Intan Rasyid sudah terikat pertunangan, tak lama lagi akan melangsungkan pernikahan, tetapi hubungan dari hasil perjodohan itu tak lantas dapat menggeser sebuah nama terukir dalam sanubari selama sepuluh tahun lamanya. Intan mencintai dalam diam pria telah berpunya.
Sampai sosok pria sangat jauh dari kriterianya tiba-tiba hadir, membawa warna baru bagi kehidupan monoton, berhasil menjungkirbalikkan dunianya.
Hal yang semula ia kira sempurna ternyata memiliki banyak kekurangan, membuatnya gamang antara dua pilihan – memutuskan pertunangan yang berarti melibatkan dua keluarga besar, atau mempertimbangkan kegigihan pria tak mengenal lelah mengejar cintanya.
Pada akhirnya, siapa yang akan dipilih oleh Intan, sang tunangan atau malah pria teramat menyebalkan, menurutnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cublik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pelanggannya kah? : 26
“Aku bersedia, Sayang,” katanya terdengar pelan, selembut dia menarik napas dan menatap hangat wajah sang wanita.
‘Semoga keputusan yang kuambil ini memang terbaik teruntuk kami dan semua orang,’ ia telah memilih jalannya, mempertahankan hubungan pertunangan, dan berusaha mewujudkan keinginan seluruh anggota keluarga yakni pernikahannya bersama Kamal Nugraha.
Intan tersenyum tulus, kelopak matanya menyipit. “Nuha, biasakan jujur ya?”
“Aku usahakan, Intan.” Kamal menarik lembut telapak tangan yang menggenggam tali tas selempang. “Maafkan atas sikap tak bertanggung jawabku semalam, ya?”
“Iya.”
“Kau juga, bila ada sikap ataupun perkataanku tak berkenan dihatimu, harap langsung katakan, jangan dipendam. Paham, Intan?”
“Iya.” Ia mengangguk singkat, sesingkat jawabannya.
Sepasang kekasih yang sebelumnya berselisih paham, mencoba untuk berdamai dengan keadaan, kembali merajut asa, memupuk rasa percaya, berharap hubungan mereka berhasil sampai jenjang pernikahan.
‘Ya Tuhan, jikalau memang dia terbaik teruntuk hamba, permudah jalan kami menuju pernikahan. Apabila sebaliknya, semoga Engkau bersedia memberikan petunjuk ya rabb.’ Intan melirik jemari saling bertautan.
Daripada menginterogasi Kamal lebih dalam lagi, dia memilih diam, mengabaikan rasa mengganjal dalam hati. Pun enggan bertanya lebih lanjut tentang Lanira serta masalah adik sepupunya.
Kamal sendiri asik melihat burung putih terbang diatas permukaan air menangkap ikan kecil.
Kesunyian membawa rasa damai itu tak berlangsung lama, dering ponsel membuat sang pria melepaskan genggaman tangannya.
“Siapa?” Intan menatap biasa saja saat tunangannya ragu menerima panggilan entah dari siapa.
“Teman kampus,” katanya terdengar nada kurang meyakinkan di telinga si wanita.
“Kau ada janji dengan temanmu?”
Kamal mengangguk seraya tersenyum kecut. “Janji yang sudah dibatalkan dikarenakan lebih penting bertemu denganmu. Dia mengajak diskusi perihal tesis kami.”
Intan menarik sudut bibir, sorot matanya penuh pemakluman. “Temuilah. Tugas kalian lebih penting, nanti kan kita bisa ketemuan lagi.”
“Tidak.” Kamal menggeleng. “Aku mau menebus rasa bersalahku padamu. Yang lain bisa nanti-nanti saja.”
“Nuha … jangan buat aku merasa sungkan, dan seperti wanita manja tak mau mengerti keadaan pasangannya. Cepat temui temanmu itu! Aku masih di kota sampai esok hari.”
“Kau yakin tak mengapa?” Kamal mencari sorot keberatan, yang ditemuinya binar penuh pengertian.
Intan mengangguk singkat. “Pergilah. Aku masih ingin disini sambil menunggu Sabiya selesai kuliah.”
Kamal Nugraha terlihat berat hati, tapi tak cukup membuatnya bertahan di sana. Dia beranjak, mengelus lembut pucuk kepala wanitanya yang tertutup hijab. “Begitu urusanku selesai, aku langsung menghubungimu.”
“Aku tunggu.” Intan mendongak, masih dengan sorot mata penuh rasa sabar.
“Aku belikan minum dan makanan dulu ya?” tawarnya.
“Tak perlu. Jika haus atau lapar, aku bisa beli sendiri. Itu, disana ada restoran.” Jari telunjuknya menunjuk barisan ruko di seberang danau.
“Aku pergi dulu ya. Kalau ada apa-apa langsung hubungi! Semisal minta jemput, katakan saja.” Kamal tersenyum ragu, tidak terlihat lepas.
“Baik.” Intan masih mempertahankan raut wajah tenang, dan senyum hangatnya.
Pria tinggi tegap itu benar-benar berbalik badan, meninggalkan sang tunangan seorang diri ditemani beberapa pengunjung saja.
Intan Rasyid tidak menoleh ke belakang, menatap nanar danau sampai pandangannya memburam.
