatnya itu.
Proses pembelajaran kini berlanjut, sudah tidak ada suara di dalam ruangan itu selain suara dosen yang menjelaskan. Mereka semua tampak fokus memperhatikan walaupun sebenarnya mereka sangat lelah, tidak terasa waktu jam pembelajaran pun telah selesai. Mereka semua merasa senang dengan hal tersebut, dan akhirnya mereka bisa pulang ke rumahnya dengan nyaman.
Saat ini Intan menghampiri Grace dan berencana mengajaknya ngobrol, tetapi ia sangat terkejut ketika melihat keris yang tampak terburu-buru.
" Kau ingin ke mana dan mengapa kau tampak terburu-buru?"
" Aku ingin menemui dosen pembimbing kita dulu ya Intan, doakan saja semoga yang disampaikan oleh ini yang bukanlah hal yang tidak baik."
" Semoga saja kau bisa melewati semuanya dengan baik ya, jujur aku sangat terkejut ketika mendengar tadi yang menelpon mu adalah dosen pembimbing."
" Jangankan kau Intan, aku saja sangat terkejut ketika melihat siapa yang telah menonton ku. Jujur saja aku sangat terkejut dan sangat takut, tetapi aku harus tetap mengangkat. Dan sekarang aku mohon maaf karena tidak bisa menemanimu, sebab dosen pembimbing kita itu meminta aku untuk menemuinya."
" Kau ingin bertemu di mana dengan dosen itu?"
" Ibu dosen itu meminta bertemu di cafe taria jam 07.00 malam, dan saat ini sudah jam 06.10."
" Perlu ditemani?"
" Tidak perlu Intan, lagian aku merasa tidak enak jika kau harus menemaniku."
" Kau tidak perlu sungkan kepadaku, lagian beliau juga adalah dosen pembimbing kita bersama. jadi tidak ada alasan yang akan membuat dia marah jika aku bertemu dengannya."
" Memang tidak ada alasan yang akan membuat dosen pembimbing kita itu marah, tetapi rasanya tidak sopan saja jika aku datang menemuinya bersama denganmu. Apalagi sebelumnya dia meminta aku untuk datang seorang diri, tetapi aku justru datang bersama dengan orang lain."
" Yang kau katakan itu cukup masuk akal juga, kalau begitu aku pulang duluan dan nanti jika telah selesai kau langsung saja pulang ke kos." ucapnya dan ia pun mengangguk
Intan pun mulai pergi meninggalkan Grace yang saat ini sendirian di lorong, dan kemudian Grace pergi menuju ke cafetaria. Iya sengaja menunggu di cafetaria, karena ia tidak ingin terlambat nantinya. Setelah menunggu beberapa menit akhirnya dosen pembimbingnya pun datang, Iya pun langsung mengalahkan dosen pembimbingnya kemeja tempat ia duduk.
" Tidak kusangka kau sudah sampai di sini, Saya kira kau akan datang terlambat." ucap dosen pembimbing itu.
" Mana berani saya membiarkan Bu Maria menunggu di sini, lebih baik saya yang menunggu ibu."
" Ternyata kau cukup sopan santun juga ya, dan sepertinya pembelajaran etikamu sangat bagus."
" Ibu terlalu memuji saya, saya hanya orang biasa bu."
" Kau terlalu merendah Grace, tapi saya suka dengan sikap dan karaktermu ini. Kalau begitu saya langsung ke intinya saja, saya sudah menerima laporan tentangmu di sekolah. Jujur saja saya sangat terkejut ketika menerima laporan tersebut, tapi saya cukup puas dengan tanggapan dari mereka." jelasnya.
" Maaf sebelumnya Bu kalau saya lancang, kalau boleh tahu apa kesalahan yang telah saya lakukan ya Bu?" tanyanya yang memang sangat penasaran.
" Kau tidak melakukan kesalahan apapun Grace, justru Saya bangga dengan tindakan yang bisa kau lakukan itu. Guru-guru di sana sudah mulai memujimu, tapi yang saya harapkan kau tidak akan terbang tinggi."
" Memuji saya bagaimana Bu, perasaan saya tidak melakukan apapun?"
" Hari ini kau diminta oleh guru pamong mu untuk masuk ke kelas dan mengajarkan?" tanyanya dan ia pun mengangguk.
" Iya benar sekali Bu, tadi ibu Ika meminta tolong kepada saya untuk masuk ke kelas karena beliau sedang ada urusan."
" Hal ini berkaitan dengan hal tersebut, guru pamong mu sendiri yang menyampaikan kepada saya mengenai hal tersebut kalau kau sungguh membanggakan."
" Perasaan saya tidak ada melakukan apapun Bu, memangnya saya membanggakan di mananya ya Bu?"
" Kau bisa mengamalkan teknik menguasai kelas, dan hal itu membuat guru pamong mu sangat bangga padamu. Saya harap kau mempertahankan potensimu ini, sehingga kau bisa membanggakan nama kampus kita."
" Oh itu ya Bu, perasaan saya nggak ngelakuin apa-apa Bu. tapi saya akan berusaha agar membanggakan nama kampus kita." jelasnya dengan tersenyum walaupun sebenarnya ia masih bingung.
" Kan tidak usah terlalu memikirkan mengenai hal yang lain, yang terpenting kau lakukan tanggung jawabmu dengan baik dan jangan buat masalah di sana. Kau tahu sendiri tempat magang yang kalian pilih letaknya lebih dekat dengan universitas sebelah daripada universitas kita, jadi saya harap nama universitas kita tidak akan hancur karena kalian. Sebab sudah sangat lama sekali tidak ada yang mengambil magang di sekolah tersebut, dan kali ini kalian mengambil magang di sekolah tersebut."
" Saya dan teman-teman pasti akan berusaha melakukan yang terbaik Bu, dan kami juga akan berusaha melakukan silaturahmi agar universitas kita dengan universitas sebelah tidak akan terlibat dalam perdebatan lagi."
etto... sampulnya kurang menarik perhatian (sorry kalau menyinggung☹️)