Arka adalah pria biasa yang hidupnya selalu penuh kegagalan. Dipecat dari pekerjaan, ditinggalkan pacar, dan hampir kehilangan harapan hidup.
Namun setelah kecelakaan misterius, hidupnya berubah total ketika sebuah Sistem Harem Legendaris muncul di dalam pikirannya.
Sistem itu memberinya misi aneh: bertemu wanita-wanita luar biasa yang akan mengubah takdirnya.
Dari CEO cantik yang dingin, idol terkenal, hacker jenius, hingga pembunuh bayaran misterius—setiap wanita yang mendekatinya membuka kekuatan baru bagi Arka.
Namun semakin banyak wanita yang masuk dalam hidupnya, semakin berbahaya dunia yang harus ia hadapi.
Akankah Arka mampu mengendalikan kekuatan sistem itu… atau justru tenggelam dalam permainan takdir yang lebih besar?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wedanta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Turnamen Akademi yang Dimulai
Pagi hari di Akademi Arclight terasa jauh lebih ramai dari biasanya. Lapangan utama yang biasanya digunakan untuk latihan sihir kini dipenuhi oleh para siswa dari berbagai kelas. Spanduk besar dengan simbol akademi tergantung di antara menara batu, berkibar pelan tertiup angin pagi. Hari itu bukan hari biasa. Hari itu adalah hari dimulainya Turnamen Akademi, sebuah kompetisi tahunan yang selalu menjadi pusat perhatian seluruh siswa.
Ren berdiri di tengah kerumunan bersama Mira, Lilia, dan Aria. Ia masih terlihat sedikit mengantuk, tetapi suasana di sekitarnya membuatnya sulit untuk benar-benar santai. Suara para siswa yang berdebat, tertawa, dan bertaruh siapa yang akan menang terdengar dari segala arah.
Mira terlihat sangat bersemangat. Gadis berambut merah itu terus melihat ke arah arena duel besar yang berdiri di tengah lapangan.
“Akhirnya dimulai juga,” katanya dengan mata berbinar. “Aku sudah menunggu ini sejak lama.”
Ren meliriknya. “Kamu terlihat seperti akan pergi berperang.”
Mira menyeringai. “Turnamen ini hampir sama seperti perang.”
Lilia yang berdiri di sisi Ren menghela napas pelan. “Tidak separah itu.”
Namun bahkan dia tidak bisa menyembunyikan sedikit rasa antusias dalam suaranya.
Turnamen Akademi Arclight bukan hanya sekadar kompetisi biasa. Para pemenang sering kali mendapatkan perhatian khusus dari para instruktur elit, bahkan kadang dari para bangsawan yang datang menonton. Bagi banyak siswa, ini adalah kesempatan untuk membuktikan kemampuan mereka.
Aria berdiri sedikit di belakang mereka sambil memperhatikan sekeliling dengan rasa ingin tahu. Sebagai murid baru, semua ini terasa sangat baru baginya.
“Banyak sekali orang,” katanya pelan.
Ren mengangguk. “Turnamen ini cukup besar.”
Aria menatap arena dengan mata yang sedikit kagum. “Apakah kamu juga akan ikut bertarung?”
Ren belum sempat menjawab ketika suara keras tiba-tiba terdengar dari panggung utama.
“PERHATIAN SEMUA SISWA!”
Suara itu berasal dari seorang pria tinggi dengan jubah panjang berwarna biru tua. Dia adalah Kepala Instruktur Akademi, Gareth.
Seluruh lapangan perlahan menjadi tenang.
Gareth memandang kerumunan siswa dengan tatapan serius sebelum melanjutkan.
“Hari ini kita memulai Turnamen Akademi Arclight yang ke-127.”
Sorakan langsung terdengar dari para siswa.
Gareth mengangkat tangannya sedikit, meminta ketenangan.
“Seperti biasa, turnamen ini akan menentukan siswa mana yang memiliki potensi terbesar tahun ini.”
Ia berhenti sejenak sebelum melanjutkan dengan nada yang lebih tajam.
“Namun kali ini… aturan sedikit berbeda.”
Kerumunan mulai berbisik.
Ren juga mengerutkan kening.
“Berbeda bagaimana?” gumam Mira.
Gareth melanjutkan, “Tahun ini, para siswa tidak hanya akan bertarung satu lawan satu.”
Lapangan menjadi lebih sunyi.
“Kalian juga akan bertarung dalam tim.”
Mira terlihat lebih bersemangat lagi. “Itu malah lebih seru!”
Namun Gareth belum selesai.
“Dan ada satu hal lagi.”
Ia menunjuk papan kristal besar yang berdiri di belakangnya. Papan itu mulai menyala dengan cahaya biru, menampilkan daftar nama para peserta.
“Putaran pertama akan dimulai sekarang.”
Nama-nama mulai muncul satu per satu.
Ren memperhatikan daftar itu dengan santai… sampai sebuah nama muncul tepat di sebelah namanya.
Ren Valen
vs
Nyra Noctis
Ren langsung menghela napas.
“Serius?”
Mira melihat daftar itu juga dan langsung tertawa.
“HAHA! Kamu langsung dapat lawan yang menarik.”
Lilia sedikit mengernyit. “Ini tidak kebetulan.”
Aria terlihat khawatir. “Apakah dia kuat?”
Ren mengingat kembali gadis berambut ungu yang mereka temui di hutan semalam.
“Sepertinya iya.”
Beberapa menit kemudian, arena duel pertama sudah siap. Lingkaran sihir pelindung aktif di sekitar arena, memancarkan cahaya transparan yang melindungi penonton dari serangan sihir.
Ren berjalan masuk ke arena dengan langkah santai. Kerumunan siswa langsung mulai berbisik ketika mereka melihatnya.
