NovelToon NovelToon
Kupilih Dirimu

Kupilih Dirimu

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Dijodohkan Orang Tua / Nikah Kontrak
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Mokhammad Soni

Pewaris yang dipaksa untuk menikah dengan wanita biasa, bila tidak mau maka warisan dipilih orang lain. Sebuah keterpaksaan yang pada akhirnya menumbuhkan cinta, cinta yang bersemi tulus dalam diri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mokhammad Soni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

EPISODE 19 – MULUT BERBISA, HATI DIBAKAR HIDUP-HIDUP

Pagi itu rumah orang tua Bagas seperti pasar kebakaran.

Belum juga ayam selesai berkokok, suara Bu Rahayu sudah lebih dulu membelah udara.

“Pipit! Pipit! Bangun kamu! Jangan pura-pura budeg!”

Fitri—yang di rumah itu selalu dipanggil Pipit dengan nada seperti orang memanggil maling—terlonjak dari tempat tidurnya.

Ia bahkan belum sepenuhnya sadar ketika pintu kamarnya digedor seperti mau digusur paksa.

“Jam segini masih tidur? Mau jadi ratu apa kamu? Di rumah ini bukan hotel! Kalau mau enak, sana cari suami konglomerat! Jangan numpang di rumah orang tua suami tapi gaya kayak nyonya besar!”

Pipit menelan ludah.

Dadanya sudah panas padahal matahari saja belum benar-benar muncul.

Ia keluar kamar dengan wajah pucat, rambut belum rapi.

Bu Rahayu berdiri di ruang tengah, tangan berkacak pinggang, wajahnya seperti siap mengunyah orang hidup-hidup.

“Lihat itu dapur! Berantakan! Semalam kamu masak apa sih sampai bau minyaknya kayak bengkel?”

“Saya sudah bersihkan, Bu…”

“Sudah bersihkan katanya!” Bu Rahayu tertawa sinis. “Kamu pikir saya buta? Ini kompor masih lengket! Kamu kerja setengah hati! Dasar perempuan numpang!”

Kalimat itu.

Perempuan numpang.

Seolah-olah Pipit ini penumpang gelap dalam hidup Bagas.

Bagas yang berdiri di tangga hanya diam.

Diam.

Seperti patung tak bernyawa.

Dan itu yang paling menyakitkan.

Bu Rahayu melanjutkan tanpa jeda, seperti ceramah tanpa mic yang volumenya sudah maksimal.

“Dari awal saya sudah bilang sama Bagas! Jangan asal pilih istri cuma karena muka manis! Perempuan itu dilihat akhlaknya, keluarganya, latar belakangnya! Ini apa? Datang tanpa nama belakang jelas, tanpa koneksi, tanpa apa-apa!”

Pipit merasakan pipinya panas.

Tanpa nama belakang.

Itu lagi.

Itu terus.

Seolah ia manusia tanpa identitas.

Seolah cintanya tidak cukup hanya karena ia tidak membawa “nama besar”.

“Bu, cukup…”

Suara Bagas akhirnya keluar.

Pelan.

Ragu.

“Cukup?” Bu Rahayu langsung berbalik. “Kamu berani membela dia? Kamu buta, Gas? Ibu ini cuma mau kamu tidak menyesal!”

“Pipit istri saya.”

“Dan saya ibumu!”

Hening sesaat.

Tapi hening itu bukan tenang.

Hening itu seperti jeda sebelum bom meledak.

Bu Rahayu maju selangkah mendekati Pipit.

Matanya tajam seperti pisau dapur.

“Kamu tahu kenapa saya tidak pernah benar-benar menerima kamu?”

Pipit menatap lurus, meski kakinya gemetar.

“Karena kamu tidak punya apa-apa! Kamu tidak punya nama! Kamu tidak punya warisan! Kamu tidak punya keluarga terpandang! Kamu cuma perempuan biasa yang kebetulan anak saya bodoh karena jatuh cinta!”

Setiap kata seperti dilempar dengan batu.

Bagas mengepalkan tangan.

Tapi tetap tidak berani mengangkat suara.

Dan di situlah Pipit merasa benar-benar sendirian.

“Bu,” Pipit akhirnya bicara, suaranya pelan tapi bergetar. “Saya mungkin tidak punya nama besar. Tapi saya tidak pernah kurang ajar. Saya tidak pernah melawan. Saya tidak pernah mempermalukan keluarga ini.”

