Di usianya yang ke-33, Raditya Mahardika harus menerima perjodohan konyol dengan Bianca Adyatama, gadis 20 tahun yang masih kuliah dan merupakan putri rekan bisnis keluarganya. Ragu dan curiga, Raditya punya rencana gila: menyamar menjadi supir di rumah keluarga Adyatama.
Sebagai 'Rio', supir barunya, Radit menyaksikan realitas yang mengejutkan. Bianca bukan hanya manja, tapi juga arogan dan suka merendahkan orang.
Namun, di tengah kekecewaannya, mata Radit justru tertuju pada sosok lain: Kirana Adyatama. Kakak Bianca yang berusia 27 tahun. Di mata keluarganya, Kirana hanyalah barista kafe, bahkan sering diperlakukan seperti pelayan. Tapi, di balik seragam kafe dan senyum hangatnya, Kirana menyimpan rahasia besar.
Mana yang akan dipilih Radit? Calon istri yang dijodohkan, atau kakak yang menyimpan mutiara tersembunyi? Bagaimana jika rahasia penyamarannya terbongkar?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SunRise510k, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23
Matahari siang di Surabaya terasa sangat menyengat, memantulkan kilau tajam pada dinding kaca Mahardika Tower. Namun, karena adanya kendala teknis pada sistem pendingin ruangan di ruang rapat utama, Raditya memutuskan untuk memindahkan pertemuan pentingnya dengan investor dari Jakarta ke Sky Lounge, sebuah restoran mewah yang terletak di lantai teratas Hotel Grand Mahardika—salah satu aset kebanggaan keluarganya.
Raditya melangkah memasuki restoran dengan langkah tegap yang memancarkan wibawa absolut. Setelan jas custom-made berwarna biru dongker yang dikenakannya melekat sempurna pada tubuh atletisnya. Tidak ada jejak "Rio si supir" dalam penampilannya saat ini. Ia adalah sang pemangsa di dunia bisnis.
"Pak Raditya, meja Anda sudah siap di area VIP yang menghadap ke arah Jembatan Suramadu," bisik Bram sambil berjalan setengah langkah di belakangnya.
Raditya mengangguk singkat. Namun, baru saja ia akan menduduki kursinya, langkahnya membeku. Aroma parfum yang sangat ia kenali—campuran antara melati lembut dan aroma kopi yang samar—tertiup angin AC menuju ke arahnya. Ia menoleh sedikit, dan jantungnya seolah berhenti berdetak.
Hanya berjarak dua meja di belakangnya, terpisah oleh sekat tanaman hias yang rimbun, Kirana Adytama sedang duduk berhadapan dengan dua pria berseragam dinas resmi.
Raditya segera memutar kursinya, duduk membelakangi posisi Kirana. Ia menarik napas panjang, mencoba menenangkan debar jantungnya yang tiba-tiba tidak beraturan.
Sial, kenapa dia ada di sini? batin Raditya panik.
"Pak Raditya? Apakah ada masalah?" tanya kliennya, seorang pria paruh baya yang tampak bingung melihat sang CEO Mahardika Group mendadak terlihat tegang.
"Oh, tidak ada. Hanya sedikit silau dari jendela," jawab Raditya dengan suara yang ia buat lebih berat dan rendah dari biasanya.
Rapat dimulai. Kliennya mulai memaparkan rencana akuisisi lahan, namun telinga Raditya justru terfokus pada suara di belakangnya. Ia mendengar suara Kirana—suara yang biasanya terdengar hangat saat menyapanya "Mas Rio", kini terdengar sangat profesional, tegas, namun ada nada serak yang menyayat hati.
Raditya melirik melalui pantulan dinding kaca yang mengkilap di sampingnya. Di sana, ia bisa melihat wajah Kirana dengan jelas. Kirana tampak sangat pucat, bahkan lebih pucat daripada saat sarapan tadi pagi. Bibirnya kering, dan sesekali wanita itu memijat pelipisnya dengan jari yang tampak sedikit gemetar. Namun, ia tetap menjawab pertanyaan kliennya dengan sangat cerdas.
Kenapa kamu keras kepala sekali, Kirana? Kamu sedang sakit, kenapa harus memaksakan diri rapat di tempat seperti ini? amarah dan rasa kasihan bergejolak di dada Raditya.
Rapat di meja Raditya berlangsung alot, namun pikirannya terbelah dua. Ia sesekali mencuri pandang melalui pantulan kaca, memastikan Kirana tidak jatuh dari kursinya. Ia melihat Kirana meminum air putih berkali-kali, tangannya tampak lemas saat memegang gelas.
Sekitar empat puluh menit berlalu. Kirana tampak menutup map dokumennya.
"Terima kasih atas waktunya, Bapak-Bapak. Saya harap kerjasama distribusi ini bisa segera berjalan," ucap Kirana lirih.
