Xing Shenyuan, pangeran kesembilan Dinasti Bintang Agung, dikhianati oleh saudaranya sendiri. Tulang Surgawi miliknya dicabut, basis kultivasinya dihancurkan, dan dia dibuang ke Makam Leluhur yang terlarang untuk menjadi pelayan nisan seumur hidup. Di tengah keputusasaan, sebuah suara kuno bergema di jiwanya. Dengan sistem "Masuk Log" (Sign-In), setiap inci tanah pemakaman menjadi gudang harta karun ilahi.
"Masuk Log di Makam Kaisar Pertama, hadiah: Tubuh Kekacauan Primordial!"
"Masuk Log di Gundukan Pedang Dewa, hadiah: Niat Pedang Penghancur Cakrawala!"
Sepuluh ribu tahun berlalu dalam sekejap mata. Dunia luar telah berganti zaman, kekaisaran runtuh, dan dewa-dewa baru bermunculan , ketika musuh dari langit mencoba mengusik ketenangan makam leluhur nya, xing shenyuan bangkit dari debu hanya satu jentikan jari untuk meratakan seluruh galaksi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yuzuki chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 28 pecahnya langit Kekaisaran dan tabu sang pangeran
Debu dan abu menari di udara, menyelimuti Ibu Kota yang dulunya megah dalam selimut kelabu yang mencekik. Di tengah alun-alun istana, dua saudara berdiri berhadapan—satu bermandikan cahaya perak purba, yang lain terbungkus dalam kegelapan yang membusuk.
Xing Jian, yang kini lebih menyerupai manifestasi mimpi buruk daripada manusia, tertawa terbahak-bahak. Suaranya pecah, tumpang tindih dengan ribuan jeritan arwah yang terperangkap dalam tubuhnya. "Lihat dirimu, Shenyuan! Kau datang dengan cahaya kecil itu untuk melawan kegelapan yang abadi? Kau selalu menjadi si pemimpi, sementara aku adalah sang pelaksana!"
Shenyuan tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya menggerakkan tangan kanannya secara perlahan. Di bawah kakinya, pola bintang yang rumit mulai terbentuk, memancarkan resonansi yang menetralkan racun iblis di tanah sekitarnya.
Perhitungan Jiwa: Analisis Mata Batin
Shenyuan mengaktifkan Mata Batin Penembus Ilusi pada tingkat maksimal. Dunia di matanya berubah menjadi aliran data spiritual yang kompleks. Ia melihat bahwa Xing Jian bukan lagi penguasa tubuhnya sendiri. Tubuh Jian kini menjadi titik jangkar bagi entitas dari Alam Bawah.
Resonansi antara energi bintang Shenyuan dan kekosongan (void) Jian menciptakan gesekan dimensi yang sangat panas. Shenyuan menyadari bahwa jika ia menghantam Jian terlalu keras tanpa memutus koneksinya ke langit, ledakan energinya akan melenyapkan seluruh Ibu Kota.
"Xiaoyue," Shenyuan berbicara melalui transmisi jiwa. "Bawa orang-orang yang selamat ke gerbang timur. Jangan menoleh ke belakang. Pertempuran ini bukan lagi urusan manusia."
"Tapi Guru—"
"Pergilah! Ini adalah perintah terakhirku sebagai gurumu di ranah fana. Di sini, hanya ada dewa dan iblis yang bertarung."
Duel Saudara: Teknik Bintang vs. Bilah Kekosongan
Xing Jian menyerang lebih dulu. Ia melompat dengan kecepatan yang melampaui batas penglihatan manusia. Di tangannya, sebuah pedang besar yang terbentuk dari kristal hitam pekat—Bilah Pemakan Langit—terayun dengan kekuatan yang mampu membelah gunung.
CLANG!
Shenyuan menangkis serangan itu bukan dengan senjata, melainkan dengan Tangan Penghancur Bintang yang kini diselimuti api ungu Jiwa Baru Lahir. Benturan itu menciptakan gelombang kejut yang meruntuhkan dinding-dinding istana yang tersisa.
