Dia adalah Kezia Putri Ramadhan – CEO muda berusia 25 tahun yang menguasai bisnis tekstil keluarga dengan tangan besi. Hidupnya penuh dengan rapat bisnis, target penjualan, dan tanggung jawab berat hingga dia tak punya waktu untuk cinta. Namun, semuanya berubah ketika keluarga dihadapkan pada kehancuran keuangan yang hanya bisa dihindari dengan satu cara: menikahi putra keluarga Wijaya.
Yang tak disangka, calon suaminya adalah Rizky Wijaya – seorang anak SMA berusia 18 tahun yang baru saja lulus ujian masuk kampus, suka bermain game, ngemil keripik, dan masih sering lupa menyetrika baju!
Tanpa pilihan lain, mereka menjalani pernikahan yang tak diinginkan. Di rumah besar Kezia, tingkah lucu Rizky tak pernah berhenti: memasak yang malah membuat kompor berasap, menempelkan stiker kartun di laptop kerja istri, hingga menyuruh asisten perusahaan memanggilnya "Mas Rizky". Tapi bukan hanya kelucuannya yang menghiasi kehidupan mereka – rasa cemburu sang suami muda yang masih dibawa umur ju
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kepahiang Martin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PERJALANAN YANG MEMBUAT HATI BERGETAR
"Kita harus pergi ke Jerman dalam dua hari lagi. Pemasok bahan baku baru ada masalah dengan izin ekspor, dan ini adalah satu-satunya cara untuk menyelesaikan masalah sebelum perusahaan kita mengalami kerugian besar," ucap Dion dengan suara serius saat berdiri di depan meja kerja Kezia.
Kezia menghela napas berat, menatap dokumen yang ada di depannya. Masalah pasokan bahan baku sudah mencapai titik kritis – jika tidak segera terselesaikan, produksi akan terhenti dan ratusan karyawan akan terpengaruh. "Aku tahu, tapi aku tidak bisa tinggalkan Rizky sendirian terlalu lama. Dia baru saja mulai merasa nyaman dengan kehidupan kita bersama," ucapnya dengan nada yang penuh kekhawatiran.
"Dia sudah dewasa cukup untuk merawat dirinya sendiri, Kezia. Selain itu, perjalanan ini hanya akan berlangsung seminggu saja," jawab Dion dengan pandangan yang mendalam. "Aku akan menjamin keselamatan dan kelancaran perjalanan kamu. Kamu tidak perlu khawatir tentang apa-apa."
Setelah memikirkan segala kemungkinan, Kezia akhirnya menyetujuinya. Namun saat dia memberitahu Rizky tentang rencana perjalanan itu, wajah pemuda itu langsung berubah menjadi pucat. "Kamu akan pergi dengan dia? Sendirian?" tanya Rizky dengan suara gemetar, matanya sudah mulai berkaca-kaca.
"Tidak sendirian, ada tim kerja yang akan ikut juga," jawab Kezia dengan lembut, mencoba menenangkannya. "Ini hanya untuk urusan bisnis, Rizky. Aku akan kembali dalam waktu seminggu."
Tapi Rizky tidak bisa menyembunyikan perasaannya yang tidak nyaman. Dia tahu bahwa Dion memiliki perasaan yang lebih dalam terhadap Kezia, dan dia takut kehilangan wanita yang dia cintai. "Jangan pergi dong, Kak Kezia. Aku bisa membantu kamu mencari solusi lain. Aku sudah belajar banyak tentang bisnis lho!" ucapnya dengan penuh semangat, tapi mata nya menunjukkan rasa takut yang nyata.
"Aku harus pergi, Rizky. Ini untuk perusahaan dan untuk semua karyawan yang bergantung padanya," ucap Kezia dengan nada tegas tapi tetap lembut. "Kamu harus percaya padaku."
Pada hari keberangkatan, Rizky datang ke bandara untuk mengantar Kezia. Dia melihat Dion yang sudah menunggu dengan jas yang rapi dan tas kerja yang siap dibawa. Ketika Kezia berjalan menuju gerbang keberangkatan, Rizky menarik tangannya dengan kuat. "Janji kamu akan pulang ya, Kak Kezia. Jangan lupa aku menunggumu di sini."
"Aku tidak akan lupa," ucap Kezia dengan senyum lembut, lalu mencium dahinya dengan cepat sebelum bergabung dengan timnya dan Dion.
