Shanaya berdiri di tepi taman halaman rumahnya, angin malam membelai sayap-sayap keabadiannya yang tersembunyi. Bintang mendekatinya, matanya memancarkan cinta yang tak terbantahkan. "Shanaya, aku tahu kita berbeda, tapi aku tidak peduli. Aku ingin menghabiskan sisa hidupku denganmu," katanya dengan suara lembut.
Shanaya menoleh, mencoba menyembunyikan air matanya "Bintang, kamu tidak tahu apa yang kamu katakan. Aku...aku bukan seperti kamu. Aku memiliki rahasia yang tidak bisa kamu terima..." Shanaya mengangkat tangan, menghentikan Bintang yang ingin mendekat. "Tolong, jangan membuat ini lebih sulit daripada yang seharusnya. Aku tidak bisa menjadi yang kamu inginkan..."
Bintang terlihat hancur, tapi dia tidak menyerah. "Aku tidak peduli dengan apa yang kamu sembunyikan, Shanaya. Aku hanya ingin kamu..."
Apakah Shanaya akan membuka hatinya untuk Bintang atau justru pergi ke langit ketujuh dan meninggalkan Bintang seorang diri di malam yang sunyi ini? Ikuti terus kisah selanjutnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutiara Wilis , isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
20. "Misi Tersembunyi Ray"
Ray mengangguk, "Oke, gue akan coba dekati Zaneta dan cari tahu apa yang dia sembunyikan..."
Ray berjalan menuju Zaneta yang sedang duduk sendirian di kantin kampus, sambil menikmati satu cup ice cappucino. Zaneta melihat Ray datang dan tersenyum, "Hai Ray, tumben ngapain loe kesini?"
Ray duduk di sebelah Zaneta, "Gak ada apa-apa, gue cuma pengen tahu apa yang loe bahas sama Bintang tadi..."
Zaneta tersenyum lagi, "Oh, cuma urusan biasa gak ada apa-apa. Gue cuma nawarin bantuan buat Bintang..."
Ray penasaran, "Bantuan? Untuk apa?"
Zaneta mendekatkan diri, "Gue tahu loe juga lagi cari informasi tentang tanaman alga merah dan daun keabadian. Gue bisa bantu loe... dengan satu syarat..."
Ray tertarik, "Syarat apa itu?"
Zaneta tersenyum lebih lebar, "Gue mau loe bantu gue ngedapetin sesuatu yang gue mau. Kalo loe setuju, gue bakal kasih tahu tentang lokasi tanaman alga merah dan daun keabadian..."
Ray berpikir sejenak, mencoba membaca ekspresi Zaneta.
"Apa yang loe mau?"
Zaneta mendekatkan diri lagi, suaranya menjadi lebih rendah, "Gue mau loe curi sebuah buku kuno tentang rahasia seorang keturunan Jathayu. Buku itu berisi rahasia tentang kekuatan leluhur gue..."
Ray merasa ragu, "Buku kuno? Apa yang ada di buku itu?"
Zaneta tersenyum, "Itu gak penting. Yang penting cuma loe bisa bantu gue dapetin buku itu. Kalo loe setuju, gue bakal kasih tahu loe tentang lokasi tanaman alga merah dan daun keabadian itu..."
Ray merasa tergugah dengan tawaran Zaneta, tapi dia juga merasa tidak nyaman dengan ide mencuri buku kuno yang entah berada dimana. Dia berpikir sejenak, mencoba mempertimbangkan risiko dan manfaat dari tawaran Zaneta.
"Kenapa loe gak bisa dapetin buku itu sendiri?" tanya Ray, mencoba memahami alasan Zaneta
Zaneta tersenyum lagi, "Gue gak bisa ngambil risiko yang besar. Loe lebih...fleksibel, Ray. Dan gue tahu loe juga mau tahu tentang tanaman alga merah dan daun keabadian itu kan..."
Ray merasa Zaneta memiliki alasan yang masuk akal, tapi dia juga tidak ingin melakukan sesuatu yang salah. Dia memutuskan untuk meminta waktu untuk berpikir.
"Ok, gue butuh waktu buat berpikir lagi," ucap Ray,
"Loe bisa kasih tahu gue lebih banyak tentang buku itu dan apa yang ada di dalamnya supaya gue bisa tahu apa resikonya..."
