NovelToon NovelToon
SUAMIKU TERNYATA CEO

SUAMIKU TERNYATA CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Lari dari Pernikahan / Percintaan Konglomerat / Cinta Beda Dunia
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Nana Bear

Siska menikahi Kevin karena cinta, meski harus hidup dalam kesederhanaan. Ia percaya kebahagiaan tidak diukur dari harta.

Namun ketika himpitan ekonomi semakin berat dan harapan terasa semakin jauh, Siska memilih pergi.

Ia tidak tahu bahwa Kevin bukan pria miskin seperti yang ia kira.

Saat takdir mempertemukan mereka kembali, rahasia terungkap—dan cinta diuji oleh penyesalan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana Bear, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tatapan yang Nggak Pernah Siap

Nggak ada yang pernah siap ketemu orang yang dulu pernah jadi segalanya.

Siska juga nggak.

Hari itu harusnya biasa aja. Dia cuma ikut ibunya ke pusat perbelanjaan kecil di kota. Biar nggak bengong terus di rumah, katanya.

Siska cuma nurut.

Dia nggak tahu… langkah kecil itu bakal ngeruntuhin ketenangan tipis yang baru aja dia susun pelan-pelan.

Di sisi lain kota, Kevin juga lagi jalan tanpa firasat apa-apa.

Jadwalnya padat. Meeting, laporan, angka.

Cantika ikut karena pengasuhnya izin. Anak kecil itu duduk manis di stroller, pakai gaun krem sederhana. Rambutnya dikuncir dua.

“Ayah, es krim…” katanya cadel.

Kevin senyum tipis.

“Nanti ya. Habis makan.”

Buat dia, mall itu cuma tempat singgah.

Buat Siska… itu jadi tempat yang bikin napasnya berhenti.

Siska lagi berdiri depan toko baju anak. Tangannya pegang dress kecil warna pastel.

Dia nggak sadar ada stroller lewat.

Dia sadar karena pria yang dorongnya.

Langkahnya langsung beku.

Kevin.

Bukan di layar TV.

Bukan di artikel berita tentang Arwana Group.

Bukan sosok jauh yang kelihatan mustahil disentuh.

Ini Kevin yang nyata. Cuma beberapa meter di depannya.

Lebih tegap.

Lebih dewasa.

Tenang banget.

Cara dia nunduk ngomong ke anak kecil itu lembut… kayak dulu waktu dia ngomong ke Siska.

Dada Siska langsung sesak.

Dan Cantika…

Anak itu lebih cantik dari foto. Mata besar, cerah. Senyum polos.

Anak yang tumbuh tanpa kekurangan.

Anak Kevin.

Mata Siska panas.

Dia pengen kabur. Serius.

Tapi kakinya nggak bisa gerak.

Ibunya sadar.

“Siska?”

Nggak ada jawaban.

Di saat yang sama, Kevin ngerasa ada tatapan.

Dia nengok pelan.

Dan dunia kayak berhenti.

Siska.

Walau lebih kurus.

Walau matanya lebih dalam.

Dia tetap kenal.

Tangannya yang pegang stroller refleks mengencang.

Cantika narik lengannya.

“Ayah? Kenapa berhenti?”

Kevin tersadar.

Lalu, dengan suara yang terlalu tenang buat situasi seberat itu, dia bilang,

“Halo.”

Siska hampir lupa cara napas.

“H-halo.”

Satu kata.

Tapi rasanya kayak buka luka lama yang belum benar-benar sembuh.

Ibunya Siska berdiri kaku.

“Kevin…”

Kevin angguk sopan.

“Tante.”

Nggak ada nada sinis. Nggak ada emosi meledak. Cuma jarak yang jelas banget.

Cantika nengok ke Siska.

“Ayah, tante ini siapa?”

Pertanyaan polos.

Tapi nusuk sampai ke tulang.

Kevin diam sepersekian detik.

“Teman lama Ayah.”

Teman lama.

Bukan mantan istri.

Bukan perempuan yang dulu jadi rumahnya.

Cuma… teman lama.

Siska senyum tipis. Rapuh.

“Kamu siapa namanya?” tanyanya pelan sambil jongkok.

“Cantika!” jawab anak itu bangga. “Aku cantik, kan?”

Siska ketawa kecil, suaranya nyaris pecah.

“Iya… cantik banget.”

Kevin lihat itu semua.

Aneh.

Bukan rindu.

Bukan marah.

Cuma perasaan kayak lagi nonton dua kehidupan yang dulu pernah satu… sekarang cuma bersentuhan sebentar lalu menjauh lagi.

“Kami mau makan siang,” kata Kevin akhirnya.

“Kami juga,” jawab ibunya Siska cepat.

Nggak ada ajakan.

Nggak ada keberanian buat duduk di meja yang sama.

“Senang bertemu,” ujar Kevin.

Siska angguk.

“Aku juga.”

Mereka jalan ke arah berbeda.

Dan di antara langkah-langkah itu… ada ribuan kata yang nggak pernah jadi suara.

Di restoran, Kevin nyuapin Cantika dengan sabar.

Wajahnya tetap tenang.

Tapi pikirannya nggak sepenuhnya di situ.

Dia kira kalau suatu hari ketemu Siska lagi, dia bakal kebal.

Ternyata nggak sepenuhnya.

Ada bagian kecil di hatinya yang masih ingat.

Tapi dia tahu… ingat bukan berarti ingin kembali.

Di sisi lain mall, makanan di depan Siska hampir nggak disentuh.

Tangannya masih gemetar.

“Kamu lihat sendiri sekarang,” kata ibunya pelan.

Siska angguk.

“Iya.”

“Kevin nggak berubah jadi orang jahat. Dia cuma tumbuh.”

Kalimat itu pelan… tapi berat.

Siska nunduk.

“Dan aku… ketinggalan.”

Malamnya, Kevin berdiri di balkon rumahnya.

Lampu kota kelihatan kecil dari atas sana.

Cantika udah tidur nyenyak.

Dia keinget wajah Siska tadi.

Mata yang penuh penyesalan.

Senyum yang dipaksakan kuat.

Dia nggak benci.

Nggak ada dendam.

Tapi dia tahu, ada pintu yang memang ditutup bukan buat dibuka lagi.

Di kamar lamanya, Siska meluk bantal.

Air mata jatuh tanpa suara.

Pertemuan tadi nggak ngasih harapan.

Justru ngasih kepastian.

Kevin udah jalan jauh.

Dan dia nggak lagi berdiri di persimpangan yang sama.

Hidup udah milih jalannya sendiri.

Dan cinta…

sekali pergi,

nggak selalu balik lagi.

Walau hati masih inget.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!