Setelah tiba di Jerman, mereka langsung pergi ke kantor pemasok untuk membahas masalah izin ekspor. Namun ternyata masalahnya jauh lebih kompleks dari yang mereka duga – ada kesalahan dalam dokumen hukum yang membutuhkan waktu lebih lama untuk diperbaiki. "Kita mungkin perlu tinggal di sini lebih lama dari yang direncanakan. Mungkin sekitar dua minggu lagi," ucap Dion setelah rapat dengan pihak pemasok.
Kezia merasa cemas mendengarnya. Dia sudah merindukan Rizky dan khawatir bagaimana dia mengatasi kebersamaan sendirian di rumah. Malam itu, dia mencoba menghubungi Rizky melalui panggilan video, tapi tidak ada jawaban. Setelah beberapa kali mencoba, akhirnya teleponnya terjawab, tapi dia melihat Rizky dengan wajah merah dan mata yang bengkak seperti baru saja menangis.
"Kamu masih belum pulang ya?" tanya Rizky dengan suara pelan. "Aku sudah memasak makanan kesukaan kamu seperti yang kamu ajarkan, tapi rasanya tidak sama tanpa kamu yang makan bersamaku."
"Aku juga merindukanmu, Rizky. Tapi masalahnya belum selesai di sini," jawab Kezia dengan hati yang berat. Di belakangnya, dia melihat Dion yang sedang mendekat dengan membawa secangkir teh hangat.
"Siapa itu di belakang kamu?" tanya Rizky dengan nada yang sedikit tegang.
"Tidak ada apa-apa, hanya Dion yang membawa teh saja," jawab Kezia dengan cepat, mencoba mengalihkan topik pembicaraan. Namun dia bisa merasakan bahwa Rizky semakin tidak nyaman. Setelah mereka mengakhiri panggilan, Dion duduk di sebelahnya dengan wajah yang penuh perhatian.
"Kamu khawatir tentang dia, bukan?" tanya Dion dengan suara lembut.
"Rizky adalah suamiku, Dion. Tentu saja aku khawatir padanya," jawab Kezia dengan nada yang sedikit dingin, menunjukkan bahwa dia tidak ingin membahas lebih jauh tentang topik ini.
Namun Dion tidak berhenti di situ. Selama beberapa hari berikutnya, dia mulai menunjukkan perhatian yang lebih jelas kepada Kezia. Dia mengajaknya makan malam di restoran mewah dengan pemandangan kota yang indah, memberikan bunga mawar merah tanpa alasan tertentu, dan bahkan mengajaknya jalan-jalan ke tempat-tempat indah di sekitar kota saat ada waktu luang.
"Saya tahu kamu merindukan rumah dan dia, tapi saya ingin kamu tahu bahwa kamu tidak sendirian di sini," ucap Dion saat mereka sedang duduk di taman kota yang indah pada malam hari. Dia melihat Kezia dengan pandangan yang penuh cinta dan perhatian. "Kamu layak mendapatkan seseorang yang bisa selalu ada untukmu – seseorang yang bisa membantu kamu dalam segala hal, bukan hanya menjadi beban yang harus kamu rawat."
Kezia langsung merasa tidak nyaman dan berdiri dengan cepat. "Apa yang kamu maksud dengan itu, Dion? Rizky bukan beban bagiku. Dia adalah suamiku dan aku mencintainya."
"Tapi kamu bahagia dengan dia? Kamu seorang CEO sukses yang berusia 25 tahun, sedang menikahi anak SMA yang belum tahu apa-apa tentang kehidupan nyata," ucap Dion dengan nada yang semakin keras. "Saya bisa memberikan kehidupan yang lebih baik untukmu, Kezia. Kita bisa bekerja sama dan membangun bisnis yang lebih besar lagi. Kita cocok satu sama lain."
Kezia melihatnya dengan wajah yang dingin dan tegas. "Aku tidak ingin membahas ini lagi, Dion. Jika kamu benar-benar teman baikku, kamu akan menghormati pernikahanku dan cintaku pada Rizky."
Namun pada hari berikutnya, situasi menjadi semakin tegang. Saat mereka sedang dalam rapat penting dengan pihak pemerintah lokal untuk menyelesaikan masalah izin, Dion secara tidak sengaja menyebut Kezia sebagai "pasangannya" di depan semua orang. Kezia langsung memperbaiki kesalahpahaman itu dengan cepat, tapi dia bisa merasakan bahwa beberapa orang di dalam ruangan sudah mulai berpikir salah tentang hubungan mereka.
