Naomi Allora mati membeku di tengah bencana cuaca ekstrem setelah dikeluarkan dari bunker oleh orang tua kandung dan tunangannya sendiri, dikorbankan demi anak angkat keluarga Elios, Viviane. Padahal Naomi adalah anak kandung yang pernah tertukar sejak kecil dan rela meninggalkan keluarga angkatnya demi kembali ke darah dagingnya, namun justru ditolak dan dibuang.
Diberi kesempatan kedua sebelum kiamat memusnahkan umat manusia, Naomi bangkit dengan ingatan penuh dan bantuan sistem. Kali ini, ia memilih keluarga angkat yang benar-benar mencintainya, mempersiapkan diri menghadapi bencana, mengumpulkan pengikut, dan membalas pengkhianatan. Dari kehancuran dunia lama, Naomi membangun peradaban baru sebagai sosok yang tak lagi bisa dikorbankan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yulianti Azis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mengingau
Selesai makan siang, Nyonya Arumi bangkit lebih dulu dari kursinya. Ia tersenyum hangat pada Naomi lalu mengulurkan tangan.
“Ayo, Mama antar kamu ke kamar,” katanya lembut.
Naomi sempat terdiam sepersekian detik, lalu mengangguk sambil tersenyum kecil. “Baik, Ma.”
Max ikut berdiri, menatap Naomi sekilas sebelum berkata santai, “Aku ikut sampai depan.”
Tuan Bastian hanya tertawa kecil. “Jangan ganggu adikmu terlalu lama. Dia pasti lelah.”
Mereka berjalan menyusuri lorong panjang mansion Atlas. Lampu kristal di langit-langit memantulkn cahaya yang terang, begitu kontras dengan suasana dingin yang masih tertinggal di hati Naomi dari kediaman Elios.
Begitu mereka berhenti di depan sebuah pintu berwarna putih gading, langkah Naomi terhenti.
Kamar itu itu adalah kamar yang ia tempati dari sejak ia kecil hingga berusia 19 tahun.
Nyonya Arumi membuka pintu perlahan. “Silakan masuk sayang.”
Naomi melangkah masuk dan napasnya tercekat. Semua masih sama seperti dulu.
Tempat tidur besar dengan seprai krem lembut, meja belajar di dekat jendela, rak buku yang tertata rapi, koleksi tas, sepaetu bahkan tirai tipis yang dulu selalu ia buka setiap pagi tak ada yang berubah. Seolah setahun kepergiannya tak pernah terjadi.
“Mama sengaja tidak mengubah apa pun,” ujar Nyonya Arumi pelan, seakan takut memecah suasana. “Kamar ini tidak pernah ditempati orang lain.”
Naomi menoleh cepat. “Mama …”
“Karena ini kamar kamu,” lanjut Nyonya Arumi tegas namun penuh kasih. “Dan akan selalu begitu.”
Hati Naomi terasa menghangat lalu perih bersamaan. Ia menunduk, menggenggam jemarinya sendiri agar air mata tak jatuh.
“Terima kasih,” katanya lirih.
Max bersandar di kusen pintu, menatap punggung Naomi. Sorot matanya sedikit menggelap, tapi bibirnya tetap melengkung tipis. Max lalu berbalik masuk ke kamarnya yang ada di sebelah.
Setelah Naomi dan Nyonya Arumi masuk lebih jauh, Naomi akhirnya bertanya, seolah tak ingin pertanyaan itu terus mengganjal di pikirannya.
“Ma … sejak kapan Selena sering datang ke sini?”
Nyonya Arumi mendengus pelan. “Sekitar setahun lalu. Sejak kamu … tidak tinggal di sini.”
Naomi mengangguk perlahan. Jadi benar dugaannya.
“Dia bahkan sempat dengan tidak tahu malunya ingin mengambil kamar ini,” lanjut Nyonya Arumi, nada suaranya berubah dingin. “Katanya kamar sebesar ini sayang kalau kosong.”
Naomi mengepalkan tangannya.
“Tentu saja Mama dan Papa langsung menolaknya,” sambung Nyonya Arumi tegas. “Tak ada seorang pun yang berhak menyentuh kamar ini selain kamu.”
