NovelToon NovelToon
Perjuangan Driver Ojol Poligami

Perjuangan Driver Ojol Poligami

Status: sedang berlangsung
Genre:Poligami / Selingkuh / Konflik etika
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Bp. Juenk

Seorang Pria sederhana yang berprofesi sebagai Driver Ojol, ingin Berpoligami karena melihat teman SMA nya berhasil dalam poligami.

Namun Ia-Arman tidak mendapatkan restu dari Istrinya.

Berhasil kah Arman si Driver Ojol memperjuangkan Poligami nya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bp. Juenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SAH

Seminggu berlalu seperti tujuh hari yang berat. Arman menjalaninya dengan perasaan seperti berjalan di atas pecahan kaca—setiap langkah terasa sakit, setiap pijakan bisa merobek kulit. Ia tidak kunjung bicara pada Rani.

Bukan karena lupa atau sengaja menunda, tapi karena setiap kali mulutnya terbuka untuk memulai, keberanian itu langsung menguap begitu saja. Ia melihat Rani sibuk mengemas pesanan risoles di dapur, atau melihat Aldi yang tertidur dengan boneka mobil di pelukannya, dan semua kata-kata yang sudah ia susun rapi di kepala buyar seketika.

Di kos-kosan rahasianya, ponsel terus bergetar dengan pesan-pesan Nadia yang awalnya hangat, lalu perlahan mulai diwarnai kegelisahan.

[Nadia] : Assalamualaikum. Pagi. Semoga harimu lancar.

[Nadia] : Udah makan siang? Jangan lupa.

[Nadia] : Arman… seminggu sudah. Kamu belum kasih kabar soal pembicaraan dengan Rani.

[Nadia] : Aku nggak mau maksa. Tapi aku juga butuh kepastian. Bukan cuma soal kita, tapi soal statusku. Setiap hari ada saja yang nanya. Aku capek menjawab dengan senyum palsu.

Hari kedelapan, Nadia mengirim pesan yang lebih panjang. Bukan marah, tapi memilukan.

[Nadia] : Arman, aku minta maaf kalau ini membuatmu tertekan. Tapi aku harus jujur. Aku nggak bisa terus-terusan begini. Bukan karena aku nggak sabar, tapi karena aku takut. Takut semua ini hanya mimpi yang suatu hari kamu bangun dan sadar bahwa aku nggak lebih dari sekadar pelarian. Kalau kamu ragu, tolong katakan dari sekarang. Tapi kalau kamu serius… tolong buktikan. Aku cuma minta satu langkah kecil. Untuk status kita. Sisanya, aku ikhlas.

Pesan itu dibaca Arman berulang kali di kos-kosan, malam hari, setelah ia berpura-pura narik lembur. Di luar, hujan deras mengguyur Jakarta, suaranya memecah keheningan. Di layar ponsel, wajah Nadia di foto profil seolah menatapnya dengan harap-harap cemas. Arman menarik napas panjang. Lalu, ia mengetik balasan.

[Arman] : Maaf sudah membuatmu menunggu. Aku serius, Nadia. Aku nggak akan mundur. Tolong urus apa yang perlu diurus. Untuk tanggalnya… kapan kamu bisa?

Balasan Nadia datang dalam hitungan detik.

[Nadia] : Jumat sore. Jam 4. Di rumahku saja. Sederhana. Aku sudah bicara dengan ustadz langganan keluargaku, beliau bisa menjadi penghulu. Kita perlu dua saksi. Aku punya teman dekat yang bisa dipercaya. Kamu?

[Arman] : Aku… mungkin ajak Juki. Teman driver. Dia bisa dipegang janjinya.

[Nadia] : Baik. Aku siapkan semuanya. Mas kawin cukup seperangkat alat salat dan uang 500 ribu. Jangan keberatan ya, ini cuma formalitas. Yang penting niat kita.

[Arman] : Iya. Terima kasih, Nadia.

[Nadia] : Jangan bilang terima kasih dulu. Tunggu sampai kita benar-benar di depan penghulu.