“Itu Ren.”
“Yang mengalahkan troll semalam?”
“Katanya dia punya kekuatan aneh.”
Ren mencoba mengabaikan semua itu.
Di sisi lain arena, Nyra berjalan masuk dengan ekspresi santai seperti biasa. Rambut ungunya bergerak pelan tertiup angin.
Ia berhenti beberapa meter dari Ren dan tersenyum.
“Sepertinya kita benar-benar akan bertarung.”
Ren mengangkat bahu. “Kelihatannya begitu.”
Nyra memiringkan kepalanya sedikit.
“Aku sudah menunggu kesempatan ini.”
Ren menatapnya dengan hati-hati. “Kenapa?”
Nyra mengangkat tangannya dan energi sihir gelap mulai berputar di sekitar jarinya.
“Karena aku ingin melihat kekuatanmu secara langsung.”
Instruktur Gareth berdiri di pinggir arena.
“Siap?”
Ren dan Nyra sama-sama mengangguk.
Gareth mengangkat tangannya.
“DUEL DIMULAI!”
Begitu kata itu diucapkan, Nyra langsung bergerak lebih dulu.
Lingkaran sihir hitam muncul di udara.
“Shadow Lance.”
Beberapa tombak energi gelap melesat cepat ke arah Ren.
Ren melompat ke samping, menghindari serangan itu dengan cepat. Tombak-tombak itu menghantam tanah arena dan meledak dengan suara keras.
Penonton langsung bersorak.
“Cepat sekali!”
Nyra tersenyum kecil. “Tidak buruk.”
Ren berdiri tegak lagi.
“Giliran aku.”
Ia berlari maju dengan kecepatan tinggi. Ren tidak menggunakan sihir yang rumit seperti kebanyakan penyihir. Ia lebih mengandalkan kecepatan dan insting bertarungnya.
Nyra mengangkat alisnya sedikit.
“Pendekatan yang menarik.”
Ia mengangkat tangannya lagi.
“Shadow Wall.”
Dinding energi gelap muncul di depan Ren.
Namun Ren tidak berhenti.
Ia melompat dan menendang dinding itu dengan kekuatan penuh.
BOOM.
Dinding sihir itu retak.
Nyra terlihat benar-benar terkejut kali ini.
“Kamu… menghancurkan sihirku?”
Ren mendarat dengan ringan.
“Aku tidak terlalu suka penghalang.”
Kerumunan penonton mulai semakin bersemangat.
Mira yang berdiri di pinggir arena tersenyum lebar.
“Itu dia!”
Lilia tetap memperhatikan dengan ekspresi serius.
“Ada sesuatu yang berbeda dari energi Ren hari ini…”
Di arena, Nyra tertawa pelan.
“Baiklah.”
Ia mengangkat kedua tangannya.
Energi gelap mulai berkumpul di sekeliling tubuhnya.
“Kalau begitu aku akan sedikit lebih serius.”
Lingkaran sihir besar muncul di udara di atas arena.
Beberapa siswa langsung mundur beberapa langkah.
“Energi itu besar sekali…”
Ren menatap ke atas.
Nyra tersenyum dengan penuh percaya diri.
“Dark Meteor.”
Bola energi besar mulai terbentuk di atas arena.
Jika serangan itu jatuh langsung, seluruh arena bisa hancur.
Gareth bahkan mulai bersiap untuk menghentikan duel jika diperlukan.
Namun Ren tidak terlihat panik.
Ia menutup matanya sebentar.
Energi yang sama seperti di hutan mulai muncul lagi di dalam tubuhnya.
Hangat.
Kuat.
Dan liar.
Ren membuka matanya.
Cahaya gelap samar muncul di sekelilingnya.
Nyra melihat perubahan itu dan senyumnya semakin lebar.
“Ya… itu dia.”
Bola energi raksasa mulai jatuh dari langit arena.
Seluruh penonton menahan napas.
Ren mengangkat tangannya.
Energi gelap dari tubuhnya meledak keluar seperti gelombang badai.
BOOOOOOM.
Serangan Nyra langsung hancur di udara sebelum menyentuh tanah.
Ledakan energi mengguncang seluruh arena.
Ketika debu mulai menghilang, Ren masih berdiri di tempat yang sama.
Nyra juga masih berdiri… tetapi ekspresinya penuh kegembiraan.
“Luar biasa,” katanya pelan.
Ren menurunkan tangannya perlahan.
“Apa kamu masih ingin lanjut?”
Nyra tertawa kecil.
Ia mengangkat kedua tangannya tanda menyerah.
“Aku sudah melihat cukup.”
Kerumunan langsung gempar.
Gareth mengangkat tangannya.
“Pemenang duel ini… REN VALEN!”
Sorakan besar memenuhi lapangan.
Mira langsung melompat kegirangan.
“REN MENANG!”
Namun Nyra berjalan mendekat sebelum meninggalkan arena.
Ia berhenti tepat di depan Ren dan berbisik pelan.
“Kekuatanmu bahkan lebih menarik dari yang aku kira.”
Ren mengerutkan kening. “Apa maksudmu?”
Nyra hanya tersenyum misterius.
“Kita akan sering bertemu lagi.”
Setelah itu ia berjalan keluar arena dengan santai.
Ren berdiri diam beberapa detik sambil melihat tangannya lagi.
Energi di dalam dirinya semakin kuat.
Dan jauh di atas salah satu menara akademi…
Selene berdiri sambil mengamati arena dengan senyum tipis.
“Turnamen ini akan menjadi sangat menarik,” bisiknya pelan.
Matanya tertuju pada Ren.
“Bangkitlah lebih cepat, pewaris.”