NovelToon NovelToon
Cinta Maraton

Cinta Maraton

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:164
Nilai: 5
Nama Author: Eli Elita Septiyani

menceritakan tentang perjalanan seorang wanita yang mencari cinta sejatinya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Elita Septiyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

pekerjaan dihari minggu

tempat kerja semua pada saat itu ada yang buka dan ada yang tutup

saat itu saya dapat lembur, dan pas lembur saya mendapat info dari atasan untuk dapat pekerjaan lebih

sista :" kamu hari ini kebagian lembur li "

li :" iya sista kebetulan hari ini HRD dan atasan menyuruh saya untuk lembur "

Sista :" makan siangnya nanti disajikan ya "

Li :" iya "

"kamu terlalu banyak keperluan jadi saya memberi mu lembur li " atasan berbicara kepada li dan sista

Sista :" semangat kak, nanti pas jam makan siang kabari saya "

lukman, Boby dan sandi sedang didepan komputer menghitung account , data entry

sista :" kamu sudah sampai dimana li "

Li :" saya tidak tahu kapan harus melakukan pembukuan "

Lukman :" li kamu sudah sampai dimana" data entry yang kemarin sudah dikerjakan? kasih saya ya"

Li :" baiklah "

Bobby :" udah selesai kan data entry saya, saya mau main ke atap untuk olahraga dan coffee break "

Sista :" saya juga mau kesana menyusul Bobby "

lukman :" kapan terakhir li menyusun data entry,?

Lj :" ini sedang dikerjakan bentar lagi selesai "

sudah siang saat nya makan siang yuk

Baiklah, saya akan melakukannya dan memberi data saya ke bu vanny

setelah kamu lakukan makan siang dan coffee break jangan lupa olahraga

kami pun setelah itu langsung makan siang bersama

Setelah itu dy mencerita kan tentang kebiasaan dirumah selama di kost

Sista :" sayang tau hari ini apa saja yang ada di kejadian kantor, berbicara kepada lukman "

Lukman :" iya tadi temen kamu lembur tapi kenapa lama sekali ya " dy bilang telah menyelesaikan tugas hari ini, terus data entry yang kemarin juga selesai"

Li :" saya mengerjakan bulan depan " schedule yang akan dilaksanakan "

kiswah, Gunawan, maya pun datang terlambat jam kerjanya

"Aku... capek. Capek ditanya 'kapan isi?'Tadi Tante Maya bilang, kerja boleh sukses, tapi kodrat wanita itu cuma diuji dari anak.

Waktu merayap pasti, membawa Gunawan pada satu titik balik yang tak pernah ia duga sebelumnya. Pria yang dulunya hanya memuja grafik pertumbuhan ekonomi itu kini berdiri kaku di ruang tamu kediaman Niswah. Setelannya rapi, serapi niatnya untuk meminang gadis yang telah menjungkirbalikkan logika dunianya. Di hadapan kedua orang tua Niswah, Gunawan membuang jauh-aspek keangkuhan korporatnya.

"Om, Tante," suara Gunawan berat namun stabil, seolah sedang mempresentasikan proyek paling krusial dalam hidupnya. "Selama ini, saya terlalu terobsesi pada angka-angka besar dan karier yang agresif. Saya pikir, kebahagiaan Niswah itu wujudnya rumah mewah dan rekening yang tebalnya bisa buat ganjal pintu."

Niswah menahan tawa di tengah ketegangannya. Gunawan menoleh, meraih jemari Niswah dan menggenggamnya dengan protektif.

"Tapi Niswah ngajarin saya kalau pondasi yang kuat itu bukan semen, melainkan kejujuran, waktu, dan saling pengertian. Mungkin saat ini saya belum punya istana atau mobil yang pintunya terbuka ke atas. Tapi saya punya komitmen buat jadi suami yang selalu tahu jalan pulang, yang bakal jadi suporter nomor satu buat karier Niswah, dan jadikan dia wanita yang paling merasa aman, bukan sekadar paling bahagia."

Ibu Niswah menyeka air mata, sementara sang Ayah mengangguk dengan wibawa yang melunak.

"Kami lihat niat tulusmu, Gunawan. Jagalah putri kami se-presisi kamu menjaga kejujuran di setiap angka laporanmu," ujar Ayah Niswah, lalu beralih pada putrinya. "Niswah, kamu yakin dengan pria yang bicaranya mirip brosur investasi ini?"

Niswah tersenyum lugu, senyum yang selalu menjadi oase bagi Gunawan. "Yakin banget, Yah. Gunawan itu partner terbaik Niswah. Cuma dia yang bisa bikin hidup Niswah jadi balance, nggak cuma di buku kas, tapi juga di hati."

Pasca-lamaran yang mengharu biru itu, keduanya langsung terjun bebas ke dalam kesibukan babak baru. Gunawan membuktikan tajinya. Ia kini menjabat sebagai Business Development di sebuah perusahaan swasta terkemuka. Hidupnya adalah soal negosiasi sengit dengan asuransi dan dealer mobil, tempat di mana lidah tajamnya menjadi aset paling berharga.

Di sisi lain, Niswah memilih jalan yang lebih tenang namun kokoh sebagai staf keuangan di sebuah kampus swasta. Integritas akademik dan stabilitas kerja adalah ritme yang ia cintai. Meski angka di slip gajinya tak fantastis milik Gunawan, ketelitian Niswah adalah benteng pertahanan keuangan mereka.