---

Jumat sore itu, langit Jakarta mendung tapi tidak hujan. Seperti ikut menahan napas. Arman mengenakan kemeja batik lengan panjang yang baru ia beli dua hari lalu—motifnya sederhana, cokelat tua dengan corak hitam. Ia memadukannya dengan celana bahan hitam dan sepatu pantofel yang agak sempit di jari kaki.

Di saku dalam, ia menyimpan uang 500 ribu dalam amplop putih, dilipat rapi bersama cincin emas sederhana yang Nadia minta sebagai pengganti cincin kawin. Ia tidak memberitahu Rani apa pun. Pagi itu, ia pamit seperti biasa: "Ada orderan panjang ke luar kota, mungkin pulang besok pagi." Rani hanya mengangguk, sibuk menata dagangan.

Juki sudah menunggu di depan kos-kosan. Teman nongkrongnya itu hari ini mengenakan kemeja putih yang agak kekuningan di bagian ketiak, tapi ia sudah berusaha rapi. Wajahnya tegang, seperti orang yang hendak ujian.

"Lo yakin, Man?" bisik Juki saat mereka berboncengan menuju rumah Nadia di kawasan perumahan elite. "Gue respek sama lo, tapi ini… ini berat. Istri lo, anak lo…"

"Udah, nggak usah dibahas," potong Arman, suaranya parau. "Ini keputusan gue. Lo cuma saksi. Janji, jangan kasih tahu siapa-siapa."

"Janji, sumpah," kata Juki cepat. "Tapi gue cuma bisa doain yang terbaik buat lo."

Rumah Nadia adalah rumah minimalis dua lantai dengan cat putih krem dan taman kecil di depan. Tidak terlalu megah, tapi sangat terawat. Nadia menyambut mereka di pintu.

Ia mengenakan gamis brokat warna peach dengan kerudung senada, tipis dan elegan. Riasannya natural, hanya sedikit bedak dan lipstik warna salmon, tapi matanya bersinar tidak karuan—antara bahagia dan cemas.

"Mas Arman, Mas Juki, silakan masuk," ucapnya, suara sedikit bergetar. "Ustadz sudah di ruang tamu."

Di ruang tamu yang ditata rapi dengan sofa krem dan meja kayu jati, seorang pria paruh baya berjanggut tipis duduk dengan tenang. Di sampingnya, seorang wanita muda berhijab syar'i yang dikenalkan Nadia sebagai Tika, sahabatnya sejak kuliah.

Prosesi berlangsung singkat. Tidak ada dekorasi, tidak ada tamu berisik, tidak ada kue pengantin. Hanya tilawah pendek, khutbah nikah yang singkat dari ustadz, lalu ijab kabul. Arman mengucapkan kata-kata itu dengan suara jelas, tapi di dalam hatinya, ada ruang hampa yang makin melebar.

"Saya terima nikahnya Nadia Farah binti H. Hasan Basri dengan mas kawin seperangkat alat salat dan uang lima ratus ribu rupiah, tunai."

Ustadz mengucapkan sah. Tika mengucapkan selamat. Juki mengucapkan selamat dengan canggung. Nadia, di balik kerudung peach-nya, tersenyum. Air matanya jatuh pelan, seperti embun. Ia menunduk, menyeka sudut matanya dengan ujung jilbab, lalu berbisik, "Alhamdulillah."

Arman ikut tersenyum. Tapi senyumnya berat, seperti sedang mengangkat beban yang tak terlihat. Ia bahagia? Entahlah. Yang ia rasakan lebih seperti kelegaan karena satu keputusan telah diambil, dibarengi kepanikan karena seribu konsekuensi kini menanti.

---

Malam harinya, Arman masih di rumah Nadia. Juki sudah pulang lebih dulu, diantar taksi online dengan janji sumpah pemakaman di bibir. Kini hanya mereka berdua di ruang tamu yang sunyi. Nadia duduk di samping Arman, agak merapat. Ia melepas kerudungnya, rambut hitamnya jatuh sebahu. Wangi parfumnya—campuran melati dan vanilla—memenuhi ruang.

