Alya tak pernah menyangka hidupnya akan terikat pada haruka— pria dingin, tenang dan berbahaya, seseorang dari kalangan atas yang lebih tertarik dengan hidup di dunia mafia.
hubungan mereka bermula dari sebuah kontrak tanpa perasaan, namun jarak itu perlahan runtuh oleh kebiasaan kecil dan perlindungan tanpa kata.
Saat alya mulai masuk ke dunia haruka—kekuasaan, kekayaan dan rahasia kelam.
ia sadar bahwa mencintai seorang mafia berarti hidup di antara kelembutan dan bahaya.
Karena di dunia haruka, menjadi istri kesayangan bukan hanya soal cinta..
tapi juga bertahan hidup.
Thx udah mampir🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rifqi Ardiasyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16. Aku Juga Ingin Dimanja
Haruka sembuh lebih cepat dari yang ia kira.
Demamnya benar-benar turun, wajahnya kembali segar, langkahnya mantap seperti sebelum operasi. Tapi ada satu hal yang luput dari perhatiannya—atau mungkin ia sengaja tidak ingin melihatnya.
Aku.
Tubuhku mulai terasa berat sejak pagi. Kepala pening, pandangan sedikit berkunang. Tapi aku tetap memaksakan diri berdiri di dapur, menyiapkan sarapan seperti biasa.
“Alya,” suara Haruka terdengar dari belakang.
“Kau pucat.”
Aku menoleh sambil tersenyum kecil. “Biasa.”
Itu bohong.
Beberapa langkah kemudian, kakiku goyah. Aku sempat berpikir akan baik-baik saja—sampai dunia terasa miring dan lenganku refleks mencari pegangan.
Haruka lebih cepat.
Ia menangkapku sebelum aku benar-benar jatuh.
“Alya,” panggilnya, kali ini nada suaranya tegas. “Kau sakit.”
“Aku cuma capek,” bantahku pelan.
Ia tidak menjawab. Tangannya menyentuh dahiku, lalu alisnya langsung berkerut.
“Panas.”
Aku ingin tertawa, tapi rasanya berat sekali.
Tanpa banyak bicara, Haruka menggendongku.
Bukan sekadar menopang—benar-benar menggendong, seperti aku ringan dan tidak berarti apa-apa di lengannya.
“Turunin,” protesku lemah.
“Kamu baru sembuh.”
“Diam,” katanya singkat. Nada yang sama seperti saat aku memaksanya minum obat dulu.
Aku terdiam.
Di kamar, ia membaringkanku dengan hati-hati. Selimut ditarik rapi, bantal disesuaikan. Semua gerakannya tenang, terkontrol—tapi kali ini, penuh perhatian.
Aku menatapnya lama.
“Kamu kenapa ngeliatin aku kayak gitu?” tanyanya.
Aku memonyongkan bibir, sesuatu yang bahkan tidak kusadari kulakukan.
“Aku juga pengen dimanja.”
Ia terdiam.
“Kemarin-kemarin aku yang jaga kamu,” lanjutku lirih. “Sekarang gantian.”
“Alya—”
“Kontrak, ya?” potongku cepat, setengah kesal setengah memohon.
“Aku lagi sakit, jangan bawa itu dulu.”
Ia menghela napas panjang.
Lalu duduk di tepi ranjang.
“Apa yang kau mau?” tanyanya akhirnya.
Aku tersenyum kecil. “Gendong aku.”
Ia menatapku seolah memastikan aku serius.
“Sekarang.”
Beberapa detik hening, lalu Haruka berdiri dan kembali mengangkatku—kali ini membiarkanku bersandar di dadanya. Aku melingkarkan tangan ke lehernya dengan malas, kepala bersandar tepat di bahunya.
Hangat.
“Alya,” katanya pelan.
“Kau keterlaluan.”
“Tapi kamu nurut,” balasku lemah, nyaris berbisik.
Ia tidak menyangkal.
Siangnya, aku menolak kembali ke kasur. Aku memaksa duduk di sofa—dan akhirnya tidur di pangkuannya. Kepalaku bersandar di pahanya, tanganku mencengkeram ujung bajunya seperti takut ditinggal.
Haruka membeku beberapa saat.
Lalu—perlahan—tangannya bergerak, menepuk bahuku pelan. Ritmenya rapi, konsisten. Seperti ia sedang menenangkan seseorang yang rapuh.
“Tidur,” katanya.
Aku memejamkan mata, tersenyum kecil.
“Gini enak.”
Ia tidak menjawab. Tapi ia juga tidak menghentikan tangannya.
Saat aku terbangun, malam sudah turun. Lampu redup. Aku masih di posisi yang sama.
Haruka masih di sana.
“Aku berat?” tanyaku lirih.
“Tidak,” jawabnya cepat.
Aku menatap wajahnya yang kini sangat dekat. Tidak dingin. Tidak menjauh. Hanya lelah… dan penuh pikiran.