Zaneta mengangguk, "Ok, gue akan kasih tahu loe. Tapi loe harus ingat, kesempatan ini gak akan datang dua kali, Ray. Loe harus buat keputusan yang tepat..."
Zaneta kemudian memberitahu Ray bahwa buku kuno itu berisi rahasia tentang kekuatan leluhur dua Jathayu dan sebab musababnya kenapa black angel dengan white angel saling bermusuhan satu sama lain, termasuk rahasia tentang tanaman alga merah dan daun keabadian. Ray merasa semakin penasaran, tapi dia masih belum yakin apakah dia harus menerima tawaran Zaneta.
Ray merasa sedikit tersinggung dengan kata-kata Zaneta, tapi dia mencoba untuk tidak menunjukkan.
"Jadi, loe berpikir gue bisa lolos dari resiko yang ada karena gue gak terkenal? Itu gak adil, Zaneta..."
Zaneta mengangkat bahu, "Itu bukan masalah adil atau gak, Ray. Itu hanya fakta. Loe punya kemampuan untuk ngelakuin hal ini, dan gue butuh bantuan loe itu. Kalo loe gak mau bantu, gue bisa cari orang lain yang bisa..."
Ray merasa mendapat tekanan dari Zaneta, tapi dia tidak ingin membuat keputusan yang terburu-buru.
"Gue butuh waktu untuk berpikir," ucap Ray lagi
"Tapi gue punya satu pertanyaan lagi. Apa yang akan loe lakuin dengan buku kuno itu setelah gue ngedapetin ya?"
Zaneta tersenyum lagi, "Gue akan ngelakuin apa yang gue harus lakuin. Loe gak perlu khawatir tentang itu, Ray. Yang penting adalah loe bantu gue ngedapetin buku itu..."
Ray merasa tidak puas dengan jawaban Zaneta, tapi dia tahu bahwa dia tidak akan mendapatkan jawaban yang lebih baik dari Zaneta.
"Ok, gue bakal berpikir tentang hal itu lagi," ucap Ray
"Tapi gue mau jawaban dari loe tentang satu hal lagi. Apa yang bakal terjadi kalo gue ketahuan oleh si pemilik buku itu?"
Zaneta mendekatkan diri lagi, suaranya menjadi lebih rendah, "Gue akan pastikan loe aman, Ray. Loe gak akan sendirian dalam hal ini, gue, Firly sama Olivia bakal terus pantau loe..."
Ray merasa sedikit lega dengan jawaban Zaneta, tapi dia masih tidak yakin apakah dia harus mempercayai Zaneta.
"Gue harap loe serius, Zaneta," ucap Ray
"Gue gak mau berakhir di dalam masalah karena ini..."
Zaneta tersenyum lagi, "Gue serius, Ray. Gue akan pastikan loe aman. Tapi loe harus ingat, waktu kita gak banyak. Gue butuh jawaban loe secepatnya..."
Ray mengangguk, "Gue ngerti. Gue akan kasih tahu loe keputusan gue secepatnya..."
Zaneta berdiri, "Ok, gue tunggu kabar dari loe, Ray..."
Ray langsung menghubungi Bintang dan teman-temannya, "Hey guys, gue udah punya info dari Zaneta. Dia mau gue mencuri buku kuno dari tangan dokter Wira. Dia bilang buku itu berisi rahasia tentang kekuatan leluhur Jathayu dan lokasi tanaman alga merah dan daun keabadian..."
Bintang dan teman-temannya langsung mendengarkan dengan serius, "Apa? Zaneta gak main-main nih," ucap Bintang
Shanaya menambahkan, "Kita harus berhati-hati, Ray. Zaneta pasti punya rencana lain..."
Ray mengangguk, "Gue tahu. Gue belum setuju untuk bantu dia. Gue mau tahu apa pendapat kalian..."
Felix berbicara, "Gue gak setuju, Ray. Kita gak bisa percaya sama Zaneta gitu aja..."
Nathaniel menambahkan, "Tapi kita juga gak bisa mengabaikan informasi tentang tanaman alga merah dan daun keabadian. Kita harus cari cara lain untuk ngedapetin info itu..."
Bintang memutuskan, "Kita akan diskusikan ini lebih lanjut. Ray, loe terusin aja buat ngedapetin info lebih banyak dari Zaneta. Kita akan siapkan rencana lain..."
