Di usianya yang ke-33, Raditya Mahardika harus menerima perjodohan konyol dengan Bianca Adyatama, gadis 20 tahun yang masih kuliah dan merupakan putri rekan bisnis keluarganya. Ragu dan curiga, Raditya punya rencana gila: menyamar menjadi supir di rumah keluarga Adyatama.
Sebagai 'Rio', supir barunya, Radit menyaksikan realitas yang mengejutkan. Bianca bukan hanya manja, tapi juga arogan dan suka merendahkan orang.
Namun, di tengah kekecewaannya, mata Radit justru tertuju pada sosok lain: Kirana Adyatama. Kakak Bianca yang berusia 27 tahun. Di mata keluarganya, Kirana hanyalah barista kafe, bahkan sering diperlakukan seperti pelayan. Tapi, di balik seragam kafe dan senyum hangatnya, Kirana menyimpan rahasia besar.
Mana yang akan dipilih Radit? Calon istri yang dijodohkan, atau kakak yang menyimpan mutiara tersembunyi? Bagaimana jika rahasia penyamarannya terbongkar?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SunRise510k, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34
Kirana mengerjapkan matanya, perlahan tersadar bahwa ia masih berada di kursi panjang halaman belakang. Namun, ada yang berbeda. Rasa dingin yang biasanya menusuk tulang saat fajar kini terhalang oleh sebuah selimut tebal berwarna biru dongker yang menyelimuti tubuhnya.
Kirana menarik ujung selimut itu ke dekat wajahnya. Seketika, hidungnya menangkap aroma yang sangat familiar. Bau sandalwood yang hangat bercampur dengan kesegaran bergamot. Ini bukan aroma parfum murahan yang bisa dibeli di minimarket. Ini adalah aroma mewah, tajam, dan sangat maskulin—aroma yang sama persis dengan yang ia hirup saat Raditya Mahardika menolongnya di rumah sakit.
"Aneh..." bisik Kirana pada dirinya sendiri.
Ia berdiri dan melangkah menuju dapur, di mana Bi Tuti sedang sibuk menyiapkan sarapan.
"Bi Tuti, ini selimut siapa? Sepertinya bukan punya saya," tanya Kirana sambil menunjukkan selimut tersebut.
Bi Tuti menoleh dan tersenyum simpul. "Oh, itu milik Mas Rio, Mbak. Semalam Mas Rio melihat Mbak Kirana ketiduran di halaman belakang. Dia bilang tidak tega melihat Mbak Kirana kedinginan, jadi dia menyelimuti Mbak Kirana sebelum kembali ke kamarnya."
Jantung Kirana berdesir. Ada rasa hangat yang menjalar di dadanya, namun rasa penasaran juga semakin menggunung. Bagaimana bisa seorang supir memiliki selimut semahal ini? Bahannya terasa seperti cashmere kualitas terbaik.
Kirana memutuskan untuk mengembalikannya segera. Ia berjalan menuju paviliun belakang, tempat kamar Rio berada. Pintu kamar itu sedikit terbuka. Rio tampak sedang merapikan kaos hitamnya, memperlihatkan punggungnya yang tegap dan atletis.
"Mas Rio?" panggil Kirana pelan.
Rio berbalik, sedikit terkejut namun langsung menundukkan kepalanya dengan sopan. "Eh, Mbak Kirana. Sudah bangun? Maaf, semalam saya lancang menyelimuti Mbak."
Kirana menyodorkan selimut itu. "Tidak apa-apa, Mas. Justru saya mau berterima kasih. Selimutnya sangat hangat. Tapi... ini bahannya bagus sekali, Mas Rio beli di mana?"
Rio menerima selimut itu, gerakannya sedikit gugup. "Oh, ini... ini hadiah dari Mami, Mbak. Mami saya bilang kalau—"
Rio tiba-tiba terdiam. Matanya membelalak kecil, menyadari kata yang baru saja lolos dari bibirnya.
"Mami?" Kirana mengernyit. "Maksud Mas... Ibu Mas Rio?"
