Hati Davin hancur ketika mengetahui cintanya pada Renata juniornya, bertepuk sebelah tangan dan ternyata hanya dimanfaatkan untuk kepentingan karir.
Dia lalu memilih pergi menjadi relawan medis di daerah bencana, dan bertemu Melodi, gadis yatim piatu nan tangguh merawat adiknya yang lumpuh
Ketulusan dan ketegaran Melodi mampu membuat Davin terpikat. Namun, perbedaan status di antara mereka terlalu besar membuat Melodi ragu.
Mampukah Davin meyakinkan Melodi bahwa cinta sejati tak mengenal batas? Atau justru perbedaan akan memisahkan mereka selamanya?
Yuk, ikuti kisahnya hanya di sini;
"Melodi Cinta Untuk Davin" karya Moms TZ, bukan yang lain
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moms TZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
10. Permintaan
Akhirnya hari itu untuk pertama kalinya, Melodi menceritakan kepada orang lain tentang apa yang baru saja dialaminya. Tentang tuduhan dan fitnah keji yang dilontarkan Dahlia padanya. Hal yang tak pernah ia lakukan. Selama ini ia selalu telan mentah-mentah apapun hinaan orang, tetapi menurutnya ucapan Dahlia yang paling keterlaluan. Bukan untuk mencari pembelaan atau simpati atau mungkin dikasihani, tetapi ia hanya ingin menyampaikan bahwa dirinya bukanlah seperti yang mereka tuduhkan.
Murni memegang tangan Melodi, menggenggamnya erat. Sudut hatinya yang terdalam merasa tersentuh. Melodi gadis sederhana dan baik hati.
"Sabar ya, Mel," katanya.
"Dia itu hanya iri sama kamu. Percayalah, suatu saat nanti kebahagiaan pasti akan datang menghampirimu." Murni mengusap lembut pundak Melodi yang terduduk di lantai keramik.
Gadis itu hanya mengangguk pelan, kemudian beranjak berdiri. "Maaf, Bu. Saya harus melanjutkan pekerjaan."
"Mel, apakah setelah ini kamu masih ingin bekerja di rumah Bu Risma?" tanya Murni hati-hati.
"Saya nggak tahu, Bu."
"Kamu mau nggak kerja di sini saja?" pinta Murni. "Terus-terang, saya kadang kerepotan kalau anak-anak lagi pada rewel semua."
"Boleh, Bu." Melodi menyanggupi, bibirnya tersenyum simpul.
"Ya sudah mulai hari ini, ya. Kerjakan semuanya, nanti gajimu saya naikkan."
"Terima kasih, Bu."
Melodi langsung semangat bekerja. Ia membayangkan pundi-pundi uangnya akan bertambah. Dengan begitu Alvian bisa segera mendapatkan pengobatan.
.
Di Puskesmas Pembantu.
Davin melayani masyarakat yang datang berobat. Rata-rata mereka mengeluhkan gatal-gatal, pusing, sesak napas serta diare. Dengan telaten dia memeriksa satu persatu dan mendengarkan keluhan mereka.
"Jangan lupa diminum obatnya, Pak. Sehari tiga kali," pesannya ketika memberikan obat pada pasiennya.
"Iya, Dok. Terima kasih."
"Dok, kepala saya pusing, badan rasanya lemas. Sudah beberapa hari ini nggak nafsu makan," kata salah seorang pasien, wanita paruh baya.
"Mari, saya periksa ya, Bu. Silakan berbaring di ranjang," ujar Davin siap memeriksa. Di mulai dari tensi darah, mata, mulut hingga organ vital lainnya.
Di sudut lain, masih di dalam ruangan itu, Dahlia mencuri-curi pandang sambil tersenyum.
"Ya Tuhan, ada ya, makhluk semanis dan seganteng itu. Mana tinggi pula, benar-benar idaman."
"Seandainya saja aku yang diperiksa... Atau aku pura-pura sakit saja?" Khayalan Dahlia mulai liar dengan menjadikan Davin sebagai fantasinya. Entah bagaimana jika pemuda itu tahu, mungkin dia akan jijik atau bahkan ilfeel pada Dahlia.
Sementara Davin tetap fokus pada pekerjaannya. Tanpa peduli pada sekelilingnya.
Selesai dengan pekerjaannya, seperti biasa dia akan menghampiri Alvian yang saat itu tengah duduk sambil memandang ke arah jalanan melalui jendela.
"Hai, jagoan," sapa Davin, mengambil kursi plastik dan duduk di sana.
"Sedang melihat apa, hmm?" tanyanya, lalu netranya mengikuti arah pandang Alvian.
Bisa Davin lihat sekelompok anak-anak seusia Alvian sedang bermain sepakbola sambil bercanda dan tertawa bersama.
"Kamu ingin seperti mereka?" tanya Davin, menatap bocah lelaki di sampingnya dengan prihatin.
