Lea Michele wanita berusia ( 22 ) tahun, seorang wanita berdarah dingin, dan bekerja sebagai pembunuh bayaran, yang harus mengalami kecelakaan hebat. alih-alih pergi ke alam baka. jiwanya malah terperangah di dalam tubuh seorang gadis yang bernama Carlin Christine. seorang gadis yang sudah menikah. tapi yang tidak pernah di anggap sebagai istri oleh suaminya.
__________________________________________
lantas bagaimana kelanjutan kisahnya, mari kita bersama-sama untuk membacanya. mampukah Lea sang pembunuh bayaran, berperan sebagai Carlin Christine. atau malah sebaliknya...!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ecly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Berkunjung ke mansion utama.
Axel mendengus, sementara Juan masuk ke depan, duduk bersama sang sopir. Tidak lama mobil mulai melaju dan di ikuti beberapa buah mobil-mobil mewah, dari belakang-nya.
Axel melirik istri-nya lewat ekor mata-nya. Baru kali ini dia melihat istri-nya berpakaian yang menunjukkan bahwa dia seorang perempuan. setelah sadar dari koma. Biasa-nya Carlin memakai t-shirt oversize dengan celana Jogger 1 set jumpsuit, atau pajama panjang.
" Apa kamu masih marah pada ku? " Axel bertanya dengan nada yang kecil. Biar Juan dan sopirnya tidak bisa mendengar.
" Sampai kapan pun aku akan selalu marah' padamu! Jadi berhenti, mengajak ku untuk bicara. " balas-nya. Dengan nada yang keras, karena cuacanya juga sedang hujan deras.
Axel menghela nafas, dia tidak menyangka bahwa istri-nya masih awet marah. Padahal sudah 2 Minggu mereka tidak bertemu. Dia memang belum sempat menjelaskan semuanya kepada istri-nya. Karena begitu banyak masalah, dan urusannya.
Juan dan sopirnya saling bertukar pandang.
Mereka tidak tahu apa yang sudah terjadi di antara pasangan suami-istri itu.
" Axel? "
" Apa! "
" Bisa kah Kita berhenti, di depan sana. sebentar? "
" Mau apa? "
" Aku mau singgah di cafe sebentar! "
" Untuk apa? "
" Pertanyaan bodoh macam apa itu Axel
tentu saja aku mau singgah di cafe mau membeli makanan, dan minuman. Memangnya kamu pikir aku mau ngapain? Nyatai? " ucap-nya galak.
Axel mendengus dingin, karena untuk Kesian kalinya dirinya di marahin istri-nya. Mana dia lupa menekan tombol pembatas kursi depan, dan kursi belakang.juan dan sopir-nya jadi bisa mendengar-nya sekarang.
" Pak berhenti di depan cafe! " ucap Axel.
" Baik, tuan.! "
Setelah beberapa menit kemudian sopir-nya.
Langsung menghentikan laju mobilnya, tepat di depan cafe, yang sudah ramai di kunjungi.
Axel memberi code kepada Juan, untuk membeli makanan, dan minumannya.
" Aku beli sendiri? " Ucap Lea yang ingin membuka pintu mobil-nya. Tapi Axel segera memegang pergelangan tangan-nya. Lea menaik sebelah alis-nya, seolah-olah bertanya ada apa?
" Terlalu bahaya! kita tunggu di mobil saja' biar Juan, yang membeli-nya. " keputusan Axel itu sontak membuat Lea melebarkan matanya.
" Bahaya apanya? Jangan terlalu lebay deh! "
" kalau aku bilang bahaya' yah bahaya Carlin. Kamu nggak tau musuh aku ada di mana-mana? Sekarang terserah kamu, kalau mau turun kita lanjutkan perjalanannya. " ucap Axel yang tak ingin di bantah. Dia juga meninggi suaranya. Tidak perduli masih ada Juan, dan sopir-nya.
" Terserah kamu saja? " balas Lea yang begitu kesal, dia membuka kaca jendela mobil-nya. Lebih baik dia melihat ke luar jendela, dari pada melihat wajah Axel, yang menyebalkan.
" Juan beli sana? " ucap Axel.
" Baik tuan! Tapi nyonya ingin membeli makanan, dan minuman. jenis apa? " tanya Juan. Karena bagaimanapun juga yang ingin makan dah minum nyonya-nya, dia tidak bisa asal membeli-nya.
" Kenapa kamu masih bertanya, beli saja semua-nya yang ada di jual di cafe itu.! " bentak Axel. Juan meringis dalam hatinya.
dia hanya mengangguk, kemudian Menuju ke arah cafe, untuk membeli pesanan nyonya-nya.
Tanpa Axel sadari, seseorang sedang memotret Lea dari jarak jauh. Dia bisa melihat dengan jelas wajah Lea. Karena wanita itu membuka pintu jendela mobilnya hingga full. Lea dan Axel sama-sama tidak melihat pria itu, karena dia sembunyi di seberang jalan raya.