“Tidak pernah melawan?” Bu Rahayu tertawa lagi. “Itu karena kamu tahu diri! Kamu sadar posisi!”

Posisi.

Seolah Pipit ini budak kontrak.

“Kalau kamu tahu diri, kamu tidak akan buat anak saya menjauh dari keluarga!”

“Saya tidak pernah—”

“Jangan potong omongan saya!”

Suara itu menggema.

Bagas menutup mata.

Pipit merasa napasnya semakin pendek.

“Tahu tidak, Pipit,” Bu Rahayu melanjutkan dengan suara lebih rendah tapi jauh lebih kejam, “perempuan seperti kamu itu biasanya cuma bisa manis di awal. Nanti kalau sudah dapat semuanya, baru keluar aslinya. Licik. Manipulatif. Bikin anak saya melawan orang tuanya.”

Itu tuduhan.

Dan bukan tuduhan kecil.

“Bu, saya tidak pernah mempengaruhi Bagas untuk melawan siapa pun.”

“Tidak perlu mempengaruhi! Cukup dengan air mata kamu itu! Perempuan kalau sudah pakai tangisan, laki-laki langsung bodoh!”

Bagas menatap Pipit.

Tatapan penuh konflik.

Dan itu lebih menyakitkan daripada semua makian.

Karena artinya… ia ragu.

Ia ragu pada istrinya sendiri.

Pipit merasakan sesuatu retak di dalam dadanya.

Bukan karena makian.

Tapi karena suaminya tidak berdiri tegak di sampingnya.

Bu Rahayu belum selesai.

“Tolong sadar, Pipit. Kamu itu bukan pilihan terbaik. Kamu itu cuma pilihan nekat. Dan saya tidak akan pernah diam melihat anak saya salah langkah.”

Kalimat itu seperti vonis.

Vonis tanpa pengadilan.

Pipit akhirnya berdiri tegak.

Tangannya gemetar, tapi suaranya tidak lagi serapuh tadi.

“Kalau Ibu merasa saya tidak pantas, kenapa dari awal tidak pernah benar-benar bicara baik-baik? Kenapa harus selalu merendahkan saya? Apa saya pernah menghina Ibu?”

“Berani kamu tanya begitu ke saya?”

“Saya hanya ingin dihargai.”

“Dihargai?” Bu Rahayu mendengus. “Orang itu dihargai kalau punya harga!”

Sunyi.

Kalimat itu lebih kejam dari tamparan.

Bagas akhirnya bersuara, kali ini lebih keras.

“Bu! Sudah cukup!”

Semua terdiam.

Bu Rahayu menatap anaknya dengan mata yang terluka dan marah.

“Sekarang kamu membentak ibu demi perempuan ini?”

“Saya tidak membentak. Tapi Ibu sudah kelewatan.”

Kelewatan.

Kata itu seperti bensin disiram ke api.

“Oke. Jadi sekarang saya yang jahat? Saya yang salah? Hebat! Hebat sekali kamu, Pipit! Baru beberapa bulan menikah sudah bisa bikin anak saya melawan!”

Pipit menutup mata.

Ia ingin berteriak.

Ingin membalas semua.

Ingin mengatakan bahwa ia lelah.

Lelah dihina.

Lelah dianggap tidak ada.

Lelah dianggap tidak layak hanya karena tidak punya “nama belakang”.

Tapi ia tidak melakukannya.

Ia hanya berkata satu kalimat.

“Saya tidak pernah ingin memisahkan Bagas dari keluarganya. Tapi saya juga manusia. Saya punya harga diri.”

“Kalau punya harga diri, jangan tinggal di sini!” Bu Rahayu menantang.

Bagas terdiam.

Pipit menoleh ke arah suaminya.

Dan dalam tatapan itu ada pertanyaan yang tidak perlu diucapkan.

“Kamu akan diam lagi?”

Bagas terlihat terjebak.

Antara ibu.

Dan istri.

Dan pilihan itu terasa seperti pisau bermata dua.

Bu Rahayu menyilangkan tangan.

“Silakan. Kalau kalian merasa tersiksa, pindah saja. Saya tidak pernah minta kamu tinggal di sini, Pipit.”

