NovelToon NovelToon
Menikah Dengan Musuh!!

Menikah Dengan Musuh!!

Status: tamat
Genre:Nikahmuda / Kehidupan di Sekolah/Kampus / Dijodohkan Orang Tua / Tamat
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: NaNa/ji-eun

not allowed to copy , cerita ini 100% hasil dari pikiran ku sendiri, jadi jangan copy cerita ini,

cerita ini berjudul *menikah dengan musuh!! *
pemeran perempuan dalam cerita ini sangat membenci seorang lelaki yang sangat nakal dan sering bolos waktu sma, dan nama nya adalah ALRESCHA dan kerap di panggil al/reska

ayana/ pemeran utama dari cerita ini sangat membenci al,namun al menyukai nya dari zaman sma hingga kuliah, namun al sama sekali tidak pernah mengungkapkan cinta nya kepada ayana, dan sekarang dia di pertemukan lagi, dan di paksa oleh kedua orang tua mereka untuk menikah

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NaNa/ji-eun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 16

Begitu palu hakim diketuk untuk menunda persidangan ke pekan depan, suasana di koridor pengadilan langsung memanas.

Rezky keluar dengan wajah merah padam, ia tampak sangat murka karena pengakuan jujur Alya di depan hakim tadi.

"Kamu gila, Alya?! Kamu malah dukung mereka? Itu anak kita!" bentak Rezky tanpa mempedulikan orang-orang di sekitar yang mulai menoleh. Prosedur Mediasi di Pengadilan

Alya hanya menangis sesenggukan, ia berdiri menjauh dari suaminya. "Aku lelah berbohong, Mas. Reva ketakutan setiap lihat kita. Apa itu yang kamu sebut cinta?"

Al segera melangkah maju, berdiri tegap di depan Ayana untuk melindunginya dari amukan Rezky. "Jangan buat keributan di sini, Bang. Ini kantor hukum. Kalau kamu nggak terima, silakan bicara di persidangan selanjutnya," ucap Al dengan suara rendah yang sangat menekan.

Papa Al pun mendekat, menatap Rezky dengan dingin. "Rezky, kesaksian istri kamu sendiri sudah membuktikan siapa yang salah di sini. Jangan paksa kami melaporkanmu atas tindakan tidak menyenangkan di lingkungan pengadilan." Sanksi Penelantaran Anak

Rezky mendengus kasar, ia menunjuk Ayana dengan penuh dendam. "Kalian pikir kalian sudah menang? Jangan harap! Saya tidak akan biarkan Reva tetap di tangan kalian!" Tanpa mempedulikan Alya yang tertinggal, Rezky langsung melangkah pergi meninggalkan area pengadilan dengan penuh amarah.

Ayana menghela napas panjang, ia merasa lemas namun sedikit lega. Ia menghampiri Alya yang masih terduduk lemas di kursi tunggu koridor.

"Kak..." panggil Ayana pelan.

Alya mendongak, matanya yang sembab menatap Ayana dengan penuh penyesalan. "Maafin aku, Na. Aku... aku nggak tahu harus gimana lagi. Mas Rezky sudah berubah jadi orang yang sangat keras kepala sejak kita kerja di sana."

"Makasih sudah jujur di depan hakim tadi, Kak. Itu sangat berarti buat masa depan Reva," ucap Ayana tulus. Meskipun ia masih kecewa, ia menghargai keberanian kakaknya untuk tidak membela kesalahan suaminya.

Mereka pun pulang dengan perasaan yang bercampur aduk. Ayana tahu, meskipun kemenangan di depan mata, ancaman Rezky tadi bukanlah gertakan semata. Ia harus semakin waspada menjaga Reva di rumah.

......................

Malam itu, sekitar jam dua pagi, suasana rumah Al sangat hening. Penjaga di depan gerbang sesekali berkeliling, namun area pintu belakang yang berbatasan dengan taman kecil luput dari pengamatan sejenak.