"Arman," panggilnya lembut. "Kita sudah sah sekarang. Aku… aku bahagia banget. Nggak bisa diungkapin." Ia menyandarkan kepala di pundak Arman. "Terima kasih sudah mau menerima aku seadanya."

Arman mengelus rambutnya, pelan. "Aku juga bahagia, Nadia. Cuma…"

"Cuma?" Nadia mendongak, menatapnya.

"Cuma aku masih harus ngomong sama Rani. Semakin lama aku tunda, semakin berat."

Nadia mengangguk pelan. "Aku tahu. Dan aku nggak akan nuntut. Tapi Arman… malam ini, malam pertama kita. Bisa nggak, untuk semalam ini, kita lupakan semua beban itu? Nikmati dulu momen ini? Besok kita pikirkan lagi."

Arman menatapnya. Wajah Nadia di bawah cahaya lampu ruang tamu terlihat begitu tulus, begitu rapuh. Ia sudah memberinya status. Ia sudah menjadi istrinya. Sekarang, ia hanya minta satu malam. Satu malam tanpa kebohongan, tanpa beban, tanpa Rani.

Arman mengangguk. Malam itu, ia tinggal.

---

Malam telah sepenuhnya turun ketika Nadia dan Arman akhirnya sendiri. Rumah itu sunyi, hanya suara detak jam dinding yang menemani. Nadia duduk di ujung sofa, masih dengan gamis brokat peach-nya, jari-jarinya memilin ujung kerudung dengan gugup. Ini pertama kalinya ia berada dalam situasi seperti ini—menjadi istri, memiliki suami di sampingnya, meski hanya untuk malam ini.

"Kamu capek?" tanyanya lirih, memecah keheningan.

Arman menggeleng. "Nggak. Kamu?"

"Aku... deg-degan," aku Nadia dengan jujur. Matanya yang sendu menatap Arman. "Aneh ya, kita sudah sering bareng, ngobrol panjang, tapi sekarang rasanya beda. Kayak... pertama kali ketemu lagi."

Arman tersenyum tipis. Tangannya meraih jemari Nadia yang dingin. "Iya. Beda."

Nadia menarik napas dalam, lalu berdiri. "Aku ganti baju dulu, ya. Kamu santai aja. Kalau mau, kamar mandi ada di sebelah sana." Ia menunjuk ke arah koridor.

Arman mengangguk. Nadia melangkah pergi, meninggalkan Arman yang menatap sekeliling ruangan. Di dinding, ada foto Nadia bersama beberapa relawan, piagam penghargaan, dan sebuah lukisan kaligrafi.

Semuanya rapi, teratur, mencerminkan pemiliknya yang perfeksionis. Tapi di sudut meja, ada bingkai foto yang menghadap ke bawah. Arman penasaran, tapi urung membaliknya.

Tak lama, Nadia kembali. Ia telah melepas gamis dan kerudungnya, kini mengenakan daster panjang berwarna biru dongker dengan motif bunga kecil. Rambutnya yang hitam terurai sebahu, sedikit bergelombang alami. Tanpa riasan, wajahnya terlihat lebih muda, lebih rentan, dan entah mengapa, lebih cantik.

"Mau minum apa? Aku buatin teh hangat?" tawarnya.

"Teh hangat boleh."

Mereka minum teh di ruang tamu, ditemani kue kering yang Nadia keluarkan dari toples. Obrolan ringan tentang rencana besok, tentang thrift shop yang akan buka cabang baru. Tapi di balik obrolan itu, ada ketegangan yang manis, seperti karet yang ditarik perlahan.

Jam menunjukkan pukul sembilan malam ketika Nadia akhirnya berkata, "Arman... udah malem. Capek, kan? Mending kita... istirahat."

Arman mengangguk. Ia bangun, diikuti Nadia. Tangannya digandeng, dan Nadia menuntunnya menuju kamar tidur di lantai atas.

