NovelToon NovelToon
Aku Anak Yang Kau Jual

Aku Anak Yang Kau Jual

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Kembar / Crazy Rich/Konglomerat / Aliansi Pernikahan / Balas Dendam
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Rmauli

Bagaimana rasa nya tak mendapatkan kasih sayang dari orangtua sedari kecil, selalu di bedakan dengan saudari kembar nya yang gemilang namun pada akhir nya ia di paksa menikah sebagai penebusan hutang keluarga nya. Hal menyakitkan itulah yang di rasakan oleh Aira.

×××××××

"Jaminan? Ayah menjualku? Ayah menjual anak kandung Ayah sendiri hanya untuk menutupi hutang-hutang konyol itu?"

"Jangan sebut itu menjual!" teriak Ratna, berdiri dari kursinya.

"Ini adalah pengorbanan! Kau seharusnya bersyukur. Aristhide itu kaya raya, tampan, dan berkuasa. Banyak wanita di luar sana yang rela merangkak hanya untuk mendapatkan perhatiannya. Kau hanya perlu tinggal di sana, melayaninya, dan memastikan dia puas dengan kesepakatan ini."

Penasaran bagaimana perjalanan Aira, baca di sini!!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rmauli, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mahkota yang Tak Terlihat

Tiga bulan setelah runtuhnya bunker Oswald di Bogor, dunia seolah memberikan gencatan senjata bagi Aira dan Aristhide. Mereka memutuskan untuk menjauh sejenak dari hiruk-pikuk Jakarta dan menetap di sebuah vila minimalis di tebing Uluwatu, Bali. Di sini, satu-satunya suara yang membangunkan mereka adalah deburan ombak Samudra Hindia yang menghantam karang, bukan alarm sistem keamanan atau dering telepon darurat.

Perut Aira kini mulai menonjol, sebuah gundukan kecil yang menjadi simbol harapan baru di tengah sejarah mereka yang kelam. Pagi itu, ia berdiri di balkon, mengenakan gaun linen putih tipis. Sinar matahari pagi menyinari wajahnya, memberikan rona kesehatan yang selama ini hilang.

Aristhide berjalan dari belakang, melingkarkan lengannya di pinggang Aira dan meletakkan tangannya di atas perut sang istri. "Dia menendang lagi?" bisiknya, suaranya kini jauh lebih tenang dan penuh kasih, sangat kontras dengan pria dingin yang dulu membeli Aira di rumah keluarga Bramantyo.

Aira tersenyum, menyandarkan kepalanya di bahu Aristhide. "Belum. Dia sepertinya sedang menikmati ketenangan ini, sama seperti ibunya. Aris, apakah menurutmu kita benar-benar sudah bebas?"

Aristhide terdiam sejenak. Ia menatap garis cakrawala yang tak berujung. "Secara hukum, ya. Oswald telah dinyatakan tewas, dan semua asetnya disita. Adipati sekarang memegang kendali penuh atas Narendra Group. Tapi di dunia seperti ini, Aira, kebebasan adalah sesuatu yang harus kita jaga setiap hari."

"Aku tidak ingin dia tumbuh dengan pengawal di setiap sudut ruangan," ujar Aira, suaranya sedikit bergetar.

"Aku tahu. Itu sebabnya aku sedang memindahkan sebagian besar operasional Malik Group ke arah yayasan kemanusiaan. Aku ingin dia mengenal ayahnya sebagai orang yang membangun, bukan hanya orang yang menghancurkan."

Namun, di tengah momen puitis itu, sebuah helikopter dengan lambang Narendra Group tampak mendekat dari kejauhan. Aira menghela napas panjang. "Sepertinya masa cuti kita telah berakhir."

Adipati Narendra turun dari helikopter dengan langkah yang masih tegap, meski guratan kelelahan tampak di matanya. Ia tidak datang sendirian. Di belakangnya, seorang pria asing berusia sekitar 50-an dengan setelan jas ala Eropa yang sangat formal mengikuti dengan tas kerja kulit yang tampak antik.

"Ayah, apa yang begitu mendesak sampai Anda harus terbang ke sini?" tanya Aira saat mereka bertemu di ruang tamu terbuka.

Adipati menatap putrinya dengan pandangan yang sulit diartikan—campuran antara bangga dan cemas. "Aira, ada sesuatu yang tidak sempat terungkap di bunker Oswald. Sesuatu yang bahkan Oswald sendiri tidak tahu sepenuhnya."

Adipati memperkenalkan pria di sampingnya. "Ini adalah Julian Vance. Dia adalah pengacara dari The Sovereign Trust di Swiss. Dia adalah pemegang wasiat rahasia kakekmu—ayah dari Sofia."

Aira dan Aristhide saling pandang. Julian Vance membungkuk hormat, lalu membuka tas kerjanya. Ia mengeluarkan sebuah dokumen yang memiliki segel emas timbul.

"Nona Aira, atau haruskah saya memanggil Anda Countess?" ujar Julian dengan bahasa Inggris beraksen kental. "Ibu Anda, Sofia Malik, bukan hanya pewaris Narendra Group. Secara garis keturunan dari pihak ibunya, beliau adalah pewaris sah dari sebuah gelar dan tanah luas di wilayah pesisir Prancis yang selama ini dikelola oleh perwalian rahasia."

Aira tertawa hambar. "Gelar? Prancis? Ini terdengar seperti dongeng yang konyol. Aku hanya ingin menjadi Aira."

"Ini bukan soal gelar bangsawan yang kuno, Nona," potong Julian serius. "Ini soal aset bawah tanah. Tanah itu berada di atas cadangan litium terbesar di Eropa yang baru saja ditemukan. Nilainya bukan lagi triliunan rupiah, melainkan ratusan miliar dolar. Dan wasiat kakek Anda menyatakan bahwa aset ini hanya bisa diklaim oleh keturunan langsung Sofia yang memiliki 'darah murni'—artinya, anak yang kau kandung saat ini."