Alvian mengangguk.
"Syaratnya kamu harus sembuh."
Alvian menoleh, netranya mengerjap. "Tapi, Kak Mel belum punya yang banyak untuk berobat."
Davin tersenyum, lantas mengusap kepala Alvian dengan sayang. Entah mengapa dia bisa secepat itu akrab dengan orang yang baru dikenalnya.
"Apa Vian mau jika kakak yang bantu? Tapi Vian harus ikut kakak ke kota supaya mendapatkan perawatan yang maksimal."
"Berarti Vian harus berpisah sama Kak Mel?" Alvian menggeleng. "Nggak mau, Pak Dokter. Vian nggak mau jauh dari Kak Mel.
"Tentu saja kamu nggak akan jauh dari Kak Mel," ucap Davin.
"Apa Kak Mel akan ikut?" tanya Alvian, matanya tampak berbinar.
"Iya, dong," jawab Davin meyakinkan.
"Yeeea...!" Alvian bertepuk-tangan, hatinya sungguh gembira.
Davin tersenyum manis sekali, penuh rasa haru. Entah bagaimana nanti meyakinkan Melodi, yang penting adiknya dulu.
Sementara dari kejauhan Dahlia menyaksikan pemandangan itu dengan kesal. "Kenapa Dokter Davin bisa seakrab itu sama Alvian. Apa dia menggunakan kelumpuhannya itu untuk menarik perhatian dokter tampan itu? Benar-benar licik dan manipulatif itu kakak sama adik."
Dahlia seolah tak terima Davin bisa sedekat itu dengan Alvian. Padahal ia tahu sendiri bukan Alvian yang mendekat, tetapi Davin yang menghampirinya, berusaha menjadi teman dan menghibur bocah lelaki itu. Namun, di mata Dahlia tetap bocil itu yang salah karena telah merebut perhatian pemuda incarannya.
"Ah, bagaimana aku bisa mendekatinya? Apa aku minta saja Bapak untuk mengundangnya ke rumah? Mungkin dengan makan malam bersama?"
Dahlia tersenyum dengan ide yang muncul di kepalanya. "Aku akan merayu Bapak supaya mengabulkan permintaanku. Memangnya dia nggak mau apa punya menantu dokter tampan pula."
"Bukankah seharusnya memang begitu? Suami dokter, istrinya bidan. Pasangan yang serasi bukan?"
.
Di rumah Pak Lurah.
Sore itu Bu Risma pulang dari kantor melihat rumahnya sangat berantakan. Cucian piring masih utuh di wastafel, begitu pula dengan cucian baju masih teronggok di sudut dapur, pakaian yang belum disetrika pun menumpuk.
Wanita paruh baya itu menarik napas kasar. "Astaga, baru sehari Melodi tidak bekerja, rumah sudah seperti kapal pecah begini." Ia memijat pelipisnya frustasi.
"Sebaiknya aku menemuinya dan meminta maaf." Bu Risma bergegas keluar dari rumahnya, mengambil kunci motor, lalu pergi untuk menemui Melodi.
Sementara itu, Melodi baru saja keluar dari rumah Bu Yayuk setelah selesai mencuci dan menyetrika baju. Sehari ini dia kerja tiga tempat, di rumah Murni, Aisyah, dan Bu Yayuk. Rasa lelah mendera tubuhnya, tetapi sama sekali tak dirasakan oleh Melodi. Ia tetap tersenyum sambil mengayuh pelan sepedanya menuju Puskesmas Pembantu di mana ia dan adiknya tinggal untuk sementara waktu sampai pemerintah memberikan bantuan untuk membangun rumahnya kembali.
Tiba-tiba sebuah sepeda motor berhenti menghadangnya. Melodi pun terpaksa menghentikan sepedanya.
"Bu Risma...? Ada apa beliau menghentikanku? Apa akan memarahiku?" pikir Melodi dalam hati.
Ia melihat Bu Risma turun dari motor dan menghampirinya. Melodi tersenyum canggung sambil membungkukkan sedikit badannya.
"Mel, atas nama Dahlia, saya meminta maaf yang sebesar-besarnya. Ibu yakin kamu gadis yang baik dan nggak mungkin mencuri uang anak saya..."
"Apa, Bu? Bu Bidan menuduh saya mencuri uangnya?" Melodi tersenyum pahit.
"Fitnah apa lagi ini...?"
"Makanya, ibu juga nggak percaya begitu saja. Dan ibu percaya sama kamu Mel," ucap Bu Risma.
"Untuk itu, ibu memintamu tetap bekerja di rumah saya. Kamu mau, kan?" pinta Bu Risma dengan tatapan memohon. "Soal Dahlia kamu nggak usah pedulikan dia."
Kira-kira Melodi mau nggak ya, memenuhi permintaan Bu Risma untuk bekerja lagi di rumahnya?