*****
( New york. )
4 orang pria sedang berkumpul, sambil berdebat. Bryan, Alvin. pamannya Paul, dan sepupunya Noel. yang lagi-lagi datang ke apartemen Bryan untuk meminta bagian.
sebenarnya Bryan dan kakak-nya, tidak pernah menganggap Paul sebagai paman-nya
karena memang pamannya tidak pantas di anggap sebagai keluarga, untuk mereka berdua. Paul adalah adik dari almarhum ibunya.
" Kalian ini sebenarnya memang tidak tahu malu ya? Harta Lea itu, punya Bryan. Kalau pun Lea mewariskan semua hartanya! Yang pantas menerimanya adalah Bryan. bukan kalian? " ucap Alvin kesal.
" Diam. kamu bocah ingusan! Sudah sepatutnya harta keponakan ku, di wariskan kepada ku? Kamu jangan sok tahu! " ucap Paul. Keras kepala.
" Sewajarnya? Kalau begitu sudah cukup, beberapa hari yang lalu anda sudah menjual
Barang-barang Lea. Anda tidak tahu menahu bahwa Lea bekerja di tengah malam, untuk mendapatkan semua harta-nya! Anda malah enak-enak minta di bagi hartanya. " balas Alvin.
Sedangkan Bryan masih berdebat dengan sepupunya Noel, yang ingin membawa barang-barang berharga kakaknya. Sementara dia selama ini tidak pernah berani menyentuhnya. Saking mahalnya barang itu.
" Jangan terlalu serakah Bryan! " ucap Noel.
Bryan Sontak tertawa terbahak-bahak,tapi matanya berkilat tajam. Dengan cepat dia merampas Gucci yang harganya ratusan ribu Rubel. dari tangan sepupunya tidak akan Bryan membiarkan Gucci itu di rampas begitu saja. Sudah cukup beberapa lukisan figuran puluhan Rubel di jual paman dan sepupunya.
beberapa hari yang lalu.
" Kata-kata itu lebih cocok untuk mu, dan ayahmu! kamu dan ayahmu. bahkan sudah mengambil beberapa barang-barang Lea. Apa kamu pikir harganya murah? Dan sekarang masih mau mengambilnya lagi, dasar tidak tahu malu. " Bryan menendang sepupunya
Dengan kuat, karena kesal.
Bruk~
" Aaahh. "
Noel membentur dinding dengan keras, Bryan tersenyum puas. Sementara Paul langsung datang, saat melihat putranya di tendang Bryan.
" Noel. "
" Bryan berani-beraninya kamu melakukan kekerasan kepada putra ku? " raung Paul. kemudian mendekat ke arah Bryan.
Dor~
Alvin yang sudah nggak tahan lagi melihat 2 orang itu, melayangkan tembakan ke arah samping Noel. Selama ini dia sudah cukup bersabar menghadapi ke 2 orang itu untuk tidak mengunakan senjata api.
" Ayah...!!!"
Noel berteriak. Sementara Paul terkejut, dia menatap tajam ke arah Alvin, sedangkan Bryan menjauhi paman, dan sepupunya. Sambil memeluk Guci kakaknya dengan erat.
" Coba saja kalau berani menyentuh tubuh Bryan. Dan meminta bagian dari harta Lea. maka detik ini juga, aku akan menjadikan kalian berdua mayat. Dan akan ku jual organ tubuh kalian ke pasar gelap! " ancam Alvin.
Bryan menatap wajah bengis Alvino.
" Ka-ka mm---"
" Ayah dia akan membunuh ku? " teriak Noel. saat melihat Alvin, yang sudah menarik pelatuk pistolnya lagi. Wajah Paul langsung pias, dia tidak menyangka teman-teman keponakannya, orang-orang gila semua.
" Noel Noel. kamu itu laki-laki atau banci, bisa-bisanya kamu merengek ketakutan! Seperti bayi! Jangan bilang kamu itu sudah pipis di celana mu? " ledek Bryan.
" kakak kamu pasti melihat dari atas sana kan? Maaf.. aku nggak bisa menjaga beberapa harta mu, aku memang adik yang nggak berguna untuk mu. tapi sekarang aku tidak akan membiarkan mereka merampas Guci kesayangan mu ini! " batin Bryan. Dia menatap ke atas langit, seolah-olah Lea memang sedang melihatnya dari atas.
" Coba saja kalau kamu berani membunuh putra ku. aku akan segera mela.---"
Dor~
Bruk~
*****
" Tutup mulut mu! Atau kamu memang sengaja. menunggu serangan dari musuh? "
Lea yang sedang terpana melihat kemewahan mansion Alexander, dari jendela mobilnya mendengus kesal. Karena teriakan Axel.
" Juan sabar yah! tuan mu itu tidak bisa melihat orang lain menikmati kesenangan nya? Kamu pasti tertekan bukan selama ini, menjadi tangan. kanannya? "
Juan menelan ludahnya, dia tidak tau harus harus berekpresi seperti apa. Dia menggaruk kepalanya yang tak gatal. Sedangkan Axel mendengus. Dia menatap penuh peringatan kepada Juan.