Naomi tersenyum tipis. Dalam kehidupan pertamanya, Selena dan orang tuanya bukan hanya tamu tak tahu diri. Mereka adalah parasit. Pengkhianat. Bahkan bekerja sama dengan musuh keluarga Atlas demi harta.
Kali ini mereka tidak akan sempat melangkah sejauh itu.
“Kamu istirahatlah,” kata Nyonya Arumi lembut kembali. “Besok kamu mulai kuliah. Jangan memaksakan diri.”
Naomi mengangguk. “Baik, Ma.”
Setelah Nyonya Arumi keluar dan pintu tertutup, Naomi berdiri beberapa saat di tengah kamar. Lalu perlahan, ia berjalan ke tempat tidur dan duduk.
Kasurnya empuk sangat hangat dan nyaman.
Berbanding terbalik dengan kasur tipis dan keras di kediaman Elios, yang bahkan lebih mirip alas lantai daripada tempat tidur.
Naomi tertawa kecil getir. “Aku benar-benar bodoh dulu.”
Saat itulah suara yang sangat ia kenal terdengar di benaknya.
Ding!
Layar transparan muncul di hadapan matanya.
["Selamat, Tuan! Karena Anda telah menyelesaikan misi: Menghajar para pelayan yang menindas. Hadiah: Penguatan fisik total. Kekuatan tubuh meningkat signifikan. Kemampuan bela diri naik drastis."]
Mata Naomi berbinar.
“Dengan begini,” gumamnya pelan, sudut bibirnya terangkat. “Aku bahkan tak perlu latihan keras lagi.”
Ia membaringkan tubuhnya, merasakan kehangatan selimut menyelimuti dirinya. Pandangannya menerawang ke langit-langit kamar.
“Besok setelah masuk kuliah,” katanya santai, seolah berbicara pada diri sendiri, “kita mulai serius.”
Ia menghela napas. “Pertama, aku butuh tempat perlindungan. Tapi … di mana?”
Naomi memejamkan mata sejenak, lalu bertanya dalam hati, “Sila, apa kau bisa mendeteksi tempat yang cocok sebagai perlindungan dari badai salju nanti?”
Jawaban itu datang cepat.
["Tentu, Tuan. Sistem akan melakukan pemindaian lokasi."]
Naomi mengangguk puas. Rasa kantuk akhirnya menyerangnya, dan tak lama kemudian ia tertidur lelap.
Beberapa waktu berlalu. Pintu kamar terbuka perlahan tanpa suara.
Max masuk ke dalam kamar Naomi. Ia berhenti di samping tempat tidur, menatap wajah adiknya yang tertidur pulas. Wajah itu terlihat jauh lebih tenang dibandingkan sebelumnya.
Max tersenyum lembut. Ia mengulurkan tangan, mengusap pelan rambut Naomi.
“Dasar ceroboh,” gumamnya pelan.
Ia membenarkan selimut Naomi namun tiba-tiba.
Tangan Naomi bergerak cepat, menarik pergelangan tangan Max dan memeluknya erat.
“Dingin .…” gumam Naomi dalam tidur. “Aku kedinginan .…”
Max terkejut, tubuhnya menegang.
“Jangan … jangan buang aku .…” suara Naomi bergetar. “Aku akan jadi anak yang baik … jangan buang aku dari bunker … di luar sangat dingin ... aaku mohon ....”
Setetes air mata keluar dari mata Naomi yang masih tertutup itu.
Senyum Max menghilang. Ia menatap wajah Naomi dengan sorot mata terkejut dan bingung.
“Bunker?” bisiknya terkejut. “Apa maksudmu, Naomi?”
Namun Naomi hanya menggeliat sedikit, lalu napasnya kembali teratur. Pelukannya mengendur, dan wajahnya kembali tenang, seolah tak pernah mengucapkan apa pun.
Max menarik tangannya perlahan, ia mgusap air mata Naomi, lalu berdiri tegak. Dadanya terasa berat.
“Aku akan mencari tahu,” katanya lirih, penuh tekad. “Apa yang sebenarnya terjadi padamu di kediaman Elios.”
