Anggika Rosalia, gadis cantik berusia 27 tahun, baru kembali dari Jakarta dan harus menerima kenyataan dijodohkan dengan calon kepala desa. Luka hatinya belum sembuh setelah ditinggal menikah sang kekasih, ditambah gosip kejam yang melabelinya perawan tua. Demi kepentingan masing-masing, Rosalia akhirnya menikah kontrak dengan Mario Langit Pradana, pria tampan yang membutuhkan pasangan untuk maju sebagai lurah. Lalu, bagaimana kelanjutan rumah tangga mereka? Saksikan kisah selengkapnya hanya di sini!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Prettyies, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Makan siang
Anggika tersenyum tipis.
“Biar nggak kambuh lagi. Dua hari lagi akad, jangan sampai masuk UGD lagi.”
Mario menatapnya lembut.
“Iya, sayang. Aku nurut apa kata kamu.”
Anggika pura-pura menghela napas panjang.
“Bagus. Memang kamu harus nurut sama aku.”
Ia lalu masuk ke dapur kecil, memeras lemon segar, mencampurnya dengan air hangat dan sedikit madu.
Beberapa menit kemudian ia kembali membawa gelas.
“Nih, lemonade hangat. Lebih aman buat lambung kamu.”
Mario menerima gelas itu sambil tersenyum.
" Kamu memang calon istri idaman,Gi.”
“Minum dulu yang habis,” sahut Anggika.
Mario meneguk perlahan.
“Enak. Pas.”
Anggika menoleh ke arah dapur.
“Aku masak dulu ya. Kamu kalau ngantuk, istirahat aja di kamar ku.”
Mario langsung mengangkat alis.
“Beneran boleh tidur di kamar kamu?”
“Iya gak apa-apa. Aku kan di dapur. Di depan juga banyak orang dekor. Aman.”
Mario mendekatkan wajahnya sedikit.
“Kalau tidurnya sama kamu?”
Anggika langsung menepuk lengannya pelan.
“Jangan ngaco. Sana istirahat.”
“Iya, iya. Siap, Bu Calon Istri.”
Mario masuk ke kamar Anggika. Ia melihat sekeliling.
“Kamar kecil banget… beda sama kamarku,” gumamnya pelan. “Nggak ada kamar mandi dalam juga.”
Ia duduk di tepi ranjang, lalu merebahkan diri. Aroma lembut dari sarung bantal membuatnya tersenyum.
“Wangi Anggika…” bisiknya pelan.
Tanpa sadar ia menarik selimut tipis dan memejamkan mata.
Sementara itu, di dapur, Anggika mulai menyiapkan makan siang yang aman untuk lambung sensitif dan alergi seafood.
Ia memilih Sup Ayam Jahe Wortel — hangat, ringan, dan tidak pedas.
Ia menumis bawang putih sebentar tanpa cabai, menambahkan irisan jahe tipis untuk membantu menghangatkan lambung, lalu memasukkan potongan dada ayam tanpa kulit.
“Gak pedes aman,” gumamnya.
Ia menambahkan wortel dan sedikit kentang, lalu menuangkan air kaldu ayam bening. Tidak ada santan, tidak ada seafood, dan tidak terlalu banyak minyak.
Setelah mendidih, ia membumbui dengan sedikit garam dan lada putih ringan.
“Semoga dia suka,” katanya pelan sambil mencicipi kuahnya.
Aromanya hangat dan menenangkan.
Anggika melirik ke arah kamar.
“Maryono kalau tidur ganteng banget,hidungnya mancung,kulitnya putih,bibinya merah bagus buat perbaikan keturunan,” gumamnya sambil tersenyum sendiri.
Di kamar, Mario sudah benar-benar terlelap dengan ekspresi damai.
Pintu depan terbuka. Kulsum masuk sambil menurunkan beberapa kantong belanja dari pasar.
“Gi, tolong bawain ini ke dapur,” panggilnya agak tergesa.
“Iya, Mak,” jawab Anggika cepat. Ia menghampiri ibunya dan mengambil beberapa kantong yang cukup berat.
“Bapak mana, Mak?” tanya Anggika sambil berjalan ke dapur.
“Lagi ke depan beli tambahan bumbu. Cepetan, Mak mau masak. Mas kamu pulang dari Malaysia hari ini,” sahut Kulsum.
Anggika berhenti sebentar.
“Oh… iya, Mak.”
Ia meletakkan belanjaan di meja dapur.
“Mak mau masak gulai. Biar cepat sebelum mereka sampai,” lanjut Kulsum sambil mulai mengeluarkan santan dan daging.
Anggika mengerutkan kening.
