Serra Lune, seorang pembunuh bayaran, menemukan targetnya di tempat yang salah. Ethan Hale, seorang pemuda baik pembuat herbal asal desa, diburu hanya karena wajahnya mirip dengan orang lain. Saat Serra memastikan kebenarannya, ia dihadapkan pada pilihan: menyelesaikan misi, atau melindungi orang yang seharusnya mati.
Keputusannya membuat mereka diburu. Dalam pelarian dan hidup sembunyi-sembunyi, dua orang dari dunia yang bertolak belakang belajar bertahan bersama. Bukan hanya karena takdir, melainkan memilih satu sama lain di dunia yang kejam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aiyuki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Saling support
Beberapa koper besar tergeletak di dekat pintu masuk. Dikirim lewat paket ekspres beberapa hari lalu, lengkap dengan sepatu, jaket, dan entah berapa banyak buku dan alat canggih lainnya. Semua itu milik Vivian. Ethan tidak jadi mengusirnya, ia sedikit bersimpati pada gadis mungil tersebut karena masih berkaitan dengan Serra. Namun tanpa ia sadari sedikit rasa simpati itu membuahkan keakraban yang unik.
Semenjak kedatangan Vivian, apartemen kecil itu tidak lagi terasa kosong. Gadis mungil berambut gelombang itu kerap kali mengajak Ethan bicara, baik tentang susunan rencana, maupun hal-hal kecil yang menurutnya menarik untuk dibahas.
Ethan berdiri di depan jendela, kata-kata Vivian masih berputar di kepalanya. Semua hal yang ia ketahui kali ini terasa semakin berat, bahkan sampai membuat pola tidurnya berantakan. Tapi dibanding sebelumnya, kali ini ia mulai memiliki tujuan baru. Sebuah tujuan penting dengan banyak resiko berbahaya.
Ethan menghembuskan napas panjang, lalu menjatuhkan dirinya ke lantai. Pria itu mulai melakukan push-up ringan yang beberapa hari ini kembali rutin ia jalankan. Semenjak Serra menghilang, ia sudah tidak pernah lagi datang berlatih. Alasannya berhenti karena tempat itu terlalu penuh kenangan.
"Sudah hitungan ke berapa?," tanya Vivian santai.
"Lima puluh," sahut Ethan.
"Benarkah? aku dengar baru sampai empat puluh."
Ethan melirik sinis, "Tch.. kerjakan urusanmu sendiri."
"Saat ini kau juga termasuk kedalam urusanku kak Ethan," kilah Vivian.
Ethan tak menanggapi, ia tetap melanjutkan kegiatan rutinnya. Pada awalnya ia merasa aneh saat Vivian memanggilnya seperti itu, namun sekarang sudah tidak lagi. Ia mulai terbiasa dengan panggilan tersebut.
Merasa jika Ethan mengabaikannya, membuat jiwa kekanakan Vivian muncul. Tanpa aba-aba gadis mungil itu bangkit dari sofa. Ethan yang tiba-tiba merasakan sesuatu mendarat pelan di atas punggungnya, seketika menoleh.
Kedua netra nya melihat dengan sekilas sosok mungil tengah duduk santai di atas punggungnya, sembari membuka buku komik, seperti sedang piknik.
"Vivi, hentikan," tegur Ethan.
"Latihan resistensi, aku membantumu menjadi tambahan beban secara gratis," sahut Vivian santai.
"Turun."
"Tidak, aku akan menghitung sampai seratus."
"Kubilang turun!."
"Empat puluh delapan, empat puluh sembilan..," Vivian mulai menghitung, tanpa peduli.
Ethan mendesah kasar, tapi tetap melanjutkan. Tentunya dengan menambah tingkat kekuatan serta keseimbangan tubuhnya.
"Ngomong-ngomong punggungmu keras sekali," komentar Vivian sambil membalik halaman buku, "Serra pasti betah."
Mendengar celotehan asal itu membuat hati Ethan sedikit goyah, namun tidak dengan fisiknya. Ia mulai mempercepat gerakan push-up, membuat posisi Vivian jadi tidak seimbang.
"Hey kalau terlalu cepat, aku bisa jatuh!," seru Vivian yang kini berpegang teguh pada kaos Ethan.
"Aku tidak menyuruhmu duduk di sana," balas Ethan dengan suara dan tangan yang mulai gemetar.
"Kak Ethan!."