Raditya merutuki dirinya dalam hati. Di lingkungan Mahardika, ia selalu memanggil orang tuanya Papi dan Mami. Panggilan itu terlalu elit untuk ukuran seorang Rio yang menyamar sebagai supir.
"I-iya, Mbak. Maksud saya... Ibu. Kami di kampung memang suka memanggil begitu biar gaya sedikit," jawab Rio cepat, mencoba menutupi kegugupannya dengan tawa kecil yang dipaksakan. "Dulu Ibu saya kerja di butik, jadi dia tahu bahan yang bagus."
Kirana hanya mengangguk-angguk, meski batinnya berteriak ada yang tidak beres. "Terima kasih sekali lagi ya, Mas Rio. Saya masuk dulu untuk bersiap-siap."
“Iya, sama-sama, Mbak. Silahkan.”
Kirana mengulas senyum tipisnya kemudian melangkah pergi meninggalkan kamar Rio.
**
Suasana di ruang makan keluarga Adytama pagi itu terasa sangat kontras dengan kedamaian di paviliun. Ayah Haris sedang membaca tablet bisnisnya, sementara Mama Reva sibuk menuangkan teh. Bianca duduk di sana dengan wajah yang sengaja ditekuk, namun matanya berkilat penuh rencana jahat.
Begitu Kirana duduk, Bianca langsung meletakkan garpunya dengan bunyi denting yang nyaring.
"Pagi, Mbak Kirana. Nyenyak sekali ya tidurnya semalam? Di halaman belakang lagi," ucap Bianca dengan nada menyindir yang sangat kental.
Kirana hanya diam, mulai mengoles selai ke rotinya.
"Ayah tahu tidak?" Bianca menoleh pada Ayah Haris. "Semalam aku melihat pemandangan yang sangat 'menarik' di halaman belakang. Ternyata Mbak Kirana dan Rio itu sudah dekat sekali ya. Sampai-sampai Rio menyelimuti Mbak Kirana dengan begitu mesra. Wah, aku tidak tahu kalau standar Mbak Kirana sekarang sudah turun drastis ke level pelayan."
Ayah Haris menurunkan tabletnya, keningnya berkerut dalam. "Apa maksudmu, Bianca?"
Mama Reva ikut menimpali sambil tersenyum sinis. "Iya, Yah. Tadi pagi saya juga dengar dari Bi Tuti. Rio itu perhatian sekali pada Kirana. Hati-hati lho, Yah. Jangan sampai ada hubungan terlarang antara majikan dan pelayan di rumah ini. Bisa malu kita kalau kolega Ayah tahu Kirana main api dengan supir sendiri."
"Mama, Bianca, tolong jaga bicara kalian," ucap Kirana tegas, meski tangannya sedikit bergetar. "Mas Rio hanya menjalankan tugasnya sebagai manusia yang punya empati. Saya ketiduran saat bekerja, dan dia hanya tidak ingin saya sakit lagi."
"Empati atau strategi, Mbak?" Bianca tertawa mengejek. "Mungkin dia tahu Mbak Kirana itu anak CEO, jadi dia sedang berusaha cari muka agar bisa hidup enak. Dan Mbak Kirana sepertinya menikmati sekali perhatian dari supir rendahan itu. Apa Mbak sudah kesepian sekali?"
Di dekat pintu penghubung menuju dapur, Rio berdiri mematung. Ia mendengar setiap kata, setiap hinaan, dan setiap tawa merendahkan yang dilontarkan Bianca dan Mama Reva. Rahangnya mengeras. Genggaman tangannya pada kunci mobil begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih.
Sebagai Raditya Mahardika, ia belum pernah merasa seingin ini menghancurkan seseorang. Baginya, menghina Kirana adalah dosa besar, namun menghina Kirana dengan menggunakan namanya—meski dalam samaran Rio—adalah hal yang memicu kemarahan paling dalam.
Rendahan, katamu? batin Raditya sambil menatap punggung Bianca dari kejauhan. Lihat saja nanti di kantor, Bianca. Kamu menghina supirmu di sini, tanpa tahu bahwa supir inilah yang memegang nasib masa depanmu di Mahardika Tower.