Kedua klien Kirana menjabat tangannya dan berpamitan. Kirana tetap duduk sejenak setelah mereka pergi, ia memejamkan mata dan menyandarkan punggungnya ke kursi. Raditya yang melihat itu hampir saja berdiri untuk menghampirinya, namun ia teringat bahwa ia saat ini mengenakan jas seharga ratusan juta rupiah. Jika ia menghampiri Kirana sekarang, penyamarannya hancur total.
Kirana kemudian menarik napas panjang, mencoba mengumpulkan kekuatan. Ia berdiri dengan perlahan, memegang pinggiran meja untuk menopang tubuhnya. Ia mulai melangkah menuju pintu keluar restoran, melewati jalur yang berada tepat di samping meja Raditya.
Raditya menundukkan kepalanya dalam-dalam, berpura-pura sangat serius membaca draf kontrak di depannya. Namun, tepat saat Kirana berada hanya dua langkah di samping kursinya, langkah kaki wanita itu terdengar tidak stabil.
Sret...
Suara sepatu yang terseret di karpet membuat Raditya mendongak. Ia melihat tubuh Kirana limpung ke arah samping. Matanya terpejam, dan wajahnya putih seperti kertas.
"Kirana!" teriak Raditya, melupakan segala protokol, segala klien, dan segala penyamarannya.
Dalam gerakan yang lebih cepat dari kedipan mata, Raditya melompat dari kursinya. Ia menangkap tubuh Kirana tepat sebelum kepala wanita itu menghantam sudut meja kayu yang keras. Tubuh Kirana terasa sangat panas di pelukannya, namun wanita itu sudah kehilangan kesadaran sepenuhnya.
Suasana restoran seketika hening. Klien Raditya ternganga melihat sang CEO yang biasanya dingin dan kaku itu mendadak menunjukkan ekspresi ketakutan yang luar biasa. Bram juga terpaku, tidak menyangka tuannya akan bertindak seberani itu di depan umum.
"Bapak Raditya? Anda mengenal wanita ini?" tanya sang klien dengan bingung.
Raditya tidak memedulikan pertanyaan itu. Matanya hanya tertuju pada wajah Kirana yang tak berdaya di lengannya.
"Bram! Kamu pimpin rapatnya, jelaskan apa saja pada mereka!"
"Tapi Pak, ini investasi triliunan—"
"SAYA TIDAK PEDULI!" bentak Raditya, suaranya menggelegar di seluruh ruangan Sky Lounge.
Tanpa membuang waktu, Raditya mengangkat tubuh Kirana dalam gendongan bridal style. Ia berlari menuju lift pribadi yang hanya bisa diakses olehnya. Di dalam lift, ia terus membisikkan kata-kata di telinga Kirana.
"Kirana... Kirana, bertahanlah."
Begitu sampai di lobi, mobil Lamborghini Urus miliknya sudah disiapkan oleh petugas valet yang kaget melihat bos besar mereka berlari sambil menggendong seorang wanita.
Raditya memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi membelah jalanan Surabaya, menuju ke Mahardika Medical Center (MMC), rumah sakit internasional paling elit di kota itu yang juga merupakan bagian dari gurita bisnis keluarganya.
Sesampainya di lobi gawat darurat MMC, para perawat dan dokter jaga langsung berlarian membawa brankar.
"Cepat! Dia demam tinggi dan pingsan!" perintah Raditya saat meletakkan Kirana di atas tempat tidur dorong.
Seorang dokter senior, Dr. Gunawan, yang kebetulan sedang berada di lobi, segera menghampiri. Matanya membelalak saat melihat siapa yang membawa pasien tersebut.
"Tuan Raditya Mahardika? Ada apa ini? Kenapa Anda sendiri yang—"
"Jangan banyak tanya, Dr. Gunawan! Lakukan yang terbaik untuknya. Berikan kamar VVIP terbaik, panggil dokter terbaik sekarang juga!" potong Raditya dengan napas tersengal.
Dr. Gunawan segera mengangguk patuh. "Baik, Tuan. Segera kami tangani. Sus, bawa pasien ke ruang observasi satu!"
Raditya berdiri di lorong rumah sakit, menatap pintu ruang IGD yang tertutup. Ia melihat tangannya sedikit gemetar. Jas mahalnya tampak kusut, dan beberapa kancing kemejanya terbuka. Ia baru menyadari bahwa ia baru saja melakukan hal yang sangat gila. Ia telah menunjukkan jati dirinya di depan publik hotel, mengabaikan klien besar, dan kini ia berdiri di rumah sakit miliknya sendiri, di mana semua staf mengenalnya sebagai pemilik.
Namun, saat ia menoleh dan melihat melalui kaca kecil di pintu IGD, ia melihat tim medis sedang memasangkan selang oksigen dan infus pada Kirana. Rasa takut kehilangan wanita itu jauh lebih besar daripada rasa takut rahasianya terbongkar.
"Siapa sebenarnya kamu bagi saya, Kirana?" bisik Raditya pada dinding dingin rumah sakit. "Hanya dalam beberapa hari, kamu sudah membuat seorang Raditya Mahardika kehilangan akal sehatnya."
***