“Kamu capek?” tanyaku lagi.
Ia mengangguk pelan.
“Tapi aku bisa.”
Hatiku menghangat—dan perih bersamaan.
“Haruka,” kataku pelan.
“Kalau aku manja… kamu keberatan?”
Ia terdiam lama.
“Keberatan,” jawabnya jujur.
“Karena aku takut terbiasa.”
Aku tersenyum tipis.
“Kalau aku?”
Ia menatapku.
“Kau sudah terbiasa,” katanya lirih.
Dan di momen itu, saat kepalaku kembali bersandar di pangkuannya, aku sadar—
Haruka bisa sembuh dari penyakitnya.
Tapi aku…
mulai sakit karena ingin dipeluk lebih lama dari yang seharusnya.
Di pangkuan Haruka, tubuhku tiba-tiba bergetar.
Awalnya hanya napas yang tersengal, lalu tanpa aba-aba air mata jatuh satu per satu, menembus kain bajunya. Aku mencoba menahannya—sungguh—tapi dadaku terasa terlalu sesak.
“Alya?” Haruka langsung menegang.
Tangannya berhenti menepuk, lalu berpindah memegang bahuku dengan hati-hati. “Kenapa?”
Aku menggeleng, bibirku bergetar.
“Aku… aku kangen ibu.”
Suara itu pecah.
Bukan ayah.
Bukan keluarga lain.
Hanya ibu.
Tangisku memburuk, seperti bendungan yang akhirnya jebol setelah terlalu lama dipaksa kuat.
“Ibuku,” ulangku lirih. “Aku kangen.”
Haruka tidak langsung bicara. Ia menarikku lebih dekat, membuat kepalaku benar-benar bersandar di dadanya. Aku bisa mendengar detak jantungnya—pelan, stabil. Berbeda dengan jantungku yang kacau.
“Ayah?” tanyanya pelan, hati-hati.
Aku langsung menggeleng kuat, air mata makin deras.
“Jangan sebut dia.”
Nada suaraku berubah—penuh kebencian yang bahkan membuatku sendiri takut.
“Di mataku,” kataku terisak, “dia orang jahat.”
Haruka terdiam lama.
Ia tidak bertanya kenapa.
Tidak memaksa cerita.
Tangannya hanya mengusap rambutku perlahan, dari ubun-ubun ke belakang kepala, berulang kali. Gerakannya kaku di awal—jelas bukan kebiasaan—tapi ia tidak berhenti.
“Kau boleh benci,” katanya akhirnya, suaranya rendah dan tenang.
“Kau juga boleh rindu.”
Aku terisak di dadanya.
“Tapi rindu itu sakit…”
“Aku tahu,” jawabnya lirih.
Aku menatap wajahnya dengan mata basah. “Kamu tahu?”
Ia mengangguk pelan.
“Ada rindu yang tidak pernah bisa dipenuhi.”
Kata-kata itu membuat tangisku semakin dalam.
Haruka memelukku—kali ini benar-benar memeluk. Tidak ragu. Tidak menjaga jarak. Lengannya mengurungku seolah dunia di luar sana tidak penting.
“Kalau kau mau menangis,” katanya pelan di atas kepalaku,
“menangislah di sini.”
Aku mencengkeram bajunya erat, seperti anak kecil yang takut kehilangan satu-satunya tempat aman.
“Aku capek kuat terus,” bisikku.
“Berhenti,” jawabnya tegas tapi lembut.
“Di hadapanku, kau tidak perlu kuat.”
Tangisku perlahan mereda. Napasku mulai teratur. Tapi hatiku masih nyeri—dan anehnya, lebih ringan.
Di pelukannya, aku merasa seperti kembali menjadi seseorang yang pernah dicintai tanpa syarat.
Dan untuk pertama kalinya setelah lama…
rindu itu tidak sendirian.
Alya tetap tidak mau turun dari pelukannya.
Setiap kali Haruka mencoba menggeser tubuhnya sedikit agar Alya bisa berbaring lebih nyaman, tangannya justru makin mengerat, seperti anak kecil yang takut ditinggal walau hanya sedetik.
“Alya…” panggilnya pelan.
Tidak ada jawaban.
Hanya dengusan kecil, napas hangat yang teratur di dadanya.
Haruka menghela napas pelan—pasrah.
Untuk pertama kalinya, ia tidak melawan sikap kekanak-kanakan itu. Ia membiarkannya. Membiarkan dirinya menjadi sandaran, meski tubuhnya sendiri belum sepenuhnya pulih.
“Kau ini,” gumamnya lirih, nyaris seperti senyum tipis yang tak pernah benar-benar jadi.
“Selalu memaksaku melepas batas.”
Tangannya kembali mengusap rambut Alya. Perlahan. Hati-hati. Seolah gadis itu sesuatu yang mudah pecah.
“Aku terlihat dingin bukan karena aku tidak peduli,” katanya pelan, meski tahu Alya mungkin tidak mendengar.