Brukkk!
Ethan menjatuhkan tubuhnya ke lantai dengan sengaja. Sementara itu Vivian jatuh terpelanting disampingnya dengan buku yang juga terlempar.
Sejenak mereka terdiam lalu saling pandang.
"AHAHAHA!!!."
Namun tiba-tiba Vivian mulai tertawa keras. Seketika Ethan memutar bola mata, tanpa sadar sudut bibirnya terangkat tipis. Sudah lama sekali di apartemen kecil ini tidak mendengar suara tawa yang entah mengapa membuat hatinya kian menghangat.
...----------------...
Sore harinya, seperti biasa mereka mulai latihan sesi menembak. Atas usul dari Vivian, papan sasaran dengan bullseye target telah dipasang dalam ruang kamar apartemen. Tentunya dengan peredam dan sistem pengaman yang sudah ia siapkan sebelumnya.
Ethan mulai mengambil napas, dengan air soft gun yang sudah tergenggam erat di kedua tangan. Sementara Vivian berdiri di belakangnya dengan tangan bersedekap.
"Out!"
"Aku bahkan belum menembak," keluh Ethan.
"Kau takut," sanggah Vivian.
"Tidak, hanya bersiap," kilah Ethan.
"Terlalu lama, bilang saja kalau takut," nada gadis mungil itu terdengar meledek.
DOR!
Tembakan pertama meleset jauh dari tengah target. Vivian mengangkat alis "Out!," serunya.
"Tch.." Ethan mendecih pelan.
DOR!
Tembakan kedua terlihat lumayan, namun masih berada di garis luar target. "Better, but not enough!," Vivian menyilang kan tangan.
DOR!
Tembakan ketiga, belum tepat ditengah namun sudah mendekati, dan itu cukup membuat sudut bibir gadis mungil itu melengkung. Ekspetasi Vivian terhadap kemampuan Ethan pada awalnya memang nol besar. Namun setelah melihat sendiri tekad besar yang pria itu miliki, ia tak lagi berekspektasi. Kini ia yakin jika rencana yang mereka buat akan segera terlaksana.
"Ok good! lebih baik dari sebelumnya," ujar Vivian.
Ethan menurunkan pistolnya, adrenalin kecil dalam dirinya mulai turun, "hey vivi, aku jadi penasaran, kau banyak tahu tentang hal seperti ini, padahal usiamu masih sangat muda. Apa dia -Serra yang mengajarimu?," tanya Ethan tiba-tiba.
Vivian tidak langsung menjawab, sejenak ia berpikir untuk tidak terlalu banyak memberi info. Namun hal itu ia urungkan karena merasa percaya pada sosok Ethan yang menurutnya pria baik.
"Mm.. itu karena aku tumbuh di lingkungan yang sama dengan Serra."
Ethan terdiam, mengingat bagaimana Serra begitu ketat melindunginya. Namun hal itu tak sepenuhnya membuat pria itu luluh. Dalam pikirannya sat ini, perlindungan yang Serra berikan tidak lebih dari bentuk ketidak percayaan wanita itu kepadanya.
Padahal selama ini, ia selalu berusaha mengupgrade dirinya agar suatu hari nanti Serra mau melihat ke arahnya. Tapi kenyataan memang selalu menyakitkan, wanita itu malah pergi tanpa mengatakan apapun, tak hanya itu, bahkan sampai meninggalkan luka yang terlalu dalam untuknya.
"Menurutmu jika rencana ini berhasil, apa dia akan kembali melihat kearah kita?," tanpa sadar Ethan melontarkan pertanyaan yang membuat mata Vivian melebar.
"A-aku.. tidak tahu, tapi yang pasti aku tidak bisa meninggalkannya sendirian, dia orang yang berharga dalam hidupku," mata Vivian tergenang.
Ethan kembali terdiam, mendengar kalimat Vivian yang tulus membuat hatinya bergetar, "Akan ku pastikan rencana ini berhasil," timpalnya.
...----------------...
Esoknya, mereka pergi belanja kebutuhan sehari-hari. Malam itu Supermarket tidak terlalu ramai. Hanya ada beberapa orang pengunjung yang berbelanja. Suasana terlihat sangat normal, hingga tiba-tiba Ethan berhenti mendorong trolinya ketika merasakan sesuatu yang aneh sejak pertama mereka melangkahkan kaki kedalam pusat perbelanjaan tersebut.