"Kau pikir Jiwa Baru Lahir sudah cukup?!" Jian meraung. Ia memutar pedangnya, melepaskan semburan api hitam. "Seni Iblis: Sembilan Gerbang Neraka!"
Sembilan lubang hitam muncul di sekitar Shenyuan, masing-masing memuntahkan rantai berduri yang bertujuan untuk mengikat jiwanya.
"Langkah Dimensi."
Shenyuan menghilang tepat saat rantai itu mengunci. Ia muncul kembali di atas Jian, lenteranya bersinar dengan intensitas yang membutakan.
"Lentera Abadi: Penghakiman Bintang Jatuh!"
Cahaya putih murni memadat menjadi tombak raksasa yang jatuh dari langit. Jian mengangkat tangan kirinya, menciptakan perisai dari asap hitam. Ledakan yang terjadi membuat tanah di bawah mereka amblas hingga sedalam sepuluh meter.
Infiltrasi Su Yan: Menghancurkan Altar
Di sisi lain istana, Su Yan bergerak seperti hantu di antara reruntuhan. Ia tidak terlibat dalam pertarungan langsung; tugasnya jauh lebih kritis. Ia harus menemukan Jantung Ritual yang menjadi sumber energi Jian.
Ia menemukan altar tersebut di bawah menara pengawas istana. Altar itu terbuat dari tulang manusia dan terus-menerus memompa energi dari bawah tanah.
> [Analisis Su Yan:]
> * Tipe: Segel Pemanggil Tingkat S.
> * Kelemahan: Membutuhkan aliran darah segar yang konstan.
> * Solusi: Racun spiritual "Pelenyap Esensi" yang diberikan Shenyuan.
>
Su Yan mengeluarkan botol kecil yang diberikan Shenyuan sebelum mereka berpisah. "Maafkan aku, Pangeran Pertama," bisiknya dingin. "Tapi kau bukan lagi bagian dari rencana masa depan Tuan-ku."
Ia menuangkan racun itu ke dalam kolam darah di bawah altar. Seketika, warna merah darah itu berubah menjadi abu-abu pucat. Energi yang mengalir ke atas menuju Jian mulai tersendat.
Login Tengah Pertempuran: Karunia Terakhir
Di tengah duel yang sengit, Shenyuan merasakan tubuhnya mulai lelah. Menghadapi entitas yang didukung oleh sumber energi eksternal adalah pertempuran atrisi yang berat.
> [Sistem Login Harian Makam Bintang]
> [Lokasi: Medan Perang Bencana (Pusat Kehancuran)]
> [Status: Siap untuk Check-in.]
> [Catatan: Tekanan dari 'Pelahap Bintang' memicu bonus login langka.]
>
"Login!" Shenyuan berseru dalam pikirannya saat ia menangkis serangkaian tebasan Jian.
> [Ding! Check-in berhasil!]
> [Selamat, Tuan mendapatkan: "Otoritas Kaisar Bintang" (Aura Penekan Iblis) dan "Pedang Patah Penghancur Kekosongan".]
> [Deskripsi Item:]
> * Otoritas Kaisar Bintang: Pasif. Meningkatkan kerusakan pada makhluk gelap sebesar 200% dan menurunkan pertahanan musuh di sekitar pengguna.
> * Pedang Patah Penghancur Kekosongan: Senjata sekali pakai. Pedang yang dibuat dari material inti bintang yang meledak. Hanya memiliki satu tebasan, namun tebasan tersebut dapat memotong hukum ruang dan waktu.
>
Shenyuan merasakan kekuatan baru mengalir ke lengannya. Di tangannya, sebuah gagang pedang tua dengan bilah yang hanya tersisa setengah muncul. Pedang itu tampak berkarat dan rapuh, namun auranya membuat udara di sekitarnya merintih ketakutan.
Klimaks: Tebasan yang Membelah Takdir
Xing Jian tiba-tiba berlutut, memegangi dadanya. "Darahku... mengapa sumber energiku mati?!" Ia menoleh ke arah menara, menyadari bahwa altarnya telah dicemari. "SU YAN! JALANG ITU!"