Kamar Nadia tidak besar, tapi sangat nyaman. Ranjang ukuran queen dengan seprai putih bersih, dua bantal besar, dan selimut tipis warna krem. Di sudut, ada meja rias dengan cermin besar, dipenuhi botol-botol skincare dan parfum. Lampu tidur di samping ranjang memancarkan cahaya kuning hangat.

Mereka duduk di tepi ranjang, saling berhadapan. Nadia menunduk, jarinya sibuk memilin ujung daster. "Arman," bisiknya.

"Iya?"

"Aku... aku mau minta maaf."

Arman mengernyit. "Maaf kenapa?"

"Karena mungkin... ini semua terlalu cepat. Karena aku memaksamu. Tapi aku janji, aku nggak akan jadi beban. Aku nggak akan ganggu rumah tanggamu dengan Rani. Aku cuma..." suaranya pecah. "Aku cuma capek sendiri."

Arman mengangkat dagu Nadia perlahan, menatap matanya yang basah. "Nggak usah minta maaf. Ini juga keputusanku."

"Kamu bahagia?" tanya Nadia hampir berbisik.

Arman tidak langsung menjawab. Ia memandangi wanita di hadapannya. Nadia, yang selama ini selalu tegar, selalu mandiri, selalu punya jawaban untuk segalanya. Kini di hadapannya, ia hanya seorang perempuan yang ingin dicintai.

"Iya. Aku bahagia," jawab Arman akhirnya.

Nadia tersenyum. Senyum yang mekar perlahan, seperti bunga yang lama tak kena matahari. Ia mendekat, menyandarkan kepala di dada Arman. "Terima kasih."

Malam itu, untuk pertama kalinya, Nadia merasakan hangatnya tidur dalam dekapan. Bukan hanya secara fisik, tapi secara emosional. Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, ia tidak merasa sendiri.

Dan untuk Arman, malam itu adalah pelarian dari segala beban—dari kecurigaan Rani, dari tuntutan hidup, dari rasa bersalah yang terus menggerogoti. Di pelukan Nadia, ia bisa berpura-pura menjadi Arman yang berbeda. Arman yang tidak punya masalah. Arman yang hanya dicintai.

Namun di tengah malam, saat Nadia terlelap dalam dekapannya, Arman terbangun. Ia menatap langit-langit kamar yang asing, mendengar detak jantungnya sendiri.

Pikiran tentang Rani dan Aldi menyelinap masuk, merusak ketenangan semu yang ia bangun. Ia teringat janji pernikahannya dulu, di hadapan penghulu dan ratusan tamu. Ia teringat wajah Rani saat melahirkan Aldi, campuran antara lelah dan bahagia yang tak terlukiskan.

Di ruang tamu, ponselnya bergetar. Sebuah pesan dari Rani yang tidak terjawab karena ia sengaja mengabaikannya: "Udah sampai? Hati-hati di jalan. Aldi nanyain bapaknya."

Arman menatap pesan itu lama, lalu mematikan layar. Di sampingnya, Nadia bergerak, meraih lengannya dalam tidur. Dua dunia bersinggungan dalam satu malam. Dua perempuan yang sama-sama membutuhkannya.

Dan di antara mereka, Arman hanya bisa diam, merasakan betapa beratnya memiliki dua hati, sementara ia sendiri tidak yakin apakah hatinya cukup besar untuk menampung semuanya.

Malam semakin larut. Arman memejamkan mata, tapi tidur tak kunjung datang. Ia hanya berbaring, menunggu fajar—fajar yang akan memaksanya kembali ke dunia nyata, kembali pada kebohongan, dan kembali pada pilihan-pilihan yang tak pernah ia siapkan.

---

Namun, di rumahnya yang sunyi di Bekasi, Rani tidak bisa tidur. Ia sudah menyelesaikan 50 risoles pesanan, sudah mengepel lantai, sudah membacakan Aldi dongeng dua kali. Anaknya tidur pulas dengan boneka mobil di pelukan. Tapi Rani hanya bisa memandangi langit-langit kamar yang retak.

Ponselnya ia genggam, menatap foto profil Arman yang sedang menggendong Aldi di pantai—foto dua tahun lalu, saat mereka masih sering tersenyum. Tak ada pesan masuk. Tak ada kabar.