Ayah Haris menggebrak meja pelan. "Sudah! Kirana, Ayah tidak mau ada gosip tidak jelas. Rio itu cuma supir. Dan untuk kalian, jangan membesar-besarkan masalah sepele."
Bianca mendengus, bangkit dari kursinya dengan gaya angkuh. "Terserah Ayah. Tapi kalau nanti Mbak Kirana bikin malu keluarga karena hamil anak supir, jangan salahkan aku ya!"
Setelah berkata begitu, Bianca melenggang pergi. "Rio! Cepat ke depan! Antar aku ke kantor! Aku sudah telat!"
Rio menarik napas panjang, menetralkan emosinya. Ia sempat melirik Kirana yang masih duduk tegak dengan wajah pucat namun tetap tegar. Ia ingin sekali membela wanita itu, namun ia tahu, pembelaan paling telak akan ia berikan di tempat di mana ia berkuasa.
Di dalam mobil menuju Mahardika Tower, Bianca tidak berhenti mengoceh. Ia sibuk memperbaiki riasannya sambil terus menyindir Rio.
"Dengar ya, Rio. Kamu itu cuma supir. Jangan berani-berani mendekati Mbak Kirana lebih dari batasmu. Kamu tidak pantas berada di keluarga kami. Mbak Kirana itu anak CEO, dan kamu... kamu cuma sampah yang kebetulan bisa menyetir," maki Bianca sambil menyemprotkan parfumnya.
Rio tetap diam. Ia hanya menatap jalanan Surabaya yang mulai macet dengan mata yang sangat dingin.
"Non Bianca," ucap Rio tiba-tiba dengan nada yang sangat tenang, namun entah mengapa terdengar sangat mengancam. "Hidup itu seperti roda. Kadang yang Anda anggap sampah hari ini, adalah orang yang akan Anda sembah esok hari."
Bianca tertawa keras. "Sembah kamu? Dalam mimpimu, Rio!"
Begitu tiba di lobby Mahardika Tower, Rio menurunkan Bianca. Ia melihat gadis itu masuk ke gedung dengan kepala mendongak sombong.
Rio segera memutar mobil menuju pintu belakang. Sepuluh menit kemudian, ia sudah bertransformasi menjadi Raditya Mahardika. Ia duduk di kursi kebesarannya di lantai paling atas, menatap monitor CCTV yang memperlihatkan Bianca baru saja tiba di divisi gudang.
"Bram," panggil Raditya melalui interkom.
"Ya, Pak Raditya?"
"Tugas untuk Bianca hari ini... tambahkan satu hal. Semua arsip digital dari anak perusahaan yang bermasalah, suruh dia mengetik ulang semuanya secara manual di komputer jadul tanpa koneksi internet. Dan katakan padanya, itu adalah permintaan khusus dari saya karena saya ingin melihat ketelitiannya sebagai 'calon istri' saya."
Raditya menyeringai dingin. "Dan satu lagi. Jangan beri dia waktu istirahat lebih dari lima belas menit. Jika dia mengeluh, katakan bahwa saya tidak suka wanita yang lemah."
Raditya bersandar di kursinya, memutar-mutar pena platinumnya. "Kamu ingin bermain-main dengan 'supir rendahan' ini, Bianca? Mari kita lihat berapa lama kamu bisa bertahan sebelum kamu bersujud meminta ampun padaku."
Sementara itu, di pikirannya, hanya ada satu wajah yang ia pedulikan: Kirana. Ia harus segera mencari cara untuk melindungi Kirana dari racun di rumahnya sendiri, meskipun itu artinya ia harus mempercepat pembongkaran identitas aslinya.
***
aq kasih bintang⭐⭐⭐⭐⭐
masih abu abu apakah reva atw harus atau mereka berua
ga sabar terbongkarnya semua kejahatan ma Reva
makasih Thor ceritanya menarik dan slalu bikin penasaran nunggu kelanjutannya 🙏
ak suka karakter kirana anggun, tegas, murah hati bersahaja. ak suka karakter raditya yg punya power, tp anak yg hormat orgtua, tegas, melindungi n sweet dgn perhatian n pengorbanannya pokoknya paket komplit versi ga lebaiii, semangat selalu dtunggu double up nya ya 😍