Dibunuh berkali - kali tapi tidak mati.
Itulah kehidupan Alexa. Terlahir dari keluarga yang tidak benar - benar utuh, Alexa tumbuh dengan luka yang terlalu dini. Ia bahkan menyaksikan sendiri saat ayahnya, dalam keadaan mab*k, memb*nuh Ibunya.
Steven—orang asing yang kebetulan ada di tempat kejadian kala itu, justru menambah tekanan hidup Alexa karena melibatkannya dengan polisi.
Alexa pikir, dia akan membenci Steven. Namun yang terjadi sebaliknya.
Peran Steven di kehidupan Alexa menjadi begitu penting. Harapan untuk sembuh dari luka dan trauma masa lalunya cukup besar dengan kehadiran Steven.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vermilion Indiee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ch. 34 - Tidak Tahu
Alexa kebingungan ketika mendapatkan tatapan - tatapan seolah dia adalah barang kotor dari orang - orang yang melewati lantai yang sedang dipelnya.
Tak berselang lama, Daffa tampak berjalan terburu - buru masuk ke ruangan Direktur. Wajahnya serius.
Namun Daffa sempat mundur lagi beberapa langkah untuk menoleh pada Alexa. Mata mereka bertemu beberapa saat sebelum akhirnya Daffa masuk tanpa menyapa atau mengatakan apa pun.
"Ada apa lagi sekarang?" gumam Alexa yakin kalau dia akan mendapatkan masalah lagi.
Beberapa saat kemudian, terdengar keributan di luar.
Awalnya Alexa pikir mungkin NOVA sudah kembali, tapi tampaknya keributan itu jauh lebih buruk dari sebelumnya.
Alexa melongok dari jendela koridor dan terkejut bahwa ada banyak orang yang datang dengan sebuah spanduk di tangan mereka seperti pendemo. Tak hanya itu, banyak sekali karangan bunga di halaman depan gedung agensi.
"Nggak usah heran. Itu juga gara - gara lo."
Alexa menoleh tersentak. Abi sudah di belakangnya bersama dengan manajernya. Tapi tidak dengan anggota lain.
"Aku?" Alexa semakin bingung.
"Gue nggak tahu lebih tepatnya lo atau Steven. Kalian sama gilanya!" rutuk Abi kemudian pergi—masuk ke ruang direktur juga.
Tak ada yang bisa Alexa komentari. Dia hanya menelan ludahnya hambar. Ada rasa tidak siap untuk menerima masalah baru di hidupnya. Semuanya sudah telalu melelahkan untuknya.
Kali ini, Alexa benar - benar tidak ingin terlibat.
Karena rasa penasaran yang cukup tinggi, Alexa membuka ponselnya untuk melihat apa yang membuat para penggemar begitu marah hingga berdemo langsung di depan gedung Fire Corp.
- BATAL KELUAR DARI NOVA, STEVEN NOVA MENGAKUI KARENA MENYUKAI SEORANG GADIS -
Baru membuka sosial media, headline kabar yang menghebohkan itu mengisi seluruh beranda sosmed Alexa.
Dia membaca isi kabar tersebut dan kedua matanya membelalak ketika namanya jelas terlibat di sana.
"Steven, si4lan!" rutuknya sembari mencoba mencari rekaman asli pengakuan Steven itu.
Dia langsung ke acara Talkshow yang baru saja dihadiri NOVA. Apa yang sedang panas diperbincangkan menjadi judul acara tersebut.
Setelah mendengar pernyataan langsung Steven, lutut Alexa serasa lemas. Dia sudah makan tapi energinya seperti terkuras habis. Lagi - lagi Steven membuatnya terlibat dalam masalah besar.
"Kamu ngapain?" tanya seseorang.
Alexa mendongak dan langsung bangkit saat Daffa sudah berdiri di hadapannya dengan setumpukan kertas di tangannya.
"S - saya sedang istirahat sebentar." Alexa menjawab dengan gugup.
"Sudah tahu masalah apa sekarang yang dibuat Steven?"
Ragu, Alexa mengangguk. Dia tidak bisa menyelesaikan kali ini.
Daffa menarik nafas pelan. Dia sebenarnya mencoba mengerti kalau Alexa tidak bermasalah. Tapi Steven - lah yang selalu membuat masalah dan melibatkan Alexa. Masalahnya, jika kabar itu menimbulkan keributan yang merugikan agensi, entah bagaimana dengan nasib Alexa.
Karena tak bisa dipungkiri bahwa Steven adalah aset berharga Fire Corp.
"Ada banyak brand yang memutus kontrak kerja sama dengan Steven," kata Daffa mencoba menjelaskan.
"Tapi saya tidak tahu apa - apa," sahut Alexa menundukkan kepalanya dalam - dalam.
Daffa mengangguk mengerti. "Memang bukan salah kamu. Tapi orang tidak akan mau melihat fakta itu. Mereka akan tetap menyalakan kamu."
"Tapi—"
"Hanya lima belas menit setelah acara Talkshow itu diunggah, keributan sudah terjadi di mana - mana. Jadi, jangan pulang sendiri." Daffa menyela ucapan Alexa kemudian pergi.
Selama beberapa menit, Alexa mematung. Pikirannya berkecamuk antara bingung dan takut. Takut kalau kehidupannya akan semakin buruk jika terus terlibat dengan Steven.
