NovelToon NovelToon
Anak Sang Mafia

Anak Sang Mafia

Status: tamat
Genre:Horor / Iblis / Mafia / Tamat
Popularitas:984
Nilai: 5
Nama Author: erinaCalistaAzahra

Erik Meijer adalah pemimpin mafia paling ditakuti yang dikenal tak memiliki belas kasih. Namun, dunianya yang penuh kekerasan berubah drastis saat ia menemukan seorang bayi perempuan bernama emia di kursi belakang mobilnya setelah sebuah baku tembak. Sebuah pesan misterius mengklaim bahwa bayi itu adalah darah dagingnya.
Demi melindungi emia , Erik Meijer memutuskan untuk meninggalkan takhta kekuasaannya dan bersembunyi di sebuah desa terpencil di pegunungan. Ia mencoba belajar menjadi ayah yang normal, mengganti senjata dengan botol susu, dan strategi perang dengan lagu pengantar tidur.
Namun, masa lalu tidak membiarkannya pergi begitu saja. Ketika musuh-musuhnya menemukan tempat persembunyian mereka dan mengancam nyawa emia, Erik Meijer menyadari bahwa ia tidak bisa terus berlari. Ia harus kembali menjadi sosok yang mematikan untuk terakhir kalinya demi memastikan putrinya memiliki masa depan yang damai. Ini adalah kisah tentang pengorbanan, penebusan dosa, dan sisi lembut mafia

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon erinaCalistaAzahra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

kembalinya sang Mafia

Saat Claudia, Emia, dan Marco sedang dalam pelarian dari kejaran pasukan ayahnya , sebuah sosok dari masa lalu muncul secara mengejutkan. Pria yang selama ini diberitakan tewas dalam serangan fajar setahun lalu ternyata masih hidup.

Di sebuah gudang tua di pinggiran Roma, langkah kaki Claudia terhenti saat melihat seorang pria berdiri di balik bayang-bayang. Pria itu memiliki tatapan tajam yang sama dengan Emia—Erik Meijer , ayah kandung Emia dan Claudia yang selama ini dianggap sudah meninggal tidak percaya.

"Erik ... Bagaimana mungkin?" Claudia menjatuhkan senjatanya, suaranya bergetar.

Erik melangkah maju dengan wajah yang dipenuhi bekas luka bakar. "Kematianku adalah satu-satunya cara untuk menghilang dari radar kakekmu dan saudara mu, Claudia. Aku harus menjadi hantu untuk membangun kekuatan yang bisa menghancurkan mereka dari luar."

Ternyata, erik tidak benar-benar tewas. Ia memalsukan kematiannya dengan bantuan faksi pemberontak untuk melindungi Claudia dan Emia tanpa memancing kecurigaan Don Medici.

Selama setahun ini, ia bergerak di bawah tanah, mengumpulkan bukti dan meretas sistem keuangan Medici yang kini mulai runtuh.

Emia yang berada di gendongan Claudia tiba-tiba terjaga. Bayi itu tidak menangis; ia justru menatap Erik dengan rasa ingin tahu yang dalam, seolah mengenali aroma dan energi pria tersebut. Dante mendekat, menyentuh pipi putrinya dengan tangan yang gemetar.

"Dia memiliki mata yang bisa melihat menembus kegelapan," bisik Erik .

Namun, reuni ini tidak berlangsung lama. pasukan ayah Claudia telah mengetahui melalui satelitnya telah melacak koordinat Erik yang baru saja muncul ke permukaan.

"Keluarga kecil yang indah," suara Kaka Claudia menggema melalui pengeras suara gudang.

"Sayangnya, reuni ini harus berakhir dalam abu."

Kini, dengan kembalinya erik, kekuatan mereka berlipat ganda. Marco yang tadinya bimbang kini memiliki sekutu kuat. erik membawa kode akses cadangan yang tidak diketahui Don Medici—kode yang bisa mematikan seluruh drone penyerang milik kakak Claudia.

"Kita tidak lari lagi, Claudia," Erik mengambil senjata dari Marco.

"Malam ini, kita selesaikan apa yang dimulai oleh kakekmu. Kita akan menghapus nama Medici dan Meijer dari peta dunia demi masa depan Emia."

-----

Ketegangan di gudang tua itu mencapai puncaknya. erik, Claudia, dan Marco berdiri dalam lingkaran pelindung di sekitar Emia, sementara suara mesin drone pembunuh mulai mendengung di atas atap seng yang berkarat.

"Marco," Erik menoleh dengan tatapan tajam yang bisa mengintimidasi singa.