Ia menatap Naomi sekali lagi sebelum keluar kamar. “Kalau mereka menyiksamu, tdak satu pun dari mereka akan lolos.”
*
*
Di sisi lain, sebuah mobil sedan berhenti kasar di halaman kediaman keluarga Selena.
Pintu mobil terbuka, Selena turun dengan wajah merah padam. Tumitnya menghentak lantai marmer dengan kesal, tas mahal di tangannya nyaris dilempar begitu saja.
“Kurang ajar!” teriaknya penuh amarah.
Begitu masuk ke ruang keluarga, seorang wanita paruh baya yang sedang duduk santai sambil minum teh menoleh. Wajahnya tajam, riasannya rapi, itu adalah Shinta, ibu Selena. Sepupu dari nyonya Arumi.
“Kamu kenapa pulang dengan muka seperti itu?” tanya Shinta, alisnya terangkat. “Siapa yang menginjak ekormu? Waktu pergi kau begitu senang.”
Selena langsung duduk dengan kasar di sofa. “Aku diusir, Ma!”
Shinta terkejut. “Diusir? Diusir dari mana?”
“Dari kediaman Atlas!” suara Selena meninggi. “Dan semua itu gara-gara anak angkat itu!”
Shinta mengerutkan kening. “Anak angkat?” Ia terdiam sesaat, lalu bertanya pelan namun tajam, “Maksudmu, Naomi?”
Selena mendengus kesal. “Siapa lagi kalau bukan dia!”
Shinta meletakkan cangkir tehnya, wajahnya berubah serius. “Tunggu. Bukankah Naomi seharusnya berada di kediaman Elios? Bukankah keluarga itu sudah membuangnya?”
“Itu juga yang kupikir!” Selena berdiri, berjalan mondar-mandir. “Tapi ternyata dia sudah kembali ke mansion Atlas. Dan yang lebih menjijikkan—”
Selena menoleh tajam ke arah ibunya. “Mereka menyambutnya seperti putri yang hilang.”
Shinta terdiam. Jari-jarinya mengepal perlahan di atas lutut. “Jadi mereka mengusirmu?” gumamnya lirih.
Selena berhenti berjalan. “Iya. Max sendiri yang mengusirku. Dia menatapku seperti aku ini sampah. Hanya karena aku berkomentar sedikit soal perhatian mereka yang berlebihan pada Naomi.”
Shinta menarik napas dalam-dalam. Wajahnya kini gelap.
“Jadi anak itu benar-benar kembali,” katanya dingin. “Dan sepertinya posisinya masih sangat kuat di keluarga Atlas.”
Selena menggertakkan gigi. “Tidak adil, Ma. Seharusnya kamar itu milikku. Perhatian itu seharusnya untukku! Max milikku! Aku yang keluarga mereka.Tapi sejak Naomi muncul, aku seperti tidak ada apa-apanya!”
Shinta bangkit berdiri, melangkah mendekati putrinya. Ia mengangkat dagu Selena, memaksanya menatap lurus.
“Tenang,” katanya santai dan penuh perhitungan. “Selama dia masih anak angkat, posisinya tidak sekuat yang kamu kira.”
Selena menatap ibunya dengan mata berbinar penuh dendam. “Maksud Mama?”
Shinta tersenyum tipis. “Kalau dia kembali,” ujarnya dingin, “maka kita hanya perlu memastikan dia tidak bertahan lama.”
kedua orang tua dan Kaka Naomi suatu saat hancur dan akan menyesal telah memilih ular seperti Viviane itu
tp kek mana kira2 nnti reaksi max ya klo tau mobil yg baru di beli di rusak carlos hadeh apa g mikir tuh belakangnya naomi ada siapa 🙈🙈🙈
udh di bilang naomi bukan bodoh lagi ehhh masih cari gara2
batu nya sebesara pa ya 🤔🤔🤔
emng msti gtu kl ngsih pljran sm orng dungu....kl prlu,lmpar aja sklian sm orangnya....bkin ksel aja......
hiiiihhhhh.....pgn getok....