“Setidaknya aku telah berusaha, berjuang sampai garis akhir, batas telah kutentukan,” gumamnya pelan sekali.
“Tak apa terlihat bodoh, asal tidak ada penyesalan di kemudian hari.” Jemarinya naik ke pipi, menghapus buliran terjun bebas.
“Kamal Nugraha … semoga kau tak sedang berbohong, meskipun perasaanku mengatakan sebaliknya. Apapun itu, ku harap kau dapat menutup rapat. Jangan sampai ketahuan, berujung hal tak menyenangkan. Entah baik maupun buruk, takkan lagi aku peduli. Menghitung untung rugi, menjaga banyak hati,” lanjutnya yakin.
Intan bergeming, sebentar-sebentar mengelap air mata masih terus berderai. Mencoba menekan rasa kecewanya.
Hehehe …. dia mendengus, tertawa sumbang. “Kau benar-benar pergi, dan pada akhirnya aku tahu pasti dimana posisi diri ini dalam hidupmu.”
Intan mendongak menatap ranting bercabang banyak. “Kami seperti dahan memiliki beberapa cabang – terpenjara oleh cinta tak seharusnya, tak pada tempatnya.”
Gadis berhijab kuning langsat itu memejamkan mata, berusaha berdamai dengan diri sendiri.
“Apapun yang terjadi nanti, aku siap menghadapinya,” hembusan napasnya terdengar ringan.
Suara nyanyian burung menemani Intan melamun. Tak terasa hampir dua jam dia duduk sendirian, tidak beranjak.
Banyak hal telah dipikirkan dan putuskan. Intan kembali mengenang masa lalu, dimana dia lebih banyak menerima daripada mengutarakan keinginan hati.
Heuheuu … helaan napas panjang mengembalikan fokus Intan, dia melihat pergelangan tangan mengenakan jam. “Sudah waktunya menghampiri Sabiya.”
Intan memesan taksi online. Kali ini tidak perlu menunggu lama, cuma sepuluh menit sudah tiba di area danau.
***
Tepat pukul satu siang, Intan tengah menyusuri lantai tiga pusat perbelanjaan. Dia janjian dengan adiknya di area pujasera (food court).
Ketika baru saja keluar dari dalam lift, netranya menyipit melihat seseorang seperti dikenalnya. Intan tidak jadi langsung ke area jajanan serba ada, langkahnya mengikuti sepasang anak manusia beda jenis.
Intan layaknya penguntit, ekspresinya berubah-ubah, dari mengernyitkan dahi, mata menyipit, sampai bibir mencebik. Dia menjaga jarak agar tidak dipergoki.
“Apa wanita sangat cantik itu salah satu pelanggannya?” gumamnya lirih.
Entah mengapa dadanya terasa panas. Terlebih melihat tangan kekar merangkul pundak ramping. “Pantas dia menghilang macam ditelan bumi, ternyata sedang bermesraan dengan wanita lain. Dasar Musang!”
Tak lagi dapat menahan sesak di dada, dan matanya juga terasa panas, Intan berbalik badan, meninggalkan Anggara Pangestu yang sedang asik menggoda wanita cantik bak boneka barbie.
***
“Kakak dari mana saja? Tadi katanya sudah sampai, aku cari nggak ada,” keluh Sabiya, dia sudah duduk di kursi meja persegi.
“Habis shalat tiba-tiba perutku sedikit tak nyaman. Jadinya berdiam dulu di kamar mandi.” Intan meluruhkan bokong di kursi bahan fiber.
“Oh ….” Sabiya memperhatikan raut wajah kakaknya. “Kak Intan lagi kesal, ya?”
“Tidak. Cuma kepanasan saja, cuaca hari ini pengab, buat sesak napas,” dustanya.
Sabiya menoleh ke pendingin ruangan pada plafon, jelas berfungsi dengan baik. Dia sendiri sedikit kedinginan. “Apa ada hal yang buat kakak emosi?
‘Astaghfirullah,’ dalam hati dia beristighfar, berusaha sabar dan meredakan sesuatu yang dirinya sendiri sulit mendeskripsikan.
“Tak ada, Biya. Kau sudah pesan menu belum?” Intan mengalihkan perhatian adiknya.
“Sudah. Aku pesan satu porsi nasi ayam hainan, lalu seporsi soto babat. Minumnya es lemon tea dan jus Nanas,” ia menyebutnya menu yang sudah dibayar.
Intan mengangguk, lalu mengeluarkan ponsel dari dalam tas, memeriksa aplikasi hijau – tak ada satupun pesan atau panggilan dari Kamal Nugraha. Padahal pria itu berjanji mau mengabari.
"Tadi aku lihat bang Kamal jemput Rania dan Lanira. Aneh betul dia itu … sudah tiga hari berturut-turut tak pernah absen jemput mereka. Malah bang Fatan _”
“Coba ulangi kau bilang apa tadi, Sabiya? Kamal di kampus kalian, benarkah?”
.
.
Bersambung.
aku mewekkkk part ini😭😭😭😭😭
gak tega intan disakitin
apa tidak terbalik?
secara Lanira putrinya Wahyuni, kakak dari ibunya Intan (Mutia)
serasa kurang mlu tiap baca 🤣🤣