Bintang menambahkan, "Tapi sebelum itu, kita harus pastikan dulu apa isi buku itu dan apa yang Zaneta mau dengan itu. Ray, loe bisa coba cari tahu lebih banyak tentang buku itu tanpa harus setuju untuk mencurinya?"
Shanaya mengangguk, "Iya, kita gak bisa langsung terjun tanpa tahu apa yang balal kita hadapi. Ray, loe bisa coba main aman dulu..."
Felix menambahkan, "Gue akan coba cari info tentang buku itu dari sumber lain, mungkin ada yang tahu apa yang ada di dalamnya..."
Nathaniel mengangguk, "Ok, kita akan koordinasi lagi setelah semua info terkumpul semua..."
Bintang menambahkan, "Oke, Ray, loe fokus cari info dari Zaneta. Felix, loe coba cari tahu tentang buku itu dari sumber lain. Nathaniel, loe siapin rencana backup kalau-kalau diperlukan..."
Joe yang tadinya diam, tiba-tiba berbicara, "Gue juga mau ikut, Bintang. Kita gak bisa cuma mengandalkan Ray dan Felix..."
Bintang mengangguk, "Oke, Joe ikut sama Shanaya, Thalia dan gue untuk rencana backup. Kita harus siap kalau ada apa-apa..."
Ray, Felix, dan Nathaniel yang "Masih jomblo" (menurut Joe) langsung mengangguk, "Oke, kita siap!"
Felix langsung bergerak, mendekati Firly yang sedang duduk di taman kampus. "Halo Firly, lagi apa? Boleh gabung gak?"
Firly tersenyum, "Cuma baca buku, Felix. loe ada perlu apa deketin gue?"
Felix duduk di sebelah Firly, "Gue lagi cari info tentang buku kuno tentang Jathayu. Loe tahu gak tentang buku itu?"
Firly mengangkat alis, "Buku kuno? Apa yang loe cari di sana?"
Felix tersenyum, "Cuma penasaran aja. Gue denger buku itu ada hubungannya sama tanaman alga merah dan daun keabadian..."
Sementara itu, Nathaniel mendekati Olivia yang sedang bekerja di lab. "Halo Olivia, lagi sibuk?"
Olivia menoleh, "Cuma eksperimen, Nathaniel. Ada apa? Tumben loe sokab banget ke gue..."
Nathaniel tersenyum, "Gue denger loe tahu banyak tentang tanaman langka. Gue lagi cari info tentang daun keabadian itu..."
Olivia mengangguk, "Daun keabadian? Gue tahu sedikit. Apa yang loe mau tahu? Saran gue mending loe tanya ke Zaneta, dia yang lebih tahu apalagi nyokapnya..."
Firly menjawab, "Gue tahu sedikit tentang buku itu, Felix. Gue denger itu buku lama yang disimpan di ruang khusus perpustakaan rahasia. Tapi gue gak tahu apa isinya..."
Felix tersenyum, "Wah, keren. Loe tahu siapa yang mungkin tahu lebih banyak gak?"
Firly berpikir sejenak, "Mungkin Profesor Arum. Dia yang bertanggung jawab atas koleksi buku langka di perpustakaan, loe bisa cari tahu ke dia..."
Sementara itu, Olivia menjawab Nathaniel, "Daun keabadian itu tanaman langka yang katanya bisa memperpanjang umur. Gue gak tahu banyak, tapi gue bisa coba cari info lebih banyak lagi..."
Nathaniel mengangguk, "Ok makasih, Olivia. Gue sangat berterima kasih kalau loe bisa bantu gue..."
Felix langsung menanggapi, "Profesor Arum ya? Gue bakal coba hubungi dia. Thanks, Firly..."
Firly tersenyum, "Iya coba aja dulu, Felix. Semoga berhasil..."
Sementara itu, Olivia menambahkan, "Gue akan coba cari info lebih banyak tentang daun keabadian. Loe mau gue kabari kalau gue dapat sesuatu?"
Nathaniel mengangguk, "Iya, tolong kabari gue Olivia. Gue makasih banget sama loe..."
Misi mereka pun berlanjut berusaha mengajak target untuk lebih dekat dan bisa mengajak para target mengobrol.
Bersambooo...