"Orderan panjang ke luar kota," kata Arman pagi tadi. Tapi biasanya, ia selalu sempat mengirim stiker atau pesan singkat. Malam ini, tidak ada.

Rani tidak menelpon. Ia hanya memandangi foto itu, dan di dadanya, ada firasat buruk yang merambat seperti akar pohon beringin—perlahan, tapi pasti merusak fondasi. Ia memejamkan mata, berusaha meyakinkan diri bahwa semuanya baik-baik saja. Tapi air matanya sudah jatuh lebih dulu, sebelum ia sempat menahannya.

---

Pukul setengah enam pagi, Arman pulang. Fajar baru merekah di ufuk timur, menggantikan gelap yang semalaman menemaninya. Ia memarkir motor di depan rumah, mematikan mesin, dan duduk sebentar di teras.

Pintu rumah terbuka pelan. Rani muncul dengan daster rumah dan rambut acak-acakan. Matanya sembab, tapi suaranya datar.

"Pulang?"

"Iya. Capek," jawab Arman, tanpa menatapnya.

"Mau mandi? Aku panasin nasi."

"Nggak usah. Nanti aja."

Rani tidak bergerak dari ambang pintu. Ia memandangi suaminya—baju baru, wangi parfum yang bukan miliknya, dan tatapan yang tidak bisa bertemu matanya. Semua kecurigaan yang selama ini ia pendam, kini seperti air dalam gelas yang sudah penuh, siap tumpah.

"Arman."

"Ya?"

"Lo semalam di mana?"

Keheningan menganga di antara mereka. Di kejauhan, Arman menelan ludah, jantungnya berdebar kencang. Berbohong lagi? Atau jujur? Ia tidak siap untuk keduanya.

"Di orderan," jawabnya akhirnya. "Aku mau salat dulu."

Ia masuk melewati Rani, tanpa menyentuhnya, tanpa menatapnya. Di kamar mandi, ia menyalakan keran dan membiarkan air mengalir, menenggelamkan suara tangisnya sendiri. Ia telah menikahi perempuan lain. Ia telah menginjak-injak janji setianya. Ia telah menjadi laki-laki yang paling ia benci dulu.

Dan di balik pintu, Rani berdiri membeku, membelakangi punggung suaminya yang menjauh. Ia tidak tahu detailnya. Tapi ia tahu. Ia sudah tahu sejak lama ada yang berbeda. Kini, yang tersisa adalah memilih: menghadapi kenyataan yang akan menghancurkan keluarganya, atau berpura-pura buta hingga semuanya runtuh dengan sendirinya.

Fajar itu, dalam rumah yang hening, dua orang yang pernah saling berjanji setia di hadapan penghulu, kini berjarak ribuan kilometer meski hanya terpisah satu ruangan.

Pernikahan siri di senja telah melahirkan pernikahan lain yang mulai sekarat di pagi buta. Dan di antara mereka, seorang anak masih tertidur lelap, tak tahu bahwa dunianya sedang digerogoti dari dalam.