Tiba-tiba, terdengar ketukan pelan dan terburu-buru di pintu dapur. Ayana yang memang sedang gelisah dan sulit tidur, langsung terbangun. Ia menoleh ke arah Al yang masih terlelap, lalu memberanikan diri turun ke lantai bawah dengan jantung berdegup kencang.

"Siapa?" bisik Ayana gemetar di balik pintu.

"Na... ini Kakak, Na. Buka pintunya, cepat!" suara Alya terdengar serak dan ketakutan.

Ayana segera membuka kunci pintu. Begitu pintu terbuka, Alya langsung masuk dengan wajah pucat dan mata sembab. Pakaiannya tampak berantakan, seolah ia baru saja melarikan diri dari sesuatu.

"Kak Alya? Kok lewat sini? Kakak kenapa?" tanya Ayana panik.

"Na, dengerin Kakak. Mas Rezky... dia bener-bener gila," Alya mencengkeram lengan Ayana dengan tangan yang dingin. "Tadi di hotel, dia telepon seseorang. Dia nggak mau nunggu putusan pengadilan lagi. Besok pagi, dia rencananya mau sewa orang buat nyabotase mobil Al atau cari celah buat ambil paksa Reva saat kalian lengah."

Ayana menutup mulutnya karena syok. "Ambil paksa? Tapi di depan ada penjaga, Kak!"

"Dia tahu itu, Na. Makanya dia cari cara lain. Mas Rezky sudah gelap mata karena dia merasa dipermalukan di sidang tadi. Dia bilang lebih baik Reva 'hilang' daripada tetap sama kalian," tangis Alya pecah. "Aku nggak bisa diem aja, Na. Aku emang ibu yang buruk, tapi aku nggak mau Reva kenapa-kenapa."

Tak lama kemudian, Al turun dari tangga dengan wajah waspada, tangannya sudah memegang ponsel siap menelepon keamanan. Begitu melihat Alya, Al langsung memasang posisi protektif di depan Ayana.

"Kenapa dia di sini, Na?" tanya Al dingin.

"Al, Kak Alya ke sini buat kasih tahu rencana Rezky. Dia mau celakain kita atau ambil Reva besok pagi!" seru Ayana.

Al terdiam, menatap Alya dengan tajam seolah mencari kebenaran di mata kakaknya. Alya bersimpuh di depan Al. "Al, tolong... bawa Reva pergi dari rumah ini sementara. Mas Rezky tahu semua celah di sini. Tolong selamatin anak aku, Al."

Mendengar peringatan dari Alya, rahang Al mengeras. Al tidak ingin lagi lari atau bersembunyi; kali ini ia akan menyelesaikan semuanya secara hukum. Ia segera membangunkan Papa Al untuk merancang sebuah jebakan yang rapi.

"Kak, balik ke hotel sekarang. Jangan biarkan Rezky curiga kalau Kakak sudah ke sini," perintah Al dengan nada dingin namun tegas.

"Tapi Al—"

"Lakukan saja kalau Kakak mau Reva aman. Berlakulah seolah-olah Kakak masih di pihak dia," potong Al. Setelah Alya pergi lewat pintu belakang, Al langsung menghubungi Kepolisian Resor (Polres) setempat untuk meminta bantuan pengamanan tertutup.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Keesokan paginya, Al dan Ayana berakting seolah-olah mereka akan pergi ke kampus membawa Reva. Mobil Al keluar dari gerbang dengan pengawalan yang tampak longgar, sengaja memberikan celah bagi orang-orang suruhan Rezky.

Benar saja, saat mobil berada di area yang agak sepi, dua motor dan satu mobil menghadang jalan mereka. Rezky turun dari mobil itu dengan wajah penuh kemenangan, diikuti beberapa pria berbadan besar.

"Turunkan Reva sekarang! Atau saya hancurkan mobil ini!" teriak Rezky sambil menggedor kaca jendela.

