“Kak Miranda dipanggil Bapak.”
“Aku sedang mencuci piring,” jawab Miranda pelan.
“Kata Bapak nanti saja cuci piringnya,” ucap Lusi lagi.
Miranda menghentikan mencuci piring, mencuci tangan lalu melangkah ke ruang tengah.
Tampak di ruang tengah Raka duduk berdampingan dengan seorang perempuan itu.
“Duduklah, Miranda,” ucap Pak Budi dengan wajah serius.
Miranda duduk dengan patuh di kursi paling ujung.
Pak Budi tampak menghela napas panjang lalu berkata perlahan,
“Miranda, ini adalah Lina, dia calon istri Raka.”
Deg, jantung Miranda terasa tertusuk. Semua tenaganya seperti runtuh seketika.
Bangun dari jam tiga malam, bekerja tanpa istirahat, menyiapkan banyak makanan.
Semua itu hanya untuk menyambut calon istri dari suaminya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi damayanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KI 24
“Nunik!” teriak Miranda setengah berlari.
Ia menyusuri trotoar, menoleh ke kanan dan kiri, mencari sosok Nunik dan anaknya. Namun, tak ada siapa pun di sana. Lapak kecil yang tadi masih terlihat kini kosong.
“Nunik, ke mana kamu? Kenapa kamu menghilang?” ucap Miranda cemas.
Setelah sekian lama mencari dan tak menemukan hasil, ia akhirnya menyerah. Napasnya memburu. Keringat membasahi pelipisnya.
Mentari terbit malu-malu di ufuk timur. Folding gate salah satu ruko terbuka berderit. Seorang lelaki tua muncul sambil menguap.
“Hei, bawa roda kamu. Nanti sebentar lagi Satpol PP lewat. Gerobakmu bisa diangkut,” ucapnya ketus.
Miranda terdiam. Gerobak itu bukan miliknya.
“Cepatlah. Aku mau beres-beres,” desak lelaki tua itu.
Tak ada pilihan. Miranda memasukkan karung dan kardus ke dalam gerobak, lalu menariknya keluar dari area ruko.
“Nunik, di mana kamu?” gumamnya lirih.
Jam digital di papan reklame menunjukkan pukul 06.00. Miranda mempercepat langkah, setengah berlari sambil menarik gerobak yang rodanya berdecit pelan.
---
Sementara itu, di depan rumah Bu Salamah, suasana mulai tegang.
“Bu Salamah, dia tidak akan datang. Lebih baik berikan saja nasi uduk itu kepada saya,” ucap Mirna.
Bu Salamah terus memandang ke ujung gang, menanti Miranda yang tak kunjung terlihat.
“Lagian Ibu percaya saja omongan gembel,” sahut seorang perempuan paruh baya bermuka masam. Ia tadi ingin memesan nasi uduk, tetapi ditolak karena pesanan sudah habis.
“Bu, pesanan saya sepuluh dan Nani sepuluh sudah pas. Tenaga Ibu tidak terbuang sia-sia,” tambah Narti membujuk.
Bu Salamah tetap diam.
“Ayolah, Bu. Anggap saja uang lima puluh ribu dari gembel itu rezeki Ibu,” ujar Mirna tak sabar.
“Kalian kira aku mau memakan uang haram? Kalau dia tidak datang, aku akan mencarinya dan mengembalikan uangnya,” jawab Bu Salamah tegas.
“Ya sudah, sekarang berikan nasi uduk itu kepada kami,” desak Narti.
Bu Salamah menghela napas. “Tunggu lima menit lagi.”
Kedua perempuan itu tampak kesal. Padahal, selain murah, nasi uduk Bu Salamah memang terkenal enak. Banyak penjual lain, tetapi mereka sudah telanjur cocok dengan rasa masakannya.
Detik demi detik terasa lama.
“Sudah, Bu. Berikan saja kepada kami,” ujar Narti lagi.
Jam dinding menunjukkan pukul 06.09. Bu Salamah mulai meraih plastik berisi nasi uduk.
“Maaf, Bu. Saya terlambat!”
Semua menoleh. Miranda datang sambil mendorong gerobak.
