Menjadi guru tampan dan memiliki karisma over power memang tidak mudah. Dialah Adimas Aditiya, guru muda yang menjadi wali kelas sebuah kelas yang anehnya terlalu hidup untuk disebut biasa.
Dan di sanalah Rani Jaya Almaira berada. Murid tengil, manis, jujur, dan heater abadi matematika. Setiap ucapannya terasa ringan, tapi pikirannya terlalu tajam untuk diabaikan. Tanpa sadar, justru dari gadis itulah Adimas belajar banyak hal yang tak pernah diajarkan di bangku kuliah keguruan.
Namun karena Rani pula, Adimas menemukan jalannya rumahnya dan makna cinta yang sebenarnya. Muridnya menjadi cintanya, lalu bagaimana dengan Elin, kekasih yang lebih dulu ada?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LIXX, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15. Dia Semakin Mendekat
Pantaslah tak ada ketertarikan Rani pada PTN, dia seolah tak peduli akan nilainya di sekolah. Karena tujuan dia sudah jelas, keinginan dia sudah tentu, dan tempat dia memang sudah ada.
"Ran?" Adimas menggenggam tangan Rani, tatapannya lembut, senyum nampak terukir di sudut bibir Adimas.
"Benar, apa tampilan saya tidak layak?" Senyum terukir di bibir Rani kini, Tuan Ghiffari ikut tersenyum.
"Mungkin iya, yang jelas lima tahun ke depan mungkin aku sendiri akan sulit mengenalimu, Nak." Rani merasakan dadanya terguncang, benar dadanya terguncang hebat kini.
Tuan Ghiffari bahkan sudah tahu apa yang dia rencanakan di masa depan. Mengerikan sekali, namun memang begitulah keluarga Ghiffari.
"Ada pepatah mengatakan, saat kulit buah mulai memerah maka dalamnya akan ikut memanis. Namun namanya tidak akan berubah, saya Rani dan akan tetap begitu." Jawab Rani. Ibu Adimas tersenyum tulus, pesanan es krim mereka sudah tiba.
Mereka menikmatinya, kecuali Adimas. Entah, dia merasa tidak rela bila Rani pergi. Apa di masa depan Rani akan sama seperti sekarang? Akan terus mengejarnya? Atau justru berbeda?
Tanpa disadari, kedua tangan kiri mereka sejak tadi terus bergenggaman. Tuan Ghiffari menyadari keresahan Adimas, begitu pun dengan ibunya, namun mereka juga sedikit banyaknya telah menyelidiki tentang Rani.
"Kami permisi dulu, Dad, Mom." Adimas berdiri dari duduknya, ada banyak pertanyaan yang ingin dia tanyakan pada Rani.
"Hati-hati, ini hadiah kecil dariku. Kamu manis sekali, Nak," Nyonya Aditiya melingkarkan gelang emas di pergelangan tangan Rani. Sebuah tulisan ‘Aditiya’ terukir pada gantungan gelang itu. Rani tersenyum, keduanya berpelukan sebelum akhirnya Rani dibawa pergi oleh Adimas.
"Kamu mengatakan semuanya, lihat dia sampai ketakutan begitu. Apa kamu tidak tahu cara menyambut menantu dengan benar?" Kesal Nyonya Aditiya, Tuan Ghiffari hanya terkekeh, menarik pinggang sang istri agar duduk mereka jauh lebih dekat.
"Anak kita terlalu bodoh, sayang," ucap Tuan Ghiffari menyalahkan Adimas. "Bila aku tidak memberitahunya sekarang, itu akan menjadi penyesalan Adimas selamanya. Dan mungkin kita juga." Ucap lagi Tuan Ghiffari. Istrinya hanya menghela napas kasar.
.
.
Rani dibawa Adimas lagi. Di dalam mobil tak ada pembicaraan, hanya sunyi saja. Adimas juga ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi. Adimas sudah menemukan rumahnya. Dia tidak rela bila Rani meninggalkannya, mungkin dia bisa meninggalkan Elin saat itu juga demi Rani. Namun, apa bedanya dia dengan bajingan bila mengatakan semuanya pada Rani nanti?
Rani dibawa berputar dalam mobil lebih dari satu jam, hingga akhirnya mereka menepi. Rani sejenak melihat ke arah plang besar tempat loket, tempat yang sering didatangi Rani dan Elyra saat mereka sedang tidak ada pekerjaan.
[HARUSKAH AKU SEBUTKAN NAMA TEMPATNYA?]
Ya, Situ Darma. Sebuah danau buatan yang sudah ada sejak zaman penjajahan. Rani dan Adimas keluar bersamaan setelah sampai di area parkir.
Rani sudah lama tidak ke sana. Setelah Elyra menikah, dia juga jarang bermain dan lebih sering diam di rumah saat libur dan merakit barang-barang kesayangannya.
Angin di sana kencang, meski begitu di sana juga tidak begitu ramai, namun tidak juga sunyi. Ada beberapa tenda yang digunakan untuk berkemah. Ada juga orang-orang yang sedang bernyanyi dengan api unggun di depan mereka, petikan gitar terdengar bersahutan nyaring.