Ayana memeluk Reva erat di kursi belakang, jantungnya berdebar, namun ia menatap Al yang tetap tenang di kursi kemudi. Al menekan tombol klakson panjang—sebuah kode.

Seketika, beberapa mobil polisi yang tadinya menyamar langsung mengepung lokasi. Belasan polisi bersenjata keluar dan menodongkan senjata ke arah Rezky dan anak buahnya. Pasal Penculikan Anak

"Jangan bergerak! Angkat tangan!" seru petugas polisi.

Rezky mematung, wajahnya yang tadi sangar mendadak pucat pasi. Ia tidak menyangka Al sudah menyiapkan jebakan secepat ini. Polisi langsung meringkus Rezky dan memborgol tangannya di depan mata Al dan Ayana.

Al turun dari mobil, menatap Rezky yang sudah tersungkur di aspal. "Kamu bilang mau main hukum, kan? Sekarang silakan jelaskan aksi Percobaan Penculikan ini di depan penyidik. Kasus hak asuh kamu resmi tamat hari ini, Bang."

Rezky hanya bisa meraung marah saat diseret masuk ke mobil polisi. Ayana menghela napas lega, air matanya jatuh bukan karena takut, tapi karena ia tahu Reva akhirnya benar-benar aman.

Walaupun Rezky sudah berada di balik jeruji besi, rupanya ia tidak sebodoh itu. Sebelum melakukan aksi nekatnya, Rezky sudah menyiapkan rencana cadangan melalui pengacaranya yang licik.

Saat Al dan Ayana baru saja sampai di rumah dengan perasaan lega, ponsel Al bergetar hebat. Sebuah panggilan dari pengacara keluarga mereka membawa kabar yang mengejutkan.

"Al, ada masalah. Pengacara Rezky baru saja mengajukan gugatan balik ke Pengadilan. Mereka menuduh kamu dan Ayana melakukan eksploitasi anak dan menghalangi pertemuan orang tua kandung dengan cara kekerasan," lapor sang pengacara dengan nada panik.

Ternyata, Rezky sudah merekam momen saat Al membentaknya dan mengusirnya tempo hari. Video itu diedit sedemikian rupa sehingga Al terlihat seperti pria temperamental yang membahayakan mental Reva. Pasal Pencemaran Nama Baik

"Dia mau main kotor sampai akhir ya," desis Al, rahangnya mengeras.

Tak hanya itu, Rezky menggunakan pengaruh koneksi bisnisnya untuk menyebarkan berita miring di media sosial tentang "Pasangan Mahasiswa yang Menyandera Anak Kakaknya Sendiri". Foto Al dan Ayana saat di kebun binatang disebarkan dengan narasi yang memutarbalikkan fakta.

Ayana yang melihat berita itu di ponselnya langsung lemas. "Al... orang-orang di kampus mulai ngomongin kita. Mereka bilang kita jahat karena nggak kasih Reva ke orang tua aslinya. Kenapa mereka percaya sama fitnah Bang Rezky?" Sanksi Penyebaran Berita Bohong/Hoax

Reva yang merasakan kegelisahan Ayana hanya bisa memeluk leher "Mama"-nya erat. "Mama... jangan nangis..." bisik Reva polos.

Al segera memeluk Ayana dan Reva sekaligus. "Tenang, Na. Ini cuma gertakan terakhir dia. Kita punya bukti asli, kita punya kesaksian Kak Alya, dan kita punya rekaman CCTV yang nggak dipotong-potong. Kita akan lawan balik lewat Konferensi Pers besok pagi." Hak Jawab dalam Pers

Papa Al pun langsung bertindak. Ia menghubungi relasi medianya untuk membersihkan nama baik anak dan menantunya. Perang ini bukan lagi soal siapa yang lebih kuat, tapi soal siapa yang lebih jujur di mata hukum dan publik.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!