Malam itu, ketika mereka kembali ke hotel, Kezia menemukan bahwa Rizky telah mengirimkan banyak pesan suara dan pesan teks yang penuh dengan rasa khawatir dan kesedihan. "Kak Kezia, aku melihat foto kamu dengan dia di media sosial. Semua orang bilang kamu sedang bersama orang lain. Apakah kamu tidak mau kembali lagi?" baca salah satu pesan teksnya.
Kezia merasa sangat sedih dan marah. Dia tahu bahwa foto itu mungkin diambil oleh seseorang saat mereka makan malam bersama dan kemudian dibagikan tanpa izin. Dia segera menelepon Rizky, dan kali ini dia langsung menjawab.
"Rizky, dengarkan aku dengan baik. Tidak ada yang terjadi antara aku dan Dion. Foto itu hanya untuk makan malam bisnis saja," ucap Kezia dengan suara yang penuh keyakinan.
"Tapi semua orang bilang kamu lebih cocok dengan dia, Kak Kezia. Dia lebih tua, lebih kaya, dan bisa membantu kamu dengan pekerjaanmu. Aku cuma anak SMA yang tidak berguna," ucap Rizky dengan suara yang sudah mulai menangis.
Kezia merasa hatinya seperti tertusuk jarum mendengar kata-kata itu. "Itu tidak benar sama sekali, Rizky. Kamu adalah orang yang paling berarti bagiku. Kamu membawa kebahagiaan dan kedamaian dalam hidupku yang tidak bisa diberikan oleh uang atau kesuksesan bisnis apa pun."
Sementara itu, Dion yang sedang berada di kamar sebelah mendengar sebagian pembicaraan melalui dinding yang tipis. Dia merasa sangat bersalah karena telah menyebabkan masalah dalam hubungan Kezia dan Rizky. Namun dia juga tidak bisa mengontrol perasaannya yang semakin besar setiap hari. Dia memutuskan bahwa dia harus melakukan sesuatu untuk mendapatkan cinta Kezia, bahkan jika itu berarti harus menghadapi Rizky secara langsung.
Keesokan paginya, Kezia terkejut ketika Dion memberitahu dia bahwa dia telah mengundang Rizky untuk datang ke Jerman. "Aku pikir ini adalah cara terbaik untuk menyelesaikan semua masalah. Biarkan dia tahu bahwa aku adalah orang yang lebih layak untukmu," ucap Dion dengan suara yang tegas dan penuh keyakinan.
Kezia melihatnya dengan wajah yang penuh kemarahan dan kekaguman. Dia tidak bisa percaya bahwa Dion bisa melakukan sesuatu yang sebesar itu tanpa seizinnya. "Bagaimana kamu bisa melakukan ini, Dion? Kamu tidak punya hak untuk mengambil keputusan seperti itu!"
"Aku hanya melakukan apa yang terbaik untukmu, Kezia. Dan untuk hubungan kita yang bisa jadi lebih baik dari ini," jawab Dion dengan pandangan yang tetap tegas.
Di sisi lain, Rizky yang menerima undangan dari Dion merasa sangat tertekan tapi juga sedikit bersemangat. Dia tahu bahwa ini adalah kesempatan baginya untuk menunjukkan bahwa dia layak menjadi suami Kezia dan bisa melindunginya dari orang yang tidak pantas. Dengan hati yang penuh tekad, dia segera memesan tiket pesawat dan mempersiapkan diri untuk perjalanan pertama kalinya ke luar negeri – sebuah perjalanan yang akan menentukan masa depan hubungan cintanya dengan Kezia.
Saat Kezia menunggu kedatangan Rizky di bandara Jerman, dia merasa sangat gugup dan tidak tenang. Dia tidak tahu bagaimana situasi akan berkembang ketika Rizky dan Dion bertemu langsung. Satu hal yang dia tahu dengan pasti – dia harus membuat pilihan yang jelas antara masa lalunya yang mungkin dan masa depannya yang sudah ditentukan bersama dengan orang yang dia cintai. Dan dia berharap bahwa pilihan yang dia buat akan membawa kedamaian dan kebahagiaan bagi semua orang yang terlibat.