"Jangan salahkan dia, Kak," Shenyuan mendarat dengan tenang, pedang patah di tangan kanannya. "Dia hanya memilih pemenang yang tepat."
Jian menatap Shenyuan dengan kebencian murni. "Kau tidak akan menang! Jika aku tidak bisa memilikinya, tidak ada yang bisa!"
Jian mulai menggembungkan seluruh energinya. Ia berniat meledakkan dirinya bersama seluruh Ibu Kota untuk memberi makan "Pelahap Bintang" di atas sana. Tubuhnya mulai bersinar hitam-ungu, retakan cahaya muncul di kulitnya.
"Selesai."
Shenyuan mengangkat pedang patahnya. Ia tidak mengayunkannya dengan keras. Ia hanya melakukan satu gerakan vertikal yang sangat halus.
"Seni Rahasia Makam Bintang: Kepunahan Cahaya."
Dunia seolah berhenti sejenak. Suara angin hilang. Suara teriakan arwah lenyap.
Garis perak tipis melintas melewati tubuh Xing Jian dan terus naik ke langit, membelah awan hitam, dan memotong tangan raksasa "Pelahap Bintang" yang sedang turun.
SRET.
Tubuh Xing Jian terhenti. Cahaya destruktif di dalam dirinya padam seperti lilin yang ditiup. Setengah dari tubuhnya perlahan-lahan mulai berubah menjadi abu perak.
"Aku... seharusnya menjadi... raja..." bisik Jian. Matanya kembali normal sejenak, menatap Shenyuan dengan rasa tidak percaya dan penyesalan yang terlambat, sebelum seluruh eksistensinya terhapus dari dunia ini.
Penutup: Keheningan di Atas Reruntuhan
Dengan tewasnya Jian dan terputusnya tangan Sang Pelahap, lubang hitam di langit mulai menutup. Kabut iblis perlahan memudar, memperlihatkan kembali langit senja yang mulai menghitam secara alami.
Shenyuan berdiri sendirian di tengah alun-alun. Pedang patah di tangannya hancur menjadi debu. Lenteranya masih menyala redup, memberikan satu-satunya cahaya di tengah kegelapan total istana yang hancur.
Su Yan muncul dari balik bayangan, pakaiannya berlumuran debu namun matanya bersinar dengan kepuasan. Ia berlutut di hadapan Shenyuan. "Tuan, ritual telah dihentikan sepenuhnya. Pengawal Naga yang tersisa telah menyerah."
Shenyuan melihat ke arah singgasana yang kini tertimbun reruntuhan. Di sana, ayahnya—sang Kaisar—duduk terlemas di tangga, menatap putra bungsunya dengan ekspresi yang sulit diartikan: antara rasa syukur, ketakutan, dan rasa malu.
"Apakah ini yang kau inginkan, Shenyuan?" tanya Kaisar dengan suara serak. "Mahkota ini sekarang berlumuran darah saudaramu."
Shenyuan menatap ayahnya sejenak, lalu berbalik ke arah gerbang kota di mana matahari mulai terbit.
"Aku tidak pernah menginginkan mahkota kecilmu, Ayah," jawab Shenyuan tanpa menoleh. "Aku adalah Tuan dari Makam Bintang. Langit adalah wilayahku, bukan kursi kayu yang dilapisi emas itu."
Ia melangkah pergi, diikuti oleh Su Yan. Di kejauhan, Xiaoyue terlihat sedang membantu para warga, melambai ke arahnya dengan air mata di pipinya.
* Kultivasi: Jiwa Baru Lahir Tahap Awal (Puncak).
* Reputasi: Penyelamat Kekaisaran / Iblis Putih (Status: Legendaris).
* Item Baru: Inti Jiwa Xing Jian (Dapat digunakan untuk meningkatkan Panji Sepuluh Ribu Jiwa).
* Misi Selanjutnya: Kembali ke Makam Bintang untuk membuka Lantai Keempat.
Pertempuran besar telah usai, namun misteri