Kalimat itu terdengar seperti pengusiran yang dibungkus sopan.

Dan untuk pertama kalinya…

Pipit tersenyum.

Bukan senyum bahagia.

Tapi senyum orang yang sudah terlalu lelah untuk menangis.

“Baik, Bu.”

Semua terkejut.

Bagas langsung menoleh.

“Pipit…”

“Saya tidak mau jadi alasan pertengkaran setiap hari. Kalau keberadaan saya hanya membuat Ibu merasa direndahkan, mungkin memang lebih baik kami pergi.”

Bu Rahayu terpaku sesaat.

Mungkin tidak menyangka Pipit akan berani bicara setegas itu.

“Terserah!” katanya akhirnya, meski nadanya sedikit goyah. “Kalau itu pilihan kalian, jangan menyesal!”

Bagas menatap Pipit dengan panik.

“Kamu serius?”

Pipit menatap balik.

“Lebih baik hidup susah tapi tenang, daripada hidup nyaman tapi dihina setiap hari.”

Kalimat itu menggantung di udara.

Dan untuk pertama kalinya…

Bagas melihat sesuatu yang berbeda dari istrinya.

Bukan perempuan lemah.

Bukan perempuan yang hanya bisa diam.

Tapi perempuan yang tersakiti… dan mulai berdiri.

Bu Rahayu tertawa kecil.

“Kita lihat saja nanti. Hidup itu tidak semudah omongan. Jangan menangis kalau nanti minta balik.”

Pipit tidak menjawab.

Ia hanya berjalan kembali ke kamar.

Dan untuk pertama kalinya sejak menikah…

Ia merasa keputusan besar akan diambil.

Di kamar itu, ia duduk di tepi ranjang.

Tangannya dingin.

Tapi hatinya justru terasa aneh.

Bukan hancur.

Bukan putus asa.

Melainkan… marah.

Marah yang selama ini ditahan.

Marah karena dianggap tidak punya nilai.

Marah karena cinta selalu diukur dengan nama belakang.

Bagas masuk perlahan.

“Pipit…”

“Kalau kamu masih ragu,” katanya pelan tanpa menoleh, “tidak apa-apa. Aku tidak mau kamu meninggalkan ibumu hanya karena aku.”

“Jangan bicara seperti itu.”

“Bagas, aku capek.”

Kalimat sederhana.

Tapi berat.

“Aku capek jadi orang yang selalu salah. Aku capek dianggap beban. Aku capek merasa sendirian padahal aku punya suami.”

Bagas terdiam.

Dan kali ini… ia tidak bisa mengelak.

Karena ia tahu.

Ia memang terlalu sering diam.

Dan diam itu sama saja membiarkan istrinya dilukai.

Pipit berdiri.

Menatap suaminya dengan mata yang tidak lagi takut.

“Aku memilih kamu. Tanpa nama belakang. Tanpa harta. Tanpa jaminan apa-apa. Tapi kalau kamu tidak bisa memilihku juga, mungkin aku yang harus belajar melepaskan.”

Bagas terhenyak.

Dan untuk pertama kalinya…

Ia benar-benar takut kehilangan.

Di luar kamar, Bu Rahayu berdiri sendirian.

Wajahnya masih keras.

Tapi di matanya… ada sesuatu yang tidak mau diakui.

Ketakutan.

Karena mungkin…

Untuk pertama kalinya…

Perempuan yang ia anggap tidak punya apa-apa itu…

Tidak lagi takut padanya.

Dan itu jauh lebih menakutkan daripada semua perlawanan.

1
Mas Bagus
tenang kak, hidup adalah perjuangan.. tetep semangat...
partini
buset dah ini di gempur dari samping atas bawah macam udah jatuh tertimpa tangga plus pohonnya
biasanya udah stuck ga bisa mikir main ayo aja ,, Kalian kan bukan orang biasa orang berpendidikan use your brain be smart don't be stupid
partini
berjuang bersama istri dari O,kamu sekolah kan udah pernah pegang kendali biar pun gagal so jadi kan itu pelajaran yg akan menuju kesuksesan buktikan kamu mampu ,ada istri yg full support tapi nanti udah sukses mendua cari lobang lain is no good maaf bacanya loncat thor
Mas Bagus: siap...
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!