Di sisi lain, dia menyesal karena sudah menerima Steven di kehidupannya bahkan berpikir kalau Steven adalah temannya. Konyol sekali!
"Alexa!" Abi berteriak dari depan pintu ruang Direktur.
"Ya?" Alexa menjawab canggung.
"Selesaikan kerjaan lo. Gue tunggu di parkiran. Mobil merah plat W00920," kata Abi sambil berjalan ke arah lift dan menekan tombol lift.
Alexa langsung berlari menyuruh Abi. Bukan untuk ikut, dia ingin menanyakan maksud Abi itu.
"Kalau mau bicara, sekarang saja." Alexa siap kena marah Abi.
"Gue diminta nganter lo pulang. Sebenarnya gue nggak mau. Tapi mau gimana lagi," jelas Alexa.
"Oh, kalau begitu tidak usah. Aku—"
"Gue nggak mau nganter lo. Tapi gue lebih nggak mau NOVA hancur cuman karena cewek ingusan kaya lo!"
Alexa tak lagi menanggapi. Dia hanya menatap Steven masuk ke lift sampai pintu lift tertutup bersama Abi di dalamnya—berlalu.
Sudah Steven, sekarang Abi. Dua orang yang Alexa tidak tahu cara menanggapinya. Keduanya terlalu rumit untuknya yang sudah rumit memikirkan hidupnya sendiri.
Namun tak mau membuat Abi semakin marah padanya, Alexa segera menyelesaikan pekerjaannya dan berlari pulang ketika jam menunjukkan pukul lima sore tepat.
BRUK!
Alexa menubruk seseorang di pintu belakang.
"Maaf - maaf, saya tidak sengaja," ungkap Alexa panik.
"Oh, lain kali hati - hati, Alexa."
Saat itulah Alex sadar kalau yang dia tubruk adalah Cassandra, ibu Steven.
"Maaf, Bu. Saya buru - buru soalnya." Alexa tak berani menatap Cassandra lama - lama.
"Bisa bicara sebentar, Alexa?"
"Saya—"
"Saya tidak akan marah jika kamu tidak berusaha menghindar."
Alexa kembali terdiam berpikir. Dia terlaku takut dan memang kali ini rasanya hanya ingin menghindar. Tidak ada tempat yang aman baginya saat ini.
Jika menuruti Cassandra, itu akan membuat Abi semakin marah. Jika pergi, Cassandra - lah yang akan marah. Alexa seperti di himpit dua batu yang siap menghancurkannya.
"Maaf, Tante. Alexa harus pergi." Abi muncul tak jauh dari tempat mereka berdiri.
Karena halaman depan benar - benar penuh dengan pendemo, mereka semua memanfaatkan pintu belakang untuk menghindar dari kericuhan itu.
"Di mana Steven, Abi?" tanya Cassandra.
"Steven belum bisa menunjukkan diri karena keributan ini, Tante."
"Aku akan bicara dengan Alexa."
"Tolong jangan sekarang." Abi memohon yang akhirnya dibalas anggukan oleh Cassandra—mempersilakan Alexa pergi bersama Abi.
Abi langsung menarik Alexa dari sana dengan kasar. Dia benar - benar muak dengan Alexa.
"Masuk!" sentak Abi.
Alexa hendak membuka pintu kursi depan penumpang tapi Abi langsung menusuknya dengan tatapan tajamnya yang menakutkan.
"Gue nggak sudi duduk sebelahan sama lo," katanya dingin.
"Maaf..." ungkap Alexa. Suaranya sangat pelan karena tertahan.
Dia kemudian masuk ke kursi penumpang dan duduk di sana. Abi juga masuk dan mulai menjalankan mobilnya tanpa banyak bicara. Mereka melewati kerumunan orang - orang yang melempari mobil yang mereka naiki dengan kerikil.
Entah orang - orang tahu atau tidak kalau di dalam mobil itu adalah Alexa dan Abi.
Kecepatan mobil berkurang ketika mereka sudah cukup jauh dari lokasi gedung agensi. Abi terdengar menarik nafasnya beberapa kali.
"Di mana lo tinggal?" tanya Abi.
Alexa tertegun. Bukan karena Abi membuka pembicaraan dengannya tapi karena dia ingat sekarang dia tinggal di apartemen Steven.
Sebelum menjawab, Alexa melihat ke sekeliling berniat meminta Abi berhenti di pinggir jalan saja. Dia tidak mau situasi semakin runyam karena Abi tahu tempat tinggalnya saat ini.
"Lo tuli?!" Abi kehilangan kesabaran.
"Aku... aku turun di sini saja." Alexa menjawab dengan suara gemetar menahan rasa takut.
Mobil berhenti dan Alexa turun tanpa mengatakan apa pun karena sudah tak sanggup lagi bicara meskipun untuk sekedar bilang terima kasih.
Sekilas sebelum pergi, Abi menyadari keanehan pada Alexa yang berdiri di luar memaksakan tersenyum ke arahnya.
Wajahnya pucat, bibirnya membiru. Bahunya juga gemetar hebat dan matanya gelap—sayu. Nafasnya juga tampak memburu hampir menghilangkan keseimbangan kakinya yang menopang tubuhnya.
"Lo sakit?" Abi menurunkan kaca mobil.
Alih - alih menjawab, Alexa justru melihat Abi seperti sedang melihat hantu dan langsung berlari menyebrang jalan begitu saja. [ ]