Kayana Ardhanareswari adalah mahasiswi paling populer di kampus—cantik, cerdas, dan kaya raya—namun menyimpan luka karena keluarganya yang broken home. Hidupnya berubah saat ia tertarik pada Bima Wijaya, mahasiswa pendiam penerima beasiswa KIP-Kuliah yang tak pernah memandangnya seperti pria lain.
Di balik sikap cuek Bima, Kay menemukan ketulusan, kerja keras, dan perasaan yang diam-diam tumbuh sejak lama. Namun hubungan mereka diuji oleh perbedaan status sosial, tekanan keluarga, kehadiran pihak ketiga, serta ancaman hilangnya beasiswa Bima.
Di tengah badai gosip dan intrik, Kay dan Bima harus memilih: menyerah pada keadaan, atau memperjuangkan cinta yang tak sempurna, namun tulus apa adanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bp. Juenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Awal Baru
Minggu pagi di kota Jogja selalu terasa istimewa. Udara segar setelah hujan semalam, jalanan yang lebih sepi dari biasanya, dan sinar matahari yang masuk lembut melalui celah-celah gedung.
Di sebuah kos sederhana di daerah Demak, Bima duduk di dipan sempitnya, menatap ponsel dengan ekspresi antara bingung dan geli.
Pesan dari Kay masuk lima menit lalu: "Bim, gue udah di depan. Buka pintu dong."
Di depan? Bima bangun, membuka pintu kamarnya, lalu berjalan ke gerbang kos. Benar saja, Kay berdiri di sana dengan senyum lebar, rambut dikuncir dua gaya anak SD, mengenakan kaos oblong longgar dan celana jeans pendek. Di tangannya, ia membawa dua bungkus plastik—satu berisi makanan, satu lagi gorengan.
"Pagi!" sapa Kay ceria.
Bima mengedipkan mata beberapa kali, masih belum percaya. "Jam setengah tujuh pagi, Minggu."
"Iya. Gue tahu. Makanya gue bawain sarapan." Kay mengangkat bungkusan plastik itu. "Nasi kuning buat lo. Sama kopi."
Bima menerima bungkusan itu, masih dengan ekspresi datar. "Lo ke sini naik apa?"
"Grab. Mobil gue lagi di service."
"Jauh."
"Iya."
"Lo kan nggak tahu alamat gue yang baru."
Kay tersenyum misterius. "Gue punya cara sendiri."
Bima menghela napas. Ia membuka gerbang, membiarkan Kay masuk. Di dalam, Kay melihat sekeliling kos dengan rasa ingin tahu.
Kos Bima sekarang lebih sederhana dari yang sebelumnya—lorong sempit dengan tiga pintu kamar, kamar mandi bersama di ujung, dan jemuran baju di tali yang membentang di atas kepala.
"Kamar lo yang mana?"
Bima menunjuk pintu paling ujung. Kay berjalan ke sana, membuka pintu tanpa sungkan, lalu masuk. Bima mengikutinya dari belakang, masih dengan nasi kuning di tangan.
Kamar Bima hanya 2x3 meter. Satu dipan tipis dengan sprei polos, satu meja belajar kayu lapuk yang penuh dengan tumpukan buku, laptop usang yang selalu menyala, dan satu lemari kecil di pojok.
Dindingnya penuh dengan sketsa-sketsa yang ditempel rapi—pemandangan, potret orang, dan beberapa gambar Kay yang baru-baru ini ia selesaikan.
"Wah, lukisan gue makin banyak," komentar Kay, berjalan mendekati dinding. "Ini yang baru, ya? Waktu gue marah itu?"
Bima mengangguk, meletakkan nasi kuning di meja. "Iya."
"Bagus banget. Lo berhasil nangkep ekspresi 'gue lagi kesel setengah mati sama lo'."
"Emang begitu."
Kay menoleh, cemberut. "Lo tahu gitu, kenapa nggak cepet minta maaf?"
Bima duduk di dipan, mulai membuka bungkus nasi kuning. "Gue minta maafnya lewat gambar."
"Minta maaf lewat gambar?"
"Iya. Lo kan suka."
Kay menggeleng-geleng, tapi tersenyum. Ia duduk di lantai—karena tidak ada kursi lain—bersandar pada dinding di dekat dipan. "Bima, lo tuh unik."
"Maksudnya?"
"Orang kalau minta maaf biasanya bilang, 'maaf'. Atau kirim chat. Atau kasih bunga. Lo? Gambar."
Bima mengunyah nasinya pelan, lalu menjawab, "Bunga layu. Gambar abadi."
Kay terdiam. Jawaban sederhana itu lagi-lagi membuatnya tersentak. Bima punya cara sendiri dalam segala hal—cara yang tidak biasa, tapi selalu tepat sasaran.