"Aku tahu kau bekerja untuk ayah Claudia. Aku tahu kau seharusnya membunuh Claudia dan anakku malam ini."

Marco tidak menurunkan senjatanya, tapi ia tidak membidikkannya pada Erik . "Rencana itu sudah mati, erik. Sama seperti namamu yang seharusnya terkubur setahun lalu. Aku memilih pihak yang punya masa depan, bukan sekadar algoritma."

Claudia memeluk Emia erat, merasakan napas bayinya yang tenang di tengah badai. "Cukup! sudah di depan gerbang. Erik , jika kau benar-benar hidup, tunjukkan padaku bagaimana cara menghentikan monster teknologi ini."

erik mengeluarkan sebuah hard drive biometrik dari balik jaketnya. "Ini adalah 'Nadi Meijer'.

membangun kekaisarannya di atas server yang menggunakan pola otak klan Medici sebagai basis enkripsi. Dia butuh Emia bukan untuk hartanya, tapi untuk memperbarui kode inti sistemnya yang mulai korup."

Tiba-tiba, dinding gudang meledak. Kaka Claudia melangkah masuk dengan tenang, dikelilingi oleh robot pemangsa taktis. Ia bertepuk tangan pelan.

"Reuni yang mengharukan," ujar kakak Claudia, matanya yang dingin menatap Emia.

"erik, kau adalah kegagalan sistem yang harus kuhapus. Claudia, kau adalah perantara. Dan bayi itu... bayi itu adalah nyawa bagi duniaku."

kakak Claudia mengangkat tangannya, bersiap memberi perintah tembak. Namun, Emia tiba-tiba mengeluarkan suara tawa kecil yang jernih. Suara itu memicu frekuensi unik yang tertangkap oleh sensor biometrik di ruangan tersebut.

Lampu-lampu pada robot kakak Claudia mulai berkedip merah. "Apa yang terjadi?!" teriak Kaka Claudia.

"Darah sang pewaris bukan hanya kunci," Erik tersenyum tipis sambil menekan tombol di hard drive-nya.

"Dia adalah virus. Kau memasukkan pola Medici ke dalam sistemmu, dan sekarang... putriku baru saja mengambil alih kendalinya."

Seluruh teknologi mendadak mati total. Kegelapan menyelimuti gudang, menyisakan hanya cahaya bulan yang menyinari wajah Emia yang tersenyum. Sang bayi mafia tidak lagi menjadi incaran; dialah pemilik baru dari seluruh jaringan teknologi yang ingin menguasainya.

Setelah sistem lumpuh dan keheningan menyelimuti gudang, Claudia menatap Marco yang masih berdiri waspada dengan senjata di tangan. Ketegangan perlahan mencair, digantikan oleh rasa hormat yang mendalam.

Claudia melangkah mendekati Marco, sementara Emia tertidur pulas dalam dekapan Dante. Ia meletakkan tangannya di bahu Marco yang tegang.

"Marco," suara Claudia lembut namun tegas.

"Kau punya seribu kesempatan untuk menyerahkan kami pada kakak atau kakekku. Kau bisa memilih kekayaan dan jabatan di sisi medici, tapi kau memilih untuk menjadi perisai bagi putriku."

Marco menunduk, menghindari tatapan mata Claudia yang tajam.

"Aku hanya menjalankan apa yang seharusnya dilakukan oleh seorang pria, Claudia. Aku bosan menjadi bidak di papan catur orang-orang gila."

Claudia tersenyum tipis. "Bagi dunia, kau adalah pengkhianat Meijer. Tapi bagi Emia, kau adalah alasan dia bisa melihat matahari besok pagi.

Terima kasih telah memilih sisi kemanusiaan daripada sekadar perintah."

Erik pun melangkah maju, menjabat tangan Marco dengan erat. "Aku tidak pernah percaya pada siapa pun , Marco , tapi kamu telah memegang janjimu "

Tapi melihat kau masih berdiri di sini, melindungi darah dagingku... kau punya hutang nyawa dariku, Marco."

menyarungkan senjatanya. "Jangan berterima kasih sekarang. Kaka Claudia tidak akan diam. Kita harus segera menghilang sebelum sistem cadangannya menyala."

Di tengah reruntuhan itu, sebuah aliansi baru terbentuk. Bukan karena kontrak atau uang, melainkan karena rasa syukur dan kesetiaan yang ditempa dalam api peperangan. Mereka berempat—sang ayah yang bangkit dari kematian, sang ibu yang tak kenal takut, sang pelindung yang bertobat, dan sang bayi pewaris—melangkah keluar menuju kegelapan malam, siap menulis takdir mereka sendiri.