Persiapan pernikahan pun menjelma menjadi sebuah proyek kerja sama tim yang solid. Gunawan si ahli negosiasi bertugas 'menjinakkan' para vendor, sementara Niswah si ratu budgeting memastikan tidak ada satu rupiah pun yang melompat keluar dari jalur yang disepakati.

Suatu malam, Gunawan pulang dengan sisa-sisa energi yang hampir habis. Ia mendapati Niswah masih berjibaku di meja makan, namun bukan dengan pekerjaan kampus, melainkan dengan tumpukan brosur catering yang terlihat seperti medan perang.

Gunawan menghampiri, lalu mendaratkan kecupan lembut di kening Niswah. "Gila ya, Sayang. Kamu kayaknya punya cadangan baterai nuklir. Aku baru aja habis 'berantem' sama direktur asuransi, eh, calon istriku masih asyik kencan sama daftar tamu. Astaga, ini jam berapa, Nis?"

Niswah mendongak, matanya sedikit menyipit menatap kalkulator. "Aku nggak capek, Gun. Aku justru bakal panas dingin kalau lihat budget nikahan kita mulai defisit. Katanya nggak mau ada utang setelah pesta? Ya aku harus teliti sampai ke harga tisu."

Gunawan duduk di sebelah Niswah, jemarinya mengacak pelan tumpukan kertas itu. "Aku bangga banget punya calon istri kayak kamu. Sudah jadi wanita karir di kampus keren, tapi masih mau pusing ngurusin duit receh. Jadi nanti kalau aku sudah jadi 'raja minyak', jangan lupa sama orang yang suka mengoreksi draft laporan kamu ini, ya?"

Niswah terkekeh, mencolek dagu Gunawan dengan manja. "Mana mungkin lupa. Kamu itu satu-satunya error paling parah dalam hidup aku, tapi sekaligus yang paling meaningful. Lagian, aku harus tahu semua relasi kamu. Siapa tahu nanti kita butuh asuransi pendidikan atau mobil baru buat anak kita, kan?"

Mereka tertawa pelan, menenun mimpi di bawah lampu temaram ruang makan.

*

Pernikahan itu berlangsung indah dalam kesederhanaan yang khidmat. Sumpah setia telah terucap, dan kehidupan berjalan harmonis. Namun, roda waktu membawa ujian yang berbeda. Memasuki tahun kedua, rumah tangga mereka yang tenang mulai diguncang oleh suara-suara sumbang dari luar. Topik tentang keturunan mulai menjadi hantu yang membayangi setiap pertemuan keluarga.

Sepulang dari acara keluarga besar, Niswah hanya terdiam di sofa. Ia menatap bingkai foto pernikahan mereka dengan tatapan kosong yang basah. Gunawan yang menyadari perubahan itu langsung duduk di sampingnya, merangkul bahu sang istri.

"Kenapa, Nis? Tante Rina ngeluarin 'jurus' apalagi tadi sampai kamu mendung begini? Cerita sama aku."

"Entahlah, Gun," suara Niswah bergetar, pertahanannya runtuh. "Aku cuma... capek. Capek ditanya 'kapan isi?' terus. Tadi Tante Maya bilang, kerja boleh sukses, tapi kodrat wanita itu cuma diuji dari anak. Sakit, Mas. Seolah-olah semua kerja keras aku di kantor nggak ada artinya kalau rahimku masih kosong."

Gunawan menarik Niswah ke dalam dekapan erat, seolah ingin menyerap semua kesedihan itu. "Astaga, mulut Tante-tante arisan itu memang perlu disekolahkan lagi, ya? Dengar, Nis. Kamu itu istri terbaik, wanita paling tangguh yang aku punya. Anak itu rezeki, bukan nilai ujian nasional. Kita sudah usaha, sudah doa. Kalau belum dikasih, berarti Tuhan lagi nyiapin skenario yang lebih keren."

Niswah melepas pelukan, menatap suaminya dengan sorot penuh kecemasan. "Tapi aku takut, Gun. Takut kalau aku nggak bisa kasih kamu keturunan. Kamu berhak punya anak. Aku tahu kamu diam-diam pengen punya anak laki-laki yang bisa kamu ajak main ke dealer mobil, kan?"

Gunawan tersenyum tipis, mengusap air mata di pipi Niswah dengan ibu jarinya. "Aku cuma berhak punya kamu. Itu poin utamanya. Kalau nanti Tuhan kasih bonus anak, aku bakal jadi ayah paling bahagia. Tapi walaupun nggak, aku bakal tetap genggam tangan kamu sampai kita sama-sama keriput. Kita fokus kerja, fokus bahagia, oke? Jangan kasih celah buat orang lain ngerusak kita."

Ia menatap mata Niswah dalam-dalam. "Kita harus kuat, Sayang. Karena sebentar lagi bakal banyak badai lain yang datang. Aku butuh benteng yang kokoh, dan benteng itu adalah kamu, partner terbaikku."

Malam itu, di tengah luka yang menganga akibat lisan manusia, mereka menyadari bahwa penantian ini adalah ujian kesabaran yang jauh lebih rumit daripada sekadar menghitung neraca keuangan. Dan mereka, berjanji untuk tidak akan pernah melepaskan genggaman.

li pun pulang, dan disusul sista, dan yang lainnya karena kantor tutup di jam 4 sore

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!