"Boleh gue minta satu?" tanya Kay, menunjuk gambar dirinya yang sedang marah.
Bima mengangguk. "Nanti. Belum fix."
"Lo selalu bilang gitu."
"Karena emang belum fix."
Kay tertawa kecil. "Oke, seniman. Sekarang gue mau liat lo sarapan. Udah dari tadi gue laper."
Bima menatap Kay. "Lo belum sarapan?"
"Enggak. Gue beli buat berdua."
Bima menggeser nasi kuningnya ke tengah, memberi ruang. "Sini."
Kay bangkit, duduk di lantai lebih dekat ke dipan. Bima menyobek sendok plastik, memberikan satu pada Kay. Mereka makan berdua dalam diam—tapi bukan diam canggung, melainkan diam nyaman.
"Mikirin apa?" tanya Bima tiba-tiba.
Kay menoleh. "Lo bisa baca pikiran?"
"Wajah lo kelihatan mikir sesuatu."
Kay tersenyum. "Gue cuma mikir... aneh ya."
"Apa?"
"Ini. Kita. Gue yang biasa sarapan di kafe, sekarang duduk di lantai kos lo, makan nasi kuning bungkusan. Dan gue nggak ngerasa beda."
Bima menatapnya sebentar, lalu kembali ke nasinya. "Emang nggak beda."
"Maksud lo?"
"Kafe atau kos, yang penting makannya enak. Dan lo."
"Dan gue?"
Bima mengunyah pelan, seolah berpikir apakah akan melanjutkan. Akhirnya ia berkata, "Dan lo ada di sini."
Kay merasakan pipinya memanas. Bima mungkin tidak romantis dalam arti biasa, tapi kata-kata sederhananya selalu berhasil membuatnya meleleh.
---
Seharian itu Kay menghabiskan waktu di kos Bima. Ia membantu membereskan buku-buku yang berantakan, melipat baju Bima yang sudah kering di jemuran, dan sesekali menggoda Bima yang sedang mengerjakan tugas coding.
"Bima, lo bisa nggak sih ngomong 'gue sayang lo'?" tiba-tiba Kay bertanya di sela-sela aktivitas.
Bima berhenti mengetik, menoleh dengan alis terangkat. "Apa?"
"Itu. Gue sayang lo. Tiga kata. Lo bisa ngomong?"
Bima terdiam beberapa saat. "Buat apa?"
"Buat... gue denger. Biar gue tahu."
"Lo tahu dari tindakan gue."
"Tapi kadang perempuan butuh denger, Bim."
Bima menatapnya lama. Kay bisa melihat pergulatan di matanya—antara keinginan menyenangkan Kay dan ketidakmampuan alami untuk mengekspresikan perasaan dengan kata-kata.
"Gue..." Bima membuka mulut, lalu menutupnya. Ia menghela napas. "Ini susah."
Kay tersenyum lembut. "Iya, gue tahu. Tapi coba."
Bima mengambil napas dalam. "Gue... say—" Ia berhenti, menggeleng. "Nggak bisa."
Kay tertawa. Bukan tertawa mengejek, tapi tertawa gemas. "Bima, lo kaya lagi ujian praktek."
"Ini lebih susah dari ujian."
Kay berdiri, berjalan mendekat, lalu duduk di samping Bima di dipan. "Coba lagi. Pelan-pelan."
Bima menatapnya. Matanya yang dalam itu kali ini tidak kosong—ada kehangatan, ada rasa, ada ribuan hal yang tak bisa ia ucapkan.
Ia mengangkat tangan, menyentuh wajah Kay dengan lembut. Ibu jarinya mengusap pipi Kay, lalu turun ke dagu. Tanpa berkata apa-apa, ia menarik Kay ke dalam pelukan.
Kay terkejut, tapi kemudian meleleh dalam pelukan itu. Bima memeluknya erat, kepalanya menunduk di puncak kepala Kay.
"Ini," bisik Bima di rambut Kay. "Gue nggak bisa ngomong, tapi gue bisa ngerasain. Lo tahu?"
Kay mengangguk dalam pelukan. Air matanya jatuh—bukan sedih, tapi haru. Bima mungkin tidak bisa mengatakan tiga kata itu, tapi pelukannya berbicara lebih dari seribu kata.
"Gue tahu, Bim," bisiknya balik. "Gue tahu."
Mereka berpelukan cukup lama. Suara klakson motor di luar, suara orang lalu lalang di lorong kos, suara TV tetangga yang nyaring—semuanya tidak berarti. Hanya mereka berdua, dalam pelukan yang menghangatkan.
---
Sore harinya, Bima mengantar Kay pulang naik motor ojeknya. Kay duduk di belakang, memegang jaket Bima dengan erat. Angin sore menerpa wajah mereka.
"Bim," kata Kay di sela angin.
