Valentine dan Valerie, si Twins V, telah tumbuh menjadi dua wanita dewasa dengan kepribadian unik yang selalu membuat orang-orang di sekitar mereka geleng-geleng kepala. Kepolosan, keberanian, dan cara berpikir mereka yang di luar nalar kerap menghadirkan tawa sekaligus kekacauan, terutama bagi kedua orang tua mereka.
Di tengah candaan tentang keinginan cepat menikah, mimpi-mimpi aneh, dan celetukan tak terduga, Twins V terus membawa kejutan baru. Lalu, keseruan dan kekacauan apa lagi yang akan mereka ciptakan selanjutnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eireyynezkim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Manusia picik
Di ruangan yang lain nampak Mahessa dan Altezza sudah menunggu orang yang membuat kerisauan di hati Ale dan Arlo. Mereka berdua ingin tahu pengusaha mana yang di maksud.
"Sepertinya di tempat para wanita sedang melakukan tugasnya masing masing," ucap Altezza pada Mahess.
"Apa maksud lo?"
"Bersenang senang, lihatlah itu."
Altezza menunjuk kamera CCTV yang jelas tersambung dengan ponsel miliknya yang sejak tadi dia terus memantaunya. Mahessa mengangguk mengerti dan tak lama pintu ruangan itu terbuka dan nampaklah suami Savitri yang ternyata Mulyono masuk ke dalam dengan wajah sombongnya. Tapi saat di dalam dia melihat ada Altezza wajahnya sedikit kikuk karena tak menyangka ada Altezza ada di sana juga. Tapi sekilas dia ingat jika Mahessa dan Altezza sangat dekat, mungkin dengan dia mendekati Mahessa dia bisa dekat juga dengan Altezza.
"Ah, aku tidak tahu jika tuan Altezza ada di sini juga. Padahal aku tadi hanya membuat janji dengan tuan Mahessa," ucap Mulyono dengan nada ingin bercanda.
Tapi Altezza hanya menganggukkan kepalanya sekilas dan tak menggubris Muloyono yang langsung duduk di depan Mahessa dan juga Altezza. Tapi mereka tak peduli dengan itu dan sibuk dengan ponsel mereka yang malah membuat Mulyono geram dengan mereka berdua tapi dia berusaha menahannya dan mengingat keinginan sang putri yang ingin bersanding dengan Arlo putra dari Mahessa.
Mahessa yang sudah selesai mempermainkan Mulyono menaruh ponselnya di saku jaketnya. Dia menatap Mulyono penuh rasa penasaran meskipun dia sudah tahu tapi dia berpura pura tak tahu menahu tentang maksud Mulyono ingin bertemu dengannya.
"Ada tujuan apa lo cari gue sampai lo harus meneror asisten gue yang sedang bekerja?" tanya Mahessa langsung.
Mulyono pun nampak salah tingkah dan bingung harus seperti apa saat ini di tambah ternyata Mahessa lebih menakutkan aslinya dari pada yang pernah dia tahu.
"Langsung saja ke intinya, gue nggak punya banyak waktu," ucap Mahessa berbohong.
Altezza mencebikkan bibirnya samar saat mendengar perkataan Mahessa tentang dirinya yang tengah sibuk itu. Padahal kenyataannya yang selalu sibuk adalah asistennya dan juga anak buah mereka.
"Aku ingin melamar Arlo agar dia bisa menikah dengan putriku. Aku jamin Arlo akan bahyagia bersama putriku, dia adalah model yang berbakat dan juga pintar. Dia sering membantuku memasarkan berlian dan permata milik perusahaanku dan itu selalu laku keras jika dia yang menjadi modelnya."
Mulyono terus memuji Rubi dengan bangganya tanpa dia tahu jika Mahessa dan Altezza sudah mengantongi semua informasi tentang anak yang dia tawarkan untuk Arlo.
"Tapi Arlo sudah mempunyai tunangan sedari kecil, dan sebentar lagi mereka akan menikah." jawab Mahessa langsung.
Mulyono sempat terdiam tapi dia akan berusaha mendapatkan putra Mahessa bagaimanapun caranya.