Aristhide menegang. Sebagai pebisnis, ia langsung memahami implikasinya. "Jika dunia tahu tentang ini, Aira bukan lagi hanya target balas dendam personal. Dia menjadi target perburuan korporasi global dan faksi politik internasional."

"Tepat," ujar Adipati. "Oswald hanyalah pion kecil jika dibandingkan dengan serigala-serigala yang sekarang sedang mengendus keberadaanmu di Eropa. Mereka sudah tahu tentang kehamilanmu, Aira. Itulah sebabnya aku datang. Kalian tidak aman di sini."

Aira terduduk di sofa, tangannya gemetar. "Jadi, anak ini bahkan belum lahir, tapi dia sudah memiliki harga di kepalanya?"

"Bukan harga di kepalanya, Aira," koreksi Julian. "Dia memiliki mahkota yang tak terlihat. Dan ada pihak-pihak yang lebih suka melihat mahkota itu terkubur bersama ibunya daripada melihatnya jatuh ke tangan Narendra."

Tiba-tiba, sistem alarm di vila itu berbunyi. Bukan alarm gangguan fisik, melainkan alarm serangan siber. Monitor di ruang tamu mendadak menyala, menampilkan sebuah pesan terenkripsi yang berkedip dengan warna merah:

"The Lion is awake. The Rose must be plucked." (Singa telah bangun. Mawar harus dipetik.)

Wajah Julian Vance memucat. "Mereka sudah di sini. The Consortium... mereka tidak membuang waktu."

"Siapa mereka?!" tanya Aristhide sambil menarik senjatanya dari laci meja tersembunyi.

"Orang-orang yang selama ini mendanai faksi-faksi di dalam Narendra Group untuk menjatuhkan Sofia dulu," jawab Adipati. "Mereka bukan lagi musuh lokal. Mereka adalah bayang-bayang yang mengatur ekonomi dunia."

Aristhide segera menginstruksikan pengawalnya. "Yudha—ah, maksudku, tim keamanan baru! Siapkan helikopter untuk evakuasi! Kita tidak bisa lewat jalur udara biasa. Kita gunakan jalur laut!"

Namun, saat mereka berlari menuju dermaga pribadi di bawah tebing, beberapa perahu cepat hitam tampak mendekat dari arah laut lepas. Penembak jitu mulai melepaskan tembakan dari perahu tersebut, menghantam dinding tebing di sekitar mereka.

"Masuk ke dalam terowongan!" perintah Adipati.

Di tengah pelarian itu, Aira merasakan perutnya menegang. Rasa sakit yang tiba-tiba membuatnya terjatuh. "Aris... sakit..."

Aristhide segera menggendong Aira, melindunginya dengan tubuhnya sendiri sementara peluru mendesing di atas kepala mereka. "Tahan, Aira! Kita akan keluar dari sini!"

Mereka berhasil mencapai sebuah kapal selam mini yang disiapkan Adipati sebagai rencana cadangan terakhir. Saat pintu kedap udara tertutup, Aira terengah-engah, wajahnya pucat pasi.

"Julian," panggil Aristhide dengan nada mengancam pada sang pengacara Swiss. "Katakan padaku, apa sebenarnya yang ada di dalam darah Sofia sampai mereka begitu bernafsu?"

Julian menatap Aira dengan iba. "Bukan hanya litium, Tuan Malik. Kakek Aira adalah salah satu pendiri The Consortium sebelum dia berkhianat. Di dalam brankas di Zurich, selain dokumen, ada sebuah kunci digital yang bisa meruntuhkan seluruh sistem perbankan bayangan mereka. Dan kunci itu hanya bisa diaktifkan melalui pemindaian biometrik dari keturunan langsung yang sedang hamil."

Aira menatap perutnya sendiri. Ia menyadari bahwa ia bukan lagi sekadar jaminan utang atau putri yang hilang. Ia adalah kunci dari kiamat finansial bagi orang-orang paling berkuasa di bumi.

"Aris," bisik Aira sambil memegang tangan suaminya. "Jangan biarkan mereka menjadikannya senjata. Jika kita harus menghancurkan kunci itu, lakukanlah."

Aristhide mencium tangan Aira, matanya berkilat dengan determinasi yang baru. "Kita akan menghancurkan mereka, Aira. Bukan hanya kuncinya. Kita akan menghancurkan siapa pun yang berani menjadikan keluarga kita sebagai permainan."

Kapal selam itu menyelam ke kedalaman samudra, meninggalkan Bali yang kini tak lagi menjadi tempat persembunyian. Perang ini tidak lagi terjadi di lorong-lorong kantor Jakarta, melainkan di kedalaman laut dan ruang-ruang rahasia di Eropa.

Namun, di dalam kapal yang gelap itu, Aira melihat sebuah titik lampu kecil di tas kerja Julian Vance yang tertinggal. Sebuah pelacak.

"Ayah... Julian..." Aira menunjuk tas itu.

Julian menatap tasnya, lalu menatap Adipati dengan ketakutan. "Aku... aku tidak tahu..."

Sebelum Julian sempat menyelesaikan kalimatnya, sebuah ledakan magnetik menghantam sistem navigasi kapal selam mereka. Mereka kehilangan kendali. Di kegelapan air yang dalam, bayangan sebuah kapal selam raksasa muncul, siap untuk menelan mereka hidup-hidup.

"(Apakah Aira dan Aristhide akan tertangkap oleh The Consortium? Dan siapakah sebenarnya sosok "The Lion" yang memimpin pengejaran ini?)"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!