“Aku dingin karena aku tahu bagaimana rasanya kehilangan.”
Matanya menatap lurus ke depan, kosong oleh ingatan.
“Semakin indah suatu kenangan,” lanjutnya, suaranya berat,
“semakin kejam rasanya saat kau menyadari… kau tidak bisa memilikinya lagi.”
Ia menunduk sedikit, menatap wajah Alya di dadanya.
“Jika orang itu sudah hilang darimu,” ucapnya lirih,
“kenangan hanya akan menjadi pisau.”
Tidak ada jawaban.
Haruka baru menyadari napas Alya sudah benar-benar tenang. Gadis itu tertidur—kelelahan, habis menangis, habis menjadi rapuh tanpa sadar.
Ia terdiam.
Matanya memandangi wajah Alya lama. Terlalu lama. Garis-garis lembut di wajah itu, bulu mata yang basah sisa air mata, bibir yang sedikit terbuka karena tidur.
Cantik.
Dan menyakitkan.
“Mirip…” bisiknya tanpa sadar.
Mirip ibunya.
Bukan sekadar cantik—tapi caranya terlihat rapuh saat tidur, caranya seolah memikul dunia sendirian, caranya mencintai tanpa perhitungan. Semua itu terlalu familiar.
Dadanya mengencang.
“Itu sebabnya aku memilihmu,” gumamnya pelan, lebih kepada dirinya sendiri daripada Alya.
“Bukan kebetulan. Tidak pernah.”
Tangannya berhenti di punggung Alya, menahan sesuatu yang bergetar di dadanya sendiri.
Kontrak itu…
tidak sesederhana yang Alya kira.
Ada alasan-alasan yang belum tertulis.
Nama-nama yang belum disebut.
Kenangan lama yang sengaja dikubur.
Dan Alya—tanpa sadar—telah melangkah masuk ke pusat semuanya.
Haruka masih terdiam, pikirannya jauh—
hingga sebuah suara kecil memotong semuanya.
“Aku cantik?”
Tubuh Haruka menegang seketika.
Ia menunduk.
Alya sudah membuka mata. Menatapnya lurus, jernih, tanpa sisa kantuk—jelas ia mendengar kata-kata itu.
“Sejak kapan kamu bangun?” tanyanya cepat, sedikit panik.
Alya tidak menjawab pertanyaan itu. Justru kepalanya sedikit dimiringkan, ekspresinya polos… tapi matanya terlalu sadar untuk disebut lelah.
“Kamu bilang aku cantik,” ucapnya pelan.
“Kalau begitu… kenapa kamu tidak mau menciumku?”
Darah Haruka seperti berhenti mengalir.
“Alya,” katanya tegas, meski suaranya jelas goyah, “jangan bicara seperti itu.”
“Kenapa?” Alya mengerutkan kening.
“Kamu suamiku.”
Kalimat itu jatuh begitu saja—sederhana, tapi menghantam tepat di dadanya.
“Itu bukan alasan,” jawab Haruka cepat. “Dan kau sedang tidak sehat.”
Alya mendengus pelan. Tangannya mencengkeram baju Haruka, seperti anak kecil yang tidak mau kalah.
“Kamu selalu punya alasan,” katanya lirih.
“Kalau kamu tidak mau…”
Ia mengangkat wajahnya sedikit, mendekat.
“…biar aku saja.”
“Alya—”
Terlambat.
Ciuman itu singkat. Lembut. Tidak terburu-buru.
Lebih seperti sentuhan yang lahir dari keberanian sesaat daripada niat yang direncanakan.
Haruka membeku.
Ia tidak membalas. Tidak juga mendorong.
Tubuhnya kaku—antara sadar dan kalah.
Alya segera menarik diri, wajahnya memanas. Tanpa berkata apa-apa, ia langsung menyembunyikan wajahnya di dada Haruka, seperti baru sadar apa yang telah ia lakukan.
“Aku capek,” gumamnya, hampir tidak terdengar.
Haruka menelan ludah.
Jantungnya berdetak jauh lebih cepat dari seharusnya.
Tangannya terangkat… lalu ragu.
Akhirnya hanya berhenti di punggung Alya, tidak memeluk—hanya memastikan gadis itu ada.
Wajahnya terasa panas.
Sangat kontras dengan sikap dingin yang selalu ia pertahankan.
“Kau ini benar-benar berbahaya,” ucapnya pelan, lebih pada dirinya sendiri.
Alya tidak menjawab.
Napasnya kembali teratur, seolah keberanian tadi telah menghabiskan sisa tenaganya.
Haruka menatap ke depan, rahangnya mengeras.
Kontrak itu masih ada.
Batas itu masih seharusnya berdiri.
Namun untuk pertama kalinya, ia menyadari satu hal yang membuat dadanya sesak—
Bukan hanya Alya yang lupa pada kontrak itu.
Batas yang ia bangun dengan susah payah…
perlahan mulai runtuh.