"Apa dia nggak bosan tunangan dari kecil dan sekarang sudah pasti wajah perempuannya juga akan berbeda. Dan lagi kenapa harus di biasakan tunangan dari kecil? Sedangkan besarnya mereka punya pilihannya sendiri ketika sudah dewasa. Dan apa mungkin wajahnya juga akan bagus seperti anak kecil dulu," kata Mulyono dengan wajah yang meyakinkan.
Altezza menaikkan sebelah alisnya mendengar pendapat tentang tunangan masa kecil Arlo begitu juga dengan Mahessa yang menatap aneh ke arah Mulyono.
"Lo bahkan nggak tahu gimana wajah tunangan Arlo dan juga keluarganya jadi bagaimana bisa lo nyimpulin seperti itu? Aneh banget pikiran lo."
Sindir Altezza pada Mulyono.
Mulyono nampak gelagapan di serang oleh Altezza saat ini, dia tak menyangka jika Altezza yang akan langsung menjawab argumennya itu.
"Tapi itu memang benar kan, sekarang mereka sudah dewasa Arlo bisa menentukan pilihannya sendiri bukan dengan pilihan orang tuanya."
Mulyono terus keukeuh dengan pendapatnya dan itu membuat Altezza kesal karena tanpa sadar Mulyono malah menghina Ale putrinya.
Tit....
Di layar monitor yang ada di sana nampak foto pertunangan Arlo dan Ale yang terlihat memang sederhana dan itu membuat Mulyono terkekeh.
"Kan benar apa kataku, gadis itu sangat sederhana. Di lihat saja dari acaranya sudah jelas gadis itu cuma orang biasa. Ayolah tuan Mahessa, tuan Altezza bukankah cinta monyet itu ada, untuk apa di pertahankan dengan gadis yang tak punya apa apa seperti itu," ejek Mulyono santai.
Dia bahkan sudah duduk dengan pongah dan berlaku sok jadi orang paling kaya di sana. Tapi bukan Altezza dan Mahessa namanya jika tak bisa membalas apa yang di lontarkan Mulyono sejak tadi.
"Tapi bagaimana jika gadis jelek dan sederhana yang lo tadi malah anak orang yang paling kaya di negara ini dan merupakan seorang penguasa? Lagian mana mungkin gue biarin anak gue berhubungan sama anak orang sembarangan dan belum jelas siapa dia?" sahut Mahessa lagi.
"Jadi maksud kamu anakku bukan anak yang jelas? Apa tuan Mahessa tidak tahu aku, penguasa berlian dan juga permata paling terkenal di kota ini?"
Mulyono mulai terlihat meninggikan suaranya karena merasa tersindir dengan perkataan Mahessa.
Sementara Mahessa tersenyum tipis ke arah Mulyono yang sudah nampak emosi karena pancingannya tadi.
"Gue nggak bilang soal anak lo, tapi sudah jelas bukan kalau dengan begini gue nggak bisa nerima tawaran atau lamaran lo karena sudah jelas Arlo sudah mempunyai pilihannya sendiri dan gue nggak akan maksa anak gue untuk ikut kemauan gue meskipun itu untuk urusan bisnis!" jawab Mahessa tegas.
"Cuih, apa bagusnya perempuan itu jika di bandingkan putri ku yang pintar. Paling dia anak orang miskin dan hanya numpang tenar saja pada Arlo, atau kalau tidak dia sudah pasti menyerahkan harga dirinya buat di nikmati oleh Arlo lebih dahulu."
Jleb.....
Sebuah pisau melesat dan menancap di lengan Mulyono dengan tepat sasaran dan dari lengan Mulyono keluar cairan kenthal berwarna merah.
"Apa apaan ini tuan Atezza? Kenapa anda arogan sekali??" teriak Mulyono keras.
Mulyono sudah berdiri serta menatap Altezza tajam, dia sudah memegangi lengannya yang terus mengucur cairan segar itu.
"Bukan gue yang arogan tapi lo yang terlalu kurang ajar nghina orang dan ngatain orang sembarangan. Apa lo pikir semua gadis akan sama kaya anak lo yang bisa di perjual belikan demi perusahaan lo bisa maju gitu? Anak gue tunangan Arlo nggak sama kayak anak gadis lo yang udah sering di pakai banyak orang. Dan apa tadi anak lo pintar? Pintar ngegoda orang?" ejek Altezza pada Mulyono.