" Dasar emosian. "
" Cih dia mengatakan orang lain emosian. dasar wanita tidak tahu diri? " cibir Axel. Dalam hatinya. Tidak mungkin dia mengatakan blak-blakan.
Di depan pintu Grace. Bersama kepala pelayan, dan para pelayan lainnya serta pasukan khusus. Yang sudah menyambut kedatangan pemimpin Alexander! Lea melebarkan matanya, mulutnya terbuka dikit.
" Benar-benar jauh dan mewah dari mansion Jonathan. Axel berapa banyak harta kekayaan mu? " Axel jadi geli sendiri dia diam saja.
" Ayo kita turun dari mobilnya! Kamu nggak mungkin, mau duduk trus di dalam mobil kan? ." Axel mengulurkan tangannya.
" Axel, apa di sini kita juga tidur 1 kamar? " tanya Lea. Dia mengabaikan uluran tangan Axel.
" Tentu saja tapi kamu juga tetap ada kamar pribadi. Sebagai nyonya Alexander! "
Lea dengan terpaksa, menerima uluran tangan Axel. Kemudian keluar dari mobilnya lalu berbisik.
" Axel aku akan tidur di kamar pribadi ku? "
Axel mendengus dingin.
" Menantu-ku, yang cantik. bagaimana kabarmu? Akhirnya kamu datang juga! " Grace tersenyum lebar, sambil memeluk erat Lea.
" Aku baik-baik saja ma! " sahut Lea singkat.
" Kamu pasti tidak ingat sama mereka semua kan? " tanya Grace. Lea mengangguk meskipun dia tidak ingat para pelayan itu tapi dia bisa melihat tatapan dari para pelayan itu ada yang suka, ada nggak kepadanya.
" Ini kepala pelayan di mansion utama kami? Namanya adalah Jasmine. Dan mereka semua seperti yang kamu tahu, mereka para pelayan! " ucap Grace.
" Selamat datang di mansion utama nyonya muda Alexander! Saya senang anda sudah kembali sehat, seperti semula! " Jasmine tersenyum tipis.
" Cih dasar pelayan rendahan,lihat saja senyum palsunya. Rasanya mau aku robek mulutnya. " batin Lea dia tahu bahwa kepala pelayan itu tidak pernah menyukai Carlin.
" Mama kenapa cuma Carlin, yang mama tanya. Sedangkan aku tidak? " ucap Axel.
" Kamu kan baik-baik saja. Sedangkan menantu-ku, belum terlalu sehat. Jangan iri dengan istri sendiri.! " semprot Grace. Dia melototi Axel. Dia langsung mengandeng tangan Lea. Masa bodoh dengan Axel yang mengikuti dari belakangnya dengan wajah cemburu.
" Loh itukan Guci..' yang harganya nggak manusiawi. Wah sialan Alexander. kekayaannya benar-benar melimpah! " batin Lea sepanjang lorong, dia begitu terpana melihat kemewahan dan isi dari mansion itu.
Sarah dan Julie yang sedang duduk di sofa ruang tamu, mendengus kesal saat melihat kedatangan Carlin yang tak diinginkan itu. Apa lagi mengingat apa yang pernah terjadi, di mansion kediaman Carlin. Membuatnya sebal.
" Selamat malam Tante Sarah, dan nona Julie? " Lea. menyapa sambil tersenyum lebar dia sengaja mau melihat ekspresi wajah, kesal ibu dan anak itu.
" Selamat malam nyonya muda! Nyonya besar, dan tuan Alexander.! " keduanya menyapa dengan terpaksa.
Lea tersenyum saat melihat wajah ibu dan anak itu. Lalu mereka segera menuju ke kamar kakeknya. Padahal Grace sudah meminta, Carlin untuk menemui kakeknya besok pagi saja' karena hari sudah malam. dan waktunya untuk beristirahat, tapi Lea tidak mau dia ingin melihat kondisi kakeknya.
*****
" Apa kamu yakin wanita ini istrinya, yang selama ini Alexander sembunyikan? " tanya seseorang, Dengan nada beratnya.
" Benar tuan.aku juga sangat mengenali mobil
Alexander! Aku juga melihat Juan pergi ke cafe. tuan bisa lihat sendiri ada Axel Alexander juga."
" Bajingan si Alexander! Istrinya secantik ini dia sembunyikan. Tapi lebih cantik lagi kalau dia milikku saja? " pria itu tersenyum menyeringai. Dia menatap lekat foto Carlin yang memang kelihatan dengan jelas.
" Kirim seseorang ke mansion utama Alexander? " perintah pria itu. Dia meraba-raba foto Lea. yang sedang merajuk tadi, ketika Axel melarangnya untuk turun.
" Baik, tuan. "
Pria yang memotret Lea tadi Segera pergi untuk menjalankan perintah dari tuannya.
yaaahhh mungkin cuma kebetulan sama aja kali yAA