“Ayo!” Ajak Adimas, Rani mengangguk mengikuti langkah Adimas dari belakang. Sebuah tenda memang sudah dipesan Adimas, bukan untuk mereka tinggali, namun hanya untuk mereka bersantai di tepi situ.
“Bisa main gitar?” tanya Adimas yang kini menyalakan api unggun di depan tenda mereka. Rani duduk di pintu tenda, menatap makanan di dalam tenda yang seolah sudah disiapkan, semua alatnya juga sudah siap.
“Bisa, mau versi ahli atau amatir nih?” Kekeh Rani, Adimas tersenyum mengambil teko kecil berisi air bersih dan membiarkannya di atas tungku.
“Versi terbaik kamu.” Jawab Adimas, Rani tersenyum lebar dan mengambil gitar.
“Mau request?” Rani mulai menyetel gitarnya dan matanya tertuju pada Adimas, wajah Adimas yang dicahayai api unggun membuat kehangatan di sana makin sempurna.
“Kau begitu sempurna, di mataku kau begitu indah. Kau membuat diriku akan selalu memujamu…” Nyanyi Rani awal, gitarnya mulai dipetik dengan merdu.
"Di setiap langkahku, ku kan selalu memikirkan dirimu. Tak bisa ku bayangkan hidupku tanpa cintamu..." Rani bernyanyi dengan merdu, matanya terpejam sejenak, membiarkan perasaannya memenuhi semua melodi dalam nyanyiannya.
"Boleh ikut bergabung?" Dua orang pria yang juga membawa gitar nampak mendekat ke arah tenda Rani dan Adimas.
"Ti-"
"Ayo!" Jawab Rani, ucapan Adimas tergantung. Dia menghela napas kasar, sifat Rani yang memang mudah berteman dengan siapa pun membuat Adimas tak berdaya di sana.
"Ayo nyanyi lagi," ucap salah satu dari dua pria itu, Rani mulai berpikir.
"Hahaha, boleh." Ucap Rani dan kembali bernyanyi, semuanya nampak senang, kecuali Adimas yang sejak tadi merasa tidak suka dengan kedekatan mereka yang saling tidak kenal nama justru akrab seperti teman.
"Ran, mau cokelat panas atau kopi?" tanya Adimas saat air yang dia masak sudah matang.
"Cewek lebih suka dihangatin pakai pelukan, Bang, bukan pakai minuman." Celetuk salah satu pria yang tadi ikut bernyanyi.
"Mau dipeluk, Ran?" tanya lagi Adimas, Rani terkekeh dan menggeleng pelan.
"Enggak deh, Mas," jawab Rani sembari tertawa ringan.
"Wah, tadinya ku kira dia kakakmu, Neng. Kita jadi ganggu dong. Kita balik ke tempat kami deh." Ucap kedua pria itu membawa kursi kemah mereka menuju ke tenda mereka lagi.
"Nih, cokelat." Ucap Adimas menaruh cangkir besar di depan Rani. Rani tersenyum lembut.
"Makasih, Mas," Rani mengangkat cangkir itu dan langsung meminumnya.
"Astaghfirullah!" Rani langsung merasakan panas luar biasa di bibirnya. Dia langsung gelagapan dan menaruh kembali cangkir itu.
"Panas! Panas!" Ucap Rani mengipasi bibirnya dengan tangannya sendiri.
"Ya panas lah, Ran. Sini lihat!" Adimas menatap bibir Rani dari dekat, bibir yang nampak kemerahan akibat panas, lip gloss yang dipakai Rani sudah menyatu dengan bibirnya.
Adimas menyentuh bibir Rani dengan lembut dan secara jujur, dari lubuk hati terdalamnya dia sangat tergoda. Bibir manis itu, rasanya bagaimana ya?
"Mas, apa tidak apa-apa bibirku?" tanya Rani, Adimas terdiam sejenak, dia mulai mendekatkan wajahnya seolah ingin melihat dari dekat. Rani sontak memundurkan kepalanya, Adimas mengangkat wajahnya.
"Bisa diam tidak?" tanya Adimas, Rani menahan napasnya seketika saat wajah Adimas kian mendekat.
"Udah?" tanya Rani lagi, Adimas tak menjawab dan malah menarik tengkuknya.
Hei, ayolah. Rani bukan orang sepolos itu bila segi mata. Dia sudah melihat berbagai jenis orang dan drama, apalagi drakor dan drachin. Dia sadar apa yang dilakukan oleh Adimas, Rani membulatkan matanya saat leher dan kepalanya sudah terkunci oleh Adimas.
Kuy.. Yang mau info GA ataupun juga info update, bisa gedor GC Lixx. "rumpi"
Ya Allah malam² ngajak ditahan sambil batuk² 🤣🤣🤣
dasar Aryaaaaa astaghfirullah 🤣
pingin denger cerita Rani, yg ayah nya menjodohkan Rani sampai nangis gitu.
apa ibu nya Rani gak cerai dan jadi satu sama istri muda suaminya, kalau benar gak rela bgt aku.
dah 3 bab tapi masih kurang rasanya 😁
tetap ngakak walaupun mirip Gilang, tapi ngakak nya di tahan sampe perut sakit, mlm² di kira mba Kunti kalau ngakak 🫢
kayaknya banyak mengandung bawang