Mulyono tertegun dengan apa yang dia dengar, dia mencerna baik baik apa yang baru saja Altezza lontarkan padanya.
Satu kata yang terngiang di benaknya yaitu kata "Anak Gadis". Dan sesaat kemudian otaknya baru bisa terhubung dan matanya terbelalak, bahkan badannya sudhah terhuyung ke belakang karena dia syok dengan apa yang ada di pikirannya.
Sementara Altezza sudah menatapnya datar dan dengan wajah yang dingin.
"Apa yang ada di pikiran lo itu benar, Ale tunangan Arlo, gadis yang lo hina sejak tadi adalah salah satu anak kembar gue yang sejak kecil sudah di tandai Arlo jadi miliknya. Jadi lo nggak usah khawatir jika Arlo akan mendapatkan gadis yang murah dan sederhana. Karena sudah di pastikan jika apa yang di kenakan Ale putriku bahkan bisa membeli semua perusahaan yang kamu miliki!!!"
Altezza berdiri dan merapikan baju yang dia pakai, dia memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya dan berjalan memutari Mulyono yang nampak ketakutan saat ini. Mulyono tak menyangka jika dia malah akan berhadapan dengan Altezza saat ini.
"Jadi menurutmu, masih tidak pantaskah anak gue jadi tunangan Arlo?" tanya Altezza sambil menatap tajam Mulyono.
Mulyono menggeleng pelan dan tak bisa bicara karena dia merasa bibirnya kelu dan suaranya seketika menguar begitu saja karena takut.
"Kayaknya gue bakal bermain sama lo lebih dari ini karena nggak cuma berani hina putri gue, tapi lo udah merusak perkembangan dunia berlian dengan menyelundupkan berlian dan permata curian serta ilegal. Dan lo juga terlibat dalam perdagangan manusia bahkan lo hampir saja melibatkan dunia bawah yang gue naungi demi ambisi lo itu!!"
Deg....a
Mulyono terkejut karena semua kejahatannya terbongkar dengan cepat. Niat hati dia ingin meraih keuntungan tapi malah dia yang masuk ke dalam permainan Mahessa dan Altezza kali ini.
"Ck, ternyata lo emang bodoh, mana mungkin gue bakal setuju dengan orang baru yang tiba tiba ngeyel buat bertemu dan ternyata ingin meminta anak gue buat nikah sama anak lo. Gue bukan bocah kemarin sore yang tak punya persiapan apapun. Apa lo pikir lo bisa dengan mudah buat nipu gue?" ejek Mahessa pada Mulyono.
Mulyono kemudian teringat dengan anak dan istrinya yang sedang berada di lantai atas dan sedang mengadakan arisan bersama Mischa istri Mahessa.
Otak Mulyono mulai berpikir, jika Altezza ada di sini berarti Zurra dan anak perempuannya itu pasti sedang di sana.
Mulyono akan berbalik tapi dia terlambat karena anggota Altezza sudah berdiri di sana dan berjejer dengan rapi.
"Tidak, biarkan aku pergi. Aku ingin menemui istriku dan anakku. Aku akan mengajak mereka pergi dan menjauh dari kalian, aku janji tidak akan mengganggu kalian lagi. Jadi tolong biarkan aku pergi, aku minta maaf untuk semua yang aku katakan tadi kepada kalian, karena aku tidak tahu jika gadis itu adalah putri tuan ALtezza," ucap Mulyono mencoba untuk bernego siasi.
Altezza menaikkan sebelah alisnya mendengar perkataan Mulyono yang terdengar konyol baginya.
"Jadi apa lo pikir kalau dia bukan anak gue lo bisa hina dia sepuasnya? Gitu kah?" tanya Altezza dingin.
"Apa jika orang itu ada di bawah lo, terus lo bisa seenak jidat menghina mereka??? Iya?" bentak Altezza pada Mulyono.
Mulyono nampak terdiam di tempatnya tak berani menjawab atau menyanggah apa yang di katakan Altezza kepadanya.
"Ck, manusia picik seperti lo emang nggak pantas buat di ampuni, tapi gue mau lo lihat apa yang akan di lakuin pada anak dan istri sombong lo itu di sana!!!"
To be continued...