"Ssst.. Vivi," Ethan setengah berbisik.
Vivian yang sedang memilih sereal kesukaannya seketika menoleh, "Yup?," alisnya terangkat.
"Ada yang memperhatikan kita," bisik Ethan seraya mengambil sereal dari tangan Vivian.
Gadis mungil itu langsung waspada, kedua netra nya segera memindai sekeliling dengan cepat sambil tetap bersikap seperti biasa. Terlihat beberapa orang pria yang sedang berbelanja, namun gerakan mereka agak mencurigakan. Terlebih saat tatapan Vivian bertemu dengan salah satunya, pria itu tampak kikuk.
"Kak Ethan, kita harus pergi sekarang. Kemungkinan mereka dari organisasi lain," bisik Vivian.
Ethan menghela napas pelan, "berapa orang?," tanya nya.
"Kemungkinan delapan orang, empat di lorong minuman, dua lagi di tempat frozen food, lalu dua di dekat kasir."
Ethan kembali menghela napas, jujur saya ia merasa sedikit panik. Mereka tetap berjalan santai seperti biasa, tidak menunjukkan gelagat ataupun mempercepat langkah. Sampai akhirnya salah satu pria di dekat kasir mulai bergerak mendekat.
Dengan cepat Ethan meraih pergelangan tangan Vivian, mengajaknya berlari. Benar saja beberapa orang yang semula berpencar, kini mengejar pada titik yang sama.
"Di sana ada pintu darurat!," seru Vivian seraya menunjuk ke arah sebuah pintu dengan tulisan peringatan.
Mereka kembali berlari menuju pintu tersebut, namun langkah kaki orang-orang itu semakin terdengar mendekat.
Brukkk!
"Aduh!."
Karena tidak bisa mengimbangi ritme saat berlari, Vivian jatuh terjerembab. Hal itu membuat Ethan semakin panik, secara refleks pria berambut sebahu itu langsung mengangkat tubuh mungil Vivian lalu menggendongnya bagai sekarung beras sambil tetap berlari.
Drap drap drap!
Derap suara langkah kaki terdengar saling menyusul. Posisi wajah Vivian yang berada tepat di belakang punggung Ethan sangat memungkinkan untuknya melawan. Dengan tubuh yang terguncang, tangan gadis mungil itu meraih benda apapun yang ada di rak gondola, lalu melemparkannya ke arah para pria yang masih mengejar mereka.
Brukkk!
Brukkk!
"Ahha! rasakan itu!," seru Vivian setelah berhasil menuangkan satu botol minyak, membuat satu persatu dari mereka terjatuh, tapi beberapa tetap bertahan.
Ketika mereka sampai di depan pintu darurat, Ethan segera membukanya. Ternyata pintu tersebut membawanya ke arah area belakang tempat parkir. Pria berambut sebahu itu terus berlari sembari menggendong Vivian, akan tetapi keberuntungan sedang tidak berpihak kepadanya, jalan buntu menyambut mereka.
"Hey berhenti!," teriak salah satu pria yang mengejar.
"Hahh.. hahhh.."
Dengan napas terengah, Ethan menurunkan Vivian, lalu mendorong pelan tubuh mungil itu untuk berlindung dibelakangnya. Ia tak punya pilihan lain selain melawan, karena posisi mereka makin terdesak. Terlebih saat ini beberapa orang pengejar tersebut sudah berada tepat dihadapannya.
"Hey cepat bawa dia!," ujar salah satu pria kepada dua rekannya.
Salah satu pria botak mulai mendekat, membuat jantung Ethan berdetak lebih cepat. Ia mundur perlahan sambil salah satu tangannya tetap melindungi Vivian. Hingga pada saat si pria hendak menyentuhnya, secara refleks Ethan menangkap pergelangan tangan lawan, lalu memutarnya dengan cepat. Tak hanya itu, ia pun menendang tubuh lawan dengan keras. Gerakan itu terlihat bersih dan presisi. Tampak sama persis saat ia melakukan latihan bersama Serra.
"Arrrgh!."
Pria botak tersebut jatuh tersungkur, lalu mengerang kesakitan, membuat rekannya yang lain saling pandang sejenak. Namun tak sampai sepersekian detik, mereka kembali menoleh ke arah Ethan. Melihat ke lima pria yang menatap dengan amarah, entah mengapa tak membuatnya merasa takut, justru ia makin merasa tertantang.