“Ah, akhirnya kamu datang,” ucap Bu Salamah lega.
Miranda menepikan gerobak agar tidak menghalangi jalan, lalu menghampiri.
“Maaf, Bu. Saya bayar dulu tiga puluh lima ribu. Sisanya saya bayar setelah saya antar,” ucapnya penuh harap.
“Jangan percaya, Bu. Berikan saja sesuai uang yang dia kirim. Sisanya untuk kami,” sahut Marni.
“Benar. Kami ini tetangga Ibu. Harusnya Ibu lebih percaya kepada kami,” tambah Narti.
Miranda tertegun. Ini dagangan pertamanya. Masa harus gagal?
“Miranda,” panggil Bu Salamah.
Miranda mendongak. Ia sudah pasrah.
“Kenapa diam saja? Ini sudah pukul 06.12. Cepat antarkan nasi uduk ini,” ucap Bu Salamah sambil menyerahkan kantong plastik berisi nasi uduk dan minumannya.
Miranda nyaris tak percaya.
“Cepat, Mir,” desak Bu Salamah.
“Ibu keterlaluan! Lebih memilih gembel daripada kami!” bentak Narti.
“Miranda, cepat ambil dan berlari!” Suara Bu Salamah meninggi, mengabaikan protes mereka.
Miranda segera menerima pesanan itu dan berlari.
“Ibu akan menyesal! Dia tidak akan bayar!” teriak Mirna.
“Kalian ini cerewet sekali. Kalau mau pesan, biasakan sehari sebelumnya dan beri panjar,” jawab Bu Salamah ketus.
“Mana tahu anak-anak kami mendadak ingin nasi uduk Ibu,” balas Marni.
“Tunggu saja satu jam lagi. Masakan keduaku hampir matang,” kata Bu Salamah.
Mirna dan Narti merasa tersinggung. Mereka kesal karena kalah oleh seorang gelandangan.
“Dia tidak akan bayar. Ibu akan rugi,” sindir Marni.
“Kenapa kalian begitu yakin?” tanya Bu Salamah datar.
“Karena dia gembel. Perkataannya tidak bisa dipegang. Dia orang asing, sedangkan kami orang sini.”
“Kalau dia tidak bayar, aku yang rugi. Kenapa kalian yang repot?” sahut Bu Salamah sambil duduk karena lututnya mulai nyeri.
Mirna mendengus.
Tanpa banyak bicara, Bu Salamah membuka buku catatan.
“Minggu lalu kamu kurang bayar empat puluh ribu. Katamu dibayar kemarin, tapi sudah empat hari belum juga,” ucapnya tenang.
Wajah Marni langsung pucat.
“Mana ada? Aku sudah bayar,” elaknya.
“Aku selalu mencatat. Kalau masih menyangkal, akan kubilang pada suamimu,” ujar Bu Salamah.
“Jangan!” Marni panik. “Nanti sore aku bayar.”
“Keterlaluan. Demi membela gembel, Ibu membuka utang kami,” protes Narti.
“Sudah siang. Banyak yang harus kukerjakan. Pergilah,” tutup Bu Salamah.
Kedua perempuan itu akhirnya pergi sambil menggerutu.
“Kalian pandai menilai orang lain, tapi tidak mau melihat kesalahan sendiri,” gumam Bu Salamah sambil membalik halaman buku utangnya.
---
Sementara itu, Miranda terus berlari.
Ia tidak ingin usaha pertamanya gagal.
“Aku sudah mengeluarkan Rp85.000. Aku punya utang Rp25.000. Kalau gagal, aku akan kehilangan semuanya,” ucapnya dalam hati.
Tiba-tiba terdengar teriakan.
“Maling!”
Beberapa pria yang duduk di tepi jalan langsung berdiri dan ikut mengejar.
Miranda menoleh panik.
“Hah? Kenapa mereka mengejarku?”
Ia mempercepat langkah.
“Astaga, Tuhan… apalagi ini?” gumamnya getir.
Ia berlari sambil memeluk kantong plastik berisi nasi uduk erat-erat di dadanya.
gemes bgt baca ceeitanya