“Anggi kan nggak makan santan, Mak. Mak gak masak yang lain selain ini? ”
Kulsum langsung menoleh.
“Terus karena kamu nggak makan santan, orang serumah nggak boleh makan juga? Sekali-sekali mas kamu pulang, dia kan suka opor, gulai, rendang. Kamu diet ya makan salad aja.”
Nada itu membuat dada Anggika terasa sesak.
“Kenapa sih, Mak… makanan yang Anggi suka hampir nggak pernah dimasakin? Selalu mas Rendy yang diutamakan.”
Kulsum menghela napas panjang.
“Kamu ini kenapa jadi sensitif begitu? Rendy itu kakak kamu. Jarang pulang. Sekarang dia datang sama istri dan anaknya. Wajar Mak pengin masakin yang dia suka.”
“Tapi dari dulu selalu begitu, Mak,” suara Anggika mulai bergetar. “Kalau ribut sama Mas Rendy, selalu Anggi yang disalahkan.”
Kulsum terdiam sesaat.
“Jangan lebay, Gi. Kamu itu cuma merasa saja.”
Anggika tak menjawab. Ia langsung keluar dari dapur, berjalan cepat ke kamar, lalu menutup pintu.
Di kamar, Mario yang tadi tertidur perlahan bangun karena suara pintu.
“Kamu kenapa? Kok ribut sama ibu kamu?” tanyanya pelan, masih setengah mengantuk.
Anggika tak menjawab. Ia malah mendekat dan memeluk Mario erat.
“Kenapa sih rasanya Mak selalu pilih kasih sama aku…” suaranya lirih.
Mario mengusap punggungnya lembut.
“Mungkin cuma perasaan kamu aja, Gi.”
Anggika menggeleng pelan.
“Dari dulu begitu. Selalu aku yang disalahkan kalau ada apa-apa sama Mas Rendy. Bahkan waktu pernikahan sampai lahiran anak dia kemarin… aku diminta bantu bayarin tapi gak diganti.”
Mario terdiam sejenak.
“Serius?”
“Iya. Padahal aku juga lagi banyak kebutuhan waktu itu. Tapi tetap aja aku yang harus ngalah.”
Mario memegang bahunya, menatapnya lembut.
“Kamu ini anak baik. Kadang orang tua memang nggak sadar kalau sikapnya bikin anaknya ngerasa beda.”
Air mata Anggika menetes pelan.
“Aku capek, Mas…”
Mario menghapus air matanya dengan ibu jari.
“Sekarang kamu nggak sendiri lagi. Ada aku.”
Anggika menatapnya.
“Jangan tinggalin aku juga ya…”
Mario tersenyum lembut sambil mengusap sisa air mata di pipi Anggika.
“Aku nggak akan pernah ninggalin kamu, Gi. Kalau kamu lari, aku yang bakalan ngejar-ngejar kamu. Kita bangun rumah tangga yang sakinah, penuh kasih dan saling menghargai tidak ada patriarki. Nggak ada yang merasa lebih tinggi atau lebih rendah. Kamu cuma boleh nangis karena bahagia, paham?”
Ia menarik Anggika ke dalam pelukannya, hangat dan tenang.
“Mungkin aku nggak sepenuhnya ngerti rasanya jadi kamu,” lanjutnya pelan, “aku anak tunggal, nggak pernah ngerasain dibanding-bandingin sama saudara. Tapi aku janji, aku akan berusaha bikin kamu merasa cukup dan dicintai.”
Anggika tersenyum tipis, masih bersandar di dada Mario.
“Makasih ya, Rio. Kamu selalu ada tiap aku lagi sedih.”
Mario mengangkat dagunya sedikit agar bisa menatap matanya.
“Jangan ribut lagi, ya. Di luar banyak orang. Nggak enak kedengarannya.”
Anggika mengangguk kecil.
Mario menyeringai ringan, mencoba mencairkan suasana.
“Kamu kan sukanya daging, dada ayam filet, sayur, seafood, sama sambal pedas. Nanti aku ajak kamu makan apa pun yang kamu mau.”
Anggika menyipitkan mata.
“Seafood? Kamu alergi, Mas.”
Mario tertawa kecil.
“Iya sih… tapi kalau cuma buat nemenin kamu, aku rela kok.”
“Jangan lebay,” Anggika memukul pelan lengannya.
“Serius. Walaupun taruhannya nyawa aku siap,” goda Mario dramatis.
Anggika langsung menutup mulutnya.
“Ih, jangan ngomong sembarangan.”
Mario tersenyum lagi.
“Tenang. Sekarang yang penting kamu jangan sedih lagi. Kamu nggak sendirian.”