1
La Rue
Semangat Arman 👍
Halwah 4g
Karya othor 1 ini suangaatttt keren.. sepertinya menuliskan pengalaman pribadinya sehingga sangat amazing ceritanya.. membolak-balikkan mood emak2 kaya kita.Andai tkohnya ada di depan mata pngen rasanya di bejek2
Bp. Juenk: 🤣🤣🤣 thanks for support nya kaka 👍
total 1 replies
falea sezi
hahaah gt klo pelakor niat emank menguasai
Suhainah Haris
sesuatu yang di paksakan akan berakhir juga dengan keterpaksaan, impian Arman menyatukan istri semakin jauh,bisa jadi malah kehilangan keduanya
La Rue: ada yg experts kah 🤣🤣🤣
total 2 replies
Suhainah Haris
Nadia mulai banyak kehendak,kalau mau suami yang utuh jangan laki orang kamu embat,ini konsekuensi yang harus kamu terima
Lee Mbaa Young
Karma pelakor dong Nadia bangkrut dan istri sah rani usahanya maju.
arman makin blangsak hidup nya.
falea sezi
cerai. lah. oon gagal. move on. laki. yg bekas lakor. situ g jijik. ya dan hadeh btw cinta boleh goblokk. jangannn/Hunger/
falea sezi
mbk. pelakor berasa korban ya haduh kayak. yg lagi viral. dehh uppss/Hey/
falea sezi
arman arman ne lacurmu playing victim bgt nanti lu di buang nadia jangan nanges ya/Shame/ sok. lembut ih lakor
Lee Mbaa Young
wanita baja ki berani ngambil keputusan kl bgini Rani sebagai wanita beragama ya dosa.
kl cerai ya cerai kl bgini hub bgaimana aneh.
lihat podcast Densu dng mama dedeh barusan.
Kl gk mau cerai ya terima poligami nya aman artinya hidup berdampingan.
Kl gk mau dampingan ya cerai bkn hub menggantung kayak gini.
yg Ada mupuk dosa.
Kl Arman gk masalah dng Nadia krn nikah siri gk perlu izin istri pertama.
kl posisi rani sebagai istri pertama hnya 2 pilihan kl lanjut pernikahan hrs terima poligami kl gk mau berdampingan ya cerai. aneh bnget. kyak gk ngerti agama saja.
Suhainah Haris: Rani hanya butuh waktu, keputusannya nanti mungkin berdasar pada sikap Arman ke Aldi,apakah dia konsisten dengan perjanjian mereka,
total 1 replies
Lee Mbaa Young
langsung urus surat cerai lah. ngapain mau ma laki model bgitu. Kl aku ya sory ae 🤣. soale sudah merasakan jd ku tendang lah laki ku.
Achnad Asbert: 🙏 maafkan aku sayang... aku khilaf... ,
total 2 replies
Suhainah Haris
thanks for update nya thor,semangat
Bp. Juenk: siap, thanks supportnya
total 1 replies
Suhainah Haris
intinya kamu gak berbakat buat poligami,betul kata Nadia harusnya kamu fokus sama dia,bukannya ini semua keinginanmu,
Bp. Juenk: Maruk Ka 😄
total 1 replies
Suhainah Haris
seandainya Arman dan Rani bercerai,demi mendapatkan simpati Arman kayaknya Nadia bakalan mempergunakan uangnya membantu Arman merebut hak asuh anaknya
Lee Mbaa Young
yakin lah sedih nya laki cm sebentar apalagi istri muda pendai ngambil hati plus bnyak uang🤣.
mnding urus cerai drpd hidup hub di gantung status jelas mlh gk nambah dosa kita kn.
Bp. Juenk: /Whimper//Gosh//Gosh//Gosh/
total 2 replies
Suhainah Haris
aku tebak sih si Arman sedih pasti anaknya di bawa pergi,tapi pasti cuma sebentar,karena Nadia sangat pandai merayu dengan kata kata menenangkan
Suhainah Haris: Nadia itu perempuan manipulatif,dan dengan bodohnya si Arman terjebak,lihat saja nanti dia hanya akan di jadikan jongos
total 3 replies
Suhainah Haris
aku sepertinya sudah faham permainannya Nadia, berpura-pura polos dan pengertian,pada akhirnya tujuannya ingin memiliki Arman seorang diri dan tentu saja Aldi,dia ingin membuat Rani kehilangan suami dan anaknya,dan tentu saja si Arman yang super bodoh itu akan masuk perangkap
Bp. Juenk: 🤣🤣🤣 Isa ae nih othor horror
total 2 replies
Suhainah Haris
gak ada kebahagiaan bagi manusia rakus
Bp. Juenk: 👍 setuju ka
total 1 replies
falea sezi
urus cerai ran qm berhak bahagia laki g tau diri bkin cerai Thor laki. doyan selangor kayak gini g pantes dpet istri sebaik rani
Bp. Juenk: wkwkwk cerita horror yg sadis itu ya
total 3 replies
falea sezi
cerai ran
Bp. Juenk: setuju...👍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!