"Hm?"
"Makasih udah mau buka diri."
Bima tidak menjawab. Tapi Kay merasakan tangannya yang memegang jaket Bima ditepuk pelan oleh tangan Bima yang satu—isyarat kecil yang berarti 'sama-sama'.
Sesampainya di rumah Kay, Bima menurunkan Kay di depan pagar. Kay turun, melepas helm, lalu menatap Bima.
"Lo mau masuk? Kenalan sama Bi Inem?" tawarnya.
Bima menggeleng. "Besok. Gue ada orderan malem."
Kay mengangguk maklum. "Hati-hati, ya."
"Iya."
Bima menyalakan motornya, siap pergi. Tapi sebelum melaju, ia menoleh.
"Kay."
"Apa?"
Bima terdiam sebentar, lalu berkata pelan, "Gue juga sayang lo."
Sebelum Kay sempat bereaksi, Bima sudah melajukan motornya pergi. Kay berdiri terpaku di depan pagar, mulut terbuka, jantung berdebar kencang.
"Dia bilang..." gumamnya. "Dia bilang!"
Kay melompat-lompat kecil di tempat, menarik perhatian satpam kompleks yang hanya bisa menggeleng-geleng heran.
Malam itu, Kay mengirim pesan ke Bima: "Lo bilang! Lo bilang sayang! Gue rekam di hati!"
Beberapa menit kemudian, Bima membalas: "Lo nggak salah denger?"
Kay: "Enggak! Jelas-jelas!"
Bima: "Berarti lo emang lagi halu."
Kay: "BIMA!!!"
Bima: "Iya iya. Buktinya lo nggak usah diulang."
Kay tersenyum lebar di balik layar ponselnya. Cuek, tapi perhatian. Diam-diam, tapi sayang. Itulah Bima.
---
Keesokan harinya, Kay datang lagi ke kos Bima. Kali ini ia membawa bekal masakan Bi Inem—ayam geprek dan tumis kangkung. Bima yang baru pulang kuliah langsung disambut aroma masakan rumah.
"Ini dari Bi Inem," kata Kay, membuka wadah makanan. "Katanya, 'masa pacar Nak Kay kurus-kurus gitu. Kasian.'"
Bima menatap makanan itu, lalu ke Kay. "Lo bilang pacar?"
Kay mengerjapkan mata. "Iya. Lo kan pacar gue."
Bima mengangkat bahu. "Oh."
"Kenapa? Mau nyangkal?"
"Enggak. Cuma... aneh."
"Aneh apanya?"
Bima mengambil sendok, mulai makan. "Gue nggak pernah punya pacar sebelumnya. Jadi nggak tahu harus ngapain."
Kay duduk di sampingnya, dagu bertumpu pada tangan. "Lo nggak usah ngapa-ngapain. Jadi diri lo sendiri aja."
"Diri gue cuek."
"Iya. Dan gue suka yang cuek."
Bima menatapnya dengan pandangan tidak percaya. "Normalnya orang suka yang romantis."
"Gue bukan orang normal." Kay tersenyum lebar. "Gue suka lo yang gambar, yang ngomong dikit tapi dalem, yang bisa liat kesedihan di mata gue. Lo nggak usah berubah, Bim."
Bima terdiam. Lalu ia berkata pelan, "Gue mau berubah sedikit."
"Berubah jadi apa?"
"Jadi... lebih ekspresif. Biar lo nggak sedih."
Kay terharu. Ia meraih tangan Bima, menggenggamnya. "Lo udah cukup, Bim. Lebih dari cukup."
Malam itu, untuk pertama kalinya, Bima yang mengirim pesan duluan sebelum tidur: "Makasih udah dateng. Makasih udah masakin. Makasih udah... nerima gue."
Kay membalas: "Makasih udah jadi lo. Sekarang tidur. Jangan lupa minum vitamin."
Bima: "Iya, Bu."
Kay tertawa kecil. Awal yang baru ini mungkin tidak sempurna. Tapi bersama Bima, sempurna bukanlah tujuan. Yang penting adalah proses—saling belajar, saling memahami, saling menerima.
---
Di kamar kosnya yang sempit, Bima menatap langit-langit dengan tangan di belakang kepala. Pikirannya melayang pada Kay—pada senyumnya, pada tawanya, pada cara ia menerima kekurangan Bima tanpa protes.
Ia bangkit, mengambil pensil dan buku sketsa. Dengan cepat ia menggambar—Kay sedang makan nasi kuning di lantai, dengan ekspresi bahagia yang tulus.
Di bawah gambar itu, ia menulis:
"Ini pertama kalinya gue ngerasa punya rumah. Bukan tempat, tapi orang."
Bima tersenyum, lalu memejamkan mata. Untuk pertama kalinya dalam waktu lama, ia tidur dengan damai.