*******

Setelah sistem Kaka Claudia lumpuh total, Marco tidak langsung pergi. Ia berdiri di ambang pintu gudang yang hancur, menatap cakrawala Roma yang mulai memerah oleh fajar. Luka tembak di lengannya masih merembeskan darah, namun ekspresi wajahnya yang biasanya sedingin es kini tampak lega.

Marco menyerahkan kunci sebuah mobil SUV hitam yang terparkir di balik semak-semak kepada Erik . Mobil itu bukan mobil sembarangan; itu adalah kendaraan taktis dengan enkripsi frekuensi yang tidak bisa dilacak bahkan oleh satelit militer sekalipun.

"Pergilah. Koordinat di GPS akan membawa kalian ke pelabuhan pribadi di Civitavecchia," suara Marco parau.

"Ada kapal kargo menuju Islandia. Di sana, mereka ,tidak punya jangkauan."

Claudia menahan langkah Marco. "Kau tidak ikut dengan kami?"

Marco menggeleng pelan, senyum tipis tersungging di sudut bibirnya—sesuatu yang jarang sekali ia lakukan.

"Kakamu tahu aku mengkhianatinya. Jika aku ikut, aku hanya akan menjadi pelacak berjalan bagi kalian. Aku harus tetap di sini, menjadi 'hantu' yang menyesatkan sisa-sisa pasukannya."

Emia tiba-tiba terbangun dan mengeluarkan suara "Gaa-gaa..." sambil menggapai-gapai ke arah Marco. Marco mendekat, membiarkan jemari mungil Emia menggenggam jari kelingkingnya yang kasar. Untuk sesaat, sang algojo berdarah dingin itu tertunduk, merasakan kemurnian yang selama ini ia hancurkan dalam tugas-tugas gelapnya.

"Jaga dia, Claudia. Dia bukan hanya pewaris harta, dia adalah harapan bahwa darah Medici bisa menjadi sesuatu yang baik," bisik Marco.

Dengan satu anggukan hormat kepada Dante, Marco berbalik dan berjalan perlahan menuju kegelapan kota, memegang senjatanya erat-erat.

Ia bukan lagi tangan kanan Erik Meijer, melainkan pelindung bayangan yang rela mengorbankan nyawanya agar sang bayi mafia bisa tumbuh tanpa pernah mengenal bau mesiu.

Di spion mobil, Claudia melihat sosok Marco menghilang di balik kabut pagi. Ia tahu, suatu saat nanti, jika dunia kembali memburu Emia, Marco akan muncul kembali dari kegelapan untuk menuntaskan janji setianya.

*****

Langkah kaki Marco tidak lagi berat. Meski tubuhnya penuh luka, ia merasa lebih ringan daripada saat ia masih menjadi tangan kanan Erik Meijer yang bergelimang harta. Di tangannya, ia memegang sebuah peledak kecil—bukan untuk menyerang Claudia, melainkan untuk menghancurkan semua data cadangan yang tertinggal di gudang itu.

"Pergilah sekarang!" seru Marco saat mendengar deru helikopter tempur medici mendekat di cakrawala.

"Aku akan memancing mereka ke arah utara. Jika aku tetap hidup, aku akan menemukan kalian di Islandia."

Claudia menatap mata Marco untuk terakhir kalinya. Ia melihat bukan lagi seorang pembunuh, melainkan seorang kakak yang melindungi adiknya. erik mengangguk hormat, sebuah pengakuan ksatria kepada ksatria lainnya, lalu menginjak gas dalam-dalam.

Marco berdiri di tengah reruntuhan, menyalakan sebatang rokok terakhirnya. Saat pasukan elit Meijer mengepung gudang dengan lampu-lampu laser merah yang membidik dadanya, Marco hanya tersenyum tipis. Ia menekan tombol detonator, meledakkan pemancar frekuensi yang akan mengacak seluruh sinyal pelacak di area tersebut selama satu jam ke depan—waktu yang cukup bagi keluarga kecil itu untuk menghilang selamanya.

"Maaf, Erik," gumam Marco ke arah kamera drone yang melayang di depannya.

"Beberapa hal di dunia ini memang tidak bisa kau beli dengan algoritma."

Ledakan cahaya menyilaukan menelan gudang itu. Marco menghilang dalam asap, menjadi legenda bayangan yang namanya akan selalu dibisikkan dalam doa-doa Claudia. Di kejauhan, di dalam mobil yang melaju kencang, Emia kecil tiba-tiba terdiam dan menatap ke jendela belakang, seolah melambaikan tangan tanpa kata kepada pria yang telah menukar nyawanya demi kebebasannya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!